Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Tak Terduga
Zayn masih terpaku di kursinya. Kata-kata Anggun barusan seperti menggantung di udara, tidak mau turun, tidak mau hilang.
“Aku hamil."
Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Ia menatap Anggun, berharap wanita itu tertawa dan bilang semua itu hanya bercanda. Tapi tidak.
Anggun justru membuka tas kecilnya dengan tenang. Dari dalam, dia mengeluarkan sebuah amplop putih. Lalu meletakkannya di atas meja, tepat di depan Zayn.
“Lihat sendiri,” katanya.
Tangan Zayn terasa kaku saat meraih amplop itu. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada hasil pemeriksaan dokter. Matanya membaca satu per satu, meski pikirannya seperti menolak memahami.
Hasil tes positif. Usia kehamilan 5 minggu.
Tangan Zayn sedikit gemetar. “Ini…” suaranya serak. “Ini beneran?”
Anggun tidak menjawab. Ia hanya mengambil sesuatu lagi dari tasnya. Kali ini, sebuah alat tes kehamilan. Dua garis merah jelas terlihat.
Zayn menatap benda itu lama. Lalu menarik napas panjang, tapi napasnya terasa berat.
“Ini nggak mungkin…” gumamnya tak percaya. Namun bukti sudah ada di depan mata.
Tiba-tiba, bayangan lain muncul. Davin, wajah kecil itu. Tangisnya, dan kondisinya saat lahir. Ucapan ibunya.
“Genetik keluarga kita harus dijaga, Zayn…”
“Jangan sampai ada keturunan yang bermasalah…”
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
“Aku… aku belum siap…” katanya lirih.
Anggun langsung menatapnya tajam. “Maksud kamu?”
Zayn menggeleng cepat. “Bukan itu… aku cuma—”
“Kamu nggak mau tanggung jawab?” potong Anggun, suaranya berubah dingin.
Zayn mendengus kasar. “Aku nggak bilang begitu…”
“Tapi sikap kamu bilang begitu,” sahut Anggun tanpa ragu.
Hening sejenak. Lalu Anggun bersandar di kursinya, menatap Zayn dengan ekspresi serius.
“Aku nggak akan buang anak ini,” katanya tegas. “Jadi kamu punya dua pilihan.”
Zayn menelan ludah.
“Kita jalani ini bersama,” lanjut Anggun. “Atau…”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku akan bilang ke semua orang kalau aku hamil anak kamu.”
Jantung Zayn langsung berdegup keras. “Anggun…”
“Aku serius,” katanya tanpa ragu. “Dan kamu tahu aku bisa lakukan itu.”
Zayn tahu. Sangat tahu. Anggun bukan tipe yang main-main. Jika itu sampai terjadi, reputasinya, keluarganya, semua akan kena dampaknya.
“Aku…” Zayn mengusap wajahnya frustasi. “Kasih aku waktu mikir…”
Anggun menggeleng. “Nggak ada waktu.”
Hening beberapa detik yang terasa sangat panjang. Akhirnya, Zayn menghela napas panjang. “Kita… ke rumah orang tuaku,” tuturnya.
Anggun tersenyum kecil. “Nah, dari tadi kan bisa begitu.”
Malam itu juga, mobil Zayn berhenti di depan rumah besar keluarga Hartanto. Rumah megah dengan halaman luas dan lampu-lampu yang menyala terang.
Zayn turun dengan langkah berat. Sementara Anggun berjalan di sampingnya dengan percaya diri. Begitu pintu terbuka, seorang wanita elegan menyambut mereka.
Ratna Hartanto. Matanya langsung berbinar saat melihat Anggun.
“Anggun?” suaranya terdengar senang. “Ya ampun, kamu!”
Anggun langsung tersenyum manis. “Tante Ratna…”
Ratna bahkan langsung memeluknya. “Kamu makin cantik saja! Sudah lama sekali nggak ke sini!”
Zayn yang berdiri di samping hanya bisa terdiam. Sedikit kaget melihat reaksi ibunya. Ia hampir lupa dulu memang Ratna sangat menyukai Anggun.
“Masuk, masuk!” ajak Ratna antusias.
Mereka masuk ke ruang tamu. Suasana hangat langsung terasa, tapi justru membuat Zayn semakin tidak nyaman.
“Om mana, Tante?” tanya Anggun.
“Lagi keluar kota,” jawab Ratna. “Ada urusan penting.”
Zayn menelan ludah. Entah harus lega atau justru semakin tegang.
Ratna lalu menatap mereka bergantian. “Jadi? Kalian datang malam-malam begini pasti ada sesuatu kan?”
Zayn dan Anggun saling pandang sebentar. Lalu Anggun yang lebih dulu bicara.
“Tante… aku hamil.”
Kalimat itu langsung membuat Ratna terdiam. Beberapa detik senyap.
“APA?!” suaranya naik, tapi bukan marah. Justru wajahnya langsung berubah cerah. “Hamil? Serius?” tanyanya dengan mata berbinar.
Anggun mengangguk manis.
Ratna langsung menepuk tangan kecil. “Ya Tuhan! Ini kabar bagus!”
Zayn membeku. Dia benar-benar tidak menyangka.
“Zayn!” Ratna menoleh padanya. “Kamu ini! Kenapa nggak bilang dari awal?!”
Zayn membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar.
Ratna kembali menatap Anggun dengan penuh suka cita. “Aduh… akhirnya Tante punya calon cucu!”
Zayn semakin kaget. Tidak ada kemarahan. Tidak ada penolakan. Semuanya justru berbanding terbalik dari yang dia bayangkan.
Alasannya jelas. Karena ini Anggun. Putri keluarga konglomerat. Cantik, pintar, dan “sempurna” di mata Ratna.
“Ini harus dirayakan!” kata Ratna bersemangat.
Namun Zayn tidak bisa ikut senang. Dadanya justru terasa semakin sesak. Ia menatap Anggun, lalu ibunya.
“Mah…” panggilnya.
Ratna menoleh. “Apa?”
Zayn ragu. Tapi akhirnya bicara juga. “Kalau nanti… anaknya…”
Ia berhenti. Bayangan Davin muncul lagi. “…kalau ada kemungkinan…” suaranya semakin kecil.
Belum selesai bicara, Ratna langsung memotong. “Sudah!” katanya cepat.
Zayn terdiam. Ratna menatapnya tajam. Ada peringatan di matanya. “Tidak usah bicara yang tidak-tidak,” lanjutnya.
Zayn mengerti. Ibunya tidak ingin Anggun tahu tentang Naomi. Tentang Davin dan semuanya.
“Fokus saja ke masa depan,” tambah Ratna dengan nada tegas.
Zayn menunduk. Sekali lagi, dia memilih diam. Sekali lagi, dia membiarkan hidupnya diarahkan.
Anggun yang duduk di samping hanya tersenyum kecil. Tidak tahu apa yang sebenarnya disembunyikan di balik percakapan itu.
...***...
Pagi hari. Cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela apartemen kecil Jihan.
Naomi terbangun pelan. Tubuhnya masih terasa berat. Kepalanya sedikit pusing. Matanya sembab. Ia masih dalam posisi duduk di lantai, bersandar ke sofa. Davin tertidur di pelukannya.
Beberapa detik, Naomi hanya diam. Mengingat semalam. Tangisnya, teriakannya dan rasa bersalahnya. Ia menatap Davin. Bayi kecil itu tertidur tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Maaf ya…” bisiknya.
Namun anehnya, pagi itu ada sedikit rasa lega. Seperti beban yang selama ini menumpuk akhirnya keluar. Meski tidak sepenuhnya hilang, setidaknya dadanya tidak sesak seperti kemarin.
Naomi mengusap wajahnya pelan. “Hari ini harus lebih baik,” katanya pada diri sendiri.
Saat itulah ponselnya berdering. Naomi sedikit terkejut. Jarang sekali ada yang menelepon pagi-pagi. Ia meraih ponselnya. Matanya menyipit saat melihat nama di layar.
“Dokter Junie?”
Alisnya berkerut. “Kenapa dokter telepon aku?” gumamnya.
Perasaan cemas langsung muncul. Jangan-jangan ada sesuatu terkait kondisi Davin? Tanpa menunggu lama, Naomi langsung mengangkat.
“Halo, Dok?” suaranya sedikit tegang.
Di seberang sana, suara Junie terdengar. “Halo… Naomi.”
Nada suaranya terdengar berbeda dari biasanya. Tidak sekadar profesional. Lebih personal.
Naomi langsung duduk lebih tegak. “Iya, Dok. Ada apa?”
Junie terdiam sejenak, seperti menyusun kata. “Saya… mau mengusulkan sesuatu padamu. Ini demi kebaikan Davin.” katanya akhirnya.
Naomi langsung makin tegang. “Kenapa? Apa ada sesuatu?"
“Kau tidak usah panik. Ini bukan hal buruk kok,” jawab Junie.
Jantung Naomi berdegup lebih cepat.
Junie menarik napas di ujung telepon. “Kemarin setelah kamu pulang… saya kepikiran.”
Naomi mengerutkan kening. Tidak mengerti arah pembicaraan.
“Kondisi berat badan Davin itu masih bisa kita kejar,” lanjut Junie. “Dan… saya nggak mau kamu merasa sendirian soal ini.”
Naomi terdiam. Ada sesuatu di cara Junie bicara. Tidak biasa.
“Saya bisa melihat wajahmu kemarin. Saya hanya ingin menyarankan, kalau sebaiknya kamu tidak usah bekerja dulu," kata Junie pelan.
Naomi menggenggam ponselnya lebih erat. “Maksud Dokter…?” tanyanya hati-hati.
Junie menghela napas kecil. “Kalau kamu tidak keberatan… saya ingin kamu dan Davin datang lebih rutin. Bukan hanya kontrol biasa.”
Naomi masih diam.
“Saya akan bantu pantau langsung. Dari feeding, nutrisi, sampai persiapan operasinya,” lanjut Junie. “Tanpa biaya tambahan.”
Naomi langsung membeku. “Dok… itu…” suaranya bergetar. “Saya nggak tahu harus bilang apa…”
Junie tersenyum kecil di seberang sana, meski tidak terlihat. “Kamu nggak perlu bilang apa-apa,” katanya. “Cukup bilang kamu mau atau tidak.”
Air mata Naomi perlahan menggenang lagi. Tapi kali ini, bukan karena putus asa. Melainkan karena ada seseorang yang benar-benar peduli.
“Saya… mau, Dok,” jawabnya.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘