NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2 Cewek Desa, Balik Kampung

Kereta malam itu berderak pelan, seolah mengantarkan aku kembali ke masa lalu. Lampu-lampu kota menjauh, berganti dengan sawah gelap yang hanya sesekali disinari bulan.

Di kursi sempit, aku menatap jendela, membayangkan wajah bapak dan ibu yang menunggu di beranda rumah.

Pulang... kata itu masih terasa asing di lidahku, seperti janji yang setengah patah. Aku takut mereka melihatku sebagai anak yang gagal, tapi di sisi lain, ada rindu yang tak bisa kutahan.

Pemberhentian kereta terakhir, telah di siarkan oleh masinis lewat radio. Beberapa penumpang berdiri, merapikan barang bawaan.

Kecuali aku. Semesta di sekitarku seolah melambat, aku hanya fokus kepada isi kepalaku sendiri yang membayangkan betapa kecewanya bapak terhadap pilihanku.

Tapi ini bukan pilihan, tapi kondisi. Meski tampak seperti ketidakmampuanku, sebenarnya aku pun menyimpan malu bila harus pulang sekarang.

Pintu kereta terbuka, aku masih duduk di pojok dekat jendela melihat air hujan yang turun tidak begitu deras.

Air yang menempel pada kaca jendela, embun dari uap nafasku yang berulangkali muncul dan menghilang, membuatku semakin enggan meninggalkan kereta.

Tidak ada sambutan, aku berjalan menyusuri peron kosong dan dingin sendirian. Perasaan ini menyebalkan.

Langkahku terasa berat, seolah setiap pijakan di lantai peron menambah beban di dada.

Lampu-lampu redup stasiun memantulkan bayangan tubuhku yang kurus, memanjang di lantai basah.

Aku menunduk, menarik napas panjang, berharap udara malam bisa menenangkan pikiran yang berisik.

Di luar stasiun, jalanan desa tampak lengang. Hanya ada suara serangga dan sesekali lolongan anjing dari kejauhan.

Aku berjalan pelan, menenteng tas kecil yang sudah lusuh, menatap tanah becek yang memantulkan cahaya bulan.

Setiap langkah mendekatkan aku pada rumah, tapi juga pada rasa takut yang tak bisa kujelaskan.

Namun, bayangan itu bercampur dengan rasa malu, seperti dua wajah yang menunggu jawaban atas kegagalanku.

...Aku ingin berlari, tapi kakiku justru semakin lambat....

Sampai akhirnya, di ujung jalan, samar-samar kulihat cahaya lampu dari rumah. Hangat, sederhana, tapi terasa seperti panggilan yang tak bisa kutolak.

Aku berhenti sejenak, menatapnya dari jauh, lalu berbisik pada diri sendiri "Ra... pulang bukan berarti kalah."

Dengan langkah ragu, aku terus maju. Suara pintu kayu berderit ketika aku mengetuk pelan. Tak lama, suara ibu terdengar dari dalam, riang dan hangat, seolah tak ada jarak yang pernah memisahkan kami.

"Mira?! Itu kamu, nak?"

Air mataku jatuh sebelum sempat menjawab. Aku hanya bisa berdiri di ambang pintu, menatap cahaya rumah yang akhirnya menyambutku kembali.

Di sisi lain, bapak yang aku lihat sebelumnya duduk di kursi panjang kayu, memilih bangkit untuk pergi ke kamar tanpa kata apapun.

"Pak. Anaknya pulang, kok kamu malah begitu." Ujar ibu terdengar lembut tapi mengandung rasa kecewa pada bapak.

Aku yang merasa serba salah mencoba menenangkan ibu, "Ya udah buk, gak apa-apa. Bapak capek, mungkin."

Ya, dia pasti lelah pada anaknya yang gagal menuai hasil besar di kota. Terlebih sebagai anak tunggal, aku tidak memiliki cadangan yang dapat menjamin keluarga.

Malam ini terasa panjang. Ibu menuntunku masuk, menyiapkan teh hangat di meja kayu yang sudah penuh coretan krayon. Aku duduk, menatap cangkir itu tanpa berani menyentuhnya.

Di kamar sebelah, suara bapak terdengar samar batuk kecil, lalu hening. Aku tahu, ada jarak yang lebih tebal daripada dinding rumah ini.

Ibu menatapku, senyumnya tetap ada meski matanya menyimpan cemas. "Di kota... kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya pelan.

Aku ingin menjawab dengan kebanggaan, tapi kata-kata itu tak pernah muncul. Yang keluar hanya helaan napas panjang. "Baik, buk... ya walaupun ujungnya, dipecat sih."

Ibu mengangguk, seolah sudah menduga. Tangannya menyentuh bahuku, hangat, tapi juga membuat rasa malu semakin nyata.

Di luar, suara hujan kembali turun, lebih deras dari sebelumnya. Aku menatap jendela, melihat bayangan diriku sendiri di kaca.

Bayangan seorang anak yang kembali tanpa cadangan yang dapat menjamin keluarga, hanya membawa rindu dan rasa bersalah.

Malam semakin larut. Ibu akhirnya tertidur di kursi, sementara aku berjalan pelan menuju kamar, sembari menatap pintu kamar bapak yang tertutup rapat.

Masuk ke dalam kamarku, kulihat ruangan ini masih belum banyak yang berubah. Yang berbeda hanya lampu sudah tidak lagi terang seperti dulu.

Debu memenuhi seisi ruangan, banyak yang hinggap di meja rias hingga melekat bak tabir pada cerminnya. Beberapa kosmetik lamaku pun sudah tidak dapat lagi diselamatkan.

Aku baru saja merebahkan tubuh di ranjang berdebu itu, mencoba menutup mata. Hujan masih mengetuk genteng, ritmenya seperti mengiringi rasa bersalah yang tak kunjung reda.

Tiba-tiba, dari kamar sebelah, suara bapak terdengar pelan namun jelas menembus dinding tipis "Besok kita bicara."

Hening kembali menyelimuti rumah. Kata-kata itu sederhana, tapi terasa berat, seperti pintu yang baru saja dibuka menuju sesuatu yang belum pernah aku hadapi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!