Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramuan Ajaib
Casey belum sempat protes, Jayden sudah lebih dulu menunduk, menggerayangi lehernya dengan kecupan singkat.
Casey tersentak, antara terkejut tapi menahan geli. Sensasinya seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya, kakinya pun mulai bergerak ke sana kemari.
"Jangan Jayden ...." Casey jadi melemah, perlahan-lahan kelopak matanya mulai merapat.
"Kenapa jangan? Di mana saja dia menyentuhmu!? Kau harus diberi hukuman!" Mendengar suara napas Casey, Jayden semakin bersemangat.
Rasa cemburu menguasai kepala Jayden. Dari tadi bayangan Casey disentuh oleh pria lain menari-nari di benaknya.
Jawaban Jayden, sontak mengundang kerutan kuat di kening Casey. "Apa maksudmu? Aku ah Jayden jangan!"
Casey berusaha tetap sadar. Dengan sisa tenaga mendorong kuat dada Jayden, hingga tercipta jarak tipis di antara mereka, mata keduanya langsung menyatu dengan napas tak beraturan.
"Kenapa jangan? Aku ingin memberi hukuman padamu, hukuman ini nggak akan menyakitimu, mungkin akan membuat kau terbang melayang-layang."
Jawaban Jayden terdengar nakal dan penuh nafsu. Jelas, Casey semakin panik.
"Hukuman apa? Memangnya aku melakukan kesalahan apa?" Casey berusaha menahan Jayden agar tak menerkamnya.
"Pikir saja sendiri."
Sebelum Casey protes. Jayden kembali membungkamnya dengan sebuah kecupan. Jayden tak memberi Casey untuk melakukan perlawanan. Untuk kesekian kalinya, di rumah maupun di rumah sakit, Casey selalu kalah.
Ciuman yang semula terasa lembut, kini lebih menuntut. Dengan mata terpejam Jayden mulai melumat-lumat bibir tipis Casey sampai-sampai Casey kesulitan bernapas sekarang. Perlahan-lahan, kecupan mulai turun ke leher.
Casey menahan geli, desahan kecil lolos juga dari mulutnya.
"Ah, Jay ...."
"Shfft ...."
Hawa di ruangan terasa makin panas. Hasrat Jayden sudah sampai di ubun-ubunnya. Dia hampir saja menanggalkan pakaian tidur Casey. Namun, tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke ruangan.
Brak!
"Astaghfirullah, maaf, maaf, maaf Den Jayden, Non Casey! Saya lupa ketuk pintu!" Lala membeku sebentar, lalu menunduk dalam-dalam sambil meletakkan nampan berisi cangkir dan buah apel yang sudah dipotong-potong kecil di sudut ruangan, setelah itu kabur keluar.
Detik itu pula, gairah langsung Jayden menghilang. Wajahnya terlihat memerah sekarang.
Pasangan tak tahu waktu itu spontan beringsut dari kasur, lalu berdiri menjauh. Casey menahan malu.
"Jayden, kau ini ...." Casey kehabisan kata-katanya, sambil merapikan piyama tidurnya sejenak.
Jayden enggan menjawab, malah berseru sambil memandang pintu kamar,"Jangan kabur kau, La!"
"Iy–a Den." Di luar pintu, telapak tangan Lala mulai berkeringat.
"Jangan galak-galak sama Lala," kata Casey cepat. "Sebelum tidur aku memang menyuruh dia bawakan aku air jahe, salah kau juga nggak kunci pintu tadi."
"Berarti salahmu, selesai urusan dengan Lala, hukumanmu akan kutambah dua kali lipat, tunggu saja kau!" balas Jayden sambil menyeringai tajam.
Casey terperangah. Senyuman Jayden membuatnya bergidik ngeri. Setelahnya, dia melihat Jayden keluar dari ruangan, pintu langsung tertutup otomatis.
"Gawat, aku harus kunci pintu." Dengan hati-hati Casey mengunci pintu tersebut sambil tersenyum jahil.
"Mampus kau tidur di luar saja sana," gumamnya lagi, tak lupa menjulurkan lidah sedikit di depan pintu.
Sementara itu. Di luar sana, dengan wajah menahan takut, Lala melirik ke arah Tarno sekilas, yang tak sengaja melintas di lorong tadi dan sempat bertanya, mengapa Lala berdiri di luar sekarang.
"Lain kali, kalau mau masuk ketuk pintu dulu La, kau nggak lihat aku lagi sibuk tadi sama Casey," kata Jayden, wajahnya sangat masam, seperti orang yang habis kalah taruhan.
"Iya, saya minta maaf Den, karena nggak tahu kalau Den Jayden ada di dalam dan lagi buat dedek eh maksud saya ...." Lala buru-buru membekapnya mulut sendiri. Melihat Tarno mulai menatapnya dengan sangat tajam sekarang.
Kebiasan Lala yang suka ceplas-ceplos ini tak bisa dihilangkan dari dulu.
Jayden mendengus. "Sudah pergi sana kalian, awas saja ganggu aku lagi, gaji kalian aku potong nanti!"
"Iya Den, maafkan Lala ya Den," balas Tarno, melempar senyum kaku.
"Hmmm."
"Ayo La, kita turun." Tarno segera mengajak Lala untuk pergi ke lantai dasar.
Lala mengangguk kecil, lalu serempak membalikkan badan bersama Tarno. Jayden pun memutar tumit dan memegang gagang pintu kamar.
Jayden tampak kebingungan kala pintu tak dapat dibuka.
"Loh kok nggak bisa dibuka, Casey buka pintunya!" serunya sambil menggedor pintu.
"Nggak mau! Tidur di luar kau!" Dari dalam Casey berseru, diikuti tawa keras setelahnya.
Jayden makin kesal. "Awas kau!"
Tarno dan Lala yang masih berjalan di lorong menahan senyum.
"Yah kasihan deh nggak bisa buat dedek," kelakar Lala.
"Hus La, ayo turun." Tarno melirik Lala sekilas, karena Jayden tiba-tiba menoleh ke arah mereka. Lala tak segera menjawab, perhatian masih ke arah Jayden.
Lelaki itu sadar dibicarakan. Jayden mendengus, akhirnya memutuskan tidur di kamar lain. Meski burungnya cenat-cenut sejak tadi karena malam ini tidak bisa masuk ke sarangnya. Dengan muka lesu Jayden tidur di kamar sebelah.
"Oke,' jawab Lala kemudian.
Menggunakan tangga, Lala dan Tarno bergegas turun ke lantai satu sambil berbincang kecil.
"Menurutmu hubungan Den Jayden dan Non Casey sudah ada kemajuan belum?" tanya Tarno.
"Kayaknya sudah sih, tuh lihat mereka buat dedek."
Tarno tersenyum lebar. "Berarti jamu ajaib yang dikasi Nyonya Mayang berhasil, kau setiap pagi kan kasi jamu sama Den Jayden."
Beberapa hari sebelumnya. Saat Mayang bertandang ke rumah, Tarno diperintahkan untuk memberikan jamu kepada Jayden. Tarno tidak
tahu khasiat jamu tersebut, tapi yang jelas ramuan itu berguna mempererat hubungan Jayden dan Casey.
Mayang juga bilang padanya, yang memberinya jamu sebenarnya adalah sahabatnya Marisa, sekaligus nenek Casey. Ternyata Marisa juga mendapatkan ramuan dari orang kepercayaannya, Pak Bolot.
"Ya dong setiap pagi, aku nggak akan lupa sama pesanmu, semoga saja ada suara bayi sebentar lagi hadir di rumah ini." Sama seperti Tarno. Lala juga menginginkan tangisan bayi terdengar di rumah ini suatu hari nanti.
Tak lama, Tarno dan Lala telah sampai ke tempat tujuan lalu bergegas pergi ke kamar masing-masing, sebab hari semakin malam.
***
Keesokan harinya. Pada pukul setengah delapan pagi, Casey baru membuka matanya.
Masih tergolek di tempat tidur, Casey langsung tersenyum sumringah karena hari ini mendapatkan shift malam. Dia berencana akan pergi ke rumah sakit pukul satu siang nanti. Dia tak sempat bertemu dengan Jayden.
Tadi, pagi-pagi sekali Jayden telah pamit pada Casey di depan pintu. Lelaki itu mengatakan har ini dia akan sibuk sekali di luar, menghadiri pertemuan penting antar dokter bedah.
Casey enggan menjawab, memilih tidur kembali.
"Ah indahnya, tidur lagi ah ...." Casey menguap sesaat dan memilih menutup matanya kembali.
Kira-kira pukul setengah dua siang, Casey baru sampai di rumah sakit.
Begitu masuk IGD, ia langsung tersentak.
Seorang pasien kecelakaan berat tergeletak tanpa penanganan. Darah berceceran di lantai. Aroma antiseptik bercampur anyir.
Suara alat medis, teriakan perawat, dan instruksi dokter saling bersahutan. Bercampur dengan keputusan tenaga medis sebab ada satu pasien yang jantungnya baru saja berhenti berdetak. Walaupun sudah diberikan tindakan alat kejut jantung (CPR) barusan. Kini keadaan di ruang IGD sedang kacau.
Di layar televisi, breaking news menampilkan kecelakaan maut di pusat kota.
"Tolong ambilkan aku instrumen!" Di tengah kerumuman, Casey tiba-tiba berteriak pada siapa pun tenaga medis yang tidak sibuk.
Tak ada sahutan. Sari yang kebetulan mendengar hanya melirik sinis Casey sekilas. Sebab dia sedang membawa cairan infus menuju bed pasien, yang di mana Bobby sedang menangani pasien yang tak kalah parah lukanya.
Selagi menunggu, Casey merogoh saku jasnya, menarik sepasang sarung tangan yang sudah ia lipat rapi. Bukan prosedur paling bersih, tapi di IGD, waktu lebih berharga daripada sempurna.
Di sudut ruangan, troli CPR di tinggal tanpa penjagaan. Seseorang berdiri di depan troli.
"Kenapa nggak ada yang menangani pasien ini?" gumam Casey, secepat kilat memakai handscoon sambil mengedarkan kepada para perawat di sekitar.
"Vero, cepat ambilkan aku alat instrumen lainnya!" seru Casey lagi.
Vero kebetulan melintas. Perawat di ruang anggrek ini sejak tadi diperintahkan membantu ruang IGD karena kekurangan tenaga medis.
Wajah Vero langsung pucat. Melihat pasien yang dimaksud Casey, tulang di kakinya menyembul keluar, tidak hanya itu bagian perutnya juga robek hingga ususnya pun keluar."Dok, pasien ini lukanya sangat parah, harusnya dokter Jayden yang–"
"Diamlah, dokter Jayden lagi nggak ada di sini, mau sampai kapan menunggunya, bantu saja dulu, kau nggak lihat dia sedang kritis! Cepat ambilkan alat CPR dan instrumen lainnya, lalu bantu aku sekarang!" seru Casey menahan kesal.
Vero mau tak mau mengiyakan lalu bergegas membantu Casey. Pertama-tama, Casey dan Vero memasang alat CPR di seluruh badan pasien, memeriksa denyut nadi yang mulai melemah.
Casey menempel alat tersebut di tubuh pasien.
Tiba-tiba .....
"Dokter …" Suara Vero terdengar gemetar.
Casey menoleh cepat.
"Kenapa?"
Dadanya mulai berdesir tak enak.
'Astaga, apa yang salah?'