Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pensil 2B
Suasana di Sekolah mendadak berubah drastis setelah kejadian "Operasi Penangkapan Revan". Tidak ada lagi raungan motor RX-King di depan gerbang, tidak ada lagi coretan di tembok. Tapi sebagai gantinya, sekolah jadi terasa lebih mencekam karena spanduk raksasa bertuliskan "UJIAN NASIONAL TINGGAL 30 HARI LAGI" terpampang nyata di depan lobi. Bagi Kenan, spanduk itu lebih seram daripada film horor mana pun.
"Nan, kau tengok soal simulasi Akuntansi ini. Kenapa saldo awalnya sejuta, tapi pas di akhir malah jadi hutang lima juta? Ini yang korupsi siapa? Soalnya atau aku yang salah hitung?" keluh Jovan sambil mengacak-acak rambutnya di perpustakaan.
Kenan yang duduk di depannya cuma bisa menatap kosong ke buku "Kumpulan Soal UN Tahun-Tahun Sebelumnya". Wajahnya sedikit pucat. "Itu namanya penyusutan mental, Van. Bukan cuma aktiva yang menyusut, otak aku pun ikut menyusut liat angka sebanyak ini. Mana besok ada try out Matematika lagi."
Di perpustakaan yang harusnya tenang itu, Elin dan Maura juga bergabung. Mereka membawa tumpukan buku yang tingginya hampir menutupi wajah mereka.
"Heh, kalian berdua jangan cuma mengeluh! Kita ini sudah di ujung tanduk. Kalau nggak lulus, mau jadi apa? Mau jadi pengamen di pasar kaget?" tegur Elin sambil meletakkan kalkulatornya dengan suara keras. Trak!
"Betul kata Elin. Aku saja tiap malam sudah mulai mimpi buruk ketemu sama rumus Pythagoras yang ngejar-ngejar aku pakai parang," timpal Maura sambil membetulkan kacamatanya.
Tak lama, Kala datang. Dia membawa beberapa kotak susu kotak dan roti isi cokelat. Kehadiran Kala seperti oase di padang pasir buat Kenan. Matanya yang tadi redup langsung berbinar.
"Istirahat dulu, yuk. Kalau dipaksa terus, nanti otak kalian malah hang kayak komputer lab yang jarang diservis," ujar Kala lembut sambil membagikan roti.
Kenan menerima roti itu dengan tangan gemetar (drama dikit). "Kal, kamu itu memang bidadari penyelamat. Coba bayangkan kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah makan kertas soal ini saking frustrasinya."
"Lebay kamu, Nan!" Kala duduk di samping Kenan.
"Gimana belajarnya? Faris bilang, kalau ada materi yang susah, tanya saja ke dia atau ke aku. Jangan dipendem sendiri."
Mendengar nama Faris, Kenan langsung menegakkan punggungnya. "Nggak perlu tanya si kacamata itu. Aku sudah mulai paham kok. Lagian, cara penjelasan kamu lebih masuk ke hati daripada cara dia yang pakai bahasa planet itu."
Jovan nyeletuk sambil mulutnya penuh roti.
"Halah, gaya kau Nan! Tadi saja kau tanya aku 1+1 berapa!"
"Jovan! Jangan buka kartu!" seru Kenan yang disambut tawa oleh Elin dan Maura.
******
Sore harinya, saat sekolah sudah mulai sepi dan hanya menyisakan anak-anak yang ikut pendalaman materi, Kenan dan Kala berjalan pelan menuju parkiran. Mereka berhenti sejenak di bawah pohon ketapang besar yang menjadi saksi bisu perjalanan mereka dari Kenan yang masih "lebar" sampai Kenan yang sekarang.
"Kal," panggil Kenan.
"Iya?"
"Aku... aku beneran takut," aku Kenan jujur. Suaranya rendah. "Bukan cuma takut nggak lulus. Tapi takut kalau nanti kita beda kota, aku nggak bisa jagain kamu kayak gini lagi. Kamu di Padang, aku di Yogyakarta. Jaraknya bukan lagi satu jam kayak rumah kita ke sekolah, tapi ribuan kilometer."
Kala berhenti melangkah. Dia menatap Kenan, melihat guratan kelelahan di wajah cowok itu. Kala meraih tangan Kenan, menggenggamnya erat. Pensil 2B yang terselip di telinga Kenan hampir jatuh, tapi Kala menangkapnya dan menyelipkannya kembali dengan rapi.
"Nan, lihat aku," ujar Kala. "Ujian Nasional itu cuma jembatan. Kita harus lewat sana kalau mau sampai ke tujuan masing-masing. Soal jarak... bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kita ini melodi yang sudah satu frekuensi? Frekuensi itu nggak peduli sejauh apa antenanya, suaranya tetap bakal sampai kalau kita tetap di gelombang yang sama."
Kenan tersenyum tipis. "Kamu belajar gombal dari mana, Kal? Kok sekarang kamu yang lebih jago?"
"Dari vokalis band yang sekarang jadi idola adek-adek kelas di sekolah," goda Kala.
Mereka tertawa bersama, sesaat melupakan beban berat bernama Ujian Nasional. Tapi di tengah momen manis itu, Kenan teringat sesuatu. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kaset pita lama yang sudah dia hias sedemikian rupa.
"Ini apa?" tanya Kala.
"Ini amunisi tambahan buat kamu kalau lagi belajar malam-malam dan ngerasa capek. Isinya rekaman suara aku. Ada aku nyanyi, ada aku bacain rumus-rumus akuntansi yang aku hapal, sama ada pesan rahasia di bagian akhir. Jangan diputar kalau nggak lagi kangen berat ya!" pesan Kenan.
"Ih, jadul banget pakai kaset pita! Tapi makasih ya, Nan. Bakal aku dengerin tiap malam," Kala memeluk kaset itu di dadanya.
*******
Minggu-minggu berikutnya adalah masa "penyiksaan" yang sesungguhnya. Kenan, Jovan, Kala, dan gengnya benar-benar fokus. Mereka sering belajar bareng di teras rumah Kala di bawah pengawasan Papa Haris yang sesekali keluar membawakan buah dan cemilan.
"Kenan, kamu kalau ngerjakan soal itu jangan sambil nyanyi. Fokus! Angka itu sensitif, salah satu nol saja bisa berantakan semua laporan kamu," tegur Papa Haris sambil meletakkan piring.
"Siap, Om! Ini lagi mencoba menyelaraskan antara logika dan perasaan, Om," jawab Kenan sopan.
Papa Haris menepuk bahu Kenan. "Papa tahu kamu punya bakat di musik, tapi Papa mau lihat kamu sukses juga di pendidikan. Buktikan sama Papa kalau pilihan Kala berteman sama kamu itu nggak salah."
Kalimat itu... kalimat itu rasanya lebih ampuh daripada minum suplemen otak mana pun. Kenan merasa ada energi baru yang mengalir. Dia tidak ingin mengecewakan Kala, dan dia tidak ingin merusak kepercayaan Papa Haris.
Hari terakhir sebelum ujian dimulai, Kenan mengirim pesan ke grup WhatsApp mereka (yang diberi nama: GENG LULUS 100% ATAU JUAL GORENGAN).
Kenan: "Besok perang dimulai. Siapkan pensil, siapkan penghapus, siapkan mental. Jangan lupa sarapan, jangan lupa minta doa emak. Kita berangkat bareng, lulus bareng, sukses bareng!"
Jovan: "Siap Kapten! Aku sudah asah pensilku sampai tajam setajam silet!"
Elin: "Jangan asah pensilnya terus, asah otak kau juga, Van!"
Kala: "Semangat semuanya! Kita pasti bisa!"
*******
Malam itu, Kenan menutup buku Akuntansinya tepat jam sepuluh. Dia melihat ke arah cermin. Dia melihat sosok dirinya yang sekarang—jauh lebih percaya diri, lebih disiplin, dan punya tujuan hidup.
Dia teringat masa-masa dia diejek karena badannya, masa-masa dia diancam Revan, sampai akhirnya dia bisa berdiri di titik ini.
Dia mengambil HP-nya dan mengirim satu pesan terakhir buat Kala sebelum tidur.
Kenan: "Good luck besok, tulang rusuk. Besok aku bakal kerjain soalnya secepat aku jatuh cinta sama kamu. Tidur ya, jangan begadang!"
Kala tidak membalas dengan kata-kata, dia hanya mengirimkan foto kaset pita pemberian Kenan yang sudah masuk ke dalam tape player.
Kenan tersenyum. Dia tahu, badai Ujian Nasional besok hanyalah langkah awal dari melodi panjang yang akan mereka mainkan bersama. Besok, bukan lagi soal Revan, bukan lagi soal Faris, tapi soal pembuktian diri bahwa si pahlawan kerupuk ini siap menaklukkan dunia.