ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 33: Cadar yang Tersingkap dan Ikatan Surga.
Malam merayap perlahan di atas langit Pesantren Al-Ikhlas. Sisa-sisa ketegangan dari upaya peracunan massal tadi siang masih menyisakan aroma kewaspadaan di udara. Namun, di balik dinding kayu kamar Alaska dan Sania, waktu seolah berhenti berputar. Hanya ada suara jangkrik di kejauhan dan detak jantung yang saling bersahutan dalam keheningan yang syahdu.
Alaska duduk bersandar di kepala ranjang. Lukanya sudah dibersihkan dan dibalut ulang oleh Sania dengan penuh ketelatenan beberapa saat lalu. Meski perih masih sesekali menyengat, rasa itu kalah oleh kedamaian yang ia rasakan saat menatap istrinya.
Sania duduk di tepi ranjang, masih mengenakan mukena putihnya setelah mereka melaksanakan salat Isya berjamaah—di mana Alaska untuk pertama kalinya menjadi imam bagi istrinya secara privat di kamar itu. Kain tipis berwarna hitam masih menutupi wajah Sania, hanya menyisakan sepasang mata jernih yang memancarkan ketenangan sekaligus keteguhan.
Ketulusan yang Meluluhkan Keraguan.
"Sania," panggil Alaska lembut.
Suaranya yang biasanya berat dan penuh otoritas, kini terdengar rapuh dan penuh penghormatan.
Sania menoleh, menatap suaminya.
"Iya, Mas?"
Alaska terdiam sejenak, memandangi tangannya yang kasar—tangan yang dulu berlumuran darah, namun tadi sore digunakan untuk memegang sajadah tua pemberian Kyai Yusuf.
"Kejadian tadi siang... itu menyadarkanku akan satu hal. Musuh-musuhku tidak akan pernah berhenti. Mereka menganggap taubatku sebagai kelemahan. Tapi bagiku, setiap detik yang kulewati di sini bersamamu adalah anugerah yang tidak pantas kudapatkan."
Ia menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca.
"Aku sering berpikir, apakah aku pantas memilikimu? Aku hanyalah noda di atas kain putihmu yang suci."
Sania bergeser lebih dekat. Ia meraih tangan Alaska, menggenggamnya dengan jemari yang lembut namun erat.
"Mas, jangan pernah katakan itu lagi. Ayah pernah bilang, Allah tidak melihat siapa kita di masa lalu, tapi siapa kita saat ajal menjemput. Tadi siang, aku melihat suamiku berdiri tegak melindungi orang-orang yang tidak berdosa. Aku melihat seorang pria yang lebih takut kehilangan ridha Allah daripada kehilangan nyawanya. Itulah keberanian yang sesungguhnya."
Sania menatap dalam ke mata Alaska.
"Kesetiaanmu pada jalan ini, meski badai dari masa lalu datang menerjang, adalah jawaban dari semua doa-doaku. Aku telah melihat perubahanmu, bukan dari kata-katamu, tapi dari caramu bersujud."
Ridha Seorang Istri.
Ruangan itu mendadak sunyi. Cahaya lampu teplok yang temaram menciptakan bayangan panjang di dinding. Sania perlahan melepaskan genggaman tangannya, lalu jemarinya bergerak menuju simpul cadar di balik kepalanya.
Alaska tertegun. Jantungnya berpacu lebih cepat dari saat ia berhadapan dengan pembunuh bayaran tadi siang. Selama pernikahan mereka, ia selalu menghormati batasan yang diminta Sania. Ia tidak pernah memaksa, tidak pernah menuntut, karena ia tahu bahwa kecantikan Sania adalah harta yang hanya boleh ia lihat saat istrinya benar-benar ridha dan merasa aman.
"Mas Alaska," suara Sania sedikit bergetar, namun penuh kemantapan.
"Malam ini, bukan karena kewajiban sebagai istri, tapi karena hatiku telah memilihmu sepenuhnya. Aku ridha. Aku ingin kau melihat siapa wanita yang akan menemanimu berjuang, baik saat fajar menyingsing maupun saat badai datang."
Perlahan, kain hitam itu merosot jatuh.
Seolah-olah cahaya baru saja meledak di dalam kamar yang remang itu. Untuk pertama kalinya, Alaska melihat wajah istrinya secara utuh. Kulitnya seputih porselen, bibir yang merona alami tanpa sapuan warna kimia, dan hidung yang mancung sempurna. Namun, bukan hanya kecantikan fisik yang membuat Alaska terpaku hingga tak mampu berkata-kata. Ada aura kesucian dan kelembutan yang memancar dari wajah itu—sebuah wajah yang selama ini hanya ia bayangkan dalam mimpi-mimpi terbaiknya.
Alaska terpana. Matanya yang tajam dan dingin kini melunak, digantikan oleh kekaguman yang luar biasa. Ia merasa seolah melihat oase di tengah padang pasir yang membara.
"Sania..." bisik Alaska pelan, suaranya hampir hilang karena haru.
"Masya Allah... kau jauh lebih indah dari apa pun yang pernah kulihat di dunia ini."
Sania menunduk malu, semburat merah muda menghiasi pipinya.
"Aku hanyalah hamba Allah yang penuh kekurangan, Mas."
Alaska mengulurkan tangan yang gemetar, menyentuh lembut pipi istrinya dengan punggung jarinya.
"Dulu aku memiliki segalanya—uang, kekuasaan, dan wanita-wanita paling cantik di kota. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki cahaya seperti ini. Sekarang aku mengerti, kenapa Kyai Yusuf menjagamu seperti permata paling berharga."
Sumpah di Bawah Langit Malam.
Sania mengangkat wajahnya, menatap langsung ke netra Alaska.
"Kecantikan ini adalah titipan, Mas. Dan mulai malam ini, ia sepenuhnya milikmu. Aku tidak lagi takut pada bayang-bayang Orion, atau siapa pun yang ingin menghancurkan kita. Karena aku tahu, di balik sosok kasar ini, ada hati yang tulus ingin pulang kepada Penciptanya."
Alaska menarik Sania ke dalam pelukannya. Bukan pelukan penuh gairah yang membabi buta, melainkan pelukan perlindungan yang dalam. Ia membenamkan wajahnya di pundak istrinya, menghirup aroma harum yang menenangkan jiwa. Di saat itulah, benteng pertahanan terakhir dari ego seorang Alaska runtuh sepenuhnya. Air mata menetes di pipinya—air mata syukur.
"Terima kasih, Sania. Terima kasih telah menerimaku," bisik Alaska di telinga istrinya.
"Aku bersumpah, mulai detik ini, tidak akan ada satu helai rambutmu pun yang akan disentuh oleh kegelapan. Jika mereka ingin mencapaimu, mereka harus melangkahi mayatku terlebih dahulu."
Sania membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada Alaska yang bidang.
"Kita tidak akan berjuang sendirian, Mas. Ada Allah. Dan ada doa para santri yang tadi siang kau selamatkan."
Perlawanan Tersembunyi.
Di sisi lain pesantren, di dalam kegelapan gudang yang dijaga ketat oleh Bara, sang pembunuh yang tertangkap tadi siang masih terikat di kursi besi. Bara berdiri di depannya dengan wajah dingin, tangannya sibuk memeriksa isi tas taktis milik si pembunuh.
"Jadi Orion benar-benar keluar dari persembunyiannya," gumam Bara dengan nada rendah yang mengancam.
"Setelah Tuan Alaska membubarkan dewan direksi, aku mengira tikus tua itu akan lari ke Swiss dan membusuk dengan uang haramnya."
Pria itu meludah ke samping, darah segar keluar dari sudut bibirnya, ia tertawa serak.
"Kau pikir Orion semudah itu menyerah, Bara? Kau lebih tahu dari siapa pun. Dia bukan sekadar orang, dia adalah sistem. Dia ada di bank-bank tempat kalian menyimpan uang, dia ada di pemerintahan, dia ada di mana-mana. Alaska mengira dia bisa lari? Dia hanya memindahkan medan perangnya ke sebuah kandang ayam bernama pesantren ini."
Bara mendekat, mencengkeram rahang pria itu dengan sangat kuat, hingga si pembunuh meringis.
"Pesantren ini mungkin tampak seperti kandang ayam bagimu. Tapi bagiku dan Tuan Alaska, ini adalah benteng yang tidak akan bisa kalian tembus. Karena di sini, kami tidak bertarung demi uang, tapi demi sesuatu yang tidak kalian mengerti: Keikhlasan. Katakan padaku, berapa banyak orang yang sudah dia sebar di sekitar bukit ini?"
Pria itu hanya menyeringai, menolak menjawab.
Tiba-tiba, ponsel milik sang pembunuh yang diletakkan di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor satelit yang dienkripsi. Bara segera menyambarnya.
"Target kedua: Lumpuhkan sayapnya. Jika Sang Naga tidak bisa mati, biarkan dia hidup dalam penyesalan karena gagal menjaga permata Kyai."
Bara membaca pesan itu dan matanya menyipit tajam. Rahangnya mengeras. Ia tahu "permata Kyai" merujuk langsung kepada Sania. Ia segera keluar dari ruangan itu dan menatap ke arah kamar Alaska yang lampunya baru saja dipadamkan.
Bara segera memberi kode kepada dua santri senior yang sudah ia latih secara militer untuk merapat ke titik buta di bawah jendela kamar Alaska. Ia tahu, ketenangan malam ini hanyalah jeda sebelum badai yang lebih besar datang menerjang. Orion tidak hanya ingin membunuh Alaska; dia ingin menghancurkan jiwa Alaska dengan menyentuh satu-satunya alasan Alaska untuk tetap hidup: Sania.
Ujian Berikutnya.
Kembali ke dalam kamar, Alaska dan Sania masih terlarut dalam momen kedekatan mereka. Alaska merasa beban di pundaknya sedikit terangkat, namun instingnya tetap terjaga. Ia menyadari bahwa penyingkapan cadar Sania bukan sekadar simbol cinta, melainkan simbol kesiapan untuk menghadapi segala konsekuensi bersama-sama.
"Tidurlah, Sania," ucap Alaska lembut sambil menarik selimut untuk istrinya. "Aku akan menjagamu."
"Tidurlah bersamaku, Mas," jawab Sania. "Jangan biarkan pikiranmu pergi ke medan perang lagi malam ini. Biarkan hati kita beristirahat di jalan-Nya."
Alaska mengangguk. Ia merebahkan diri di samping istrinya, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka. Di bawah atap sederhana itu, seorang mantan raja kriminal menemukan kerajaan yang sesungguhnya—sebuah rumah yang dibangun di atas fondasi iman, dan seorang ratu yang kecantikannya hanya bisa dilihat oleh mata yang telah dibersihkan oleh air mata taubat.
Namun di luar sana, di balik rimbunnya pohon pinus, sepasang lensa kamera jarak jauh sedang membidik ke arah jendela mereka. Seseorang dengan pakaian serba hitam menekan tombol pengirim pada perangkat komunikasinya.
"Visual dikonfirmasi. Target utama sedang lengah. Instruksi diterima."
Malam yang seharusnya menjadi malam penuh madu, kini mulai dicemari oleh racun pengkhianatan yang lebih mematikan. Ujian kesetiaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
__Cadar bukanlah penghalang antara suami dan istri, melainkan sebuah gerbang kehormatan yang hanya dibuka oleh kunci keridhaan dan kepercayaan yang tulus__
__Kecantikan sejati seorang wanita terletak pada kemampuannya melihat cahaya di balik kegelapan masa lalu suaminya, dan keridhaannya untuk menjadi penyejuk di tengah bara ujian__
__Taubat yang benar akan membawa seseorang pada perlindungan Allah, namun itu tidak berarti jalan di depan akan mulus. Justru, Allah akan menguji sejauh mana kita bertahan memegang cahaya itu saat kegelapan mencoba meniupnya__
__Musuh yang paling berbahaya bukanlah dia yang datang dengan senjata di tangan, melainkan dia yang menunggu di saat kita merasa paling bahagia dan aman__
Bersambung ....