Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Perang
Pesta Dansa Musim Dingin di Ibukota adalah momen paling penting dalam kalender sosial kekaisaran. Ini bukan sekadar acara joget-joget konyol. Ini adalah pasar saham status, battlefield politik, dan tempat di mana reputasi bisa dibangun atau dihancurkan hanya dalam satu malam.
Dan hari ini, kami adalah tim penghancur reputasi.
Ruangan ganti Bianca adalah pusat operasi kami. Suasananya seperti menjelang peluncuran roket luar angkasa: tegang, mewah, dan dipenuhi oleh orang-orang yang panik. Ada tiga pelayan yang khusus menangani gaun Bianca, dua penata rambut yang memegang jepit dan sisir seperti senjata, dan ibunya Bianca mondar-mandir di sudut ruangan dengan wajah cemas.
"Korsetnya kurang kencang, nona! Pinggang Anda harus sekecil itu!" desis penata busana Bianca yang wajahnya mirip hiu.
"Sudah kencang, Pierre! Kalau dikencangkan lagi, ginjalku akan keluar dari kuping!" balas Bianca, suaranya tegang karena napasnya tercekat oleh korset.
Aku duduk santai di sofa beludru, mengenakan gaun sutra hijau zamrud yang, untungnya, tidak memerlukan korset terlalu kencang. Di sebelahku, Freya sedang dirias oleh Marie.
Jujur saja, pemandangan ini ajaib. Bianca dan Freya berada di satu ruangan tanpa ada yang menumpahkan teh panas atau saling melontarkan hinaan? Kalau ada yang bilang ini mungkin terjadi seminggu lalu, aku akan tertawa.
Tapi jangan salah sangka. Mereka tidak tiba-tiba jadi sahabat yang saling kepang rambut.
Hubungan mereka saat ini murni profesional. Bianca tidak melihat Freya sebagai manusia atau saingan cinta lagi, melainkan sebagai "Umpan Strategis". Bagi Bianca, Freya adalah manekin yang harus dipoles sesempurna mungkin agar rencana bisnis kami dalam menjual drama Damian, sukses besar. Tidak ada obrolan hangat. Bianca hanya sesekali melirik Freya lewat cermin dan memberi perintah singkat seperti, "Jangan bungkuk," atau "Warnanya kurang cerah." Dingin, tapi efektif.
Freya sendiri terlihat canggung setengah mati. Dia duduk kaku seperti patung lilin, matanya sesekali melirik takut-takut ke arah Bianca. Dia bertahan di sini hanya karena satu alasan: Dia percaya padaku. Aku sudah mendoktrinnya bahwa ini adalah bagian dari "Misi Penyamaran Anti-Hama". Jadi, meskipun canggung, mereka berdua menahan ego masing-masing demi tujuan bersama: Menghancurkan ketenangan hidup Duke.
Dan begitulah, squad paling aneh dalam sejarah terbentuk.
Freya tidak lagi mengenakan gaun katun sederhana. Berkat dana operasional 'Investasi Derivatif Emosional' Bianca, Freya kini mengenakan gaun chiffon berwarna lavender yang lembut. Dia terlihat menawan, anggun, dan yang paling penting: tenang.
"Freya, jangan bergerak," bisik Marie sambil menyematkan bunga kecil di rambut pirang Freya. "Kau terlihat seperti bidadari, Nona."
"Terima kasih, Marie," jawab Freya, suaranya tenang. Dia melihat pantulannya di cermin dan tersenyum kecil. Senyumnya bukan lagi senyum takut, tapi senyum percaya diri.
Aku melihat pemandangan itu dan menyeringai. Good. Rencana berjalan lancar. Freya sudah siap jadi umpan cantik.
Tentu saja, kehadiran Freya di pesta dansa ini adalah ideku. Freya akan menarik perhatian Damian. Semakin Damian teralihkan, semakin mudah bagi kami untuk menjalankan misi utama: menghancurkan citra Damian sebagai 'Pria Sempurna yang Dingin'.
"Vivienne!" panggil Bianca, yang baru saja selesai dirias. Dia terlihat sangat memukau dalam gaun merah marun yang menjulang tinggi, lehernya dihiasi berlian berkilauan. Sempurna. Tapi matanya masih mengandung ambisi.
"Kau secantik harga berlianmu, Bian," ucapku kagum.
"Tentu saja. Semuanya harus sempurna," katanya sambil menyentuh kalung berliannya. "Malam ini, aku harus terlihat seperti Duchess sejati. Aku harus membuat semua orang yakin bahwa Damian tidak akan pernah melepaskanku."
"Santai, Bu Bos. Damian nggak akan melepaskanmu. Dia cuma bakal sibuk panik sama Freya," kataku. "Lagipula, sebentar lagi dia juga bakal panik sama reputasinya."
Bianca mencondongkan tubuh ke arahku. "Rumornya sudah tersebar?"
"Aman, tapi mungkin baru skala kecil. Tinggal kita yang booming-kan di sana," bisikku. "Ingat strategi kita, Bian. Kita nggak menyebar gosip murahan. Kita menyebar informasi medis yang terdengar mengkhawatirkan."
Aku melihat Marie sedang membereskan sisa peralatan rias. Marie adalah kunci. Dia bekerja di area pribadi, dan mulutnya cepat tapi loyal padaku sejak insiden scone.
Aku menghampiri Marie, pura-pura memeriksa gaunku.
"Marie," bisikku pelan, memastikan tidak ada yang mendengar selain dia. "Aku agak khawatir sama Duke Damian belakangan ini."
Marie langsung mencondongkan telinganya. "Ada apa, Nona?"
"Gini lho. Sejak insiden rumah kaca kemarin, dia jadi aneh. Aku nggak bilang siapa-siapa ya, tapi aku denger desas-desus dari pelayan yang melayani kamar mandi Duke..." Aku merendahkan suara lagi, pura-pura sangat rahasia.
Marie menelan ludah. "Ya, Nona?"
"Denger-denger Duke Damian lagi alergi air," bisikku.
Marie membelalak. "Alergi... air? Bagaimana mungkin?"
"Makanya aneh. Katanya alergi kulit parah. Makanya dia menghindari hujan, menghindari kolam renang, bahkan jarang mandi. Mungkin hanya dilap saja," kataku, membuat ekspresi iba. "Ini rahasia besar, Marie. Kalau sampai ketahuan para Nyonya di Ibukota, reputasi Duke bisa hancur. Bayangkan, Duke Hart yang gagah, ternyata alergi air."
"Oh, ya ampun!" Marie menutup mulutnya dengan tangan. "Pantas saja Tuan Duke selalu menyemprot parfum terlalu banyak belakangan ini! Saya kira itu gaya bangsawan!"
"Nah. Jaga rahasia ini ya, Marie. Jangan sampai bocor ke siapa-siapa. Terutama ke Nyonya-nyonya yang suka gosip," kataku dengan mata penuh peringatan.
Marie mengangguk panik. "Tentu, Nona! Saya akan menjaga rahasia beliau seumur hidup!"
Aku menyeringai dalam hati. Tentu, Marie. Justru karena kamu bilang itu rahasia, kamu bakal langsung lari ke dapur dan menyebarkan 'berita mengkhawatirkan' ini ke semua pelayan sebelum kita sampai di ballroom. Dan dari sana, gosip akan menyebar ke ibukota lebih cepat daripada api.
Rumor yang kubuat ini sempurna:
Tidak Bisa Dibuktikan: Alergi kulit adalah penyakit internal. Damian tidak akan mau diperiksa dokter kulit.Menghancurkan Wibawa: Pahlawan perang yang alergi air? Itu merusak citra maskulinnya.Menciptakan Jarak Fisik: Para Nyonya akan ragu berdansa terlalu dekat dengannya, takut ketularan 'penyakit kulit' atau bau badan.Aku kembali ke Freya dan Bianca.
"Oke, team," kataku sambil menepuk tangan. "Gaun oke, casing oke. Sekarang saatnya Pesta Dansa. Bianca, ingat. Fokus pada leverage."
"Lever... apa?" tanya Bianca, alisnya berkerut bingung.
"Daya tawar, Bian. Keuntungan strategis," ralatku cepat. "Abaikan bahasa asing barusan. Freya, ingat: Duke itu cuma Bank Berjalan yang belum bayar utang 7.500 perak."
Bianca mengangguk penuh tekad, meski masih sedikit bingung dengan kosa kataku. Freya tersenyum.
Malam ini, kami akan menjual kehancuran.