Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Lingga membuka tas miliknya, mengobok isinya tapi tidak menemukan dompet miliknya. Mencari di dashboard mobil juga hasilnya nihil. Kemana dompet miliknyaa dan sepertinya tertinggal di rumah.
“Maaf pak, dompet saya ketinggalan di rumah, tapi beneran ini mau ke kampus Pak, tolong jangan saya apalagi mobil saya.”
“Kalau kamu tidak bisa menunjukkan surat-surat penting itu, mobil anda akan kami gerek, silakan selesaikan di kantor sambil membawa berkas yang kami minta.”
Kesialan macam apa lagi ini. Kenapa pagi ini apes sampai dua kali. Lingga turun dengan kesal. Berusaha memesan taksi tetapi tak kunjung datang. Ojol pun tak ada yang mengaply pesanannya.
Mau tidak mau Lingga terpaksa menyetop angkot yang melintas di depannya. Seumur hidup mungkin ini kali pertama Lingga naik angkutan umum. Kalau tidak terpaksa tentu saja dia tak sudi melakukan itu semua.
“Sialan, mana penuh lagi!” Batin Lingga urung melihat dalam angkot yang padat dan sudah penuh.
“Cepetan baik mas, malah bengong’l seru penumpang lainnya yang sudah bergeser memberi uang.
“Maaf bang, nggak jadi, jalan aja,” ujar Lingga mengatupkan tangannya dengN permohonan maaf pada sang supir. Dirinya bisa sesak napas kalau harus berdesakan begini.
“Nggak jelas banget, buang waktu saja,” omel sang supir menemui calon penumpang tidak jelas itu.
Lingga kembali menepi, iseng-iseng ikut bus yang berhenti tepat di halte. Pria itu segera naik, dan mencari tempat duduk. Entah suatu kebetulan atau tidak, Sarah ada di bus yang sama dan tersisa satu jok kosong di sebelahnya.
Pria itu mau tidak mau mengambil duduk di sebelahnya. Awalnya Sarah tidak sadar, dan terus mengamati ke arah jendela luar. Ia memang tidak begitu suka berinteraksi dengan orang asing. Apalagi di tempat umum.
Lingga yang mengetahui hal itu masih terdiam. Ia hafal Betul kalau perempuan di balik masker dan hijab coksu itu adalah gadis yang tadi pagi mengigit tangannya.
Gadis itu awalnya tidak minat tahu siapa yang duduk di sebelahnya. Namun, melihat tangan pria itu yang di perban, Sarah spontan menoleh dan menemukan Lingga tengah duduk bersender jok sambil memejamkan matanya.
“Astagfirullah …. Kenapa kamu disini? Ngikutin aku?” tanya Sarah kaget.
Lingga membuka matanya malas, kenapa selalu beristigfar ketika mendapati dirinya. Memangnya setan!
“Nggak usah GR, ini angkutan umum,” jawabnya dingin. Melirik tak minat, lalu melipat tangannya bersedekap dada dengan membuang muka.
Sarah tentu saja tidak minat di geerin pria di sebelahnya. Ia hany terheran-heran dan saking kagetnya. Tumben sekali seorang Lingga Pratama naik bus. Bukankah itu suatu hal yang sangat langka, jadi pantas saja Sarah berkata demikian.
Sarah agak menepikan duduknya, merapat dengan badan bus. Tidak nyaman sekali berada di dekat Lingga. Perasaan nya selalu waswas begini.
“Duh…. Kenapa tidak sampai-sampai sih!” batin Sarah gelisah. Keringat dingin padahal Lingga tidak melakukan apapun. Ia duduk tenang di kursinya, hanya saja rasa trauma di hati membuat Sarah tidak tenang berada di dekat pria itu.
Sementara Lingga tentu tidak peduli. Ia bahkan langsung turun begitu sampai depan kampus. Lebih dulu melakukan pembayaran tanpa menoleh sedikitpun pada Sarah yang masih duduk anteng di kursinya. Sarah baru beranjak ketika cukup berjarak.
Gadis itu langsung berlalu menuju gedung fakultas jurusannya. Sementara Lingga juga berjalan cepat menemui dosen di ruangan yang di tentukan.
Semenjak kejadian di rumah dan di bus itu, baik Lingga dan juga Sarah tidak bertemu lagi. Walaupun mereka hidup bertetangga, dan kadang seatap dengan kegiatan yang berbeda.Namu, Sarah mulai tenang jika tidak melihat wajahnya. Perlahan hatinya membaik.