Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Menghadapi Kegelapan
Malam itu, aku tidur di kamar Lili di lantai bawah, yang kini menjadi kamar tamuku. Lili tidur pulas di sampingku, kehadirannya adalah satu-satunya pelabuhan aman di tengah badai. Namun, aku tidak bisa tidur. Aku terus mendengarkan.
Aku menunggu suara. Suara lampu yang dinyalakan. Suara Arvino yang berteriak. Suara kursi roda yang didorong menuruni tangga. Suara apapun yang menandakan kegagalannya.
Sementara itu, di kamar utama di lantai atas, Arvino memulai perjalanannya ke neraka pribadi.
Menaiki tangga dengan gips di kaki adalah penyiksaan fisik. Namun, penyiksaan mental jauh lebih berat. Setiap langkah yang ia ambil adalah langkah menuju kamar yang menjadi saksi bisu kejahatannya terhadap Aluna.
Dia akhirnya sampai di kamar itu. Dia mengabaikan kursi rodanya, berjalan tertatih menggunakan tongkat, mendekati saklar lampu. Dia menatap ruangan itu dalam cahaya remang-remang dari luar jendela—cahaya yang dulunya ia matikan tanpa ampun.
Arvino teringat saat ia menuduh Aluna sebagai pembunuh. Dia ingat suara isak tangis Aluna yang ditahan di bawah selimut. Dia ingat wajah Aluna yang pucat saat ia menderita Nyctophobia.
Arvino memejamkan mata. Dia mengulurkan tangan dan mematikan saklar utama.
Kegelapan total.
Kegelapan itu datang bukan hanya dari luar, tapi dari dalam. Itu adalah kegelapan traumanya sendiri. Dia tidak hanya takut pada hantu Sarah; dia takut pada penyesalan yang ia pendam. Dalam kegelapan, ia tak bisa lari dari fakta bahwa ia adalah monster.
Jantung Arvino berdebar kencang. Dia mencengkeram tongkatnya. Tangannya basah oleh keringat dingin. Dia bisa saja menyalakan lampu, dan kehangatan cahaya akan mengusir teror ini. Tetapi ia ingat tatapan Aluna saat menyerahkan surat cerai itu.
Jika Kakak menyerah dan menyalakan lampu, besok pagi aku akan membawa gugatan baru ke pengadilan, dan Kakak akan kehilangan aku selamanya.
Arvino tersandung dan jatuh ke lantai. Gipsnya menabrak lantai kayu, menimbulkan suara keras yang mengagetkan.
Di lantai bawah, aku tersentak. Aku mendengarnya. Aku berdiri, siap berlari. Dia gagal. Dia butuh bantuan.
Namun, sebelum kakiku sempat melangkah, aku teringat persyaratan itu. Jika aku naik sekarang, dia akan gagal, dan kami akan bercerai. Aku harus membiarkannya memilih.
Aku kembali duduk di sisi ranjang, memeluk Lili yang tidur. Aku menggigit bibir, memaksakan kesabaranku.
Di lantai atas, Arvino berusaha berdiri. Rasa sakit di kakinya tidak ada artinya dibandingkan dengan teror kegelapan. Dia mulai mengalami serangan panik ringan. Napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar.
Ia merangkak ke ranjang, tempat yang seharusnya menjadi tempat teraman di dunia. Dia membenamkan wajahnya di bantal.
Dia bisa saja meraih ponselnya untuk menyalakan senter, tapi itu sama saja melanggar perjanjian.
Inner Monologue Arvino:
Aku pantas mendapatkannya. Aku pantas merangkak di lantai ini. Aluna merangkak di sini, kedinginan dan ketakutan, karena aku. Aku harus merasakan ini. Aku harus ingat betapa besarnya dosaku.
Arvino mulai berbisik, bukan pada Sarah, tapi pada kegelapan. "Aluna... aku minta maaf. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa bertahan. Aku menyerah... aku menyerah pada kebencianku."
Dia menghabiskan sisa malam itu di ranjang, memejamkan mata, memeluk selimut yang masih memiliki sedikit aroma Aluna. Dia melawan setiap dorongan untuk menyalakan lampu, setiap bisikan ketakutan, dengan satu pikiran: Penebusan untuk Lili dan Aluna.
Pagi hari akhirnya tiba.
Saat matahari terbit, aku naik ke atas. Jantungku berdebar kencang. Aku melihat pintu kamar utama sedikit terbuka.
Aku berhenti di ambang pintu. Ruangan itu masih gelap, gorden tertutup rapat.
Aku menyalakan lampu kamar dengan tangan gemetar.
Cahaya menyebar ke seluruh ruangan. Aku melihat Arvino. Dia terbaring di ranjang, wajahnya pucat pasi, matanya bengkak. Tubuhnya tidak bergerak, tetapi napasnya teratur.
Dan yang paling penting: Lampu itu mati.
Dia berhasil. Dia mengalahkan rasa takutnya. Dia mengalahkan dirinya sendiri.
Aku berjalan mendekat. Aku melihat tongkatnya tergeletak di lantai, dan buku harian lamaku berada di nakas di samping tempat tidurnya.
Arvino membuka mata. Matanya merah, tapi ada ketenangan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Pagi, Aluna," sapanya, suaranya serak karena kurang tidur. "Lampu mati. Aku berhasil."
Aku tidak bisa menahan diri lagi. Air mataku mengalir. Aku menjatuhkan diri di sisi ranjangnya.
"Kenapa Kakak melakukannya?" tanyaku, suaraku pecah. "Kakak bisa saja menyalakan lampu. Kakak bisa saja mengambil kebebasan Kakak."
"Aku tidak ingin kebebasan yang didasari rasa bersalah, Aluna," jawab Arvino, mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku yang basah. Kali ini, sentuhan itu penuh ketulusan, bukan paksaan.
"Aku tidak hanya mematikan lampu. Aku mematikan kebencianku semalam. Aku mematikan bayangan Sarah yang menahanku. Aku ingin memulai lagi, Aluna. Aku ingin belajar mencintaimu, bukan karena kewajiban, tapi karena aku tahu kau adalah satu-satunya cahaya yang pantas kuberi," bisiknya.
Dia menatapku, matanya memohon.
"Jangan tinggalkan aku, Aluna. Aku mohon. Aku akan menjadi suami yang layak bagimu."
Aku menyentuh keningnya. Permintaan maaf dan pengakuan ini, yang datang setelah ia melewati penyiksaan terbesarnya, akhirnya menembus dinding pertahananku.
"Baik, Kak," kataku, air mata masih mengalir. "Aku akan tinggal. Tapi ini kesempatan terakhirmu. Aku tidak mau lagi ada kebohongan, tidak ada lagi bayangan. Aku ingin pernikahan yang utuh."
Arvino tersenyum. Senyum yang tulus, lega, dan penuh harapan yang menyakitkan.
"Aku berjanji," katanya.
Aku mencium keningnya, sebuah ciuman yang mengakhiri perang dan memulai babak yang baru. Aku tahu, penyembuhan luka batin kami baru saja dimulai.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️