Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manipulasi
Tinjuan Ahn Woojun berakhir di bungkusan telapak tangan Ryu Jeong, tepat di depan wajah pengacara itu.
Sorot mata Jeong bukan lagi warna khas bangun tidur, tapi berganti tatapan menusuk tajam berisi dorongan ingin menghajar habis.
"Salahmu kau tidak melunasi utang-utangmu dengan cepat! Aku jadi tidak sabar dan memakai cara lain untuk memberimu pelajaran." Ditutup dengan seringai, Jeong mempermainkan.
Terentak jantung Ahn Woojun. Otaknya langsung bekerja.
"Jadi ... kau rentenir?" Matanya menyala terang, dan tajam. Ahn Woojun bahkan tak ingat wajah-wajah orang bank yang pernah menagihnya. Kendati demikian, seingatnya tidak pernah melihat yang wujudnya melebihi kebaikan fisik yang dimilikinya. Sebagusnya penagih utang, hanya terbatas di wajah sangarnya saja.
Tapi orang itu ....
Jika dia seorang rentenir, ada di kamar Anjani, berserakan pakaian dalam bersama alat kontrasepsi di atas kasur, maka maknanya sudah tidak sesederhana menagi utang dengan ancaman. Membayangkan semua itu membuat kepala Ahn Woojun seperti lava yang bergolak lalu mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Jawab aku, Bajingan!"
Jeong lebih dulu mengempas kepalan Woojun dari cengkramnya sebelum kemudian beranjak dan berdiri di samping mantan suami Anjani itu. "Katakan saja begitu," jawabnya dengan muka tanpa empati.
Keduanya saling berhadapan, tinggi badan mereka beda sedikit saja dengan Jeong mendominasi.
Buku-buku jari Ahn Woojun memutih pucatーdua telapak tangan menggulung lagi membentuk kepalan ketat, rahang mengeras dan mata berkedut-kedut tajam, menusuk bola mata Jeong yang tengik itu. Kemarahannya menjalar ke semua lapisan dalam tubuhnya.
"Bajingan! Kenapa harus Anjani, SIALAN?!"
"Apalagi?!" sambar Jeong, menantang. “Tentu saja karena dia sangat cantik.” Ditutup seringai lagi.
"Keparaaat!!!"
Wush!
BUG!
Dua kali pukulan di wajah Jeong, kiri dan kanan, keras. Berhasil menciptakan sobekan di dalam mulut. Darah mengalir melalui sudut bibir. Sintingnya, pria itu sama sekali tidak melawan, membiarkan wajahnya menerima ganjaran dari tangan Ahn Woojun sampai tersungkur ke tempat tidur. Dia mengusap tetes darahnya dengan sapuan ibu jari bagian kiri, lalu terkekeh seolah yang dia terima adalah hal yang sangat funny.
Sikap itu terang saja membuat bergolak darah Ahn Woojun karena merasa dipermainkan.
"Mati saja kau, Keparat!!!"
GREB!
Woojun melengak, pukulan berikutnya gagal, lalu berteriak, "AAAARRRGHH!" Seseorang membekuknya dari belakang disertai pelintiran tangan. "Lepaskan tanganku, Sialaaan!!!"
Dua gerakan saja, sudah dalam posisi kalah, lututnya membentur lantai dan dua tangan dikekang di balik punggung.
"Terima kasih, Raon," ucap Jeong seraya bangun terduduk. Raon selalu datang di saat tepat, andalan semua moment.
Namun Raon malah mendengus. Jeong sinting itu, apalagi yang direncanakannya?
"Lepaskan aku! Kalian rentenir-rentenir sialan!" Woojun meronta-ronta dari kekangan.
Kim Raon sedikit terentak mendengar kata 'rentenir' dari mulut Ahn Woojun, lalu mendongak ke wajah Jeong, meminta sedikit penjelasan. Sintingnya pria itu hanya mengedik bahu.
Sejak kapan kita jadi rentenir? Begitu pikir Kim Raon.
"Seret dia keluar, Raon. Berikan ancaman sampai dia jera mengganggu Anjani. Lalu kau, pergilah ke rumah utama, katakan pada Pimpinan, aku masih mau beristirahat."
Pimpinan yang dimaksud adalah Ryu In-ho, kakeknya.
Tanpa berkata 'oke' atau mengangguk, Raon menjalankan perintah itu. Ahn Woojun ditariknya keluar dengan cara kasar. Beberapa patah kata dilontar setelah mengempas tubuh pria itu ke dasar ubin beranda, cukup membuat wajah Ahn Woojun memucat pias.
"Pergilah sebelum kubuat yang lebih buruk.”
Di dalam.
Selepas kembali sendiri, masih duduk di atas kasur, Jeong menatap ponsel menyala dalam genggaman. Setelah cukup berpikir, sesuatu yang sedikit konyol dilakukannyaーmemotret wajah.
Mulai lagi.
----
Di kedai Nyonya Ju, Anjani sedang sibuk melayani beberapa pelanggan, merasakan getaran dari ponsel yang ditaruh di saku celana.
Setelah tak lagi sibuk, ponsel ditengoknya.
Ada sebuah pesan.
“Jeong.”
Satu ketukan menampakkan apa yang dikirim lelaki itu.
'Anjani ... ini menyakitkan. Bisa kau merawatku?'
Skenario buruk terbentuk di kepala Anjani dalam sekejap.
Foto Jeong dan wajah yang penuh darah, mengacaukan sebagian dalam dirinya. Detak jantung cepat, tangan dingin berkeringat, dan otot mendadak tegang.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung menghubungi Jeong dengan panggilan telepon.
Diangkat hanya dalam dua detik oleh pria itu.
“Kau di mana?”
Satu jawaban Jeong melantingkan dirinya ke hadapan Nyonya Juーpemilik kedai, segera setelah menutup telepon. “Nyonya, aku minta izin pulang. Temanku kecelakaan.”
*
*
Tidak menggunakan bus yang hanya akan membuang waktu untuk menunggu tiba, Anjani menghentikan taksi.
Lebih cepat sampai di kawasan tempat tinggalnya, dia langsung berlari menuju rumah.
Tangga dengan anak pijakan berpuluh tidak dirasa, otot kakinya menggempur menjadikan itu seakan terbang.
Namun nyatanya tidak ada namanya terbang, kakinya tetap merasa pegal dan sakit, napasnya tersengal-sengal parah saat sampai di depan pintu. Tapi lagi, itu tidak meruntuhkan emosionalnya untuk masuk cepat di dalam rumah demi mendapati seorang Ryu Jeong yang beberapa saat lalu mengabari sedang terluka di dalam rumah.
“Jeong!”
Pria itu sedang bersandar dinding dengan tampang lemah, namun melengak dan melebarkan kelopak mata saat mendapati Anjani lebih kacau dari keadaannya. Napas memburu dimandi keringat deras, Anjani seperti habis dikejar macan.
“Anjani.”
“Kau tak apa?!” Anjani menyongsongnya tak peduli diri. Tasnya dilempar serampang untuk langsung berposisi di hadapan lelaki itu.
“Kenapa bisa begini? Siapa yang melakukannya?!” Dua telapak tangan meraba wajah Jeong dengan gerakan kaku, takut sentuhannya menyakiti.
“Anjaniー"
“Kutanya siapa yang sudah melakukan ini padamu?!” Pecah sudah tangisnya, kecemasan Anjani lebih dari batasnya. “Apakah Ahn Woojun?!”
Hanya itu nama yang terlintas dalam pikiran.
“Jawab aku, Jeong?! Apakah Woojun yang melaー”
GREB!
Jeong menyergap pergelangan tangannya. “Anjani!”
Tatapannya disambut cepat oleh wanita itu.
“Berhenti cemas! ... Tolong ... obati saja aku.”
Beberapa detik termakan sampai Anjani bisa menguasai diri, menarik napas dalam lalu berkata, “Kau benar. Tunggu di sini," katanya kemudian, lalu beranjak ke arah dapur sambil mengusap air matanya.
Air hangat dan kotak obat, dalam beberapa menit sudah ada di hadapan Jeong. Dengan telaten, tangan dinginnya mengompres dan mengobati luka di wajah lelaki yang kini berstatus calon suaminya.
“Ah!" Jeong meringis.
“Maaf, apakah sakit?”
Jeong tersenyum semu. “Ya, sedikit.”
“Maaf, aku akan lebih berhati-hati.”
“Hmm.”
Selama tangan Anjani sibuk mengobatinya, mata Jeong tak henti terus menatap. Kekaguman menguar dalam dadanya.
“Hanya satu pesan singkat, dia berlari ke arahku membawa kecemasannya. Cucuran keringat, napas terentak-entak, seharusnya aku tidak sejauh ini hanya demi merebut perhatiannya.”
Kendati rasa bersalah itu mengguyur rasa, lebih besar dari itu, Jeong merasa sangat bahagia.
“Apakah aku harus terus terluka agar kau terus begini padaku? Agar kau terus perhatian padaku?”
Tak lama setelah usai, segelas susu disajikan Anjani. “Minumlah. Setelah itu jelaskan padaku, apa yang terjadi padamu sampai seperti ini.”
Jeong menerima, membungkus cangkir hangat itu dengan dua telapak tangan. Tatapannya bergulir acak, dari wajah Anjani ke cangkir di tangan, lalu ke samping.
“Umm ... bagaimana aku menjelaskannya, ya.”
“Intinya saja!” sambar Anjani, tak sabar.
Jeong tersentak. “Baiklah,” katanya, lalu mengungkap, “Ini ... memang perbuatan mantan suamimu.”
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!