Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Apa?
“Langsung saja.” Lyra melirik arlojinya lalu melanjutkan. “Aku sangat sibuk.”
Ryan menyunggingkan senyum seraya memberikan kue strawberry ke hadapan Lyra. “Aku pesan ini untukmu, favoritmu, kan?”
“Jadi kamu sudah ingat dengan hal kecil ini.” Dengan tenang, Lyra menikmati kue strawberry yang memang menjadi favoritnya, ia tak bersikap canggung apalagi emosional meski saat ini berhadapan dengan pria yang mengkhianati dan meninggalkannya hanya seminggu sebelum hari pernikahan.
“Kamu masih sama seperti dulu, selalu tenang.” Ryan berkata dengan kecewa. Sesungguhnya dia masih tidak ingat dengan jelas seperti apa Lyra dulu, semua informasi tentang wanita itu diberikan oleh Haris.
Kata Haris, Lyra selalu mampu bersikap tenang dalam setiap situasi karena terbiasa menghadapi tekanan dari keluarga.
“Terima kasih,” balas Lyra dengan nada datar, membuat Ryan hanya bisa tersenyum kaku, sikap Lyra saat ini membuat atmosfer di sekitarnya terasa dingin menusuk, ia sungguh tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa memenangkan kembali hati wanita itu.
“Kamu mengajakku ke sini hanya untuk traktir makan kue?” Lyra kembali melirik arlojinya. Saat ini ia benar-benar sibuk karena kerja samanya dengan model dari perusahaan Ares sudah berjalan. Ada banyak hal yang harus Lyra lakukan tapi Ryan yang terus mendatanginya membuatnya terganggu. “Aku harus bekerja, Ryan.”
“Aku nggak selingkuh!” tegas Ryan dengan yakin tapi Lyra justru menanggapinya dengan seringai tipis, seakan mengejek pengakuan sang mantan. “Aku bersumpah, Lyra. Aku nggak pernah dekat dengan wanita lain apalagi selingkuh dengan adikmu.”
Lyra menegakkan punggung, ia menatap mata mata Ryan dengan intens lalu bertanya, “Menurutmu aku akan percaya?”
“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya sama aku?”
Lyra berpikir sejenak, teringat kembali dengan jaket kesayangan Ryan di lemari Cahaya, juga foto mereka di taman. Dua hal itu memang bukti tidak langsung atas perselingkuhan yang ia curigai tapi mengingat bagaimana Ryan mengenali Cahaya sebagai kekasih saat bangun dari koma membuat Lyra tak lagi ingin berharap bahwa semuanya hanya salah faham.
“Sepertinya semua itu sudah nggak penting, Ryan. Kamu sudah tahu apa statusku di keluargamu sekarang, kan? Jadi apa pun yang kamu jelaskan sekarang sudah nggak bisa mengubah apa yang terjadi.”
“Tapi, Lyra_”
“Kalau kamu memang nggak selingkuh_” Lyra menyela dengan cepat. “Itu bagus, setidaknya aku nggak akan membencimu untuk alasan itu.”
“Aku berjanji akan membuktikan kesetiaanku, Lyra.”
Lyra hanya menanggapi ucapan penuh tekad Ryan dengan senyum tipis sebelum beranjak lalu pergi begitu saja, bahkan wanita itu tidak mau repot-repot mengucapkan sepatah kata pun pada sang mantan.
“Kekasihmu, Kawan?”
Ryan langsung menoleh mendengar suara bariton itu. “Pak Barga?”
Barga tersenyum lalu menarik kursi di depan Ryan, duduk di tempat itu menggantikan Lyra, bahkan tanpa sungkan memakan sisa kue Lyra membuat Ryan mengernyit heran.
“Aku sangat suka makanan manis, maaf,” kekeh Barga sembari mengelap sudut mulutnya dengan tissue. “Sejak kecil kami hidup susah, bahkan sering kali nggak bisa makan selama beberapa hari dan hal itu membuat kami berprinsip bahwa makanan nggak boleh dibuang meski hanya sesuap, bahkan meski itu sisa dari orang lain, makan saja, selama tidak beracun. Jadi sudah menjadi kebiasaan kami menghabiskan semua makanan di depan mata.”
Ryan tersenyum samar, ia meneguk kopinya lalu berkata, “Aku menghargai prinsipmu itu, Pak Barga.”
“Tapi sepertinya Ares nggak punya kebiasaan itu padahal kami tumbuh bersama.”
Air muka Ryan langsung berubah mendengar apa yang Barga katakan.
Beberapa hari yang lalu, Barga muncul di hadapannya dan mengaku sebagai teman Ares yang tumbuh bersama di panti asuhan, bahkan menunjukkan beberapa foto kebersamaan mereka. Awalnya Ryan ingin mengabaikan pria itu tapi ia merasa kehadiran Barga bukan sebuah kebetulan.
Ryan yakin pria itu datang dengan tujuan tertentu, apalagi Barga terlalu sering muncul di hadapannya dengan dalih kebetulan bertemu, padahal ia yakin pria itu memang mengikutinya.
“Kalau kamu menginginkan sesuatu darinya, langsung datangi dia, Pak Barga. Kalian tumbuh bersama di panti asuhan, bisa dibilang kalian teman bahkan saudara.”
Barga menggeleng dengan wajah sedih yang dibuat-buat. “Aku nggak berani muncul di hadapannya setelah hari itu, aku sangat merasa bersalah karena meninggalkannya di tengah kobaran api yang bisa saja menghanguskannya menjadi abu.
Ryan berseringai samar mendengar kata-kata Barga yang seakan menyiratkan penyesalan dan rasa bersalah, sedangkan sorot mata pria itu justru berkata sebaliknya.
Ada kebencian yang begitu pekat di sana.
“Sekarang kakakku hidup dengan sangat baik,” kata Ryan dengan senyum tipis. “Selain itu, sepertinya dia nggak akan marah sama kamu karena meninggalkannya saat panti asuhan kebakaran, toh dia tetap hidup dengan sangat baik. Oh ya, aku harus pergi sekarang. Dan untuk kue-nya, nikmati saja, semuanya sudah kubayar.”
Barga mengulum senyum sembari mempersilakan Ryan pergi, setelah itu ia benar-benar menghabiskan kue di meja hingga tak bersisa sedikit pun.
“Ares sialan,” umpatnya dengan senyum licik. “Apa yang harus aku lakukan untuk membayar nyawa istriku yang kamu renggut, Kawan? Kenapa kamu nggak punya orang yang dicintai di dunia ini? Apa hatimu terbuat dari besi sampai nggak bisa mencintai siapa pun?”
***
“Tambah orang untuk menjaga Lyra.” Ares mengepalkan tangan, rahangnya mengetat melihat cctv di café saat Lyra hampir saja bertemu dengan Barga.
“Barga tidak mengenal Nyonya, Tuan. Jangan khawatir.” Vano mencoba menenangkan tapi tampaknya itu sia-sia, kecemasan yang terpancar di wajah tak berkurang sedikit pun. “Saat ini perusahaan Nyonya sedang membuka lowongan pekerjaan, saya sudah mengatur beberapa orang terpercaya untuk melamar di sana untuk menjaga Nyonya dari jarak dekat.”
Ares hanya mengangguk lalu memberi isyarat pada Vano untuk pergi. Dengan terpaksa Vano meninggalkan tuannya yang tampak begitu pucat dan lemas itu.
Ares menopang kepalanya dengan kedua tangan, napasnya tiba-tiba terasa berat, dadanya sesak karena ingatan akan masa lalu yang menyakitkan itu kembali datang.
“Nggak, nggak akan terjadi lagi.”
Ares menutup kedua telinganya saat ia merasa mendengar suara jeritan dan tangisan dari berbagai sudut, tetapi tak peduli seberapa kuat ia mencoba menghindari suara itu, hasilnya tetap sia-sia, suara-suara mengerikan itu seolah berada dalam kepalanya.
“Sial!”
“Sial!”
“Sial!”
Ares memukul kepalanya dengan keras berulang kali, berharap bisa mengusir bayangan dan suara-suara yang menghantuinya selama belasan tahun.
“Argh!” Ares menggeram saat ia merasakan kepalanya berdentum sedangkan jeritan tangis itu terasa semakin nyata.
Saat mendongak, Ares terbelalak melihat kobaran api di depannya, tubuhnya menegang seketika. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemetar yang menjalar di ujung kaki.
Ares ingin berlari, tetapi api itu kini sudah mengelilinginya. Ia ingin berteriak tapi suaranya hilang, napasnya tercekat di tenggorokan.
“Ares?”
“Ares?”
Tubuh Ares semakin menegang, wajahnya pucat pasi, tatapannya kosong seakan jiwanya meninggalkan raganya.
“Ares!”
Ares terperanjat saat mendengar suara teriakan itu, ia menoleh dan mendapati Lyra di sisinya, menatapnya dengan cemas.
“Lily ..., pergi.” Ares berbisik lirih. “Api … api ini akan membunuh kita.”
“Api? Apa apa?”
Ly mungkin cinta Ares salah tapi percayalah dia tulus mencintaimu dan dia lakukan itu untuk melindungi mu.