Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Perlahan-lahan, kelopak mata Humairah bergerak pelan.
Aroma tajam minyak kayu putih yang menyengat indra penciumannya berhasil menarik kesadarannya kembali.
Begitu membuka matanya sepenuhnya, bayangan wajah Fathan yang dipenuhi air mata dan raut kecemasan yang mendalam langsung tertangkap oleh netranya.
"Abi...." lirih Humairah, suaranya terdengar sangat parau dan lemah.
"Alhamdulillah.... Sayang, kamu sudah sadar?"
Fathan langsung mengembuskan napas lega, hendak merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan.
Namun, Humairah dengan sisa tenaga yang dimilikinya perlahan memalingkan muka, menghindari sentuhan Fathan.
Air mata bening meluncur bebas dari sudut matanya, membasahi bantal.
"Abi jahat..."
Jantung Fathan rasanya seperti dihantam godam besar mendengar tuduhan itu.
"Sshh... Abi tidak jahat, Sayang. Demi Allah, Abi tidak pernah mengkhianatimu. Abi minta maaf ya sudah membuatmu syok seperti ini. Nanti Abi jelaskan semuanya sampai tuntas, tapi sekarang Abi harus ke bawah dulu bersama Abah untuk menyelesaikan urusan ini."
Humairah mencoba mendudukkan tubuhnya yang masih terasa lemas.
Ia menatap suaminya dengan tatapan mata yang kosong dan terluka.
"Abi antarkan aku pulang ke rumah Abi Sasongko."
Mendengar kalimat istrinya yang meminta pulang ke rumah orang tua kandungnya, Fathan seketika panik.
Ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah kehilangan Humairah setelah semua perjuangan yang mereka lewati.
Fathan langsung menggenggam erat kedua tangan Humairah, menatapnya dengan pandangan memohon yang amat sangat.
"Humairah sayang, dengarkan Abi. Jangan berkata seperti itu, Abi mohon," ucap Fathan dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Nanti Abi jelaskan semuanya. Atau... kalau Humairah tidak percaya pada Abi, Humairah mau ikut ke bawah sekarang? Biar Humairah dengar sendiri dari mulut mereka."
Humairah terdiam sejenak, mencerna ucapan suaminya.
Rasa sakit di dadanya memang masih terasa sesak, namun akal sehatnya menolak untuk menyerah pada kesalahpahaman yang belum jelas ujung pangkalnya.
Ia ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya. Ia tidak ingin menjadi wanita lemah yang lari dari masalah.
Humairah menganggukkan kepalanya dengan pasti.
"Iya, Humairah mau ikut ke bawah. Aku ingin tahu semuanya, Abi."
Fathan memapah tubuh istrinya dengan sangat hati-hati, memastikan seluruh berat badan Humairah bertumpu pada lengan kekarnya yang kokoh.
Langkah kaki mereka yang perlahan menuruni anak tangga terdengar sayu di tengah keheningan dalem yang mencekam.
Begitu mereka berdua memasuki ruang tamu, seluruh pasang mata yang ada di sana seketika tertuju pada sosok Humairah yang masih tampak pucat namun menyiratkan ketegasan yang luar biasa.
"Duduklah di sini, Humairah," ucap Kyai Umar dengan nada suara yang seketika melunak, penuh kehangatan seorang ayah.
Beliau mempersilakan menantunya untuk duduk di sofa tunggal yang berada tepat di sebelah Fathan.
Fathan tidak melepaskan sedikit pun jangkauannya.
Ia mengambil tempat di samping sang istri, mengikis jarak seolah ingin menegaskan kepada dunia bahwa tidak ada satu pun orang yang boleh menyakiti wanitanya lagi.
Kyai Umar menatap putra sulungnya dengan pandangan lurus.
"Fathan, silakan bicara. Jelaskan semuanya di depan istrimu, di depan Abah, Umi, dan tamu kita ini."
Fathan menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol gemuruh di dadanya.
Fathan menggenggam tangan istrinya dengan erat, merasakan jemari Humairah yang masih terasa dingin.
"Humairah, demi Allah yang memegang jiwa Abi, wanita di hadapan kita ini adalah Zakia. Dia adalah masa lalu Abi yang terjadi jauh sebelum Abi mengenalmu," ujar Fathan, suaranya terdengar bergetar namun penuh keyakinan, matanya menatap lekat ke dalam manik mata Humairah.
"Dia adalah wanita yang dulu mempermainkan perasaan Abi dan menjadikan pernikahan serta komitmen sebagai bahan taruhan dengan teman-teman sosialitanya. Kedatangannya hari ini sama sekali bukan atas undangan Abi, dan Abi tidak pernah menaruh rasa atau memberi harapan apa pun sejak hari di mana Abi tahu kelakuan busuknya. Di hati Abi, hanya ada kamu, Humairah. Hanya kamu istri Abi dunia dan akhirat."
Mendengar penjelasan gamblang dan tanpa saringan dari Fathan, Zakia merasa tersudut. Namun, alih-alih tahu diri dan mundur, ego wanita itu justru semakin tersulut.
Ia memajukan tubuhnya, menatap Fathan dengan pandangan egois yang dipaksakan tampak memelas.
"Aku mencintaimu, Fathan! Aku akui aku salah di masa lalu, tapi sekarang aku sudah berubah! Beri aku satu kesempatan lagi untuk menebus kesalahan itu," ucap Zakia tanpa malu, mengabaikan keberadaan Humairah yang duduk tepat di hadapannya.
"Lagipula, Umi juga sudah setuju kalau kita menikah. Umi mendukungku!"
Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari bibir Zakia, Humairah perlahan mengalihkan pandangannya.
Ia tidak menatap Zakia, melainkan mengarahkan matanya langsung pada sosok ibu mertuanya.
Humairah menatap wajah Nyai Latifah yang begitu membencinya.
Di balik raut wajah paruh baya yang terpandang itu, Humairah bisa melihat dengan sangat jelas kilat penolakan, kebencian yang mendalam, serta ketidaksukaan yang selama ini berusaha ia jinakkan dengan kesabaran.
Detik itu juga, Humairah menyadari bahwa badai terbesar dalam pernikahannya bukanlah masa lalu Fathan, melainkan restu dari ibu mertuanya sendiri yang menganggap dirinya tak lebih dari sebutir debu yang tak berharga.
Mendengar kalimat percaya diri yang keluar dari bibir Zakia, Humairah tidak menangis ataupun histeris seperti yang diharapkan oleh Nyai Latifah.
Sebaliknya, wanita berhijab itu justru menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa kekuatan yang ada di dalam raganya.
Perlahan, Humairah tersenyum manis—sebuah senyuman teduh namun sarat akan ketegasan yang membuat ruang tamu itu seketika hening.
Ia mengalihkan pandangannya dari Nyai Latifah, lalu menatap wajah Zakia dengan sorot mata yang begitu tenang, tanpa ada riak ketakutan sedikit pun.
"Kamu bohong, Zakia," ucap Humairah, suaranya terdengar lembut namun bergaung jelas di setiap sudut ruangan.
"Kamu tidak mencintai suamiku. Tapi semua ini karena nafsumu, karena egomu yang tidak terima melihat pria yang dulu kamu sia-siakan kini telah tumbuh menjadi sosok yang dihormati dan bahagia bersama wanita lain."
Zakia tersentak, wajah modisnya seketika menegang mendengar kalimat menohok dari wanita yang selama ini ia anggap remeh.
Humairah melepaskan genggaman tangan Fathan sejenak, lalu menegakkan punggungnya.
"Jika kamu benar-benar mencintai Mas Fathan karena Allah, kamu tidak akan mungkin datang ke rumah orang tuanya dan memohon untuk menghancurkan rumah tangga yang sudah sah. Cinta yang tulus itu membangun, Zakia, bukan merampas kebahagiaan orang lain demi memuaskan rasa penasaranmu yang belum tuntas di masa lalu."
Fathan tertegun, menatap istrinya dengan binar mata penuh kekaguman.
Ia tidak menyangka wanita yang biasanya lemah lembut itu bisa berdiri begitu kokoh dan cerdas di depan badai yang sedang menguji mereka.
"Kau—perempuan kampung tahu apa tentang cinta?!" desis Zakia, mulai kehilangan kendali atas topeng keanggunannya karena rahasia hatinya dikuliti dengan begitu tenang oleh Humairah.
si Ratih dasar pelakor nggak tau malu🤭
kayanya bau bau mau dijodohin sama ustadzah ratih jangan sampai ya author 🙏