Tolong tinggalkan Like Dan comment yah ❤😍
Danny sudah memantapkan pilihannya pada Rose, gadis yang lebih mudah darinya. Rose sudah terlanjur hidup dalam gelapnya masa lalunya, begitu berhasil mendapatkan Rose, ada saja cobaan dalam hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesicca26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
"Yah sudah kalo nggak mau bilang." ucap Danny sambil sesekali melihat sekeliling
Yah emang nggak, ini kan urusan gue. Kalo gue bilang kedia, malah dikira mulut ember lagi, ngadu kedia. Bathin Rose
"Udah makan siang?" tanya Danny lembut
"Sebentar lagi, masih rame pelanggan." jawab Rose sambil terus berusaha menghindari tatapan mata Danny
"Yaudah, bentar lagi aku datang lagi. Kita makan siang bareng, aku keatas dulu yah." ucap Danny lagi dengan nada bicara lembut
Naura yang menyaksikan adegan perhatian didepannya seolah berbunga-bunga, dia benar-benar irih dengan Rose karena sedari dulu dia selalu menghayal punya pacar kaya dan tampan.
"Iya." jawab Rose singkat. Dia malu diperlakukan manis didepan banyak orang, apalagi Danny dikenal banyak karyawan dimall itu, dia bisa mendapat gelar cewek matre yang sedang beruntung mendapatkan umpan bagus.
Danny dan pak Sam berjalan pergi meninggalkan Rose dan Naura, begitu mereka pergi, Naura seakan menarik nafas legah. Jantungnya benar-benar berdisko saat ditanyai Danny dengan tatapan tajamnya.
"Kok kayaknya gue kenal yah pacar lo tadi?" ucap Naura sambil memicingkan matanya
"Ahh nggak usah dipikirin, tapi tumben lo nggak ember?"
"Ihh Roseee.. Masa gue dikatain ember sihh."
"Yahh gue paling tau kelemahan lo itu kan cowo ganteng, tumben aja tadi lo ditanyain nggak ngejawab."
"Hehehe iya sih, emang ganteng, tapi kan gue harus nunjukkin kesetiakawanan gue sama lo. Lagian kenapa lo nggak mau ngasih tau soal kejadian tadi sih? kalo gue pasti gue aduin."
"Itulah perbedaan kita berdua, gue nggak mau urusan gue dicampurin orang lain. Lagian gue juga nggak takut sama tuh nenek lampir, sama-sama makan nasi juga. Gue tuh bukan cewek lemah ala-ala sinetron yang mau aja di dzolimi sama atasan!"
"Iya deh iyaaa.. Enak yah lo, dapet pacar kaya, ganteng lagi. Lah gue, target gue pengennya yang begituan tapi malah dapet cowok tajir KW, ngakunya kaya tapi ternyata kaya boongan.."
"Namanya jodoh kita mana tau, siapa tau skarang lo dapet cowok tajir boongan, tapi entar marriednya sama cowok yang tajir beneran.. Diisabarin aja."
***
"Ehh Dan, sudah datang." sapa Hendrik saat Danny masuk keruangannya
"Gimana eventnya?" tanya Danny lalu duduk disofa menghadap jendela
"Sejauh ini lancar, penjualan juga lumayan meningkat." jawab Hendrik
Untung Stevany udah pergi, bisa gawat kalo mereka bertemu dengan keadaan Stevany yang kacau. Bathin Hendrik
"Oya, dimana sepupu kamu? Apa dia lupa hari ini ada event penting?"
"Eh?? Anu, dia datang tadi, tapi sudah pergi lagi."
Danny mengangkat keningnya sambil melirik Hendrik yang tampak salah tingkah saat membahas Stevany
"Kenapa?"
"Hmm.." Hendrik nampak ragu mau menjawab
"Ada apa?"
"Nggak, tapi dia ada urusan mendadak. Jadi dia cuma datang sebentar kesini, trus pergi lagi. Tapi dia bilang akan segera kembali."
Danny berdiri lalu berjalan mendekat kejendela, dia melihat pemandangan dibawah.
"Sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"
"Eh? Nggak kok, yahh saya sedikit gugup karna hari ini event besar dan tamu-tamu kita juga sudah dibawah."
"Oh." Ucap Danny singkat lalu memperhatikan sekeliling ruangan
Sebelum Masuk kedalam ruangan Danny sempat mendengar ada seorang spg dan karyawan toko berbincang didekat lift, membicarakan soal bos perempuan dan seorang spg yang sempat terlibat adu mulut bahkan sang bos sampai mandi kopi. Danny mulai menyelidik soal pembicaraan Rose dan Naura, pembicaraan dua orang perempuan didekat lift dan tingkah Hendrik yang berbedah.
"Sangat disayangkan kamu mulai menyembunyikan sesuatu dari saya." ucap Danny sambil melihat Hendrik dengan tatapan tajam "Apa yang terjadi antara Rose dan Stevany?" tanyanya membuat jantung Hendrik menggebu kencang. Danny hanya menebak, berharap Hendrik akan langsung buka mulut.
"Saya nggak ada hubungannya, beneran, ini murni pertengkaran antara dua wanita.." beber Hendrik yang nggak tahan menutup mulutnya sementara Danny terus melihat tajam kearahnya
Nahh, akhirnyaa.. seru Danny dalam hati.
"Stevany agak dendam sama Rose karna Rose melawan tadi, jadi dia mau ngerjain Rose tapi malah kena kedia sendiri. Nihh..." Hendrik menunjukkan bekas gigitan dilengannya "Saya juga digigit Stevany tadi gara-gara nggak mau ikutin permintaannya buat mecat Rose. Ini murni perselisihan antara dua perempuan, saya benar-benar nggak ikut campur." beber Hendrik lagi
"Oh begitu, saya mengerti sekarang. Apa Stevany tau soal siapa Rose?"
"Nggak, saya nggak memberitahu soal itu, aman, dia belum tau apa-apa."
Danny bernafas legah, dia yakin, Stevany akan makin menyerang Rose jika dia tau Rose adalah pacarnya. Tapi dilain hal, Danny sadar, nggak selamanya dia menyembunyikan statusnya dengan Rose dihadapan Stevany. Meski belum lama kenal, tapi Danny yakin ambisi Stevany cukup besar, dia khawatir Stevany akan menghalalkan berbagai cara untuk menyingkirkan saingannya. Terlebih status Rose hanya karyawan biasa, dan Stevany yang punya kekuasaan dan uang.
"Baik kalo begitu, kamu tau apa yang harus dilakukan. Jangan biarkan sepupu kamu berbuat onar."
"Si.. sii.. siapp.. Jangan khawatir." jawab Hendrik gagap
Danny mengeluarkan dokumen dari tasnya dan mulai membahas soal pekerjaan bersama Hendrik, matanya sesekali melirik jam dinding didepannya.
"Okey, cukup sampai disini. Nanti tolong e-mail saya berkas yang lainnya." ucap Danny mengakhiri pembicaraan mereka
Danny dan pak Sam berjalan menuju lift untuk kebawah, masih jadi beban pikiran soal Rose dan Stevany yang secara nggak sengaja bertemu dan justru jadi musuh. Sebenarnya Danny nggak masalah jika mereka bertemu bahkan saling kenal, dia juga nggak ada perasaan apa-apa dengan Stevany. Hanya saja Rose akan berada diposisi yang nggak menguntungkan jika sampai berurusan dengan Stevany, cewek yang sudah biasa mendapatkan apa yang dia mau dan condong tidak mau kalah, jelas akan berusaha menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya.
"Pak Sam, tolong kosongkan jadwal sore sampai malam ini. Saya mau mengajak Rose keluar." Perintah Danny saat mereka berada didalam lift
"Tapi pak, sebentar sore ada pertemuan dengan pak Marten, akan sulit untuk mengatur pertemuan lagi dengan bapak Marten."
"Duh.." Danny jadi teringat perjanjian pentingnya dengan salah satu pengusaha senior yang akan ditemuinya
Pintu lift terbuka, Danny dan pak Sam berjalan keluar. Mereka langsung pergi ketempat Rose, namun yang dicari nggak ada.
"Spg disini? Dia kemana?" tanya pak Sam pada seorang crew
"Oh mereka sudah pergi makan siang, diajak sama pak Andre dan bos yang lain. Katanya sekalian perkenalkan produk khusus ke salah satu investor penting."
"Pak Andre?" tanya pak Sam lalu melirik wajah Danny yang terlihat berubah
"Iya pak, sudah sekitar 15 menit yang lalu."
"Mereka bilang mau kemana?" tanya pak Sam
"Wah, saya nggak tau pak. Soalnya kayaknya mereka perginya juga buru-buru."
Danny mengeluarkan HPnya dan menelpon Rose, sementara diseberang Rose sedang menikmati makan siang bersama Naura dan bos-bos lainnya disebuah restoran. HPnya berada ditas dan dalam posisi silent, nafas Danny kembang kempis menahan sabar karna telfonnya nggak diangkat Rose. Danny tau jelas soal pribadi pak Andre dan beberapa temannya sesama bos, mereka suka mengajak spg mereka keluar makan dan berakhir ditempat karaoke. Entah apa yang mereka lakukan, yang jelas cerita soal hal mesum yang mereka lakukan sudah jadi bahan pembicaraan yang dianggap biasa oleh sesama boss dan spg.
Danny khawatir trauma Rose akan kembali jika menghadapi keadaan seperti itu.
Sekalian kasih rekomen novel yang rapi juga, judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, wajib pakek tanda kurung ya nyarinya
mampir juga di ceritaku yh thor
"love with enemy