NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Heroin 2

Cinta Dibalik Heroin 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mafia / Obsesi / Mata-mata/Agen / Agen Wanita
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Feni sangat cemas karena menemukan artikel berita terkait kecelakaan orang tuanya dulu. apakah ia dan kekasihnya akan kembali mendapatkan masalah atau keluarganya, karena Rima sang ipar mencoba menyelidiki kasus yang sudah Andre coba kubur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan yang Tegas

Malam merayap turun perlahan, menyelimuti rumah persembunyian itu dengan keheningan yang terasa tidak wajar. Hujan rintik turun sejak sore, menyisakan aroma tanah basah yang masuk lewat jendela-jendela tinggi berteralis. Feni duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri, menatap lantai kayu yang tampak bersih namun dingin. Sudah dua hari sejak Roni mengucapkan kalimat itu—pengakuan yang tak ia minta, tak ia harapkan, dan tak pernah ia bayangkan akan datang dari pria seberbahaya itu.

Langkah kaki terdengar di luar kamar. Feni tahu siapa itu bahkan sebelum gagang pintu berputar pelan. Roni selalu mengetuk, meski rumah itu berada sepenuhnya di bawah kendalinya. Kebiasaan kecil yang ironis—seolah ia ingin menunjukkan bahwa masih ada batas yang tak ia lewati.

“Masuk,” ucap Feni datar.

Roni membuka pintu dan berdiri di ambang, mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung. Wajahnya terlihat lelah, ada garis tegang di rahangnya yang tak ada sebelumnya. Ia tidak langsung bicara, hanya menatap Feni sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mendengar jawaban yang sebenarnya sudah ia ketahui.

“Aku cuma mau pastikan kamu baik-baik saja,” katanya akhirnya.

Feni mengangguk singkat. “Aku baik.”

Jawaban itu jujur tapi juga tidak. Tubuhnya baik, lukanya sudah hampir sembuh. Tapi hatinya? Pikirannya? Semua terasa berantakan sejak ia menyadari betapa rumit posisi yang kini ia tempati—terjebak di antara pria yang mencintainya dengan cara yang salah dan pria yang ia cintai dengan seluruh keberaniannya.

Roni melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia tidak mendekat. Ia berdiri di sana, menjaga jarak yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

“Aku tahu,” ucapnya pelan, “kamu belum menjawab.”

Feni menarik napas dalam. Ia sudah memikirkan momen ini berkali-kali, menyusun kata-kata di kepalanya, merobohkannya, lalu menyusunnya lagi. Ia tahu, satu kalimat keliru saja bisa mengubah segalanya. Tapi ia juga tahu, diam hanya akan memperpanjang penderitaan—bukan hanya untuknya, tapi juga untuk Roni.

“Aku mau jujur,” katanya akhirnya, suaranya tenang meski dadanya berdebar. “Aku tidak ingin ada salah paham di antara kita.”

Roni mengangguk perlahan. “Aku dengar.”

Feni berdiri, berdiri sejajar dengannya meski tetap menjaga jarak. Tatapannya lurus, tidak menghindar, tidak juga menantang. Ada ketegasan di sana, ketegasan yang lahir dari keyakinan, bukan kemarahan.

“Aku mencintai Erlang,” ucapnya jelas. “Tidak pernah berubah. Tidak akan berubah.”

Kalimat itu melayang di udara, berat, tapi bersih. Tidak ada keraguan, tidak ada celah untuk ditafsirkan ulang.

Roni menelan ludah. Untuk sesaat, Feni melihat sesuatu di matanya—bukan amarah, bukan kekecewaan yang meledak-ledak, melainkan luka yang dalam dan sunyi. Luka seseorang yang sejak awal tahu ia berada di sisi cerita yang salah, namun tetap berharap.

“Aku tahu,” kata Roni akhirnya, suaranya serak. “Aku sudah tahu sejak pertama kali melihat caramu menyebut namanya.”

Feni menghela napas, bahunya sedikit mengendur. “Kalau begitu, aku harus bilang ini dengan jelas. Apa pun yang kamu rasakan… aku tidak bisa membalasnya. Aku tidak ingin kamu menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.”

Roni tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip refleks daripada kebahagiaan. “Aku tidak minta kamu membalas.”

“Tapi kamu berharap,” Feni menimpali lembut. “Dan harapan itu berbahaya.”

Keheningan kembali jatuh. Hujan di luar terdengar semakin deras, memukul atap seperti detak waktu yang tak sabar. Roni memalingkan wajah, menatap jendela sejenak sebelum kembali menatap Feni.

“Aku tidak menyesal menyelamatkanmu,” katanya. “Aku tidak menyesal melakukan apa pun yang sudah kulakukan.”

“Aku tahu,” jawab Feni. “Dan aku berterima kasih. Tapi rasa terima kasih tidak bisa berubah jadi cinta.”

Roni mengangguk lagi, lebih lambat kali ini. “Aku tidak akan memaksamu.”

“Bagus,” kata Feni, ada kelegaan tipis dalam suaranya. “Karena satu-satunya hal yang akan memaksaku menjauh darimu… adalah jika kamu mencoba mengubah perasaanku.”

Tatapan Roni mengeras, bukan oleh kemarahan, melainkan oleh keputusan. “Aku tidak akan menyentuhmu. Aku tidak akan memanfaatkan posisiku. Kamu aman di sini.”

“Keamanan bukan hanya soal tubuh,” balas Feni pelan. “Tapi juga soal hati.”

Roni terdiam lama. Lalu ia mengangguk sekali lagi, lebih tegas. “Aku mengerti.”

Ia melangkah mundur, mendekati pintu. Tangannya sudah menyentuh gagang ketika ia berhenti dan berkata tanpa menoleh, “Aku tidak akan menghalangimu kembali pada Erlang. Tapi selama kamu di sini, izinkan aku tetap melindungimu.”

Feni menatap punggungnya, merasakan campuran rasa lega dan perih. “Aku tidak pernah meragukan itu.”

Pintu tertutup pelan. Feni kembali duduk di ranjang, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Jantungnya masih berdetak cepat, tapi ada sesuatu yang terasa lebih ringan. Ia tahu, dengan penolakan itu, ia mungkin telah melukai Roni. Namun ia juga tahu, kejujuran adalah satu-satunya jalan agar semua orang—termasuk dirinya—tidak tenggelam lebih dalam.

Di tempat lain, jauh dari rumah itu, Erlang berdiri di depan papan penuh foto dan benang merah. Wajah Feni ada di tengah-tengahnya, dikelilingi potongan-potongan informasi yang belum sepenuhnya tersambung. Matanya tajam, rahangnya mengeras. Ia merasakan sesuatu—bukan firasat kosong, melainkan keyakinan yang mengakar.

Feni masih hidup. Dan ia tahu, apa pun yang terjadi, cinta mereka tidak akan runtuh hanya karena jarak atau ancaman.

Sementara itu, di kamar yang sunyi, Feni berbaring menatap langit-langit. Dalam hati, ia mengulang satu nama seperti doa yang tak pernah lelah ia panjatkan.

Erlang.

Dan dengan penolakan yang tegas itu, Feni menegaskan satu hal—bahwa cintanya mungkin diuji, diguncang, dan dipaksa bertahan di tempat yang salah, tetapi tidak akan pernah berpindah.

...****************...

1
sabana
semoga cerita ini bisa menghibur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!