Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAHASIA DI BALIK LANGKAH YANG BERBEDA
Pagi itu, udara di Pesantren Al-Hidayah terasa lebih segar bagi Mentari. Namun, secara fisik, ada sesuatu yang berbeda. Tubuhnya terasa sedikit pegal, dan ada sensasi asing yang membuatnya tidak bisa berjalan dengan kecepatan biasanya. Ia keluar dari rumah kecilnya dengan senyum malu-malu, mencoba menuju area jemuran belakang di mana "Geng Srikandi" sudah berkumpul.
Gus Zikri sendiri sudah berangkat ke masjid lebih awal untuk memimpin kajian kitab kuning, namun sebelum pergi, ia sempat memberikan kecupan di kening Mentari yang jauh lebih lama dari biasanya, membuat Mentari berangkat menemui teman-temannya dengan perasaan melayang.
Mentari berjalan perlahan, langkahnya sedikit melebar dan tampak kaku atau dalam istilah kasarnya, sedikit ngangkang. Ia mencoba menutupi gerak-geriknya dengan memperbaiki letak gamisnya berkali-kali.
Bondan, yang sedang menjemur sarung, mendongak. Matanya yang jeli langsung menangkap ada yang tidak beres dengan cara jalan sahabatnya itu.
"Eits, eits, eits... berhenti di situ!" teriak Bondan sambil menunjuk kaki Mentari dengan jemuran baju.
Mentari tersentak, wajahnya langsung memerah. "Apaan sih, Bon? Teriak-teriak kayak liat maling aja."
Fahma dan Hafizah ikut menoleh. Fahma yang sedang memegang ember plastik langsung mendekat dengan wajah polosnya yang khas. "Tari, kamu sakit ya? Kok jalannya kayak... kayak penguin yang lagi nahan pipis?"
"Bukan penguin, Fahma! Itu namanya langkah 'kemenangan'!" timpal Bondan sambil tertawa terpingkal-pingkal. Ia mendekati Mentari, memutarinya layaknya inspektur upacara. "Wah, wah, wah... sepertinya 'Kulkas' semalam sudah mencair sampai ke akar-akarnya ya?"
Wajah Mentari kini sudah seperti kepiting rebus. Ia mencoba masuk ke area jemuran, tapi langkahnya yang masih kaku justru membuatnya terlihat semakin mencolok.
"Hafizah, tolongin gue! Bondan sama Fahma rese banget!" rengek Mentari, mencari perlindungan pada Hafizah yang biasanya lebih kalem.
Hafizah mencoba menahan tawa, tapi melihat cara jalan Mentari, ia pun tak kuasa menutup senyum tipisnya. "Tari, sepertinya Gus Zikri benar-benar tidak memberikanmu waktu untuk istirahat semalam, ya? Sampai jalan saja sepertinya sulit."
"Tuh kan! Hafizah yang ustadzah aja tahu kodenya!" seru Bondan heboh. "Tari, jujur sama gue. Semalam Gus Zikri pake jurus apa? Kok lo sampe jalan kayak baru selesai disunat gitu?"
"Bondan! Mulutnya!" Mentari melempar lap basah ke arah Bondan. "Gue cuma... cuma pegal aja habis bantu Gus Zikri angkat-angkat kitab di gudang!"
Fahma mengerutkan kening, mencoba memproses informasi itu secara harafiah. "Masa angkat kitab aja sampe jalannya gitu, Tari? Emang kitabnya seberat apa? Apa kitabnya nendang-nendang kaki kamu?"
Bondan merangkul Fahma. "Fahma sayang, kitabnya itu bukan kitab biasa. Itu namanya 'Kitab Penyatuan Jiwa'. Beratnya luar biasa, tapi rasanya... tanya aja sama Mentari."
Mentari akhirnya duduk di bangku panjang dengan perlahan, menarik napas lega saat beban tubuhnya tidak lagi bertumpu pada kakinya yang pegal.
"Kalian jahat banget sih. Gue kan lagi dalam masa transisi jadi istri yang baik," ucap Mentari sambil mencoba mengatur nafasnya yang masih sedikit gugup.
"Istri yang baik atau istri yang 'lelah'?" goda Bondan lagi. Ia kemudian duduk di samping Mentari, nadanya sedikit lebih serius tapi tetap jenaka. "Tapi jujur, Tari. Gue seneng liat lo begini. Wajah lo beda. Lebih bersinar, lebih... tenang. Meskipun cara jalannya agak mengkhawatirkan buat keselamatan lantai pesantren."
Hafizah mendekat, mengusap pundak Mentari. "Sudah, jangan digoda terus. Mentari baru saja menyelesaikan ibadah yang paling mulia dalam pernikahan. Wajar kalau fisiknya butuh penyesuaian."
Fahma mengangguk-angguk. "Ooh, jadi itu ibadah ya? Pantesan Gus Zikri tadi lewat depan asrama senyumnya lebar banget, sampe gigi-giginya keliatan semua. Biasanya kan cuma mesem dikit."
Mendengar itu, hati Mentari menghangat. Bayangan senyum Zikri pagi tadi kembali terlintas. Ia tidak peduli lagi jika harus diejek seumur hidup oleh Bondan atau Fahma karena cara jalannya yang aneh hari ini. Selama alasan di baliknya adalah cinta yang halal dari suaminya, ia rela menanggung malu sesaat.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap terdengar dari arah gang. Gus Zikri muncul, masih mengenakan baju koko putih dan peci hitamnya. Ia membawa sebuah kantong plastik yang aromanya sangat harum—aroma jahe hangat dan roti bakar.
"Assalamualaikum," sapa Zikri tenang.
"WAALAIKUMSALAM, GUS!" jawab Bondan dan Fahma serentak dengan nada yang sengaja dibuat-buat.
Zikri melihat Mentari yang duduk di bangku, lalu beralih melihat teman-teman istrinya yang sedang menahan tawa. Ia seolah paham apa yang sedang terjadi. Zikri mendekati Mentari, lalu dengan lembut meletakkan tangannya di dahi istrinya.
"Masih pegal?" tanya Zikri tanpa ragu, suaranya terdengar sangat perhatian di depan teman-temannya.
Mentari ingin rasanya menghilang dari muka bumi saat itu juga. Bondan langsung pura-pura pingsan di bahu Fahma. "Aduh, tolong! Oksigen mana oksigen? Manis banget sampe gue mau kena diabetes!"
Zikri hanya tersenyum tipis, tidak merasa terganggu sedikit pun. "Saya belikan jahe hangat dan minyak urut di pasar tadi. Nanti pakailah setelah kembali ke rumah."
Zikri beralih menatap Bondan dan yang lain. "Tolong jangan terlalu keras menggodanya. Istri saya sedang butuh banyak istirahat hari ini."
Setelah Zikri pergi, suasana menjadi sunyi sejenak sebelum akhirnya Bondan berteriak, "TARI! LO BENER-BENER DAPET JACKPOT! GUS KULKAS TERNYATA BISA JADI GUS KOMPOR KALAU LAGI BERDUA!"
Mentari hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, tertawa di tengah rasa malunya yang luar biasa. Pagi itu, ejekan teman-temannya terasa seperti melodi kebahagiaan yang mengiringi babak baru hidupnya sebagai wanita yang dicintai seutuhnya.