*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Buka Cabang Baru
Ide buka cabang kedua muncul waktu hujan deras tengah malam.
Listrik mati, kafe gelap, tapi Alya dan Revan masih duduk di meja 7 dengan dua lilin dan sisa brownies semalam.
“Kalo kita punya cabang kedua, gue mau tempatnya deket kampus,” kata Alya sambil nyolek sisa cokelat di piring pake jari.
“Nanti anak-anak skripsi bisa nangis sambil minum kopi gue.”
Revan ketawa, ngambil jari Alya pelan-pelan, jilat cokelatnya.
“Manja banget sih. Brownies aja dimakan pake jari.”
Alya nyenggol bahunya, pipinya dikit merah.
“Ya gimana, sendoknya udah kamu sembunyiin tadi.”
“Supaya kamu nyuapin gue,” jawab Revan santai, sambil dorong piringnya ke depan Alya.
“Nih, sekarang giliran kamu yang manjain gue.”
Alya mendelik, tapi akhirnya nyuapin juga.
“Revan, kamu tuh nyebelin tapi bikin gue nggak bisa marah lama.”
“Strategi,” bisik Revan, matanya nakal.
“Biar kamu nggak pergi-pergi.”
---
Rencana buka cabang mulai serius minggu depannya.
Mas Bayu akhirnya setuju, asal Alya dan Revan yang pegang operasional.
“Gue udah tua. Tugas gue sekarang cuma ngecap rasa dan ngomel kalau kopinya kepahitan,” katanya sambil ngopi di meja 7.
Mereka nemu ruko kecil di daerah Seturan. 10 menit dari kampus UGM, deket kos-kosan, dan ada pohon mangga tua di depan.
Pas Alya lihat tempatnya, dia langsung bilang, “Ini dia. Rasanya kayak rumah.”
Revan cuma ngangguk, tapi tangannya udah nyari tangan Alya di bawah meja.
“Kalau kamu bilang rumah, berarti gue ikut.”
Alya nggak jawab. Dia cuma ngeremet tangan Revan pelan.
Di luar, gerimis turun lagi. Di dalam, rasanya anget banget.
---
Proses renovasi bikin mereka ketemu tiap hari dari pagi sampe malem.
Alya yang pilih warna cat: soft sage green, katanya biar adem.
Revan yang urus tukang, listrik, dan mesin kopi baru.
Kadang mereka berantem kecil.
Alya mau rak bukunya tinggi sampe ke langit-langit. Revan bilang nanti susah ngambilnya.
Alya ngambek 10 menit. Terus Revan beliin es krim dan bilang, “Oke, bikin sampe langit. Nanti gue yang jadi tangga hidup kamu.”
Alya ketawa, terus nyuapin es krimnya ke mulut Revan.
“Manisnya kebanyakan.”
“Ya biar ngimbangin hidup gue yang pahit tanpa kamu,” jawab Revan seenaknya.
Mereka kerja sampe jam 11 malam.
Kadang ketiduran di sofa kecil yang belum kepasang.
Bangun-bangun, Alya udah ketutup jaket Revan, dan di kepalanya ada stiker post-it: _“Jangan masuk angin, ya. Nanti nggak ada yang marahin gue.”_
---
Seminggu sebelum opening, Alya sakit.
Demam, pusing, nggak bisa bangun dari kasur.
Revan langsung ambil alih semua. Tutup cabang Seturan sementara, jaga kafe Senja, terus malemnya nongkrong di kamar Alya sambil bawa bubur dan obat.
“Kamu tuh bandel,” omel Revan sambil nyuapin bubur.
“Orang sakit masih mikirin desain menu.”
Alya cuma cengengesan, suaranya serak.
“Kalau aku nggak mikirin, nanti kamu buka cabang tapi kopinya rasa paracetamol.”
Revan ketawa, tapi tangannya nggak berhenti ngelus punggung Alya pelan.
“Tidur. Gue yang mikirin semuanya. Tugas kamu sekarang cuma cepet sembuh biar bisa manjain gue lagi.”
Alya diem. Terus pelan-pelan narik tangan Revan, naruh di pipinya.
“Van… makasih ya. Udah milih tinggal.”
Revan nggak jawab. Dia cuma nunduk, kecup kening Alya singkat.
“Cepet sembuh. Gue nggak suka liat kamu lemah. Nanti gue yang jadi lemah.”
---
Malam sebelum opening, mereka tes semua menu bareng Mas Bayu.
Alya deg-degan banget sampe tangannya dingin.
Revan yang lihat langsung genggam tangannya di bawah meja.
“Tenang,” bisiknya.
“Yang penting kamu ada di sini. Sisanya biar gue yang urus.”
Mas Bayu ngeliat dari jauh, cuma geleng-geleng.
“Anak sekarang, ngopi aja pakai perasaan. Untung rasanya enak.”
Pas jam 8 pagi, cabang Seturan dibuka.
Antrean panjang dari mahasiswa, ibu-ibu, sampe bapak ojek online.
Papan nama kayunya simpel: _Senja #2 – Meja 7_.
Alya berdiri di belakang bar, suara masih serak tapi senyumnya lebar banget.
Revan di sebelahnya, nyeduh kopi sambil sesekali nyuri lihat Alya.
“Gimana rasanya?” tanya Revan pelan.
Alya ngeliat ke luar. Orang-orang duduk, ketawa, buka laptop, curhat.
Kayak meja 7 yang dulu.
“Rasanya… kayak pulang,” jawab Alya.
“Pulangnya dua kali. Ke tempat ini, dan ke kamu.”
Revan diem sebentar. Terus dia nyodorin secangkir kopi ke Alya.
Di atas foam-nya ada gambar hati kecil.
“Spesial buat bos cabang. Jangan marah kalau manisnya kebanyakan.”
Alya ketawa, seruput pelan.
“Manisnya pas. Kayak kamu.”
Revan ketawa kecil, pipinya dikit merah.
“Jangan gombal pas jam rame. Nanti pelanggan pada baper.”
---
Malam itu mereka tutup jam 10.
Capek, tapi puas.
Di jalan pulang, Alya nyandar di bahu Revan sambil naik motor pelan-pelan.
“Van…”
“Hmm?”
“Besok kita buka lagi kan?”
Revan ketawa. “Iya. Besok, lusa, seterusnya. Kecuali kamu yang cabut.”
Alya cubit pelan pinggangnya.
“Nggak. Gue udah milih tinggal. Sama kamu.”
Di belakang, Jogja masih terang meski udah malem.
Di depan, ada dua orang yang akhirnya nemu rumah di satu sama lain.
---
*[Bersambung: ]*
---