NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28: [Volume 2] — Inkubasi Predator

​Cairan biru itu tidak sedingin yang kubayangkan. Rasanya lebih seperti minyak yang kental dan hangat, merayap masuk ke dalam pori-poriku, menyusup ke setiap celah syaraf yang terbuka. Aku mencoba bernapas, dan entah bagaimana, paru-paruku memproses oksigen langsung dari cairan ini.

​Logikaku berteriak: Ini bukan pengobatan. Ini penulisan ulang kode genetik.

​Di balik dinding kaca tabung, aku bisa melihat Dokter Aris berdiri dengan ekspresi kagum. Dia sedang mengetik sesuatu di konsol kontrol. Suara statis frekuensi rendah mulai bergema di dalam kepalaku—nyanyian Subjek E yang kini terasa lebih seperti instruksi daripada melodi.

​"Terima saja, Zidan... biarkan mereka menyatu denganmu," suara Subjek E berbisik di sudut kesadaranku.

​Tiba-tiba, rasa sakit itu datang. Rasanya seolah-olah setiap tulang di tubuhku dipatahkan secara bersamaan, lalu disambung kembali dengan cara yang salah. Otot-otot di bahuku, di bekas luka "Subjek Z-01", berdenyut hebat. Aku melihat lewat pantulan kaca, urat-urat hitam mulai menjalar dari leher hingga ke wajahku.

​[ LOGIKA SISTEM: SINKRONISASI 45%... 60%... 85%... ]

​Aku mengepalkan tinjuku di dalam cairan. Kekuatan yang mengalir di nadiku terasa tidak masuk akal. Pandanganku yang tadinya kabur kini menjadi sangat tajam; aku bisa melihat partikel debu yang menempel di luar kaca tabung, aku bisa mendengar detak jantung Dokter Aris yang sedikit tidak teratur karena kegirangan.

​"Sekarang, Zidan! Tunjukkan pada mereka hasil karya terbaik Nirvana!" teriak Aris lewat interkom.

​Aku tidak melakukannya karena perintahnya. Aku melakukannya karena aku butuh keluar.

​PRAKKKK!

​Dengan satu hantaman, kaca antipeluru itu hancur berkeping-keping. Cairan biru tumpah membanjiri lantai lab. Aku melangkah keluar, uap dingin keluar dari tubuhku. Aku merasa lebih ringan, lebih cepat, dan... lebih lapar akan target.

​"Luar biasa," Aris mundur selangkah, matanya berbinar. "Indikator biometrikmu melampaui batas manusia normal. Kamu adalah Predator Puncak yang sesungguhnya."

​Aku tidak membalas pujiannya. Aku bergerak. Dalam sekejap mata—kecepatan yang bahkan aku sendiri sulit memprosesnya—aku sudah berada di depan Aris, mencengkeram lehernya dan mengangkatnya dari lantai.

​"Di mana. Kurumi," kataku. Suaraku kini memiliki gema yang berat, seperti ada dua suara yang bicara bersamaan.

​"Dia... dia sedang dipindahkan ke dermaga bawah..." Aris tercekik, wajahnya membiru. "Kami... kami harus membawanya ke daratan utama untuk... fase kedua..."

​Dermaga bawah. Logikaku langsung memetakan struktur bangunan ini. Sektor Karantina C ada di sebelah barat, dermaga ada di selatan. Jika mereka memindahkannya, artinya mereka merasa Nirvana sudah tidak aman karena ulah Subjek E.

​"Zidan! Berhenti!"

​Aku menoleh. Kurumi berdiri di ambang pintu lab, tapi dia tidak sendiri. Dia dikelilingi oleh empat penjaga dengan senjata berat. Wajahnya masih pucat, tapi matanya sudah kembali jernih. Dia tidak lagi berada dalam pengaruh "Protokol Bliss".

​"Zidan... apa yang terjadi padamu?" suaranya gemetar melihat urat hitam yang menjalar di wajahku.

​"Jangan mendekat, Kurumi," kataku, suaraku kembali normal sejenak. "Tempat ini harus hancur."

​"Lepaskan Dokter Aris!" salah satu penjaga berteriak.

​Aku melempar Aris ke arah mereka seperti melempar boneka kain. Sebelum mereka sempat bereaksi, aku sudah menerjang. Gerakanku bukan lagi gerakan manusia yang menggunakan taktik militer biasa; ini adalah insting predator yang dikombinasikan dengan logika strategi.

​Aku menghindari rentetan peluru dengan gerakan yang meliuk-liuk. Dalam hitungan detik, aku sudah melucuti senjata mereka dan mematahkan tulang tangan mereka tanpa perlu mengeluarkan tenaga besar.

​"Ayo pergi, Kurumi!" aku menyambar tangannya.

​Kurumi tersentak saat menyentuh kulitku yang terasa panas. "Tanganmu... Zidan, kamu demam!"

​"Ini bukan demam. Ini efisiensi termal," jawabku datar, kembali ke mode Anti-Naif. "Kita punya waktu tujuh menit sebelum seluruh fasilitas ini masuk ke mode self-destruct karena ketidakseimbangan energi di palka bawah."

​Kami berlari menelusuri koridor yang kini dipenuhi alarm merah. Di belakang kami, suara raungan zombi-zombi eksperimen yang lepas mulai terdengar. Nirvana yang tadinya bersih dan steril kini berubah menjadi rumah jagal dalam hitungan menit.

​Kami sampai di lift menuju dermaga. Namun, pintu lift terbuka dan menampilkan sosok yang paling tidak ingin kulihat.

​Subjek E berdiri di sana. Tapi dia tidak lagi terlihat seperti gadis kecil yang lemah. Tubuhnya dikelilingi oleh aura statis yang membuat udara di sekitarnya bergetar.

​"Kamu ingin membawanya pergi, Zidan?" tanya E, menunjuk ke arah Kurumi. "Dia hanya akan menghambat evolusimu. Kamu tidak butuh manusia lemah untuk menjadi raja di dunia baru."

​"Dia bukan hambatan. Dia adalah alasanku untuk tetap memegang kendali," aku berdiri di depan Kurumi, melindunginya.

​"Kalau begitu, kamu harus membuktikannya," E tersenyum dingin. "Lawan aku, Kakak. Tunjukkan bahwa logika manusiamu lebih kuat dari insting yang mereka tanamkan di kepalamu."

​Logikaku menghitung peluang. Melawan Subjek E dalam kondisi lab yang tidak stabil adalah 40% kemenangan. Tapi jika aku tidak melakukannya, kami tidak akan pernah keluar dari pulau ini.

​"Kurumi, masuk ke kapal di ujung dermaga itu. Hidupkan mesinnya. Apapun yang terjadi, jangan keluar sebelum aku sampai," perintahku tanpa menoleh.

​"Tapi Zidan—"

​"LAKUKAN!"

​Kurumi berlari, air mata mengalir di pipinya, tapi dia tahu bahwa dalam mode ini, perintahku tidak bisa dibantah.

​Aku berbalik menghadapi Subjek E. Urat hitam di lenganku berdenyut, mengeluarkan cahaya biru redup yang sama dengan cairan di tabung tadi.

​"Mari kita selesaikan ini, E," kataku.

​Volume 2 baru saja mencapai titik didihnya. Dan di ujung koridor ini, hanya akan ada satu predator yang tersisa.

Catatan Penulis:

Chapter 28 memperlihatkan kekuatan baru Zidan sebagai "Predator Puncak". Pertarungan antara Zidan dan Subjek E menjadi puncak ketegangan di lab Nirvana. Bisakah Zidan mengalahkan "saudaranya" sendiri tanpa kehilangan sisi manusianya? Jangan lupa Like dan Komentar kalian!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!