NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pengakuan yang Terlepas

Suara klik pelan dari pintu kayu ek yang tertutup di belakang punggung Kiandra seolah menjadi garis pemisah yang tegas. Di luar sana, Paris masih menyisakan sisa-sisa angin musim gugur yang menusuk, namun di dalam apartemen Rue de Rivoli ini, atmosfernya mendadak berubah menjadi hangat dan menyesakkan secara bersamaan.

Kiandra bersandar pada daun pintu, memejamkan mata rapat-rapat sambil mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di kerongkongannya.

Rasanya seolah ia baru saja melarikan diri dari sebuah panggung sandiwara yang melelahkan. Bayangan Blake Harrington dengan senyum porselennya dan aroma parfum mahal yang kini terasa memuakkan masih membekas di benaknya.

Kiandra meremas clutch kecilnya, mencoba membuang sisa-sisa ketegangan yang tertinggal dari insiden di dalam Audi hitam tadi.

"Gila. Hampir saja bibir pangeran palsu itu mendarat di bibirku," batin Kiandra merana. Ia mengusap pipinya sendiri, seolah-olah masih ada bekas ciuman meleset yang menempel di sana. "Kalau sampai kena, aku pasti langsung butuh mandi pakai air kembang tujuh rupa."

Apartemen itu sunyi, hanya diterangi oleh cahaya kuning temaram dari lampu berdiri di sudut ruangan yang memancarkan pendar lembut di atas lantai kayu Haussmann yang mengkilap.

Alunan musik jazz pelan dari saksofon mengalir rendah, menciptakan simfoni malas yang berbaur dengan aroma sandalwood yang kini terasa begitu akrab dan menyambutnya dengan hangat.

Kiandra membuka matanya dan pandangannya langsung tertuju pada sofa panjang di ruang tengah.

Enzo Romano ada di sana. Pria itu duduk santai dengan satu kaki bertumpu di atas lutut lainnya. Kacamata baca bertengger di hidung mancungnya, memberikan kesan intelektual yang kontras dengan penampilannya yang... sangat tidak tertutup.

Enzo bertelanjang dada, hanya mengenakan celana piyama hitam yang longgar di pinggul. Cahaya lampu temaram menonjolkan setiap lekuk otot di bahu lebarnya dan definisi keras di perutnya yang berkilau pelan.

Enzo melirik sekilas dari balik lensa kacamatanya saat menyadari kehadiran Kiandra. Ia tidak bertanya, tidak juga memberikan komentar pedas seperti biasanya. Pria itu hanya memberikan ruang sunyi yang anehnya terasa sangat nyaman bagi Kiandra.

Kiandra berjalan gontai, melepaskan sepatu hak tingginya dengan gerakan lemas. Ia menjinjing sepatu itu dengan jari-jarinya yang terasa kaku, lalu melangkah tanpa suara di atas lantai kayu yang dingin. Alih-alih langsung menuju kamarnya untuk bersembunyi, langkah kaki Kiandra justru membawanya mendekati sofa.

Tanpa kata, Kiandra menjatuhkan dirinya duduk tepat di samping Enzo.

Bahu dan lengan Kiandra bersentuhan rapat dengan lengan kokoh Enzo. Kain satin merah dari gaun pemberian pria itu bergesekan dengan kulit lengan Enzo yang hangat dan sedikit kasar.

Kiandra bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Enzo menembus kain tipis gaunnya, menciptakan sensasi elektrik yang merambat cepat ke seluruh sarafnya.

Enzo tampak menegang sesaat. Tubuhnya yang dominan sedikit kaku, seolah terkejut dengan keberanian Kiandra yang mendadak menempel padanya tanpa aba-aba. Ia menurunkan bukunya sedikit, melirik ke arah lengan mereka yang bersentuhan, namun ia tidak bergeser satu milimeter pun. Enzo kembali menatap bukunya, membiarkan kontak fisik itu tetap terjadi di antara mereka.

Kiandra menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit-langit dengan tatapan kosong dan lelah. Beban mental dari kencan Michelin bintang tiga itu seolah luruh begitu saja saat ia mencium aroma tubuh Enzo yang maskulin dan menenangkan.

"Paris itu cantik, tapi kencannya melelahkan," gumam Kiandra. Suaranya serak, terdengar sangat jujur dan tanpa filter.

Enzo tidak langsung menjawab. Ia membalik halaman bukunya dengan gerakan elegan sebelum akhirnya bersuara.

"L'Ambroisie tidak membuatmu kenyang, Piccola?" tanya Enzo. Nada suaranya berat, dalam, dan provokatif seperti biasa.

Kiandra mendengus pelan, masih menatap langit-langit. "Perutku kenyang, tapi kepalaku pusing. Blake itu... dia seperti manekin hidup yang hanya bicara soal dirinya sendiri. Dia ganteng sih, tapi rasanya kayak lagi dengerin presentasi saham setiap kali dia buka mulut."

"Dia bilang kelas itu bawaan lahir, Enzo," lanjut Kiandra, suaranya kini mengandung nada kekesalan yang nyata.

"Dia meremehkan rumah makan ibuku dengan cara yang sangat sopan. Seolah-olah resep turun-temurun keluargaku itu cuma kebisingan yang butuh dipoles oleh konsultan London-nya."

Enzo menutup bukunya perlahan, menandai halamannya dengan jari telunjuknya yang panjang. Ia meletakkan buku itu di pangkuannya, memberikan perhatian penuh pada keluh kesah mahasiswinya itu.

"Pangeran Inggris itu memang punya penyakit merasa paling unggul. Itu bawaan genetik dari sejarah kolonial mereka," ucap Enzo dengan nada sinis yang khas.

"Lalu, kamu hanya diam saja diperlakukan begitu?"

"Tentu saja tidak! Aku melawannya," Kiandra menoleh sedikit ke arah Enzo, matanya berkilat marah. "Tapi tetap saja rasanya menyebalkan. Dia sangat kekanak-kanakan di balik jas mahalnya. Dia pikir dunia ini cuma soal etiket dan kartu kredit hitam."

Enzo terkekeh rendah. Suara tawa baritonnya bergetar di lengan Kiandra yang masih menempel rapat padanya. Getaran itu terasa begitu intim, membuat jantung Kiandra berdegup sedikit lebih kencang.

"Jadi, kencan impian mahasiswi Le Cordon Bleu ternyata gagal total?" goda Enzo, melirik Kiandra dengan tatapan hazel yang berkilau tajam di bawah cahaya lampu temaram.

"Gagal sejadi-jadinya. Aku lebih suka makan masakan buatanmu daripada duduk di sana lagi," jawab Kiandra spontan. Ia bahkan tidak sadar betapa tingginya pujian yang baru saja ia lontarkan.

Enzo menatap Kiandra dari samping. Jarak mereka begitu dekat hingga Kiandra bisa melihat pantulan dirinya di mata hazel pria itu. "Kalau begitu, sebenarnya tipe pria yang kamu suka itu seperti apa, Kiandra?"

Kiandra kembali menatap langit-langit, pikirannya melayang bebas, tidak sadar bahwa ia sedang berjalan masuk ke dalam perangkap yang dipasang dengan sangat halus oleh sang predator di sampingnya.

"Yang baik... yang ramah, dewasa..." Kiandra mulai merinci. "Pria yang nggak perlu pamer harta buat bikin aku terkesan. Yang bisa buat aku senyum, yang bikin aku merasa aman. Pria yang jujur, meskipun kadang omongannya pedas."

Enzo menyandarkan kepalanya ke sofa, menoleh sepenuhnya ke arah Kiandra. "Maksudmu... seperti aku?" tanya Enzo dengan nada yang sangat santai, seolah ia hanya sedang bertanya soal ramalan cuaca besok pagi.

Tanpa jeda, tanpa berpikir, dan didorong oleh kelelahan yang luar biasa, Kiandra menjawab spontan.

"Iya! Seperti kamu!"

Keheningan total mendadak menyergap ruangan itu selama lima detik penuh. Suara detak jam dinding seolah berhenti. Bahkan alunan jazz di latar belakang terasa menjauh.

Kiandra membeku. Matanya membelalak sempurna, menatap langit-langit dengan horor murni yang baru saja menghantam kesadarannya. Kata-katanya tadi bergema kembali di telinganya, lebih nyaring dari suara ledakan.

"MAMPUS! Aku ngomong apa barusan?!" teriak batin Kiandra histeris. Wajahnya seketika memerah padam, panasnya menjalar hingga ke ujung telinga dan tengkuknya.

"Kiandra, mulut kamu bener-bener minta disekolahin lagi! Kenapa bisa bocor begitu saja?!"

Ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, seolah ingin menarik kembali kata-kata yang sudah terlanjur terbang di udara. Kiandra melirik Enzo dari sudut matanya dengan sangat hati-hati, berharap pria itu terlalu fokus pada bukunya dan tidak benar-benar mendengar pengakuannya yang memalukan.

Enzo tetap tenang. Ia kembali membuka bukunya, membalik halaman seolah tidak terjadi apa-apa. Ekspresi wajahnya datar, tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut.

"Oh... sudah kuduga," jawab Enzo singkat, suaranya sangat datar tanpa ekspresi berlebihan.

Kiandra merasa sedikit lega. Ia mengira Enzo mungkin tidak terlalu fokus atau menganggap itu hanya igauan mahasiswi yang kelelahan. Ia menarik napas panjang, mencoba memperbaiki keadaan sebelum semuanya menjadi semakin canggung.

"Maksudku... maksudku yang sifatnya mirip! Bukan kamunya! Kamu kan menyebalkan!" Kiandra mencoba meralat dengan nada panik yang justru terdengar semakin mencurigakan.

Enzo menutup bukunya lagi. Kali ini, ia benar-benar meletakkannya di meja kaca dengan bunyi 'duk' yang mantap dan berwibawa. Ia melepaskan kacamata bacanya, mengusap wajahnya sebentar dengan telapak tangan, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Kiandra. Tatapannya kini tidak lagi santai; ada intensitas yang menghimpit di sana.

"Biar aku buatkan teh hangat. Kamu pasti butuh itu untuk menenangkan sarafmu yang sedang... kacau," Enzo bangkit berdiri perlahan, memamerkan postur tubuhnya yang tinggi dan dominan.

"Tidak perlu, Enzo! Aku bisa sendiri! Kamu lanjut baca saja!" Kiandra mencoba berdiri dengan terburu-buru, ingin segera kabur ke kamarnya sebelum harga dirinya hancur total.

Enzo berhenti melangkah. Ia menatap Kiandra dengan tatapan yang sangat intens, penuh kemenangan, dan seolah sedang menelanjangi seluruh rahasia di hati gadis itu.

"Kamu pasti lelah, Piccola. Lagipula... aku harus jadi pria yang sesuai dengan ekspektasimu, kan?"

Kiandra menatap Enzo dengan horor murni di matanya. Kakinya terasa terpaku di lantai.

"Pria yang sesuai dengan tipemu. Yang baik, ramah, dan dewasa, kan?" Enzo menyunggingkan senyum miring yang paling provokatif, senyum yang membuat jantung Kiandra seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.

Enzo mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Kiandra, membuat gadis itu terpaksa menunduk malu, tidak sanggup menatap mata hazel yang sedang menertawakannya itu.

"Sialan! Dia dengar semuanya! Dia cuma pura-pura nggak dengar biar aku semakin malu!" Kiandra merutuk dalam kehancuran harga dirinya yang paling dalam. Ia meremas ujung gaun satin merahnya, merasa ingin sekali menghilang dari muka bumi saat ini juga.

Enzo tertawa pelan, sebuah tawa bariton yang terdengar sangat puas dan penuh kemenangan. Ia berjalan santai menuju dapur dengan langkah yang ringan, meninggalkan Kiandra yang masih mematung di samping sofa.

Kiandra segera menyambar bantal sofa dan membenamkan wajahnya di sana, mengerang tertahan karena malu yang luar biasa. Suara denting cangkir dari dapur dan tawa kecil Enzo yang masih terdengar mengejeknya seolah menjadi simfoni penutup malam yang paling bencana bagi Kiandra Zanitha.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!