Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
"Iya mah, ini juga sudah mau balik ke rumah." Ujar Bara pada ibunya di seberang telepon. Setelah sambungan telepon terputus, Bara memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya kemudian menyalakan mesin mobilnya. Secara tidak sengaja Bara menangkap keberadaan seorang wanita yang mirip dengan Vania tengah duduk menyendiri di bangku taman. Bara lantas mematikan kembali mesin mobilnya.
"Bukannya itu Vania." Bara menajamkan penglihatannya, memastikan ia tidak salah orang. "Beneran Vania."
Bara hendak beranjak dari mobilnya namun urung saat menyaksikan Vania mengusap jejak air mata di pipinya.
"Apa dia habis bertengkar dengan Sandi, sampai menangis seperti ini?."
Bukannya ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga Sandi, namun menurut Bara sekalipun mereka bertengkar seharusnya Sandi tidak membiarkan istrinya pergi begitu saja hingga menangis dalam kesunyian seperti sekarang ini, terlebih hari sudah petang.
Bara memutuskan untuk menghubungi Sandi. Setelah dua kali berdering akhirnya panggilannya pun tersambung.
"Pertengkaran dalam rumah tangga itu sudah biasa kawan, tapi bukan berarti kau tega membiarkan istrimu menangis seorang diri seperti ini di taman, apalagi hari sudah hampir gelap." Baru saja panggilannya tersambung, Bara sudah menyampaikan informasi yang mampu memancing kerutan halus di dahi Sandi.
"Apa maksudmu, dan siapa yang bertengkar?." Jawaban Sandi menyadarkan Bara bahwa dirinya sudah salah menduga.
"Jika kalian tidak habis bertengkar, lalu mengapa istrimu sampai duduk menyendiri di bangku taman? Dan yang aku lihat dia seperti sedang menangis."
"Menangis?." Cicit Sandi.
"Iya, menangis." Bara mengangguk, padahal kenyataannya Sandi tidak dapat melihatnya.
"Serlock, aku kesana sekarang!." Sandi memutuskan sambungan telepon, bangkit dari tempat duduknya, dan menyambar kunci mobilnya di atas meja kemudian berlalu. Sebenarnya Sandi sedang menanti kedatangan kliennya, namun informasi dari Bara membuat pria itu memerintahkan sekretarisnya di perusahaan untuk membatalkan rencana meeting malam nanti.
*
Sebelum sahabatnya itu tiba di lokasi, Bara memutuskan mengamati Vania dari dalam mobilnya, memastikan tak ada orang jahat yang mendekati istri dari sahabatnya itu. Namun, di saat menyaksikan Vania dalam kondisi seperti saat ini Bara kembali merasa seperti pernah bertemu dengan Vania sebelumnya. Tapi di mana, itu yang coba diingat-ingat oleh Bara.
Bara menggigit ujung jari telunjuknya seraya memaksa otaknya untuk mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan Vania sebelumnya.
"Sekarang aku ingat... Di hotel, benar di hotel... Sebelumnya aku pernah bertemu dengan Vania di hotel. Pagi hari setelah perayaan ulang tahunku." Gumam Bara setelah berhasil mengingat sosok Vania. Ya, saat itu Bara tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita cantik di lobby hotel, dan saat itu wajah wanita itu nampak sembab seperti habis menangis. Mungkin karena melihat Vania dalam kondisi menangis seperti sekarang ini membuat Bara berhasil mengingat di mana ia pernah bertemu dengan Vania sebelumnya.
Melihat mobil Sandi tiba di lokasi, Bara pun memutuskan untuk menyalakan mobilnya dan berlalu.
Vania yang tengah tertunduk, perlahan mengangkat pandangan saat mendengar suara langkah pantofel pria berjalan ke arahnya.
"Mas Sandi...." Tanpa sadar Vania berlari ke arah Sandi dan memeluk pria itu. Tanpa banyak tanya Sandi membalas pelukan Vania.
"Maaf, mas." Setelah cukup lama menumpahkan air matanya di pelukan Sandi, Vania akhirnya tersadar dengan tindakannya itu. Perlahan ia menarik diri dari pelukan suaminya.
"Kenapa harus minta maaf, bukannya wajar jika seorang istri menenangkan diri dalam pelukan suaminya." Balas Sandi seraya menatap manik mata indah milik istrinya yang kini terlihat sembab.
"Hari sudah hampir gelap, sebaiknya kita pulang sekarang!." Ajak Sandi dan Vania pun mengangguk setuju, lagipula sudah seharian ia meninggalkan putrinya.
Terkadang sikap hangat Sandi kepadanya membuat Vania merasa dicintai oleh pria itu, tetapi jika teringat akan alasan mereka menikah, Vania langsung disadarkan oleh kenyataan bahwa Sandi menikahinya bukan karena cinta melainkan perjodohan dari sang mamah.
"Apa ada yang menyakitimu?." Melihat Vania sudah sedikit tenang, Sandi lantas mencoba mengulik penyebab istrinya sampai bersedih seperti ini.
"Aku ini suami kamu, Vania. Jika ada masalah berbagilah denganku, jangan menyimpannya sendirian!."
"Tidak ada kok mas, aku hanya lelah saja makanya sedikit sensitif." Vania tak mungkin menceritakan pada Sandi tentang pertemuannya dengan ibu kandungnya, mengingat kepentingan ibu kandungnya berhubungan dengan materi yang nominalnya tidak sedikit.
Tentu saja Sandi tidak percaya begitu saja dengan jawaban Vania, akan tetapi Sandi tidak memaksa Vania untuk berterus terang dan mengatakan yang sebenarnya. Sandi memilih bersikap seolah percaya dengan perkataan Vania.
"Syukurlah kalau begitu." Balas Sandi seraya menginjak pedal rem karena saat ini lampu lalu lintas berubah merah, pertanda semua pengendara harus menghentikan laju kendaraannya. Setelah lampu lalu lintas berubah hijau Sandi kembali menginjak pedal gas hingga mobilnya perlahan kembali merayap memecah padatnya jalanan kota Surabaya.
Kurang dari setengah jam, mobil Sandi tiba di rumah.
Setibanya di rumah, Vania menemui putrinya terlebih dahulu sebelum berlalu ke kamarnya untuk mandi karena tubuhnya sudah terasa lengket setelah berkegiatan seharian.
Setelah mandi, Vania dan Sandi turun untuk makan malam bersama. Setelahnya, Vania langsung pamit kembali ke kamar dengan alasan lelah ingin beristirahat. Padahal, bukan tubuh Vania saja yang lelah melainkan hatinya yang disebabkan oleh sikap ibu kandungnya sendiri.
Malam ini Vania memilih tidur lebih awal dari malam biasanya. Bagi sebagian orang, tidur adalah jalan pintas untuk melepaskan sejenak beban dihati dan pikiran.
Di saat Vania sudah terlelap dalam tidurnya Sandi justru masih sibuk di ruang kerjanya, memeriksa beberapa dokumen penting yang berurusan dengan perusahaan.
Dret....dret.....dret....
Ponsel Sandi bergetar rupanya panggilan telepon dari sahabatnya, Bara.
"Sorry mengganggu waktu istirahat kamu, kawan. Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari sepupu aku yang waktu itu, katanya besok dia dan calon istrinya akan berkunjung ke hotel Admodjo Group guna mengecek situasi dan kondisi ballroom hotel Admodjo Group."
"Baiklah. Besok aku akan meminta beberapa pegawai untuk menemani mereka melihat-lihat kondisi ballroom." Balas Sandi.
"Tunggu, kawan!." Kata Bara agar Sandi tak langsung memutuskan sambungan telepon.
"Ada apa lagi?."
"Kau masih ingat bukan sewaktu aku bilang wajah istrimu seperti tidak asing? saat itu aku bersungguh-sungguh bukannya mengada-ada karena Vania cantik, seperti katamu. Dan sekarang aku ingat, sebelumnya aku memang pernah bertemu dengan istrimu di lobby hotel. Pagi hari setelah perayaan ulang tahunku, lima tahun lalu. Saat berpapasan dengannya waktu itu, aku melihatnya berjalan dengan terburu-buru sambil menangis." Bara hanya ingin sedikit klarifikasi, jangan sampai sahabatnya itu berpikir ia hanya mengada-ada dengan pengakuannya tempo hari.
"Apa yang kau maksud adalah hotel tempat kau mengadakan pesta ulang tahunmu lima tahun lalu?."
"Tepat sekali kawan."
Deg
"Menangis? Kenapa Vania sampai menangis?." Sandi bertanya-tanya dalam hati.
Jangan lupa like, vote, bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 ya sayang-sayangku....! Biar aku semangat buat crazy up.....
alahaayyy mereka tu smsm mauu tp msih bingung ajaa mengungkapkannya🤭🤭
lah lah bagus sandi kamu bilang gitu sama siapa sih mamahnya vania namanya pokonya dia we ...biar dia sadar kalu dia telah menukar vania dengsn uang 20 miliar 👍 amnesia kali tih orang masih menyebut dirinya ibu mertua 🤭🤭🤭
cie cie bara ke gep jadi kelimpungan kan buat jelasin 🤭🤭
cie cie vania yang melongo karna tingkah kedua nya 🤣🤣🤣