Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kamu Tidak Punya Perasaan Terhadap Saya?
Citra menghempas nafas panjang sebelum ia turun dari mobil. Sebenarnya dia enggan datang dan menemui Bima, hanya saja dia harus profesional, tak mencampur adukan masalah pribadi dengan pekerjaan, apalagi Bima mewakili perusahaan yang menjadi relasi bisnis kantor Vista Ceramics, bisa-bisa dia kena teguran dari perusahaan, karena bersikap tidak sopan pada relasi bisnis kantor.
Tak seperti kunjungan pertamanya di kantor Bima, kali ini Citra tak kesulitan saat ia menyebut hendak bertemu dengan Bima, karena kebetulan security yang menjaga adalah orang yang sama seperti ketika ia pertama kali berkunjung ke kantor itu. Petugas front office pun mempersilahkan Citra untuk naik langsung menggunakan lift ke lantai yang dituju.
"Selamat siang, Pak." Setelah diantar oleh anak buah Bima sampai ke ruang kerja pria itu, Citra langsung menyapa Bima ketika masuk ruangan.
"Masuklah!" Bima bangkit dan menghampiri Citra yang sudah tiba di ruangannya. Senyumnya langsung mengembang, karena akhirnya dia berhasil memaksa Citra datang ke kantornya.
Citra melangkah ke arah sofa dan duduk berbeda kursi dengan Bima.
"Saya ditugaskan untuk mengantar ini pada Bapak." Citra berucap dengan formal dan mengubah panggilan Bima dengan sebutan bapak.
Bima menatap Citra, sama sekali tak tertarik kepada produk yang diletakkan Citra di atas meja.
"Kenapa kamu menghindar, tak mau bertemu dengan saya?" Sebenarnya itulah tujuan Bima meminta Citra datang ke kantornya. Jika bukan dengan cara itu sepertinya Citra akan terus menghindarinya.
"Maaf, Pak. Saya hanya ditugaskan mengantar ini." Citra enggan menjawab pertanyaan Bima, merasa yakin sebenarnya Bima tahu alasannya karena apa.
"Kamu tidak memberi kesempatan kepada saya untuk berbicara dengan ibumu?" tanya Bima, tetap memaksa mereka membicarakan tentang hal pribadi.
Citra menghembuskan nafas dengan kencang, karena Bima masih saja membicarakan soal keluarganya yang melarang mereka bersama.
"Sejak awal saya sudah bilang ke Bapak, keluarga saya tidak ingin berhubungan kembali dengan keluarga Bapak," ucapnya memberi alasan.
"Panggil saya seperti biasanya saja!" Kali ini Bima memprotes cara Citra memanggilnya.
"Kita sedang membahas masalah pekerjaan bukan masalah pribadi. Kemarin saya sudah katakan, supaya Bapak mencari wanita lain yang lebih pantas untuk Bapak!" Citra berbicara sedikit ketus, berharap Bima bisa berubah pikiran, tak terus mengejarnya.
"Tidak ada wanita lain, hanya ada kamu! Dan saya hanya menginginkan kamu untuk menjadi istri saya!" Mungkin terkesan keras kepala, tapi jika menginginkan sesuatu, Bima selalu berusaha mengejarnya sampai dapat. Apalagi yang ia kejar adalah calon pendamping hidupnya.
Kata-kata Bima membuat Citra semakin tak nyaman berada di ruangan tersebut, sehingga ia memutuskan ingin pergi meninggalkan kantor Bima.
"Maaf, saya hanya ditugaskan mengantar contoh itu. Untuk lebih jelasnya Bapak bisa hubungi Ibu Liza atau Mas Erwin. "Saya permisi ..." Merasa tak ada yang harus ia kerjakan lagi, Citra pun berpamitan dan bangkit dari duduknya. Kali ini ia tak peduli dianggap kurang sopan sebagai tamu di kantor Bima. Sebab yang ada di pikirannya saat ini adalah segera meninggalkan pria itu secepatnya.
"Kita belum selesai bicara, Citra!" Bima pun langsung bangkit dan mengejar langkah Citra yang bergegas ingin meninggalkan ruangannya. "Citra, tunggu!" Bima mengenggam lengan Citra, menahan Citra pergi.
"Mas, tolong lepaskan!" Tanpa sadar Citra kembali menyebut Bima dengan panggilan Mas dan berusaha melepaskan diri dari Bima.
"Saya tidak akan melepaskan, sebelum kamu mau memberikan saya kesempatan untuk bicara dengan ibumu." Bima akan melepaskan dan membiarkan Citra pergi dengan satu syarat yang harus dipenuhi oleh wanita itu.
"Mas nggak bisa memaksa saya!" Citra terus berontak agar tangan Bima melepasnya, namun, Bima bergeming, hingga akhirnya Citra tersudut di dinding dekat pintu.
Citra membeliak karena akhirnya Bima melepas cengkraman di lengannya. Tapi, pria itu mengurungnya hingga jarak mereka terpangkas.
"Ummm, M-mas mau apa?" Citra grogi dan cemas melihat aksi Bima yang tak terkendali. Jantungnya pun berdetak kencang dan hati berdebar.
"Saya hanya ingin tahu, apa kamu yakin, tidak ingin bersama dengan saya?" Bima memandang wajah Citra yang berjarak sekitar sejengkal darinya, sementara tubuh mereka lebih merapat.
Citra menarik nafas yang terasa tercekat. Berdekatan sangat intim dengan Bima saat ini membuatnya sulit bernafas.
"Saya sudah katakan kalau saya belum berniat untuk menikah lagi." Citra membuang muka, berusaha mengontrol debaran di dadanya agar tak diketahui oleh Bima.
Jari Bima menyanggah dagu Citra dan mengarahkan wajah wanita itu hingga menghadap ke arahnya.
"Pandang saya ketika bicara dengan saya!" ujarnya dengan tatapan lekat menembus bola mata Citra hingga ke jantung. "Apa kamu tidak punya perasaan apa-apa terhadap saya?" Pertanyaan Bima bagaikan jebakan bagi Citra. Namun, Bima yakin, beberapa waktu kebersamaan mereka, tidak mungkin Citra sama sekali tidak mempunyai perasaan terhadapnya.
Citra memutus pandangan, karena takut terhipnotis pria itu. Namun, matanya memicing membentuk kerutan di alisnya, ketika ia melihat bibir Bima yang semakin mendekat ke arah bibirnya. Sekejap kemudian mata Citra melebar, karena Bima mulai menyatukan bibir mereka.
Bima seperti hilang kendali, melihat kecantikan Citra apalagi bibir wanita yang itu yang menggoda, hingga akhirnya ia membenamkan sebuah kecupan di bibir Citra.
Walau terkejut, tapi Citra membiarkan Apa yang dilakukan Bima terhadapnya. Meskipun bibirnya menyangkal, tapi tubuhnya seolah menerima dan tak menolak kecupan Bima, bahkan ia seolah terbuai membalas pagutan yang diberikan Bima kepadanya. Dia adalah wanita yang pernah menikah, tentu saja dia merindukan kehangatan sentuhan int!m seperti tadi.
"Aaakkhhh!" Beberapa detik pagutan itu berlangsung, Citra seakan tersadar telah melakukan kesalahan, hingga ia mendorong tubuh Bima dan memberikan pria sebuah sentuhan keras dengan telapak tangannya.
Plakkk
"Ummm, m-maaf, Mas." Citra pun terkejut karena ia baru saja menamp4r Bima. Dia merasa bersalah karena sudah bersikap kasar pada mantan iparnya itu. Citra benar-benar serba salah, antara marah karena Bima sudah bersikap kurang ajar, tapi ia sendiri membalas dengan kekerasan.
Sementara Bima mengusap rahang yang tadi terkena sentuhan kasar telapak tangan Citra. Bukannya marah pria itu justru mengulum senyuman.
Tanpa diduga, Bima nekat kembali mengecup Citra, bukan di bibir tapi di kening wanita itu.
"Saya sudah menemukan jawabannya," ucapnya kemudian. Balasan pagutan dari Citra dan tak ada penolakan dari wanita itu mengisyaratkan jika Citra pun sebenarnya mulai memendam perasaan kepadanya.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
Maaf, Mas Bima khilaf ✌️
Untung Bayu kali ini waras, gak nurutin apa mau nya Arini.
Cecil mau menyampaikan apa ya ke Citra
Menjelang pernikahan Bima dan Citra, emak penasaran dan drg- degan apa yang akan dikatakan Cecil pada Citra