Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.
Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.
Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan yang Mulai Nyata
Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Lift private akhirnya tertutup perlahan setelah Arsen menarik Aluna masuk ke dalam tanpa bicara lagi. Namun suasana di antara mereka sekarang jauh lebih menyesakkan dibanding beberapa menit lalu.
Terutama setelah telepon terakhir tadi.
“Skandal asli CEO dingin akan dibongkar jam dua belas malam.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Aluna tanpa ampun.
Tangannya dingin.
Napasnya juga nggak stabil.
Sedangkan Arsen berdiri di sampingnya dengan wajah yang terlalu tenang.
Dan itu justru bikin takut.
Karena Aluna mulai mengenal laki-laki itu.
Semakin dingin dirinya…
semakin besar amarah yang sedang ditahan.
Lift bergerak turun perlahan menuju basement hotel. Namun selama beberapa detik tidak ada yang bicara.
Sampai akhirnya Aluna nggak tahan lagi.
“Arsen…”
Laki-laki itu langsung menoleh pelan.
“Iya?”
“Apa benar… Bima yang nyebarin semua ini?”
Tatapan Arsen berubah tipis.
“Selain dia, nggak ada yang cukup gila buat ngelakuin ini.”
Nada suaranya datar.
Tapi Aluna bisa merasakan sesuatu yang lebih gelap di balik ketenangan itu.
“Aku nggak ngerti kenapa dia jadi kayak gini…”
Suara Aluna mulai mengecil.
Dan itu bukan bohong.
Dulu Bima memang emosional dan gampang marah. Tapi laki-laki itu belum pernah sampai segila ini.
Belum pernah terlihat seperti orang yang rela menghancurkan hidupnya sendiri demi balas dendam.
Namun sekarang…
Bima terasa seperti orang asing.
Lift akhirnya terbuka di basement private. Beberapa bodyguard langsung berdiri siap di dekat mobil hitam milik Arsen.
“Tuan.”
Arsen hanya mengangguk kecil sebelum menggenggam tangan Aluna lagi.
Hangat.
Kuat.
Dan anehnya bikin dirinya sedikit lebih tenang.
Namun saat mereka baru beberapa langkah berjalan—
suara seseorang tiba-tiba terdengar dari ujung basement.
“ALUNA!”
Deg.
Tubuh Aluna langsung membeku.
Karena dia langsung mengenali suara itu.
Bima.
Beberapa bodyguard refleks bergerak maju cepat. Namun laki-laki itu sudah lebih dulu berjalan mendekat dengan kondisi berantakan.
Matanya merah.
Kemejanya kusut.
Dan wajahnya terlihat kacau banget.
“Akhirnya ketemu juga,” katanya sambil tertawa kecil.
Napas Aluna langsung nggak nyaman.
Sedangkan Arsen…
diam.
Terlalu diam.
Tatapan matanya dingin banget sekarang.
“Pak, biar kami—”
“Jangan.”
Suara Arsen rendah.
Bodyguard langsung mundur lagi.
Bima tertawa miring melihat itu.
“Wah… CEO hebat ternyata berani juga.”
“Ngomong seperlunya,” ucap Arsen dingin.
Namun Bima malah fokus menatap Aluna.
Tatapannya bikin merinding.
“Luna… kamu serius mau hidup sama dia?”
Aluna refleks mundur sedikit.
“Aku udah bilang semuanya selesai, Bim.”
“Selesai?”
Bima ketawa lagi.
Tapi kali ini terdengar sakit.
“Kamu ninggalin gue terus hidup enak sama orang kaya kayak dia… dan bilang semuanya selesai?”
“Jangan mulai lagi.”
Suara Aluna mulai gemetar.
Namun Bima justru makin mendekat.
“Apa dia udah tidur sama kamu?”
Deg.
Wajah Aluna langsung pucat.
Sedangkan suasana basement berubah dingin dalam sekejap.
Tatapan Arsen perlahan berubah gelap.
“Saya saranin kamu berhenti bicara sekarang.”
Nada suaranya rendah banget.
Namun Bima malah tertawa.
“Kenapa? Gue salah?”
Tatapan laki-laki itu pindah ke Arsen.
“Atau jangan-jangan… CEO dingin kayak lo emang suka rebut cewek orang?”
Brak!
Semua orang langsung terkejut saat Arsen tiba-tiba menarik kerah Bima brutal sampai tubuh laki-laki itu menghantam mobil di belakangnya.
Deg!
Aluna langsung panik.
“ARSEN!”
Tatapan mata Arsen sekarang benar-benar menyeramkan.
Dingin.
Gelap.
Dan penuh amarah yang selama ini ditahan.
“Saya tahan kamu sampai sekarang cuma karena Aluna.”
Suara laki-laki itu pelan banget.
Namun justru itu bikin bulu kuduk merinding.
“Jadi jangan paksa saya kehilangan kesabaran.”
Bima menatap Arsen sambil tersenyum miring meski kerahnya dicekik kuat.
“Lo pikir dia bakal cinta sama lo?”
Deg.
Kalimat itu langsung bikin suasana makin tegang.
Bima tertawa kecil lagi.
“Luna cuma takut sendirian. Makanya dia nempel sama siapa aja yang bisa lindungin dia.”
Wajah Aluna langsung berubah.
Karena ucapan itu terlalu menusuk.
Terlalu jahat.
Dan Bima tahu persis kelemahan dirinya.
Namun sebelum Aluna sempat bicara—
Arsen langsung menghantam Bima.
Bugh!
Suara pukulan keras menggema di basement.
“AKH!”
Tubuh Bima langsung jatuh ke lantai.
Aluna sampai membeku melihatnya.
Karena selama ini Arsen selalu terlihat tenang dan terkendali.
Tapi malam ini…
laki-laki itu benar-benar kehilangan kontrol.
Bodyguard langsung bergerak cepat menahan suasana sebelum makin kacau.
Namun Arsen masih berdiri dengan napas berat sambil menatap Bima dingin.
“Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi tentang dia.”
Deg.
Jantung Aluna langsung berdetak keras.
Karena untuk pertama kalinya…
dirinya benar-benar merasa dilindungi.
Bukan karena kontrak.
Bukan karena kewajiban.
Tapi karena Arsen memang nggak rela dirinya disakiti.
Bima mengusap darah di sudut bibir sambil tertawa kecil.
Gila.
Laki-laki itu masih sempat tertawa.
“Lo beneran jatuh cinta sama dia ya?”
Sunyi.
Kalimat itu langsung menggantung di udara.
Dan yang paling bikin berbahaya…
Arsen nggak langsung membantah.
Deg.
Napas Aluna langsung tertahan.
Tatapan mata mereka bertemu beberapa detik.
Dan entah kenapa jantung Aluna langsung kacau sendiri.
Namun detik berikutnya Bima kembali bicara.
“Sayang banget.”
Tatapan laki-laki itu berubah aneh.
Gelap.
“Hidup kalian nggak bakal tenang.”
Perasaan nggak enak langsung muncul lagi di dada Aluna.
“Apa maksudmu?”
Bima perlahan berdiri sambil menyeringai tipis.
“Jam dua belas tinggal bentar lagi.”
Deg.
Wajah Aluna langsung pucat.
Sedangkan Arsen menatapnya tajam.
“Kamu upload apa?”
Bima tertawa.
“Kita lihat aja nanti.”
Dan sebelum bodyguard sempat menahan—
laki-laki itu tiba-tiba lari ke arah luar basement.
“Kejar dia!” perintah Arsen dingin.
Beberapa bodyguard langsung bergerak cepat mengejar.
Namun entah kenapa…
dada Aluna makin sesak.
Instingnya buruk banget.
Sangat buruk.
---
Perjalanan pulang ke penthouse terasa sunyi.
Aluna duduk diam di kursi mobil sambil terus memegangi jemarinya sendiri.
Jam digital di dashboard mobil menunjukkan pukul 11:43 malam.
Tujuh belas menit lagi.
Dan entah apa yang akan terjadi setelah itu.
Sedangkan Arsen duduk di sampingnya sambil menatap layar ponsel tanpa ekspresi.
Namun Aluna tahu laki-laki itu sedang marah besar.
Sangat besar.
“Aku takut…”
Suara Aluna akhirnya pecah pelan.
Tatapan Arsen langsung berpindah ke dirinya.
Dan dalam hitungan detik, aura dingin laki-laki itu sedikit berubah.
“Lihat saya.”
Aluna pelan-pelan menoleh.
Tatapan Arsen serius banget sekarang.
“Apapun yang keluar nanti… saya tetap di pihak kamu.”
Deg.
Jantung Aluna langsung bergetar.
Karena kalimat itu terdengar terlalu tulus.
Dan itu bikin dirinya justru makin takut kehilangan.
“Aku nggak mau hidup kamu hancur gara-gara aku…”
Arsen langsung mengernyit.
“Kamu masih ngomong kayak gitu?”
“Aku serius.”
“Aluna.”
Nada suara laki-laki itu turun rendah.
“Dengerin saya baik-baik.”
Jantung Aluna langsung berdetak makin cepat.
“Kamu bukan beban.”
Deg.
Kalimat itu langsung menghantam dadanya tanpa ampun.
Sampai tenggorokannya terasa sesak sendiri.
Karena selama ini…
selalu itu yang dia rasakan.
Beban.
Masalah.
Orang yang merepotkan.
Namun Arsen justru memandang dirinya berbeda.
Dan itu berbahaya banget.
Karena perlahan…
Aluna mulai benar-benar jatuh cinta.
Mobil akhirnya berhenti di basement penthouse.
Namun saat mereka baru turun—
ponsel Aluna tiba-tiba berbunyi keras.
Tangannya langsung gemetar saat membuka notifikasi.
Video baru diupload.
Dan jumlah penontonnya naik gila-gilaan hanya dalam beberapa detik.
Deg.
Napas Aluna langsung tercekat.
Sedangkan Arsen mengambil ponsel itu cepat.
Lalu dalam satu detik…
wajah laki-laki itu berubah gelap total.
“Apa isinya…?”
Suara Aluna melemah.
Namun Arsen nggak langsung menjawab.
Tatapan matanya tajam banget sekarang.
Dan itu bikin Aluna makin takut.
Perlahan perempuan itu melihat layar ponsel.
Dan dalam sepersekian detik…
darahnya langsung terasa berhenti mengalir.
Karena video itu memperlihatkan dirinya.
Sedang menangis di kamar hotel malam itu.
Dan suara di video tersebut terdengar jelas.
“Aku takut…”
Napas Aluna langsung kacau.
Karena video itu dipotong sedemikian rupa…
hingga terdengar seperti dirinya dipaksa Arsen malam itu.
Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Komentar netizen langsung meledak brutal.
ANJIR ternyata dipaksa?!
CEO psikopat?!
Kasihan ceweknya!
Tangkap itu cowok!
Wajah Aluna langsung pucat total.
Sedangkan Arsen…
diam banget.
Terlalu diam.
Dan itu jauh lebih menakutkan dibanding amarah sebelumnya.
Karena kali ini…
bukan cuma hubungan mereka yang dihancurkan.
Tapi hidup Arsen juga mulai diseret jatuh bersamanya.