NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Tidur terpisah lagi

Aldy lalu mengantar umi Fatimah pulang ke rumahnya dengan perasaan kesal terhadap Intan. Sementara itu Intan terus menangis di ruang tengah. Tak berapa lama kemudian datanglah Dirga yang hendak menjemput umi Fatimah.

"Assalamualaikum..."

Dirga yang sejak tadi mengucap salam namun tidak ada yang menyahut, akhirnya masuk ke dalam rumah. Apa lagi pintu ruang tamu terbuka lebar.

"Intan... Umi..." ucap Dirga sambil berjalan ke ruang tengah.

"Intan..." Dirga kaget melihat Intan yang sedang menangis sambil duduk di lantai.

"Intan...kamu kenapa...? Kok kamu nangis...?'' Dirga menghampiri Intan lalu jongkok di depannya.

Melihat sang kakak ipar datang tentu saja Intan kaget.

"Umi mana Intan...?'' tanya Dirga sambil menatap wajah Intan.

"U...umi sudah pulang, diantar mas Aldy..." jawab Intan menghapus air matanya.

"Kamu kenapa...?'' Dirga menatap lekat wajah Intan yang masih terdapat sisa air mata.

Intan menggelengkan kepalanya, namun air matanya kembali jatuh di kedua pipinya.

"Kenapa menangis...? Apa kau bertengkar dengan umi...?'' tanya Dirga begitu penasaran apa sebenarnya yang tejadi pada Intan.

Iya, tentu saja Dirga tahu jika hubungan Intan dan umi Fatimah tidaklah baik. Dirga paham betul jika umi Fatimah tidak menyukai Intan sebagai menantu karena masa lalu Intan.

"Aldy tidak membelamu di depan umi...?'' tanya Dirga yang sudah yakin bahwa Intan baru saja bertengkar dengan umi.

Intan kembali menggelengkan kepalanya. Dirga menggela nafas. Iya, Dirga juga sudah tahu jika Aldy memang tidak pernah membela Intan ketika dia sedang disalahkan oleh umi Fatimah. Karena Dirga pernah melihatnya sendiri saat berkunjung ke rumah umi di saat acara kumpul keluarga.

Saat itu umi menyalahkan Intan karena suatu hal. Dan umi marah pada Intan di depan seluruh anggota keluarga. Namun Aldy bukannya membela Intan, tapi dia malah diam.

Iya, Dirga tentu paham dengan posisi Aldy yang serba sulit. Jika Aldy membela Intan maka umi yang akan sakit hati. Dan jika dia membela umi maka Intan lah yang sedih. Tapi menurut Dirga Aldy bisa mengambil keputusan yang tidak memihak keduanya, bukan malah diam saja.

"Kamu yang sabar ya Intan... Aku minta maaf atas nama umi, karena umi sering bersikap kurang baik sama kamu..." Dirga menangkup kedua pipi Intan dan menghapus air matanya dengan kedua ibu jari.

Intan menatap wajah kakak iparnya beberapa saat. Begitu juga dengan Dirga yang sejak tadi menatap lekat wajah cantik Intan sehingga membuat Intan canggung dan lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Iya, tentu saja Dirga paham dengan kecanggungan yang Intan rasakan. Dirga pun melepaskan kedua tangannya dari pipi Intan. Kemudian Dirga membantu Intan bangun dan menuntunnya untuk duduk di sofa. Dan Dirga pun ikut duduk di samping Intan.

"Mas... Sebaiknya mas Dirga pulang..." ucap Intan yang merasa tidak nyaman berduaan di ruangan tersebut dengan Dirga. Intan takut Aldy pulang dan dia akan salah paham.

Dirga menganggukkan kepalanya.

"Baiklah... Aku pulang..." Dirga bangun dari duduknya dan melangkah untuk pergi.

"Mas Dirga..." Intan meraih tangan Dirga hingga langkah Dirga pun terhenti.

"Iya Intan..." jawab Dirga menoleh pada Intan.

"Apa mas Dirga tidak marah sama Intan...?'' tanya Intan lalu bangun dari duduknya.

"Marah kenapa...?'' Dirga membalikkan tubuhnya menghadap Intan.

"Tadi mas Aldy marah sama Intan karena Intan bertengkar dengan umi. Apa mas Dirga juga menyalahkan Intan...?'' tanya Intan sambil menatap wajah kakak iparnya.

Dirga menghela nafas. Lalu Dirga memegang kedua lengan Intan.

"Mas rasa, mas tidak mempunyai hak untuk marah sama kamu, Intan. Karena mas paham dengan posisi kamu. Kalau kamu membela diri di depan umi, tentu karena kamu punya alasan sendiri dan mas yakin apa yang kamu lakukan itu karena kamu sudah tidak bisa untuk sabar lagi untuk mendengar perkataan umi yang kadang menyakitimu..." jawab Dirga sambil terus menatap wajah Intan.

"Tapi maaf ya Intan, mas tidak bisa berbuat apa- apa. Ya, mungkin nanti mas akan coba untuk bicara sama umi..." sambung Dirga lalu tersenyum pada Intan.

"Makasih ya mas..." ucap Intan yang masih sedikit canggung. Dirga pun mengangguk.

"Arkan di mana...?" tanya Dirga.

Intan lalu menoleh ke kamar Arkan yang pintunya tertutup rapat.

"Ada di kamar, tadi waktu Intan bertengkar dengan umi, dia masuk ke kamar..." jawab Intan kembali menatap Dirga.

"Nanti kamu temui Arkan, pasti dia syok mendengar pertengkaran kamu dengan umi..." ucap Dirga yang masih memegang ke dua lengan Intan.

Intan pun menganggukkan kepalanya.

"Mas, pulang ya... kamu baik- baik di rumah. Jangan nangis lagi..." Dirga mengusap kepala Intan lalu tersenyum padanya.

Intan kembali mengangguk dan membalas senyuman sang kakak ipar. Dirga lalu keluar dan pergi dari rumah Intan. Sedangkan Intan segera masuk ke kamar Arkan untuk melihat putra semata wayangnya.

Intan menyalakan lampu kamar. Dan terlihat di tempat tidur Arkan tidur sambil meringkuk.

"Arkan..." ucap Intan lirih merasa kasihan pada Arkan.

Iya, Intan tahu Arkan mendengar semua pertengakarannya dengan umi Fatimah. Arkan pasti takut.

Intan berjalan ke arah tempat tidur di mana Arkan berada. Lalu Intan duduk di pinggir tempat tidur kemudian dia mengusap kepala Arkan. Merasakan pergerakan di kepalanya, perlahan Arkan membuka mata.

"Mama..." ucap Arkan bangun dari tidur.

"Maaafin mama ya Arkan..." Intan sedih.

"Mama..." Arkan bangun lalu memeluk sang mama dengan erat dan menangis.

"Mama...hik..hik...mama kenapa bertengkar dengan nenek...? Arkan takut mah... Hik..hik..." Arkan terus menangis.

"Maafkan mama nak.. Maafkan mama..." Intan mengusap punggung Arkan.

"Maafkan mama sudah bikin Arkan takut..." Intan melepaskan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Arkan.

"Arkan jangan takut lagi ya... mama minta maaf..." ucap Intan.

"Nggak mah... Mama nggak salah. Justru karena Arkan, mama jadi dimarahi sama nenek...hik..hik...maafkan Arkan ya mah... Hik..hik...." Arkan merasa bersalah.

"Nggak sayang... Arkan nggak salah... Kan Arkan tahu sendiri nenek memang suka begitu sama mama..." jawab Intan sambil menghapus air mata Arkan.

"Mah... Arkan nggak jadi masuk pesantren..." ucap Arkan.

"Arkan..." sahut Intan.

"Iya mah, Arkan nggak mau mama sendirian di rumah. Papa kan jarang pulang. Apalagi papa tadi kasar sama mama. Arkan mau menemani mama saja di rumah. Arkan sekolah yang dekat dari rumah saja mah... Biar setiap hari Arkan bisa ketemu mama..." ucap Arkan.

Iya, tadi saat Intan bertengkar dengan umi Fatimah, Arkan mengintip melalui celah pintu. Bahkan saat Aldy datang dan marah pada Intan lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur di lantai pun Arkan melihatnya dengan jelas. Tentu saja Arkan sedih melihat hal tersebut. Arkan menangis di tempat tidur hingga dia tertidur.

Intan terdiam mendengar perkataan Arkan. Dan Intan pun hanya mengusap-usap kepala putranya tersebut. Iya , Intan cukup bahagia mengetahui bahwa Arkan perduli padanya. Namun di sisi lain, Intan juga tidak ingin menghalangi keinginan Arkan untuk menimba ilmu di pesantren.

Iya, mungkin untuk saat ini Intan tidak ingin membahas soal itu. Lagi pula saat ini Arkan masih duduk di kelas lima sekolah dasar. Masih ada satu tahun lagi untuk Intan menyiapkan diri agar bisa ikhlas melepas Arkan tinggal di pesantren.

Iya, intan sadar bahwa apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya memang ada benarnya. Hanya saja penyampaian umi Fatimah yang kurang tepat hingga membuat Intan tersinggung. Intan juga sadar bahwa dia bukanlah orang tua yang sempurna. Apalagi soal ilmu agama. Masih jauh dari kata sempurna. Bahkan mungkin masih di bawah rata- rata.

Mungkin jika Arkan belajar di pesantren Arkan bisa membimbingnya dan membuat Intan lebih belajar lagi untuk memperdalam tentang ilmu agama.

"Nanti kita bicarakan lagi soal itu ya... Sekarang Arkan mandi. Sudah hampir maghrib...." ucap Intan sambil mengusap kepala Arkan.

"Apa Arkan mau mandi pakai air hangat...? Nanti mama rebuskan air...?'' tanya Intan.

"Tidak usah mah...Arkan mandi pakai air dingin saja..." jawab Arkan.

Arkan lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk sholat maghrib.

💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝

Pukul delapan malam Aldy pulang ke rumah. Dan kepulangan Aldy pun masih membawa kekesalan dalam hatinya kepada Intan yang telah membuat umi Fatimah menangis. Sampai di rumah pun Aldy kembali bertengkar dengan Intan dan terus menyalahkannya.

Menurut Aldy Intan tetap bersalah karena sudah bicara tidak sopan pada umi Fatimah, meskipun Intan sudah mengatakan alasannya kenapa dia bicara kasar pada umi.

Karena bagi Aldy sekasar apapun yang dikatakan oleh umi, sebagai anak maupun menantu tidak dibenarkan untuk melawan perkataannya.

"Mas... Kalau mas Aldy tidak mau aku berkata keras kepada umi, mas harus berani bilang sama umi supaya tidak menghinaku terus- terusan. Dan mas bilang sama umi supaya berhenti menyebutku sebagai seorang pel*cur...'' ucap Intan sambil menatap kesal wajah Aldy karena sejak tadi dia terus menyalahkannya.

Setelah itu Intan masuk ke dalam kamarnya. Dan malam ini Intan dan Aldy tidur terpisah lagi karena Aldy memilih untuk tidur di kamar Arkan.

"Dasar sialan... Kenapa sih tadi sore umi harus datang ke sini...? Kalau dia ke sini hanya ingin membuat keributan, ngapain coba datang..." Intan menangis kesal.

Iya, padahal sejak sore tadi Intan sudah senang sekali menunggu kepulangan Aldy. Intan menyiapkan makan malam special, bahkan Intan sudah mandi lulur untuk persiapan nanti malam bercumbu dengan Aldy karena sudah dua bulan mereka tidak melakukannya.

Namun ternyata rencana Intan tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. Gara- gara pertengkarannya dengan ibu mertua, semua yang telah dipersiapkan oleh Intan gagal total. Dan sekarang dia harus tidur sendiri di dalam kamar karena hingga tengah malam Aldy tidak ada niat buat pindah ke kamar.

Keesokan harinya pukul delapan pagi Intan baru bangun dan keluar kamar. Sebenarnya pukul lima tadi Intan sudah bangun dan melaksanakan sholat subuh. Tapi dia tidur lagi karena masih kesal dengan Aldy. Intan sedang tidak ingin melihat wajah suaminya itu.

Tadi malam Intan sangat berharap setelah pertengkaran mereka, Aldy mendekatinya dan meminta maaf padanya dan baikan seperti sedia kala. Namun kenyataannya Aldy malah tidur bersama Arkan dan membiarkan Intan tidur sendirian. Tentu saja Intan merasa kesal pada suaminya itu yang sama sekali tidak pengertiannya.

Intan berjalan keluar kamar menuju ruang tengah. Namun keadaan rumah terasa sepi. Intan lalu membuka pintu kamar Arkan, namun Aldy dan Arkan tidak ada di dalam sana.

"Mereka ke mana...?'' gumam Intan.

Intan kemudian keluar rumah, dan lagi- lagi di luar tidak ada siapapun. Pintu rumah juga masih terkunci. Tapi saat Intan melihat rak sepatu, Intan tidak merlihat sepatu olah raga Arkan dan Aldy. Itu artinya mereka berdua sedang olah raga.

Intan kembali masuk ke ruang tengah. Dan dua buah paperbag yang tergeletak di atas sofa mencuri perhatian Intan. Intan lalu duduk di sofa lalu membuka paper bag untuk melihat isinya.

Intan mengerutkan keningnya saat dia melihat oleh- oleh khas orang yang baru pulang umroh. Iya, di dalam sana terdapat kurma, coklat, air zam- zam dan beberapa makanan khas negara Arab lainnya.

Dan di paperbag lainnya ada baju, peci dan beberapa pernak- pernik yang juga khas oleh- oleh umroh.

"Ini siapa yang baru pulang umroh...? Kok mas Aldy bawa oleh- oleh umroh sebanyak ini...?'' gumam Intan.

Dan bersamaan dengan itu, terdengar suara Arkan mengucap salam. Arkan masuk ke dalam rumah dengan badan penuh keringat. Iya, Arkan dan Aldy baru pulang lari pagi keliling kompleks.

"Mama...mama baru bangun ya...?'' tanya Arkan sambil berjalan menuju meja makan menuang air putih ke dalam gelas lalu meneguknya hingga habis.

"Iya...Arkan abis olah raga...?'' tanya Intan.

"Iya mah..." jawab Arkan.

"Ya sudah kamu mandi sana, badan kamu keringatan tuh..." ucap Intan.

"Iya mah..." Arkan lalu masuk ke kamarnya dan mandi.

"Mas..." ucap Intan menghampiri Aldy yang juga sedang minum air putih sambil duduk di kursi meja makan.

Namun sepertinya Aldy masih kesal pada Intan sehingga dia terlihat cuek dan tidak menyahuti panggilan Intan.

"Itu oleh- oleh dari siapa...?'' tanya Intan duduk berhadapan dengan Aldy sambil menunjuk dua buah paper bag di atas sofa.

Aldy lalu meletakkan gelas kosong di atas meja makan.

"Dari teman..." jawab Aldy yang lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan tidak mau menatap Intan.

"Siapa...?'' tanya Intan karena merasa heran kenapa teman Aldy bisa memberikan oleh- oleh sebanyak itu.

"Kamu nggak kenal sama dia...." jawab Aldy dengan sedikit ketus.

"Apa anaknya teman umi...?'' tanya Intan.

Mendengar pertanyaan Intan Aldy terlihat sedikit kaget. Lalu Intan menceritakan pada Aldy, saat ke rumah umi, dia mendengar umi sedang menelpon anak temannya yang katanya sedang umroh.

"Iya itu dia...'' jawab Aldy lalu bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar.

"Kok anak temannya umi bisa kenal sama mas Aldy...? Mas Aldy ketemu sama dia di mana...? '' Intan mengikuti Aldy masuk ke dalam kamar.

Aldy menghentikan langkahnya kemudian menghela nafas dan membalikkan badannya menghadap Intan.

"Ya karena temannya umi tinggal di Bandung... Dan tentu saja Aku kenal, mereka beberapa kali mengunjungi abi dan umi..." jawab Aldy lagi- lagi dengan nada ketus.

"Biasa aja dong mas jawabnya, nggak usah ketus begitu. Kan aku cuma tanya..." ucap Intan.

"Lagian apa kamu nggak lihat...! aku capek baru pulang olah raga... ! Tapi kamu nanya terus dari tadi...!'' sahut Aldy kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan kasar.

Bersambung...

1
Asmara
Wah curiga siapa yg umroh ya ?
Salsa
Playing victim banget si Fatimah 😄😄
Asmara
Keren ceritanya
Asmara
Umi sendiri yg duluan menghina Intan giliran dibalas sama Intan dia mewek merasa terzolimi ih najis bgt mertua model begitu 😡
Asmara
Pasti si Aldy punya istri lain
Asmara
Hadeh apes amat kamu Intan
Asmara
Suami nyebelin si Aldy😡
Asmara
Sungguh terlalu mertua sama iparmu Intan 😡
Salsa
Ceritanya menarik 🥰🥰🥰
Salsa
Ngeselin ya si Aldy
Salsa
Apes amat nasibmu Intan ,pynsuami nggak tegas, ibu mertua menyebalkan, adik ipar ngeselin , ibu kandung nya jg edan , lengkap SDH penderitaan kamu
Salsa
Aldy sebenarnya cinta SMA intan cuma gengsi saja dia
Salsa
Suka nya ngalahin org lain tuh si Umi.. pdhl anak sndiri jg salah
Salsa
Umi Fatimah itu ciri" orng munafik
Asmara
Akhirnya menikah jg
Asmara
Duhh intan intan kasihan amat hidupmu
Asmara
Ibunya nggak ngotak
Asmara
Hadir Thor ,.
Mommy Almira: Mksih dah mampir 😊
total 1 replies
Salsa
Lanjut Thor, ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!