NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Jatuhnya Sang Pelindung Rawa

Lampu sirine darurat masih berputar liar, membasahi ruangan laboratorium bawah tanah dengan cahaya merah sewarna darah. Di dalam ruang kaca interogasi, Lara menempelkan kedua telapak tangannya pada permukaan kaca yang dingin. Jantungnya berdentang begitu keras, berpacu dengan suara bising mesin generator di luar yang mulai tersendat. Hanya beberapa jengkal di balik dinding kaca tebal itu, Kala berdiri dengan tubuh gemetar, membalas tatapannya dengan sepasang mata emas yang meredup.

Lara bisa melihat betapa payah cowok itu menahan beban tubuhnya sendiri. Sisa-sisa peluru dari barikade atas masih tertanam di balik kulitnya, menyisakan lelehan cairan keperakan yang membeku menjadi kristal es saat menyentuh lantai semen. Namun, tepat ketika Kala hendak menggerakkan jemari cakarnya untuk menghantam kaca pembatas mereka, sebuah suara tawa parau bergema dari sudut ruangan yang gelap.

"Kau benar-benar datang, Ekspedisi nomor sembilan," suara itu terdengar dingin, keluar dari pengeras suara nirkabel.

Tuan Baron mendorong tuas kursi roda elektroniknya, maju perlahan dari balik bayangan tangki penyimpanan cairan kimia. Di sampingnya, Roy berdiri dengan senyum culas yang mengembang lebar, memegang sebuah papan kendali digital. Senyum di wajah keriput taipan logistik itu terlihat begitu puas, seolah dia baru saja memenangkan taruhan besar di dermaga pelabuhan.

Kala memutar lehernya dengan kaku. Otot-otot di rahangnya mengencang, mengeluarkan desisan rendah dari celah bibirnya yang memucat. Mata emasnya berkilat murka, bersiap untuk melompat dan meremukkan kursi roda tua itu dalam sekali tebasan.

"Jangan bergerak terlalu cepat, Penjaga Sungai," ujar Tuan Baron, lalu memberi isyarat kecil pada Roy menggunakan kedipan matanya. "Aku sudah menghabiskan ratusan ribu dolar hanya untuk menyambut kedatanganmu di bawah dermaga ini."

Klik.

Roy menekan satu tombol besar di papan kendali. Di sudut ruangan, sebuah mesin besi berukuran raksasa berputar otomatis. Itu adalah meriam pneumatik, senjata berat dengan moncong pipa kembar yang tersambung langsung pada tangki kompresor bertekanan tinggi. Ujung moncongnya bergerak linear, mengunci posisi tubuh tegap Kala yang menjadi sasaran empuk di tengah ruangan.

Lara yang melihat pergerakan mesin itu langsung memukul kaca tebal di depannya menggunakan kepalan tangan. "Kala! Menyingkir dari sana! Cepat menyingkir!" teriaknya histeris. Suaranya terendam di dalam ruang kedap udara, hanya menyisakan uapan napas panik yang mengaburkan permukaan kaca.

Jgreeesss!

Suara hantaman udara bertekanan tinggi meledak dari moncong meriam pneumatik.

Dua tombak perak tebal meluncur cepat membelah kepulan debu semen. Logam runcing itu menarik kabel-kabel baja panjang yang terhubung pada mesin utama. Kecepatannya tidak memberi ruang bagi Kala yang fisiknya sudah kepayahan untuk menghindar.

Jleb! Jleb!

Dua tombak perak itu menancap dalam tepat di pundak tegap Kala. Bunyi daging yang robek terdengar begitu nyata, disusul oleh erangan tertahan yang keluar dari tenggorokan cowok itu. Dorongan kuat dari meriam membuat tubuh besar Kala terdorong mundur satu langkah sebelum kabel bajanya menegang, menahannya agar tetap berdiri di tempat.

"Sekarang! Alirkan cairannya!" perintah Tuan Baron, matanya melebar penuh gairah yang mengerikan.

Dari balik tabung transparan yang terpasang di pangkal tombak, cairan kimia berwarna biru pekat—Silver Tox—mulai mengalir deras melalui pipa kapiler tersembunyi, merangsek masuk ke dalam pembuluh darah Kala. Itu adalah racun pelumpuh saraf naga yang diracik khusus untuk membekukan sirkulasi energi magis di hulu sungai.

Efeknya bekerja seketika. Dan itu sangat menyiksa.

Urat-urat di leher Kala mendadak menonjol berwarna biru gelap, menjalar cepat menuju pelipis matanya. Tubuh tingginya berguncang hebat seperti orang yang tersengat listrik tegangan tinggi. Bau hangus yang aneh mulai menguar di udara, bercampur dengan suara desisan cairan kimia yang sedang membakar sistem pertahanan di dalam tubuhnya.

Lara membekap mulutnya sendiri. Air matanya luruh tanpa bisa ditahan melihat penderitaan cowok itu.

Sesuatu yang lebih memilukan terjadi kemudian. Lapisan sisik perak yang menutupi sepanjang lengan dan pelipis mata Kala mulai kehilangan kililaunya. Warna keperakan yang indah itu meredup, berubah menjadi abu-abu kusam yang rapuh. Kulitnya pecah-pecah seperti tanah kering yang dilanda kemarau panjang.

Klentang... Klentang...

Satu demi satu, kepingan sisik perak yang keras itu retak, lalu rontok ke atas lantai semen laboratorium. Bunyi dentang logam yang jatuh ke lantai itu terdengar begitu pilu di telinga Lara, seolah-olah itu adalah suara runtuhnya harga diri sang penguasa rawa. Sisik-sisik pelindung itu luruh, meninggalkan permukaan kulit manusia yang melepuh dan mengeluarkan uap dingin yang lemah.

Kala mencoba tetap tegak. Dia mencengkeram kabel baja yang menancap di pundaknya, mencoba menarik paksa tombak itu keluar dengan sisa tenaganya. Namun, Silver Tox telah melumpuhkan otot-otot besarnya. Lututnya mulai bergetar hebat. Beban tubuhnya mendadak terasa seribu kali lebih berat dari biasanya.

Brak.

Satu lutut Kala menghantam lantai semen dengan keras.

Dia mencoba bertahan menggunakan kedua tangannya yang kini telah kembali menjadi tangan manusia biasa—tanpa cakar, tanpa kekuatan naga purba. Napasnya menjadi sangat bising, megap-megap seperti ikan yang kehabisan air tawar di atas daratan. Dadanya kembang kempis dengan ritme yang patah-patah, mengeluarkan sisa uap es terakhir dari tenggorokannya yang terasa kering terbakar.

Brak.

Lutut keduanya ikut jatuh bertumpu di lantai. Sekarang, sang pelindung rawa yang agung itu duduk berlutut, menundukkan kepalanya dalam-dalam tepat di depan roda kursi roda elektronik Tuan Baron. Tubuhnya melengkung menahan rasa sakit yang luar biasa, seolah seluruh tulang di tubuhnya sedang dipatahkan secara paksa oleh racun kimia tersebut.

Tuan Baron tersenyum puas. Dia memajukan kursi rodanya hingga ujung sepatunya hampir menyentuh kepala Kala yang merunduk. "Lihat ini, Roy. Makhluk yang disembah oleh para nelayan bodoh di sungai Asahan, sekarang tidak lebih dari seekor cacing yang sekarat di bawah kakiku."

Roy tertawa kecil, melipat tangannya di dada dengan gaya angkuh. "Tinggal selangkah lagi, Tuan. Kita bisa mengambil inti energinya setelah tubuh manusianya benar-benar hancur."

Dari balik kaca interogasi, Lara merasa dunianya runtuh seketika. Dadanya terasa robek menyaksikan cowok yang semalam memeluknya di gubug rumbia kini bersujud tak berdaya di depan para penindas pelabuhan. Kala, yang nekat menerobos barikade peluru demi mencarinya, kini sekarat karena kelemahannya sendiri—karena dia memilih datang sebagai manusia, bukan sebagai monster yang kejam.

Lara mundur dua langkah dari dinding kaca. Matanya yang basah menyapu seluruh sudut ruangan interogasi yang sempit ini. Rasa takutnya lenyap, digantikan oleh gelombang kemarahan murni yang membakar seluruh isi kepalanya. Pergelangan tangan kirinya yang sempat melepuh akibat nitrat perak kini berdenyut kencang, memberikan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Kala. Tidak akan pernah.

Pandangan Lara terkunci pada sebuah tabung pemadam api berwarna merah menyala yang tergantung di dekat pintu keluar ruang interogasi. Tanpa berpikir panjang tentang keselamatannya sendiri, dia berlari mendekati tabung besi berat itu. Tangannya yang gemetar meraih tuas pengikat, menariknya lepas dari dinding dengan satu sentakan kasar.

Di luar ruangan, Tuan Baron masih sibuk menikmati kemenangannya, tidak menyadari bahwa gadis kurir yang mereka remehkan di dalam ruang kaca kini sedang bersiap untuk membalikkan neraka bawah tanah ini dengan caranya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!