NovelToon NovelToon
SUAMI 500 JUTA

SUAMI 500 JUTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Office Romance
Popularitas:44.1k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

Nayara Kirana seorang wanita muda berusia 28 tahun. Bekerja sebagai asisten pribadi dari seorang pria matang, dan masih bujang, berusia 35 tahun, bernama Elvano Natha Prawira.

Selama 3 tahun Nayara menjadi asisten pria itu, ia pun sudah dikenal baik oleh keluarga sang atasan.

Suatu malam di sebuah pesta, Nayara tanpa sengaja menghilangkan cincin berlian senilai 500 juta rupiah, milik dari Madam Giselle -- Ibu Elvano yang dititipkan pada gadis itu.

Madam Gi meminta Nayara untuk bertanggung jawab, mengembalikan dalam bentuk uang tunai senilai 500 Juta rupiah.

Namun Nayara tidak memiliki uang sebanyak itu. Sehingga Madam Gi memberikan sebuah penawaran.

"Buat Elvano jatuh cinta sama kamu. Atau saya laporkan kamu ke polisi, dengan tuduhan pencurian?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Dimanapun Dan Kapanpun, Sayang.

“Nara.” Pekik Dewi ketika melihat Nayara mengekori langkah Elvano keluar dari lift.

Gilang yang juga ada disana, pun ikut melihat ke arah lift. Ia pun sontak bangun dari tempat duduknya.

Sekretaris Elvano itu kemudian meninggalkan tempat duduknya untuk menghampiri Nayara.

“Selamat pagi, pak.” Sapanya pada sang atasan.

“Pagi, Wi. Kirim jadwal saya pada Nara.” Ucap Elvano melangkah menuju tangga.

“Jaga mata kamu, Lang.” Peringat Elvano ketika melihat Gilang memperhatikan Nayara.

“Posesif sekali.” Cibir sang asisten.

Elvano tidak perduli. Ia pun melangkah menuju pintu ruangannya di ujung tangga.

“Kamu sudah sehat?” Tanya Dewi sembari menangkup lengan Nayara, dan meneliti tubuh gadis itu dari ujung kepala hingga kaki.

“Aku sudah sehat, mbak.” Nayara memaksakan senyumnya.

Elvano sudah memberitahu jika ia mengatakan kalau dirinya tidak bekerja karena sedang sakit.

Lebih tepatnya, sakit karena perbuatan pria itu.

“Kamu terlihat berbeda, Ra. Apa kamu sudah benar - benar sehat?” Kening Dewi berkerut halus.

Ia melihat sesuatu yang berbeda dari penampilan Nayara. Namun tidak tau apa?

Gilang kemudian mendekat dengan senyum penuh arti.

“Kalau masih sakit, istirahat saja, Ra. Biar kami yang handle pekerjaan kamu. Wajah kamu masih terlihat pucat.” Ucap pria itu.

Nayara menggeleng pelan. “Bosan juga dirumah, pak. Lebih baik disini. Bisa bertemu kalian.”

Gilang menganggukkan kepalanya. “Tidak bisa jauh terlalu lama dari bapak ya, Ra.” Gurau pria itu.

Kening Nayara berkerut dalam.

“Apa maksud anda, pak Gilang?” Tanyanya penuh selidik.

Apa mungkin Gilang mengetahui sesuatu? Sebab setau Nayara, Elvano dan asistennya itu sangat deka seperti kakak adik.

“Maksud saya, tidak ada yang bisa mengurus bapak dengan baik kalau kamu tidak bekerja. Kemarin saja, pasang dasinya tidak benar.” Ucap Gilang kemudian.

“Kemarin juga bapak pulang siang, dan tidak kembali lagi, Ra. Tidak ada kamu, mood pak Elvano sepertinya berantakan.” Timpal Dewi.

“Bapak pulang siang?” Nayara berpura - pura terkejut. Padahal, Elvano pulang untuk menggempurnya.

“Iya. Tidak biasanya ‘kan?”

Nayara mengedikan bahunya. Ia kemudian pamit pergi ke ruangan Elvano yang juga merupakan ruangannya.

“Pak Gilang, tunggu. Kenapa dari kemarin bapak bicara penuh teka - teki tentang pak Elvano?” Selidik Dewi.

“Memang kamu tidak melihatnya, Wi? Atasan sama asisten pribadinya itu sedang menjalin asmara.” Ucap Gilang.

“Pak Gilang juga merasa seperti itu?”

“Sudah lama sih, saya tau bapak suka sama Nayara. Cuma si bos menyangkalnya. Dan mungkin, kemarin terjadi sesuatu diantara mereka.” Gilang mengedikan bahu di akhir kalimatnya.

Dewi mengangguk setuju. “Sebaiknya kita berpura - pura tidak tau, pak. Biarkan mereka yang memberitahu, dan kita pura - pura terkejut nanti.”

“Kamu benar, Wi. Kita lihat, sampai kapan dua manusia bucin itu menyembunyikan hubungan mereka.”

.

.

.

Elvano menyodorkan sebuah kartu ATM berwarna hitam kepada Nayara, saat wanita itu tengah memeriksa dokumen di layar laptopnya.

Sang asisten pribadi sontak mendongak, menatap Elvano dengan bingung. Sebab, dirinya sudah membawa salah satu kartu ATM milik pria itu, meski tidak berwarna hitam.

“Ada apa, pak?” Tanya wanita itu.

Mereka telah sepekat. Untuk kembali bersikap formal saat berada di kantor. Agar tidak memancing kecurigaan para rekan kerja, seperti Gilang dan Dewi.

“Kamu tau ‘kan, aku tidak bisa menemani kamu untuk pergi berbelanja, karena harus menemui klien?” Pria itu berbalik melempar tanya. Dan Nayara menjawab dengan anggukan pelan.

Ya. Rencana mereka pergi berbelanja saat makan siang, harus batal karena Elvano memiliki janji temu dengan klien.

Harusnya mereka bertemu kemarin, tetapi Elvano membatalkannya demi pulang lebih awal menemani asisten pribadinya di penthouse.

“Kan masih bisa besok, atau lusa.” Ucap Nayara.

Elvano menghela nafas panjang. Ia meraih telapak tangan sang asisten plus - plus, kemudian meletakkan kartu ATM itu di atas telapak tangannya.

“Kamu tau sandinya, ‘kan? Sama seperti kartu yang kamu bawa sebelumnya.” Ucap Elvano.

Nayara memandang kartu ATM tanpa batas itu.

“Aku mau setelah pulang nanti, barang - barang kamu sudah ada di penthouse.” Tegas pria itu.

“Tapi, El. Hmm, maksudku, pak. Aku tidak mungkin membawa banyak tas belanja kemari ‘kan? Mbak Dewi dan pak Gilang bisa curiga. Kalau pergi sama bapak, aku bisa meninggalkannya di dalam mobil.” Wanita itu meletakkan kartu ATM itu di atas meja.

“Kamu bisa meminta pegawai toko mengepak, lalu mengirimnya ke penthouse, Nara. Bukannya itu sudah biasa? Saat membeli pakaian untuk aku?”

Nayara berdecak pelan. Membuat Elvano gemas. Ia kemudian mengitari meja sang asisten pribadi.

“Kemari.” Elvano menuntun wanita untuk berdiri.

“Pak, nanti ada yang datang.” Tolak Nayara.

Namun, Elvano menarik tubuh wanita itu dengan paksa. Sehingga keduanya pun menempel.

“Aku sudah mengunci pintunya.” Bisik Elvano sembari merapikan rambut Nayara.

Wanita itu sontak mengalungkan keduanya tangannya pada leher sang atasan. Adu bibir pun terjadi tanpa di komando.

Tangan Elvano yang tadinya berada di pinggang Nayara, perlahan turun lalu meremat bo—kong sin—tal wanita itu.

“Beli beberapa rok untuk ke kantor. Agar lebih mudah saat John ingin bertamu.” Ucap Elvano di sela decapan yang tercipta.

“Ini kantor, El. Kita tidak mungkin melakukannya disini juga ‘kan?” Tanya Nayara sembari mengacak rambut pria itu.

Kepala wanita itu mendongak ketika wajah Elvano berpindah pada leher jenjangnya.

“Dimanapun dan kapanpun, sayang. Bukannya kita sudah sepekat?”

“Sshh. Itu di penthouse, Elhh.” Nayara menggigit bibir bagian bawah agar tidak mengeluarkan suara keramatnya.

“Sama saja, sayang. Dimanapun, asal ada kesempatan untuk kita berdua.” Tangan Elvano merayap naik dan berpindah pada tubuh bagian depan Nayara.

“Titt.. titt..titt.”

Suara bel pada pintu ruangan itu berbunyi. Sekuat tenaga Nayara mendorong tubuh Elvano, hingga pagutan mereka terlepas.

“Itu pasti pak Gilang.” Ucap Nayara dengan nafas tersengal.

Elvano mengumpat kesal. Dengan nafas yang masih memburu, Nayara merapikan rambut sang atasan.

“Kita harus cepat. Mereka pasti curiga karena pintu terkunci.” Ucap Nayara.

Sementara itu di luar ruangan, Gilang dan Dewi saling melempar tatapan penuh curiga. Sebab tak biasanya atasan mereka mengunci pintu ruangan selama ia ada di dalam.

Biasanya hanya perlu mengetuk tiga kali, lalu boleh masuk tanpa di minta. Dan bel itu hanya ditekan saat pintu terkunci.

“Sepertinya kecurigaan kita ada benarnya, pak.” Ucap Dewi.

Gilang berdecak pelan. “Menurut kamu, mereka di dalam sedang melakukan apa, Wi?”

Mata Dewi membulat sempurna. “Bapak jangan membuat pikiran saya berkelana kemana - mana.”

“Memang apalagi, Wi? Pria dan wanita dewasa berpacaran tidak mungkin hanya sekedar berpegangan tangan ‘kan?”

Mata Dewi semakin membulat. Wanita berusia tiga puluh tahun itu pun menggelengkan kepalanya.

Tangan Gilang hendak kembali terulur untuk memencet bel, namun pintu itu sudah terbuka lebih dulu.

“Untuk apa kalian berada di depan pintu?” Delik Elvano.

“Itu.. saya pak Gilang bilang pintunya tidak bisa di buka, pak.” Ucap Dewi salah tingkah.

Elvano beralih menatap sang asisten.

“Memang benar ‘kan? Pintunya tidak bisa di buka karena bapak kunci dari dalam?” Tanya Gilang.

“Terserah saya. Ini ruangan saya.” Elvano masih mendelik tajam.

“Maaf, ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul disini?” Nayara tiba - tiba muncul di belakang Elvano.

Seketika itu Gilang dan Dewi menatapnya dengan penuh selidik.

“Jangan berpikir yang macam - macam kalian. Nara tadi ada di kamar mandi. Dan pintunya tanpa sengaja terkunci.” Ucap Elvano yang kemudian meninggalkan para bawahannya, kembali ke meja kerjanya.

“Kamu masih sakit, Ra?” Tanya Dewi setelah kepergian Elvano.

“Memangnya kenapa, mbak?” Tanya Nayara bingung.

“Bibir kamu pucat sekali, Ra.” Ucap Gilang sembari masuk ke dalam ruangan sang atasan.

Nayara seketika mengulum bibirnya. Pipi wanita itu tiba - tiba memanas.

“Kamu bawa lipstik? Kalau tidak, pakai punya mbak saja.” Ucap Dewi.

“Ada kok, mbak.”

“Sepertinya kamu harus membeli lipstik yang anti transfer, dan waterproof, Ra. Nanti mbak rekomendasikan merk yang bagus.” Ucap Dewi yang kemudian kembali ke meja kerjanya.

Nayara mencerna ucapan Dewi. Seketika mata wanita itu membulat sempurna.

‘Apa jangan - jangan mbak Dewi dan pak Gilang mencurigai sesuatu?’

1
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
belum tentu naya hamil, el
😝😝😝
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
dengerin dirga sebelum nyesal. ish...
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
kelamaan el
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
kecewa boleh, tapi jangan lama-lama
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
jangan ngambek sampai karatan ya el.
Siti Patimah
wong mual2 asam lambungnya kumat ya ra bukan hamil, si ibu minta lahan segitu doang mah kecil ya el, sama juragannya sekalian jangan lupa el di beli
Ass Yfa
huh..genesh deh ama El...so sweet
Naufal Affiq
yang terbaik kamu el
Ika Shanti Budipertiwi
elvano 👍👍👍👍
Ariany Sudjana
kan sudah dibilang itu atasannya nayara, dan pasti kaya raya. masa dianggap remeh juga sama Juwita? kayaknya mata atau kuping Juwita bermasalah
Siti Patimah
saking takutnya jodohmu di ambil orang el sampe hal yg prifasi pun kamu beberkan satu satu🤣🤣🤣
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
elvano punya cukup modal untuk menikung Adrian bu.. 🤣🤣
Naufal Affiq
aku suka dengan gaya mu el,gak pintar jaga rahasia,langsung tembak terus aja,sampai ibu nya nara senam jantung
Dian Rahmawati
🤣🤣
Ika Shanti Budipertiwi
ga mau dibeliin lahan sama dibikinin rumah gedong sama elvano bu? 🤭
Ass Yfa
panggilannya masih formal..lo nyaman kah🤭🤭
Ass Yfa
heh...brutal...ndak Ra pa Elll
Ass Yfa
hah..bakalan gaspoll..ndak tuh
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
lanjutkan
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apa yang akan terjadi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!