Pernikahan bisnis yang sudah di rancang sedemikian rupa terancam batal hanya karna mempelai wanita kabur di hari pernikahan. Bintang, selaku kakak yang selama ini selalu di sembunyikan terpaksa harus menggantikan Lidya.
"Yang ku inginkan adalah Lidya! Kenapa malah dia yang menjadi mempelainya?!" Pekik Damian pagi itu.
"Kita tidak punya pilihan, hanya ada dia."Jawab sang ayah.
Damian menatap Bintang dingin, "Baiklah, akan ku perlihatkan padanya apa yang namanya pernikahan itu."Balasnya dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ingin Ditindas
Seperti yang sudah di rencanakan oleh keluarga Wicaksono, hari itu setelah segala urusan mereka selesai mereka pun langsung kembali ke negara asal mereka.
Setelah perjalanan yang lumayan jauh dan beberapa kendala lainnya, keluarga itu akhirnya sampai pada ke esokan harinya setelah jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
“Aduh, kok kursi rodanya nggak bisa di buka ya?”Ujar Raisa ketika mereka hendak turun dari pesawat.
“Biar Damian coba.”Ujar pria itu, dia mencoba dengan keras untuk membuka kursi yang akan di naiki oleh Bintang itu tapi karna tenaganya yang terlalu kuat dia malah merusak benda itu sepenuhnya.
“Yaudah deh, biar aku gendong aja.”Ujar Damian saat Raisa dan Wicaksono menatap penuh penghakiman atas apa yang baru saja dia perbuat.
“Tentu saja, memangnya siapa lagi? Nggak mungkin mama sama papa yang gendong kan.”Ujar Wicaksono, dia kemudian berlalu meninggalkan Damian yang masih memegang kursi roda rusak itu dan juga Bintang yang masih duduk diam menunggu penghakiman dari Damian.
“Udah bisa jalan nggak?”Tanya pria itu dengan nada dinginnya.
Bintang diam, duduk berjam jam bukannya memperbaiki engsel dan juga otot bagian bawahnya yang ada hal itu malah memperburuk ke adaannya saat ini.
“Saya coba dulu tuan.”Balasnya pelan, baru saja dia hendak berdiri tapi kakinya langsung gemetar saat mencoba untuk menumpu tubuhnya.
“Huh! Kau benar benar tahu bagaimana caranya merepotkan aku, Bintang. Ku harap kamu benar benar tidak bohong atas rasa sakitnya, karna jika kamu ketahuan berbohong akan ku pastikan kamu tidak akan pernah bisa berjalan selamanya.”Ujar Damian,dengan ke engganan hati pria itu pun langsung mengangkat tubuh Bintang di dalam gendongannya.
Saat mereka turun, kamera langsung mengarah kepada Bintang dan juga Damian, karna sejak pernikahan mereka di gelar mereka benar benar menjadi topic hangat. Apalagi pernikahan ini adalah pernikahan tak biasa, dimana seorang keluarga Wicaksono yang terhormat menikahi seorang anak angkat yang tidak tahu asal usulnya.
Berita ini menjadi high light sejak keduanya di kabarkan menikah, bahkan harga saham perusahaan Wicaksono pun melejit.
Banyak yang mengakatakan jika Bintang adalah sosok Cinderella yang menikahi pangeran berkuda, banyak pula yang mendukung pernikahan itu tapi tak sedikit pula yang merasa iri dan menjudge Bintang yang menurut mereka sama sekali tidak cocok untuk bersanding dengan Damian.
“Lindungi wajahmu dari kamera, jika tidak aku pasti akan muak saat melihat wajahmu terpampang di semua media social yang ada di negara ini.”Ujar Damian, mendengar perkataan Damian, Bintang pun langsung melakukan apa yang di inginkan oleh pria itu. Dia menenggelamkan wajahnya di dada Damian, hal itu malah membuat wartawan semakin gencar mengambil foto mereka.
“Aku menyuruh kamu menutupi wajahmu bukannya malah menenggelamkannya pada dadaku!”Tegur Damian.
Bintang yang pusing karna desakan wartawan terlihat mulai kesal dengan sosok pria angkuh ini, dia memutar bola matanya malas dan berkata, “Ya gimana, kan nggak ada lagi tempat mau nutup mata! Tanganku dua duanya ku pake untuk menopang tubuhku, karna jika tidak kamu pasti akan menjatuhkanku!”Ujar Bintang dengan nada yang kesal. Persetan dengan kata katanya yang sedikit tak sopan yang jelas dia benar benar sudah mulai sebal dengan ocehan yang terus saja di lontarkan oleh Damian.
“K-kau berani membentakku?”Tanya Damian, dia sedikit terkejut saat mendengar Bintang yang membentaknya.
“Kapan? Nggak ada, lebih baik cepat jalan karna tubuhku sudah mulai sakit.”Ujar Bintang, detik ini juga dia sudah memutuskan untuk tidak mau lagi di tindas. Lagi pula untuk apa dia membiarkan dirinya di tindas? Dia dan Damian hanya sementara dan jelas pria itu juga membutuhkannya saat ini.
Damian terdiam, dia merasa pening karna untuk pertama kalinya Bintang berani berkata dengan kata kata informal kepadanya. Jujur, dia sama sekali tidak menyangka jika gadis itu bisa melakukan hal gila seperti ini.
Tanpa menjawab, Damian hanya mempercepat langkah kakinya sementara Bintang hanya diam dan memegang erat erat leher Damian sebagai tumpuan takut jika tiba tiba pria itu benar benar menjatuhkannya ke lantai yang keras ini.
“Kalian nginep di rumah papa?”Tanya Wicaksono saat mereka sudah sampai di luar bandara.
“Nggak pa, Damian sama Bintang langsung pulang ke rumah aja. Soalnya ada banyak yang mau di kerjain.”Ujar Damian, dia tentunya tidak ingin tinggal di rumah orang tuanya lagi karna jelas mereka akan memaksa Damian untuk berada di dalam ruangan yang sama.
“Tapi Bintang kan belum pulih sepenuhnya.”Ujar Raisa sedikit khawatir, apalagi ketika dia melihat mata Bintang yang seolah olah sedang memelas kepadanya.
“Damian bisa urus sendiri kok pa, nggak usah khawatir. Yang jelas, Damian janji habis ini papa akan cepat denger kabar baik dari kita.”Ujar Damian dia menatap Bintang, memberikan isyarat kepada gadis itu untuk memberikan kalimat pendukungnya.
“Iya pa, ma. Bintang sama Damian akan berusaha sekuat tenaga buat bisa ngasih cucu.”Ujar Bintang dengan nada pelan dan penuh keyakinan.
“Baiklah, kalau begitu kalian pulang saja. Semoga papa sama mama bisa cepat dapat kabar baik.”Ucap Wicaksono, setelah mengatakan itu dia pun langsung meninggalkan Bintang dan juga Damian yang nampak masih menunggu kepergian mereka.
“Ohh sekarang kamu udah berani ya, ngomong sok akrab sama aku?”Tanya Damian saat mereka sudah ada di dalam mobil.
“Setelah ku pikir pikir, nggak ada gunanya juga aku bersikap sopan sementara kamu bersikap kurang ajar sama aku. Kita di sini atas dasar kesepakatan dan menurutku nggak ada alasan juga aku harus rendah diri sama kamu! Mulai detik ini udah aku putusin kalo aku nggak akan bersikap sopan lagi ke kamu, Damian!”Ujar Bintang, sudah cukup beberapa hari ini pria itu menindasnya. Dia sudah tidak mau lagi di tindas seperti itu oleh Damian.
“Wah wah wah, ternyata anak pungut kayak kamu ada nyali juga ya.”Ujar Damian dengan nada yang mulai kesal.
“Memangnya kenapa kalau anak pungut. Udah ya, sekarang kita sama sama butuh dan kalau pun kamu menceraikan aku sekarang. Aku nggak rugi sama sekali, jadi terserah kamu aja.”Ujar Bintang, dia membuang mukanya membuat Damian semakin terbakar api kesal di buatnya.
“Waah nggak nyangka ya, ternyata image lugu dan polos itu hanya topeng buat kamu. Ternyata begini watak asli kamu.”Ujar Damian dengan nada yang kesal.
“Ck, kamu yang udah ngasih bendera perang ya? Jangan salahin aku kalo kedepannya hidup kamu bakalan sulit.”Ancam Damian.
“Coba saja, aku juga akan bikin hidup kamu sulit!”Ujar Bintang semakin menantang.
Setelah masing masing dari mereka mengibarkan bendera perang, akhirnya keduanya pun saling diam dalam perjalanan menuju ke rumah Damian.