NovelToon NovelToon
BALAS DENDAM SANG IBLIS SURGAWI

BALAS DENDAM SANG IBLIS SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Timur / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zen Feng

Guang Lian, jenius fraksi ortodoks, dikhianati keluarganya sendiri dan dibunuh sebelum mencapai puncaknya. Di tempat lain, Mo Long hidup sebagai “sampah klan”—dirundung, dipukul, dan diperlakukan seperti tak bernilai. Saat keduanya kehilangan hidup… nasib menyatukan mereka. Arwah Guang Lian bangkit dalam tubuh Mo Long, memadukan kecerdasan iblis dan luka batin yang tak terhitung. Dari dua tragedi, lahirlah satu sosok: Iblis Surgawi—makhluk yang tak lagi mengenal belas kasihan. Dengan tiga inti kekuatan langka dan tekad membalas semua yang telah merampas hidupnya, ia akan menulis kembali Jianghu dengan darah pengkhianat. Mereka menghancurkan dua kehidupan. Kini satu iblis akan membalas semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: GEMA KEKACAUAN

Kabar menyebar seperti api di musim kemarau.

Seorang bocah belum genap dua puluh tahun dari klan pinggiran—Mo Long dari Klan Naga Bayangan—telah mengalahkan Haikun, seorang Tao Ranah Spiritual Abadi yang melakukan ritual terlarang di Gunung Mayat.

Perbincangan panas menggema dari Kota Long Ya, menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru Kultus Iblis Surgawi seperti ombak yang tak terbendung.

Di kedai-kedai teh, penjual menceritakannya dengan mata berbinar.

Di balai-balai pertemuan, para tetua membisikkannya dengan nada serius.

Di pasar-pasar ramai, pedagang berteriak menjualnya seperti komoditas.

"Kau dengar? Yang mengalahkan Tao tingkat tinggi penculik anak-anak itu ternyata Bocah dari Klan Naga Bayangan!"

"Bocah? Haikun yang terkenal kejam itu? Yang membantai puluhan pendekar di wilayah Timur? Mustahil!"

"Bukan hanya mengalahkan—dia membunuhnya! Di Gunung Mayat! Menghentikan ritual terlarang!"

"Mereka menyebutnya... Pahlawan dari Selatan!"

Beberapa memuji kehebatan Mo Long dengan penuh kagum—bocah genius yang bangkit dari status sampah klan.

Beberapa menyoroti kekejaman Haikun dengan amarah—ritual terlarang yang memakan puluhan nyawa tak berdosa.

Yang lain mempertanyakan tanggung jawab Tao Langit Hitam—bagaimana bisa anggota mereka melakukan kejahatan seperti itu?

Kabar itu bergulir. Menyebar. Memecah keheningan yang selama ini menutupi kejahatan di bayang-bayang.

Dan bersama kabar itu, nama Mo Long mulai dikenal—diingat—ditakuti.

Kabar itu mulai sampai di Kota Kageyu, kota asal Mo Long—Kota Kekuasaan Klan Naga Bayangan.

Di paviliun milik Patriark Mo Han, sesosok berjubah hitam dengan tudung berlutut di lantai kayu—kepala menunduk dalam, tidak berani mengangkat mata.

"Tuan," lapornya dengan suara rendah yang bergema di ruangan sunyi, "kabar dari Kota Long Ya telah terkonfirmasi. Mo Long tidak hanya lolos Ujian Kelayakan Pendekar... dia juga mengalahkan Haikun seorang Tao Tingkat Tinggi dalam pertarungan. Membunuhnya. Menghentikan ritual terlarang yang telah memakan puluhan nyawa."

Keheningan.

Mo Han duduk santai di kursi kayunya—punggung bersandar, satu kaki diangkat bertumpu di kursi. Di tangannya, secangkir teh mengepul. Aromanya harum—teh langka dari Pegunungan Langit.

Dia menyeruput—perlahan, menikmati setiap tetes.

Lalu dia tersenyum.

Senyum yang tipis. Senyum yang puas. Senyum yang... sulit dibaca.

"Pahlawan dari Selatan," gumamnya pelan, seolah sedang mencicipi rasa dari julukan itu. "Nama yang cukup berat untuk dipikul oleh seorang bocah."

Dia meletakkan cangkir tehnya—pelan, tanpa suara.

"Tapi anak itu semakin... menghibur."

Sosok berjubah hitam tetap berlutut—tidak bergerak, menunggu perintah.

"Bagaimana reaksi para tetua?" tanya Mo Han tanpa menoleh.

"Respon mereka terlihat... tidak senang, Tuan. Terutama Lady Mo Hua."

"Tentu saja." Mo Han tertawa pelan—tawa yang dingin. "Mo Hua pasti tidak menyangka sampah yang berusaha dia singkirkan bisa tumbuh sekuat ini."

Dia menoleh—menatap sosok berjubah hitam dengan mata yang tajam.

"Sekarang dimana dia?"

"Dia dalam perjalanan pulang, Tuan."

"Lanjutkan pengawasan. Dari perjalanan hingga saat ia berada disini. Laporkan setiap gerakan Mo Long. Setiap orang yang dia temui. Setiap tempat yang dia kunjungi." Suaranya berubah serius. "Aku ingin tahu... seberapa jauh anak itu bisa tumbuh."

"Hamba... mengerti, Tuan."

Sosok itu berdiri—lalu menghilang dalam bayangan seperti tidak pernah ada.

Mo Han kembali menatap keluar jendela.

Senyum di wajahnya perlahan memudar—digantikan ekspresi yang kompleks.

Ada sesuatu di matanya. Seperti kenangan yang menyeruak dalam kepala.

Tangannya terkepal pelan di sandaran kursi.

'Mo Long,' pikirnya dalam hati. 'Kau semakin menarik perhatian. Semakin berbahaya. Semakin...'

Dia menutup mata.

'...semakin mirip denganku dulu.'

Masih di kawasan Klan Mo, di Taman depan Paviliun Lady Mo Hua, terdengar suara amarah dari istri Patriark Mo Han itu.

PYAR!

Suara cangkir teh dibanting keras terdengar di seluruh taman.

"APA?!"

Mo Hua berdiri—wajah memerah, urat-urat muncul di leher, mata menyala dengan amarah yang tak tertahankan.

Seorang pelayan gemetar di hadapannya—berlutut dengan dahi menyentuh lantai dingin, tidak berani mengangkat kepala sedikit pun.

"B-Benar, Nyonya..." Suara pelayan itu gagap, hampir tidak terdengar. "Mo Long tidak hanya lolos Ujian Kelayakan Pendekar... dia juga... mengalahkan Haikun, seorang Tao tingkat tinggi. Di Gunung Mayat. Mereka... mereka menyebutnya Pahlawan dari Selatan."

"DIAM!"

Mo Hua menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah, matanya melotot tajam pada pelayan itu.

"Sampah dari Pavilun Belakang itu seharusnya sudah mati!" teriaknya dengan napas memburu. "Dantiannya dirusak! Masa depannya dihancurkan! Kenapa dia masih hidup?! Kenapa dia bahkan menjadi lebih kuat?!"

Pelayan tidak berani menjawab—tubuhnya gemetar ketakutan.

Mo Hua berjalan mondar-mandir—tangan meremas-remas jubahnya, rahang mengeras.

'Pahlawan dari Selatan?' Amarah meluap di dadanya seperti lava. 'Bocah sampah itu mendapat julukan kehormatan?! Sementara Mo Feng—putraku yang seharusnya menjadi pewaris—dihajar olehnya sampai babak belur!'

Dia berhenti melangkah.

Menatap pelayan dengan mata yang dingin—dingin seperti es di musim dingin.

"Min Mao," gumamnya pelan—tapi setiap kata penuh racun. "Orang itu gagal menjalankan tugasnya. Dia seharusnya memastikan Mo Long mati. Tapi bocah itu malah selamat. Malah tumbuh kuat."

Dia menoleh pada pelayan.

"Kirim pesan." Suaranya datar, tanpa emosi—tapi justru itu yang membuatnya mengerikan. "Eksekusi diam-diam seluruh keluarga Min Mao. Kakek tua, bahkan adik kecilnya. Jangan sisakan satu pun."

Pelayan membeku—wajah pucat pasi.

"T-Tapi Nyonya... keluarga Min Mao tidak tahu apa-apa tentang—"

"AKU TIDAK PEDULI!" bentak Mo Hua. "Kegagalan adalah dosa. Dan dosa... harus dibayar dengan darah."

Pelayan mengangguk cepat—gemetar.

"H-Hamba... mengerti, Nyonya."

"Pergi. Sekarang."

Pelayan itu merangkak mundur—lalu berlari keluar taman seperti dikejar hantu.

Mo Hua berdiri sendirian di taman yang luas—dikelilingi bunga-bunga dan pohon menjulang tinggi, disinari cahaya mentari dari barat.

Tangannya gemetar—menahan amarah yang ingin meledak.

'Mo Long...' Giginya gemeretak. 'Aku akan menghancurkanmu dengan tanganku sendiri. Aku akan cabut semua yang kau miliki. Aku akan...'

Dia menutup mata—napas panjang, berusaha menenangkan diri.

'Tidak. Belum saatnya. Aku harus bersabar. Menunggu waktu yang tepat.'

Tapi amarah tetap membara di dadanya—seperti bara api yang tidak pernah padam.

Jauh dari Kediaman Klan Naga Bayangan, di Ibukota Kultus Iblis, Markas Sekte Lima Racun.

Ruangan bundar besar dengan atap tinggi berlukis lima hewan beracun—ular, kalajengking, laba-laba, lipan, kodok—melingkar membentuk formasi.

Lima orang duduk mengelilingi meja batu bundar—masing-masing mewakili salah satu Klan Racun.

Di tengah duduk Gu Tiexin—Patriark Klan Gu, pemimpin Sekte Lima Racun. Pria tua dengan janggut putih panjang yang menyentuh dada, mata yang tajam seperti ular berbisa, dan aura yang dingin seperti racun mematikan.

"Kabar dari Kota Long Ya." Wakil Klan Kalajengking—pria paruh baya dengan bekas luka di wajah—berbicara dengan nada datar. "Bocah dari Klan Naga Bayangan mengalahkan Tao tingkat tinggi. Haikun yang terkenal kejam."

"Mereka menyebutnya Pahlawan dari Selatan," tambah wakil Klan Laba-laba—wanita tua dengan suara serak. Nada sinis jelas terdengar.

Gu Tiexin tidak berkata apa-apa.

Jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja—pelan, berirama, suara yang membuat ruangan terasa lebih sunyi.

Tok. Tok. Tok.

Semua orang terdiam—menunggu.

"Klan Mo..." Gu Tiexin akhirnya berbicara—suara rendah, penuh kebencian yang tertahan puluhan tahun. "Klan Naga Bayangan."

Dia mengangkat kepala—mata menyipit, pupil vertikal seperti ular.

"Dendam lama kita dengan klan itu... belum selesai. Ramuan pusaka Penakluk Sepuluh Ribu Racun... masih di tangan mereka. Masih tersimpan di lemari harta karun mereka seperti piala kemenangan."

Keheningan.

Semua orang di ruangan mengerti. Semua orang ingat.

Dua puluh lima tahun lalu—pernikahan yang dijanjikan antara Klan Gu dan Klan Mo dibatalkan. Kakak Mo Han mati, dan Klan Mo menuduh Klan Gu yang melakukannya.

Entah siapa pelakunya, yang jelas hubungan kedua klan tak pernah membaik.

Dan ramuan pusaka yang seharusnya menjadi mas kawin—hadiah untuk menyatukan kedua klan—kini menjadi pengingat pengkhianatan yang berdarah.

Gu Tiexin berdiri—jubah racun hijaunya berkibar.

"Kirim orang untuk mengawasi Mo Long." Suaranya dingin seperti es beracun. "Aku ingin tahu... apa yang membuatnya istimewa. Apa yang membuatnya layak mendapat julukan itu."

Dia menoleh pada keempat wakil—mata menyala dengan amarah tertahan.

"Dan jika ada kesempatan..." Senyum tipis terukir di wajahnya—senyum yang mengerikan. "Hancurkan dia. Seperti Klan Mo menghancurkan kehormatan kita dua puluh lima tahun lalu."

Keempat wakil mengangguk serempak.

"Baik, Ketua."

Tanpa Mo Long ketahui, banyak pihak berusaha mengintainya dan mengincar nyawanya.

1
Dina Li
Mantab mo feng nerima ganjarannya
Abil Amar
bukan hot tp soplakkkk krna g up psti ujung2ny berhenti alias g dlnjutkan
Zen Feng: Sabae broo pasti lanjut kok, ini lagi sibuk kerjaan aja 😌
total 1 replies
AELION
saran bang zeng , ini lebih keren lagi kalau kata menjerit di rubah jadi meraung bang 👍. Meraung itu untuk amarah yg menggebu. dan jujur menurutku pribadi kata meraung lebih tepat. untuk setelahnya, ku serahkan balik ke bang zen 👍
AELION: /Smile/
total 3 replies
Ren
Lucunyeee wkwkwk
Santos
Makin hot 🥵
Subasa
Wahhh yaohua cantik
Zen Feng
Silahkan tinggalkan komentar kritik dan saran untuk novel ini agar saya semakin semangat menulis, wahai para pembaca 😁
Abil Amar
ah kyak cerita naruto waktu kekashi dsalip am uchiha itachi am mata sharinggan
Zen Feng: Ah iya bang terinspirasi dari itu emang 😅
total 1 replies
Ragil Prasetyo
bagus tidak membosankan
Zen Feng: Terimakasih atas komentarnya mas ragil 🫡
total 1 replies
Meliana Azalia
Pahlawan berhati iblis 😭
Meliana Azalia
Jadi orang songong banget siy
Nanik S
Ternyata Hiroshi penegak Hukum malah lebih jahat
Santos
Gara” cewek sampe perang 😭
Ren
Gara-gara cewek 😭
Ren
Emang udah jodoh wkkwkw
Ren
Sadees bener bener iblis
Ren
Uhuuy
Nanik S
Anak buah Haikun
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Lanjutkan Tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!