Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue Pingsan Aja
~ Kantor Pajak, 20 Menit Sebelum Jam Pulang ~
Andi duduk di kubikel seperti penjahat kelamin di vonis 2 tahun penjara memperkaos sapi. Panik? Iya. Ingin hilang dari bumi? Sudah dipertimbangkan penuh dengan catatan pro kontra gaya akuntan
Dio duduk di sebelahnya, membawa white board kecil bekas presentasi bertuliskan "Hubungan Audit Pajak dengan luka Batin".
"Baik, Ndik. Kita bikin strategi mencari solusi"
"Bunuh diri?"
Dio menampar pelan kepalanya pakai ujung spidol."Solusi bego."
Ia nyengir memperhatikan laki laki itu menggambar lingkaran besar di tengah whiteboard:Rapat Jahanam untuk Hari Minggu Pukul 10:00 Nayla (Pacar Sewa) | Mama & Sofiah (Calon Menantu Paksaan) | Admin Cinta Rental (denda 600 ribu kalau telat)
Andi menatapnya kosong. "Di… ini bukan rapat tapi pemanggilan roh jahat."
Dio cekikikan melanjutkan
Rencana Gokil #1: Kloning Diri (Metode Amuba) menggambar dua stickman: satu wajahnya mirip Andi, satu lagi persis bapaknya botak di tengah
"Lu muncul di dua tempat sekaligus — tinggal bagi badan lu, otak di sini, hati di sana."
"Gue manusia, Di, bukan telur amoeba yang bisa membelah diri kapan saja."
"Tinggal niat, Ndik. Niat aja cukup."
Gagal total.
Rencana Gokil #2: Titip Badan ke Dio
Dio menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.
"Gampang — gue pura-pura jadi lu: gue ketemu Mama lu, lu ketemu Nayla."
"Nyokap gue hafal aroma tubuh semenjak gue orok umur 2 hari! Lu kira mama nggak tau beda muka gue sama lu yang ancur?!"
Dio mengangkat bahu acuh tak acuh, "Kalo gue pake masker jedag-jedug sama kacamata minus tujuh?"
"Mama gue itu detektor kebohongan bersertifikat dari FBI dari Cisarua. Dia tahu sekecil apapun kebohongan yang tercipta walau hanya mendengus buang ingus."
Gagal parah.
Rencana Gokil #3: Manipulasi Waktu (Time Travel Bajaj)
Dio menggambar jam berputar kencang di whiteboard."Lu ketemu Nayla dulu sebentar, terus kabur ke Bandung."
"Dari Jakarta Timur ke Bandung sebentar? naik apa? Bajaj teleportasi? Ojek alien? Atau Angkot Multiverse dimensi Bunian?"
Dio menepuk meja frustasi. "Ya udah, waktu lebih lama deh."
"Lama pun nggak cukup, Dio kecuali gue ngendongin supir travel naik jet."
Gagal lagi.
Rencana Gokil #4: Sakit Bohongan
Dio menulis teks besar di whiteboard: Demam mendadak 40 derajat Celcius "Tinggal bilang sama Mama lu demam parah — semua jadwal batal."
Andi menggeleng kepalanya kuat
"Nanti Mama malah manggil ambulans dan dukun beranak bersamaan. Gue bakal di suntik obat dan diberi ramuan jamu bau keranda mayat."
"Iss payah amat lu, " Dio ngedumel, "semua mengandung risiko tinggi, kerupuk cabe"
Gagal.
Rencana Gokil #5: Jebakan Plot Twist
Dio tiba-tiba bersinar cerah seperti lampu neon."Lu bilang ke Nayla — kalian ketemuan bukan jam 10, tapi jam 8 pagiI!"
Andi berubah pucat "Pagi bener???"
"Ya lah! Cewek sewaan profesional pasti bangun pagi. Tinggal lu datang, briefing sebentar, foto pegangan tangan dikit buat bukti, lalu cabut ke Bandung."
Andi langsung menghitung waktu dengan jari muter-mutar mata."Hmm… briefing jam 8 selesai sekitar 8.40, perjalanan ke Bandung kalo ngebut bisa sampai jam 12.30…"
Dio angkat jari dramatis."Tinggal bilang ke Mama lu, ada macet parah, atau lu kebelet pipis tiap rest area. Selesai."
Andi mulai terlihat punya harapan hidup "Di… ini… mungkin masuk akal…"
"Mungkin?? Ini rencana paling jenius yang pernah gue buat, Ndik!"
"Terus kalau Nayla curiga kenapa gue datang pagi?""Simple — bilang lu orangnya ahli ibadah, abis shalat subuh nemuin dia."
Andi menjerit ingin menangis." gue… jarang terlihat rajin bangun pagi, mama nggak percaya kalau gue bangun jam 7 pagi."
"Ya udah, bilang lu orangnya gampang cemas — jadi mau datang lebih awal buat persiapan."
"Ah. Itu believable.
"Ya udah, gue nyerah, "Dio mengangkat bahunya, " sekarang terserah lu mau sewa Wewe gombel atau nemuin Mak lu kawin dengan Sofiah."
Andi tercenung berpikir keras seperti ngadapin ujian PNS dan akhirnya dia berkata “ gue memilih Plan A.”
“Nah gitu dong, " Dio tersenyum manis. "Akhirnya lu rela bangun pagi demi cinta sewaan!”
“Tolong jangan disebut gitu, Dodol. Perih.”
Ia merangkulnya dengan hangat, “Besok, kita bangun jam 6. Gue ikut nganter. Gue pastikan lu nggak kabur kayak ayam potong sembelihan”
Andi mengangguk pasti “Baik. Jam 6. Operasi Pacar Subuh.”
"Tapi...Andi berhenti sejenak." tunggu dulu gue harus ngasih kabar Nayla."
\=\=\=
Malam itu Jakarta masih bernafas: bunyi lift apartemen berputar pelan, lampu koridor lantai 3 berkedip-kedip menahan napas melihat masalah Andi, dan bau bakso sisa dari warung di lobi masih mengendap di udara kamar kecilnya.
Andi duduk di kasurnya yang miring ke kiri, pernya patah udah 2 bulan, tapi dia males beli yang baru — uang gajiannya habis buat bayar sewa apartemen — tangannya memegang HP seperti memegang surat tilang.
Dio duduk di lantai, badannya bersanding ke lemari plastik tiga susun mengeluarkan suara kretek-kretek setiap kali menggeser pinggangnya.
“Ndik, buruan chat Nayla,” katanya dengan gaya konsultan cinta abal-abal. “Lu harus majuin date nya dan Jam 10 lu harus ke Bandung.”
“Nah itu masalahnya!” Andi panik, jempolnya menggeser layar HP dengan kaku. “Jam 10 gue harus duduk bareng Mama dan Sofiah buat makan rendang — Mama yang ngatur, gue nggak bisa ngelawan!”
Dio mengangkat tangannya ke langit-langit apartemen tipis, seperti minta wahyu dari langit Jakarta yang penuh polusi.“Maka dari itu: ketemu Nayla harus pagi sebelum Jakarta mulai macet parah — Pulo Gadung ke mana aja jam 7 pagi udah macet total.”
Andi memandangnya ngeri.“Jam berapa, Di? Jam satu malam?Dedemit masih ngorok itu.”
“Jam 5,” jawab Dio mantap, seperti sudah merencanakan seminggu lalu. “Jam Jakarta belum bangun — macet belum ada, Mama lu masih tidur di Cisarua, bahkan lift apartemen males untuk bangun.”
Laki laki bertubuh kurus itu ingin menutup HP dan tidur seharian melupakan semua masalahnya tapi mendengar suara Nayla yang lembut, jeritan mama yang memekakan telinga serta mata Dio setajam malaikat akhir nya dia nyerah mengetik pesan;
"Nayla… boleh nggak besok ketemu lebih pagi? Ada perubahan jadwal, nih. Gue yang jemput ke rumah."
TING!
Balasannya langsung masuk:
Seberapa pagi, Kak? 😊 Rumahku di perumahan Jatinegara, dekat halte Transjakarta Cikoko.
Andi menoleh, wajahnya meriang, " Jam berapa Di?
" Pukul 8 pagi, tembak aman — nggak terlalu pagi, nggak terlalu terlambat, dan Pulo Gadung ke Jatinegara belum macet.”
Ia mengetik membalas ; Jam 8, gue keluar dari apartemen Pulo Gadung jam 7.30, cukup waktu buat nyetir.
TING!
Jam 8 oke. Tapi biar aman, mau sekalian lebih pagi? Jakarta suka macet unpredictable loh 😉 Kalau jam 6 juga boleh, gue udah bangun biasa jam 5 buat olahraga.
Mereka terbengong, tidak percaya, mata membesar melihat suster ngesot naik lift apartemen jam 5 tanpa ngantuk.
Dio berteriak kecil, “Anjir… dia yang nawarin lebih pagi…“profesional banget nih cewek — paham banget sama situasi Jakarta, olahraga jam 5 pagi ama nazir masjid."
Andi ragu-ragu mengetik " Jam… 6? Gue keluar jam 5.30, jalanan pasti sepi.
TING!
Kalau mau jam 5 juga boleh Kak! gue udah siap, bahkan bisa nunggu di gerbang perumahan 😊
Andi menutup mulutnya “Jam 5 tuh bukan pagi tapi masih dini hari. Dari Pulo Gadung ke Jatinegara jam 5, mesti nya gue harus keluar jam 4.30!”
Dio menepuk bahunya kuat. “Justru itu lebih aman. Mama lu masih tidur, jalanan sepi banget dan lu bisa nyetir santai tanpa terburu-buru.”
Ia mengangguk pasrah, mengetik pesan terakhir, " Oke. Jam 5, Nayla, gue keluar dari apartemen jam 4.30, sampai gerbang perumahan lu sekitar jam 5 tepat.
TING!
Siap! gue nungguin kakak di gerbang perumahan, pakai hoodie abu-abu ya Kak 😊 Besok subuh ya!
Andi jatuh terduduk ke kasurnya yang miring, kepalanya menempel ke bantal.
“Dio…”
“Hah?”
“Nayla… ternyata bukan cewek biasa.”
“Kenapa?”
“Dia ngajak ketemuan jam 5 dengan nada happy… seperti petugas orange Jatinegara …”
" Tukang sapu jalan maksud lu ?"
Andi mengangguk lemah
Laki laki itu tertawa terkekeh kekeh, "Yang bener aja, bro, masa' Nayla lu sebut tukang sapu ?“Ya sudah. Lu siap-siap mandi jam 4 aja. Atau jam 3 sekalian — takutnya lu pingsan sebelum keluar apartemen.”
Andi menutup mukanya dengan bantal, suara terdengar samar “Gue…pingsan sebelum hari Minggu.”