Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.
Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.
Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.
Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?
Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mellow
Rasa takut menghantui pikiran Abi, ketika Hanum pergi tanpa pamit setelah terjadi kesalah pahaman semalam.
"Apa Hanum benar-benar marah sama aku?" Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Abi merasa tidak tenang sebelum bertemu Hanum. Ia mengambil ponsel untuk menghubungi Hanum, agar tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Hanum sampai pergi ke rumah orang tuanya tanpa pamit?
Jarinya terhenti diatas layar ponselnya, "jangan lah, sebaiknya aku ke sana langsung saja. Aku harus bicara sama Hanum, masalah semalam harus selesai sekarang juga."
Abi berlari keluar rumah dengan hati yang berdebar kencang. Ia lantas melompat ke dalam mobil tak sabar ingin menemui Hanum. Namun Nesa tiba-tiba merintangi jalannya, ia berdiri tepat di depan mobil dengan tangan memeluk rantang, dan Abi terpaksa turun untuk menghargai kedatangannya.
"Nesa, apa yang kamu lakukan?"
Mendengar suara Abi saja sudah membuat senyumnya mengembang, kemudian Nesa mendekati Abi. "Bi, aku bawain makanan kesukaan ibu. Ibu penah bilang, kalau masakan aku pas di lidah ibu, makanya aku sengaja masak buat ibu." Katanya dengan gembira.
Abi memberi senyuman singkat, "kalau begitu langsung masuk saja, ibu ada di dalam."
"Kamu mau ke mana?" tanya Nesa sambil ingin menyentuh lengan Abi.
Abi menghindar, "aku mau jemput Hanum, kalau kamu ada perlu sama ibu, masuk saja, ibu ada di dalam." Jawab Abi, ramah.
Meski kecewa, namun Nesa tetap tersenyum, "iya, aku masuk, ya?"
Abi tak menjawab, ia kembali masuk ke dalam mobil, kemudian melaju pelan meningalkan Nesa di sana.
"Ah, sial! Kenapa Abi jadi dingin begini sih?" Gumam Nesa meluapkan rasa kesalnya.
Bu Elis yang baru keluar, langsung menghampiri. "Nesa, kamu di sini?"
"Assalamualaikum, ibu." Ucapnya sambil mencium tangan bu Elis.
"E—iya, waalaikumussalam."
Nesa tersenyum lebar, "aku bawain makanan buat ibu." Kata Nesa sambil memberikan rantangnya.
Bu Elis ingin menolak, tetapi takut membuat Nesa tersingung. "Kenapa repot-repot, Nesa?"
"Nggak repot kok, bu. Sebelumnya aku sering begini, kan?"
"Iya, tapi sekarang ibu sudah ada yang masakin." Bu Elis terpakas berbohong, sebenarnya Hanum tidak bisa memasak dengan benar.
"Jangan ditolak ya, bu. Aku sudah terbiasa begini, rasanya aneh kalau kebiasaan aku tiba-tiba terhenti." Kata Nesa yang membuat bu Elis tak enak bila menolaknya.
Bu Elis tersenyum sambil mengangguk pelan, "iya, ibu terima, ya?"
"Terimakasih, ibu."
Bu Elis hendak membawa rantangnya masuk ke dalam, tanpa mengajak Nesa.
"Bu."
Langkahnya terhenti di depan pintu, kemudian berbalik menghadap Nesa. "Iya?"
"Kok aku nggak di ajak masuk?" tanya Nesa yang membuat bu Elis bingung.
Bu Elis merasa takut, jika Hanum melihat dan menjadi salah paham. Namun juga tak enak membiarkan Nesa berada di luar.
Kemudian Nesa mendekat, berdiri di hadapan bu Elis sambil meremas jari tangannya sendiri, "ibu, aku tahu Abi sudah punya istri, tapi jangan putuskan hubungan baik yang sudah terjaga sebelumnya. Aku cuma ingin tetap menjaga silaturahmi sama ibu, dan soal Abi yang sudah menikahi wanita lain, aku terima kok, bu." Ucap Nesa meyakinkan ibunya Abi.
Bu Elis menghela napas, ia membenarkan ucapan Nesa, lalu kembali tersenyum dan mengangguk. "Iya, kamu benar. Ya sudah, ayo kita masuk!" ajak bu Elis yang dijawab anggukan dan senyum bahagia oleh Nesa.
"Yes!" ucapnya dalam hati.
* *
Mendengar suara mobil Abi, pak Haris segera keluar untuk menyambut.
"Abi," sapa hangat ayah mertua.
Abi mendekat mencium tangan pak Haris, lalu memeluknya. "Gimana kabar ayah?"
"Baik, Bi. Ayah dan semuanya sangat baik. Gimana kerjaan hari ini? Pasti kamu sangat sibuk ya, sampai nggak sempat antar Hanum." Kata pak Haris sambil mengajak Abi masuk.
Mendengar ucapan pak Haris, Abi merasa sedikit lega. "Sepertinya Hanum datang ke rumah orang tuanya bukan karena perang dingin semalam." pikirnya.
Pak Haris dan bu Risa menceritakan tentang rencana pernikahan Nadia dan Rendra, yang baru saja mereka sepakati kepada Abi.
"Wah, selamat ya, Nad!" ucap Abi setelah mendengarnya.
"Makasih, mas." Jawab Nadia dengan gembira.
"Coba aku sama Hanum menikahnya dari dua tahun yang lalu, pasti pada saat itu juga kamu langsung dilamar Rendra." Gurau Abi yang membuat semuanya tertawa.
"Masih kemudaan dong, Bi." Kata pak Haris.
Candaan mereka begitu hangat, namun Abi tak kunjung melihat Hanum. "Hanum di mana, ayah?"
"Akhirnya mas Abi ingat sama mbak Hanum." Gurau Nadia sebelum ayahnya menjawab.
"Nadia," larang ibunya.
"Kenapa sih, bu. Kan cuma bercanda, iya kan, mas Abi?" kata Nadia yang dibenarkan oleh Abi.
"Hanum di kamar, mungkin lagi kangen sama suasana kamarnya." Jawab pak Haris, kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya, "sudah tiga puluh menit, nggak keluar-keluar dia."
"Boleh aku susul?" tanya Abi yang memicu gelak tawa semuanya.
"Boleh....!" jawab semuanya.
"Boleh, kan mas Abi suaminya." Imbuh Nadia.
"Terimakasih." Ucap Abi sambil bercanda.
Abi membuka pintu kamar hanum dengan pelan, ditatapnya punggung Hanum yang sedang bermain gitar dengan instrumen sedih.
Suara mellownya mengisi ruangan, membuat Abi merasa seperti kembali ke saat pertengkaran dingin mereka semalam.
Abi tahu, Hanum pasti sedang bersedih, dia merasa harus melakukan sesuatu untuk membuat Hanum merasa lebih baik. Dengan perlahan-lahan Abi melangkahkan kakinya, kemudian duduk di sebelah Hanum, tanpa mengganggu mellownya.
Hanum menghentikan jemarinya di atas senar setelah menyadari kedatangan Abi. Kemudian menoleh ke Abi yang berada di sampingnya. "Abi?"
Tanpa banyak bicara, Abi memeluknya dari samping. "Maaf, ya?"
"Untuk apa?"
"Untuk rasa sedih yang ada di hatimu."
"Aku nggak sedih, kapan aku sedih?" sangkal Hanum.
"Kalau nggak sedih kenapa semalam nangis?"
"Nggak nangis."
"Tapi tadi pagi masih ada bekasnya, bantalmu masih basah lho, Num." Kata Abi yang membuat Hanum terdiam, "tuh kan, diam. Mau berapa banyak kata maaf lagi, dari aku?"
"Udah, cukup. Aku udah maafin."
"Kalau begitu balas dong, pelukan aku!" titah Abi, mengoda Hanum.
"Ya nggak usah modus juga, kali...." Jawab Hanum yang masih belum mau membalas pelukan Abi, tangannya masih mengenggam gitar.
Abi mengambil gitar dari tangan Hanum, kemudian meletakannya di atas kasur. "Aku nggak modus, sayang...." Kata Abi yang membuat bibir Hanum melengkung ke atas.
"Apa?"
"Apa?" balas Abi.
"Barusan kamu bilang apa?"
"Memangnya apa? Aku bilang kalau aku nggak modus, gitu, kan?" jawab Abi berpura-pura lupa.
"Iya, tapi ada kelanjutannya." Kekeh Hanum.
"Kalau tadi kamu dengar, harusnya nggak perlu tanya." Gurau Abi lagi.
"Pokoknya harus di ulang! Atau kamu akan terus merasakan serangan aku?!" Ancam Hanum sambil menunjuk-nunjuk perut Abi.
Abi tertawa lepas, kemudian ia mengenggam erat kedua tangan Hanum, lalu menariknya hingga mereka terjatuh di atas kasur. Sejenak tatapan mereka tertahan, dan keduanya saling mengagumi dalam hati.
...****************...