Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Alyssa mengepalkan tangannya, berdiri membeku di balik kaca, menyaksikan semuanya.
Jantungnya berdegup keras, seolah ingin keluar dari dadanya.
“Darius… jangan buat aku menunggu terlalu lama,” suara manja itu terdengar jelas. “Aku sudah menyerahkan segalanya padamu. Kapan kau akan membawaku pulang ke rumahmu?”
“Segera,” jawab Darius santai, seolah semua ini adalah hal biasa. “Aku akan mencari alasan untuknya.” jawabnya sambil mengoyangkan pinggulnya dengan cepat
Alyssa menggigit bibirnya, tubuhnya mulai gemetar.
“Lalu… apakah istrimu akan menerimaku?” tanya wanita itu lagi.
Darius tertawa kecil, dingin.
“Dia tidak punya hak untuk menolak. Kalau dia berani menolak, aku akan mengusirnya. Tenang saja… dia tidak bisa hidup tanpaku. Aku satu-satunya pria yang mau menikahinya.”
Setiap kata itu… seperti tamparan.
“Wanita itu sebentar lagi melahirkan,” lanjut Vanessa dengan nada merendahkan. “Aku sudah tidak sabar melihatnya kehilangan segalanya.”
“Vanessa,” suara Darius berubah lebih lembut, namun menusuk bagi Alyssa, “kau satu-satunya wanita yang aku cintai.”
Dunia Alyssa seakan runtuh.
“Dia ?” lanjutnya sinis. “Dia terlalu bodoh, percaya kalau aku mencintainya. Aku menikahinya hanya untuk anak itu. Setiap hari melihatnya saja sudah membosankan.”
Air mata Alyssa jatuh tanpa henti.
“Tubuhmu jauh lebih menarik,” tambah Darius tanpa ragu. “Perutnya sudah besar, tidak enak dipandang. Aku bahkan merasa jijik menyentuhnya. Sudah lima bulan aku tidak menyentuhnya… aku hanya menunggu anak itu lahir.”
Seketika, tangan Alyssa bergetar hebat.
Namun di tengah kehancurannya… ia tetap mengangkat ponselnya.
Merekam.
Setiap kata.
Setiap kebohongan.
Setiap pengkhianatan.
Tanpa mereka sadari.
“Darius… Vanessa…” bisik Alyssa lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
“Kalian akan menyesal.”
Dengan langkah goyah, ia berbalik.
Pergi.
Keluar dari tempat yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Hujan deras menyambutnya di luar. Tanpa payung, tanpa perlindungan.
Tubuhnya basah kuyup dalam sekejap, namun ia tak peduli.
Langkahnya pelan, berat, seolah setiap langkah membawa beban yang tak tertahankan.
Tangannya memeluk perutnya yang membesar.
“Darius…” suaranya bergetar, bercampur tangis..“Karena mencintaimu, aku meninggalkan karierku…”
Air matanya bercampur dengan air hujan.
“Aku melakukan semuanya… seperti yang ibumu inginkan. Menjadi istri yang baik… ibu rumah tangga yang sempurna…”
Napasnya tersengal.
“Namun setelah aku menyerahkan segalanya…” suaranya pecah, “kalian malah merendahkanku…”
Tubuhnya gemetar hebat.
Dunia terasa dingin.
Kosong.
Dan untuk pertama kalinya cinta yang selama ini ia pertahankan…perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Hujan turun semakin deras.
Langkah Alyssa semakin goyah.
Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar. Rasa nyeri di perutnya datang tiba-tiba, tajam dan menusuk.
“Ah…!” erangnya pelan.
Kakinya tak lagi kuat menopang tubuhnya.
Alyssa terhuyung… lalu jatuh terduduk di tengah jalan yang basah oleh hujan.
Air hujan membasahi tubuhnya, wajahnya pucat, bibirnya bergetar.
Tangannya memeluk perutnya erat. “Anakku…” bisiknya lemah. “Tolong… bertahan…”
Namun rasa sakit itu semakin menjadi. Pandangannya mulai kabur.
Di jalan yang sepi itu, tak ada satu pun yang berhenti.
Hingga...
Ciiittt—!
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depannya.
Lampunya menyorot tubuh Alyssa yang lemah.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria turun, diikuti seorang asisten yang dengan sigap membuka payung hitam besar di atas kepala pria itu, melindunginya dari hujan deras.
Sepatu kulitnya menginjak genangan air.
Langkahnya tenang, namun aura dinginnya terasa menekan.
Ia mendekat.
Asistennya mengikuti di belakang, menjaga payung tetap menaungi pria itu.
Ia melangkah sendiri mendekati Alyssa.
Hujan masih membasahi sisi tubuh wanita itu yang tak terlindungi.
Pria itu berhenti tepat di depannya, menunduk.
Tatapannya tajam, menilai.
Dari wajah pucat… hingga perut yang membesar.
Alyssa mengangkat wajahnya dengan susah payah.
Pandangan mereka bertemu
“Tol… tolong…” suaranya nyaris hilang.
Hujan turun semakin deras.
Pria itu berdiri tegak, terlindungi payung hitam yang dipegang asistennya. Tatapannya dingin saat menatap wanita yang tergeletak di hadapannya.
Perlahan, ia berjongkok.
Tangannya terulur, mencubit dagu Alyssa, mengangkat wajah pucat itu agar menatapnya.
“Ingin aku menyelamatkanmu?” lanjut pria itu datar. “Kau harus menebus sesuatu.”
Hujan semakin deras, membasahi tubuh Alyssa yang tak terlindungi.
“Tuan…” suaranya bergetar, penuh rasa sakit, “selama anakku selamat… aku akan melakukan apa pun…”
Senyum tipis terukir di bibir pria itu. Seolah jawaban itu sudah ia duga.
“Bagus.”
Ia mendekat sedikit.
“Menikah denganku.”
Mata Alyssa melebar, napasnya terhenti sesaat.
ayooooo