NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16.jejak yang menghilang di langit Singapura

Deru pesawat perlahan mereda saat roda-roda mendarat di bandara Changi, Singapura. Langit malam tersaput warna biru tua yang dalam, seolah baru saja menelan mentari tanpa bekas. Dari kursinya, Vivienne menatap keluar jendela, matanya tenang namun tidak sepenuhnya damai.

Ia meraih ponsel dari tas kulit kecilnya.

Ada satu pesan yang belum terkirim sejak pesawat lepas landas dari Milan.

V: “Sayang, aku sudah di Singapura. Transit sebentar, nanti aku kabari lagi kalau mau boarding.”

Begitu jaringan kembali terhubung, ia menekan nama yang begitu ia hafal: Julian.

Julian membalas singkat. Baik. Hati-hati

Dua jam kemudian Vivienne kembali menghubungi Julian

Hy sayang maaf , penerbangan di batalkan karena cuaca buruk "Ucap Vivienne begitu telfon tersambung.

" Kenapa baru mengabari?"

" Maaf ku fikir hanya di tunda,tapi sekarang malah di batalkan,aku lelah sekali,kau tau kan penerbangan ke sini itu Berjam jam,dan sekarang malah di batalkan "keluh Vivienne dengan nada manja yang terkesan di buat kelelahan.

" Lalu kapan penebangan akan di buka kembali?"

" Besok pihak maskapai baru akan memberikan kabar, sekarang aku akan pergi ke hotel saja,aku lelah "

" Hm...hati hati,aku akan kembali ke hotel "

" Kau tidak marah Julian?"

" Untuk apa?"

" Waktumu terbuang sia sia hanya karena menungguku di bandara, pasti kamu lelah "

" Itu di luar rencana,aku tidak marah, pergilah ke hotel dan beristirahat,aku juga akan kembali ke hotel "jawab Julian lembut sambil menuju parkiran bandara.

" Ok.. baiklah terimakasih,ku tutup telfonnya "

---

Terminal 2 – Beberapa Menit Kemudian

Vivienne melangkah menyusuri koridor bandara. Matanya menangkap bayangan halus di pantulan kaca jendela:

wajahnya sendiri, tampak lebih pucat dari biasanya.

Ia berhenti.

Ponsel kembali bergetar.

Bukan dari Julian.

Nomor tak dikenal.

Vivienne menatap layar selama tiga detik… lalu mengangkat.

Tidak ada suara di seberang.

Hanya keheningan tipis yang anehnya terasa hidup.

“Hello?”

Suaranya tetap stabil. Tidak gugup. Tidak takut.

Masih sunyi.

Lalu sambungan terputus.

Vivienne menurunkan ponselnya perlahan.

Wajahnya tetap datar, tapi matanya sedikit menggelap.

Ia melanjutkan langkah—kali ini bukan ke area boarding.

Melainkan ke sebuah lorong samping,

jarang dipakai,

ditelan bayangan.

Tidak ada kamera di sana.

---

Dua hari kemudian– Siang Hari

Singapura

Eloise memutar ulang rekaman CCTV untuk ketujuh kalinya.

“Ini tidak masuk akal…” gumamnya.

Rekaman menunjukkan Vivienne melangkah ke koridor samping.

Menunggu sejenak.

Seolah menanti seseorang.

Lalu—

hilang dari frame.

Tidak pernah muncul lagi dari sisi mana pun.

Eloise menahan napas. “Vivienne… ke mana kamu pergi?”

Ia ingat jelas:

Vivienne berangkat dari Milan sendirian, tanpa dirinya.

“Ini hanya perjalanan pendek,” kata Vivienne saat berangkat.

“Stay in Milan, Eloise. Aku bisa mengurus ini sendiri.”

Tapi malam itu, Vivienne tidak pernah tiba di Bandung.

Tidak pernah mengirim pesan.

Tidak pernah kembali online.

Eloise memegang kepalanya.

Ketakutan menjalar diam-diam di dadanya.

“Tidak mungkin dia sengaja menghilang…” bisiknya.

Tapi bukti-buktinya sangat…

sunyi.

---

Di Tempat Lain Pada Waktu yang Sama — Bandung

Sementara Eloise panik, seorang pria lain berada dalam situasi berbeda namun tak kalah gelap.

Julian mengalami kecelakaan.

Dan di jam yang hampir sama, Julian menghilang dari tempat kejadian.

Vivienne tidak tahu itu.

Tidak ada yang memberi kabar.

Seolah dua peristiwa itu terjadi di dua dunia yang tidak berhubungan…

namun waktu mereka terlalu serupa untuk dianggap kebetulan.

---

Kembali ke Singapura

Sore berganti malam lagi.

Penyisiran dilakukan dengan bantuan pihak keamanan bandara, tim swasta, dan akhirnya—diam-diam—di bantu oleh tim yang dikirim Daniel begitu ia telah menemukan Julian dalam kondisi koma.

Mereka bertanya pada Eloise:

“Apakah Vivienne punya musuh?”

“Tidak.”

Jawaban Eloise tercekat.

“Tidak ada.”

“Apakah dia pernah merasa diikuti?”

“Tidak.”

“Apakah dia sempat bertingkah aneh sebelum berangkat?”

Eloise mengingat—

Vivienne memang sedikit… berbeda sejak beberapa bulan terakhir.

Namun berbeda bukan berarti berbahaya.

Vivienne tetap perhatian.

Tetap lembut.

Tetap sering menghubungi Julian.

Setiap orang punya rahasia.

Tapi bukan berarti mereka jahat.

Bukan?

Eloise menelan ludah. “Tidak. Dia hanya… mungkin sedikit lelah.”

Agen mengangguk pelan, lalu menunjukkan rekaman terakhir:

Vivienne berdiri seorang diri, di lorong gelap itu.

Tidak tampak takut.

Tidak tampak ragu.

Ia seperti seseorang yang datang untuk pertemuan yang sudah ia ketahui jauh sebelumnya.

Seseorang masuk ke lorong itu—hanya bayangan, siluet, bukan wajah.

Sebelum kamera memudar.

Sebelum segalanya hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!