Pertemuan tidak sengaja Arabella dengan seorang wanita di cafe tempatnya bekerja, membawanya menjadi pengantin pengganti untuk seorang putra Billionaire Rusia, kondisi Arabella yang sedang membutuhkan banyak uang sehingga ia menerima penawaran wanita itu. Bukan hanya menjadi pengantin pengganti, ia juga harus menjadi putri pengganti dari seorang Billionaire Rusia yang memiliki pengaruh sangat besar di negara itu, Anara itulah nama barunya.
Neal Radislav tidak punya pilihan lain, selain bersedia melangsungkan pernikahan itu demi nama baik dua keluarga, walaupun Arabella memiliki wajah yang persis sama dengan kekasihnya, tak ada sedikitpun sikap manis yang Neal tunjukkan, baginya Anara adalah wanita yang tidak akan tergantikan di dunia ini.
Kenapa Arabella harus berpura-pura menjadi Anara? mampukan sikap lembut dan penyabar Arabella menaklukkan hati Neal? Rahasia apa yang tersembunyi dibalik sikap tertutup Arabella?
Ikuti kisah cinta mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Melya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
“Lepaskan tanganmu dari istriku...!
Suara Neal terdengar tegas dan penuh penekanan memasang wajah yang tidak ramah, seketika David mengalihkan pandangannya pada Neal yang menatapnya tajam, kemudian pandanganya beralih pada Ara yang juga menatapnya tak enak hati, tanpa melepaskan tangannya.
“Istri….Kata-kata itu meluncur dari bibir David sambil menatap Ara untuk memintah penjelasan.
“David...kenalkan ini suamiku..!" Ucap Ara menolehkan wajahnya pada Neal yang berdiri di belakangnya, David memang sudah tahu kalau Ara sudah menikah tapi ia tidak kenal siapa suami Ara, dan sungguh ia tidak menyangkah suami Ara ternyata Neal.
“Maaf…. ! aku tidak tau kalau Ara istri anda.” ucap Neal sambil melepaskan pegangannya . Tapi tak ada sahutan dari Neal ia hanya melangkah mendekat dan berdiri disamping istrinya, mengalungkan tangannya ke pinggang Ara.
“Ayo pulang….!” Neal melangkah pergi tanpa melepaskan rangkulannya Ara.
“Iya Neal, tunggulah sebentar...!" Sahut Ara menahan tangan suaminya itu.
“David… terima kasih sudah mengajakku ke sini, maaf tidak bisa menemanimu pulang, aku harus pulang bersama suamiku," imbuh Ara pelan sambil menatap David tidak enak hati.
“Tidak perlu berterima kasih, aku sangat senang kau mau datang bersamaku, pulanglah... sampai jumpa lagi... "Sahut David sambil tersenyum balas menatap Ara, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Neal yang masih menatapnya dengan sorot mata yang sama, Ara pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum pada David, Neal pun segera membawa istrinya menjauh dari sana, sedangkan David hanya menatap kepergian Ara, ia Kembali tersenyum dan membalas lambaian tangan Ara yang menolehkan wajahnya kebelakang sambil melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Beberapa wartawan yang hadir disana segera mengabadikan kebersamaan Neal dan Ara, beberapa wartawan mencoba untuk mewawancarai pasangan itu, tapi bodyguard Neal yang berjaga disana dengan sigap menghindarkan Neal dari kerumunan wartawan, mereka berdua segera masuk ke mobil yang sudah menunggu mereka, dan segera berlalu dari sana.
Dalam perjalanan Neal tak mengajak Ara berbicara sedikit pun, bahkan melirik pun tidak, Ara yang tau suaminya itu sedang marah, ia pun tak berani untuk buka mulut, takut menambah amarah Neal saja.
“Antar aku kembali ke kantor! ". Tolong hubungi Peter untuk menjemput Ara ke kantorku..." perintah Neal pada Mark. Mark pun mengiyakan dan segera menghubungi Peter, Ara melirik sekilas pada Neal yang masih tak berminat menatapnya.
****
Sampai di Mansion Ara pun menyeret langkahnya ke kamarnya tubuhnya tersa sangat lelah, ia melirik jam tangannya sekilas , hampir pukul lima sore ia pun melangkah ke kamar mandi, kemudian mengisih bathup karena ia ingin merendam tubuhnya yang terasa begitu sangat lelah, ia membuka pakaiannya menaruhnya di box loundry setelahnya ia masuk ke dalam bathup yang sudah dipenuhi air dan busa, ia menghirup dalam-dalam aroma terapi dari sabun yang dipakainya sambil memejamkan matanya, sungguh dapat menenangkan pikirannya, ia teringat kembali akan David dan sungguh merasa tidak enak hati karena sikap Neal padanya, ”nanti aku akan menghubungi David untuk memintah maaf," guman Ara pelan.
Selesai mandi Ara pun segera berganti pakaiannya dan menaburi sedikit bedak di wajahnya lalu memolesi lipstik dengan tipis pada bibirnya yang berwarana pink itu, ia pun melangkah keluar kamar, sungguh Mansion terasa sangat sepi setelah sikembar Maxim dan Jessy kembali kuliah, teringat mereka membuat Ara sangat merindukannya, Ara mengitari Mansion dengan langkah kecil, kemudian singgah di kebun bunga disamping Mansion, Ara memetik beberapa tangkai bunga disana kemudian membawanya ke kamarnya dan meletaknya pada Vas kristal setelah mengisih air Ara pun menaruhnya di meja samping tempat tidur.
Ara melirik jam dinding di kamarnya sudah pukul tujuh malam tapi Neal belum juga pulang, terdengar ketukan pintu kamar dan suara maid memanggilnya untuk makan malam, Ara pun segera menyauti dan keluar dari untuk makan malam, napsu makan Ara hilang saat melewati makan malam seorang diri, karena biasanya Neal menemaninya, ia mengambil sedikit makanan saja untuk menganjal perutnya dan mulai menyuapinya.
****
Neal menetap setumpuk berkas yang barus saja selesai diperiksanya, ia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karena sudah berjam-jam duduk di kursikebesarannya , ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia melirik jam tangannya yang hampir menujukan pukul dua belas malam, ia pun beranjak bangun dan melangkah ke jendela ruangannya dan menatap keluar jendela, Wajah istrinya bermain dimatanya , melihat Ara pergi dengan lelaki lain sungguh ia tidak menyukainya, ia tak seharusnya sekesal ini. Neal menarik napas panjang. "Aku sudah memiliki Anara dan aku sangat mencintainta, tapi...Neal menarik rambutnya frustasi. Harusnya ia merasa bersalah pada Anara karena sudah menghianatinya karena ia meniduri Arabela, tapi kenapa ia tak merasakan hal itu sedikit pun, bahkan ia selalu menginginkan Arabela lagi, ia sangat sulit mengendalikan dirinya jika bersamanya, sungguh ini membuatnya bingung, Neal mengalihkan tatapan begitu mendengar ketukan pintu yang diiringi oleh Mark yang melangkah masuk.
“Tuan...ini sudah larut, apakah Tuan tidak ingin pulang?" Mark bertanya dengan sopan sambil menatap Neal.
“Iya…kita pulang sekarang! Tapi temani aku minum sebentar..!" Seru Neal melangkah pergi Mark pun mengikuti Langkah Neal keluar dari ruangannya.
Sementara Ara masih menunggu Neal pulang sambil membaca majalah sambil tiduran di sofa, ia sudah berkali-kali menguap karena kantuk yang menyerangnya, ia meletakkan majalah di perutnya , dan kembali menatap jam dinding di kamrnya,
“Tak biasanya Neal pulang selarut ini,"guman Ara mulai kwatir. ”Atau dia benar-benar sangat marah padaku, dan tidak pulang malam ini.” Bermacam prasangka berputar di kepala Ara, dulu memang diawal pernikahan mereka Neal sering pulang larut malam, tapi sekarang ia sudah sangat jarang melakukannya, walaupun ada ia akan
menghubungi Ara.
Ara baru beranjak bangun ketika ia medengar suara pintu terbuka, Ara pun segera mengalihkan pandanganya, ia sangat senang melihat Neal sudah pulang, Ara memperhatikan Neal yang melangkah masuk keningnya berkerut melihat penampilan Neal lusuh dengan baju kemeja yang sudah tidak lagi rapi, ia kemudian melemparkan jasnya ditangannya sembarangan, Ara pun segera menghampirinya.
“Neal kau sudah pulang..” sapa Ara sambil menyentuh tangan suaminya itu, tapi dengan cepat Neal menepisnya.
Ia beranjak menjauh dari Ara melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Ara hanya memandangi lalu memunguti jas Neal yang tergeletak dilantai, ia menuju walk in closet menggambilkan baju ganti untuk Neal dan meletakan di sofa , lalu beranjak keluar ke luar kamar untuk membuatkan teh hangat untuk Neal.
Ara kembali ke kamar dan melihat Neal sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya. Ara pun segera menghampiri Neal
“Minumlah…" perintah Ara dengan lembut sambil menyodorkan cangkir itu pada Neal, tanpa menjawab Neal mengambilnya dan meneguknya hingga habis, lalu mengembalikan cangkir yang sudah kosong itu pada Ara, dan beranjak menuju ranjang.
“Neal….. maafkan aku!"
Neal terus melangkah dan merangkak naik ke ranjang sedikit pun tidak menghiraukan perkataan Ara.
Ara yang mulai kesal dengan sikap cuek Neal, meletakkan cangkir ditangannya disamping Vas kristal yang berisi bunga segar yang dipetiknya sore tadi, ia mematikan lampu kamar lalu beranjak naik ke tempat tidur, ia mengamati Neal yang tidur membelakanginya, ia mendekatkan tubuhnya.
”kamu tidak mau bicara denganku? " Tapi tetap tak adalagi jawaban dari suaminya itu.
"Baiklah…."
“Aku hanya ingin memintah maaf, karena pergi tanpa memintah ijin padamu, tapi... kau jangan memarahi Peter karena ia tidak bersalah, aku yang memaksa ikut dengan David.” Selesai bicara Ara pun segera menjauhkan tubuhnya dan membaringkan tubuhnya balas memunggungi Neal.
Neal membuka matanya,”ia hoby sekali membela lelaki lain di depanku, bahkan ia terang-terangnya melindungi Peter dariku," dengus Neal dalam hati yang membuatnya semakin kesal.
.
.
.
.
.
.
Bersambung