Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TILU PULUH HIJI
Hilya Prameswari tengah duduk manis di kursi kebesaran kulitnya, menyesap wine mahal sembari membayangkan kehancuran Jenara. Ia yakin, dengan merebut lahan di Semarang, ia telah memutus urat nadi ekspansi Digdaya Guna. Namun, ketenangannya hancur seketika saat Deni, direktur pelaksananya, masuk dengan wajah pucat pasi.
"Nyonya... ada kabar buruk dari Semarang," suara Deni bergetar.
Hilya meletakkan gelasnya perlahan. "Kabar buruk apa? Bukankah ahli waris sudah setuju dengan harga kita?"
"Masalahnya bukan di ahli waris, Nyonya. PT Digdaya Guna... mereka baru saja mengirimkan surat resmi pembatalan jual beli tanpa perlawanan sama sekali. Mereka melepaskan lahan itu begitu saja dan menyerahkan segala urusan administrasi kepada kita. Dan sekarang... ahli waris menagih pembayaran penuh tunai hari ini juga, sesuai perjanjian tambahan yang Anda tanda tangani."
BRAKK!
Hilya berdiri dan menyapu semua benda di atas meja kerjanya hingga hancur berkeping-keping di lantai. Vas bunga kristal, laptop, hingga plakat penghargaan berserakan.
"Sial! Brengsek!" teriak Hilya dengan mata yang memerah karena murka. "Keluar kamu! Keluar dari ruanganku sekarang!"
Deni lari terbirit-birit keluar ruangan. Hilya terengah-engah, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar. "Kenapa dia semudah itu melepaskan lahan itu? Jenara jalang! Mengapa begitu sulit untuk membuatmu jatuh? Harusnya kau memohon-mohon padaku, bukan malah melenggang pergi!"
Hilya segera menekan interkom dengan kasar. "Restu! Masuk ke ruanganku sekarang!"
Tak lama, Restu, asisten pribadinya yang dingin muncul. "Iya, Nyonya?"
"Selidiki Digdaya Guna sekarang juga! Cari tahu kenapa mereka bisa dengan mudahnya melepaskan lahan strategis itu. Mereka pasti punya rencana cadangan. Tak ada yang bisa melepaskan aset seberharga itu tanpa alasan kuat!"
"Baik, Nyonya. Saya akan segera mencari informasinya."
Setelah Restu pergi, Hilya merosot di kursinya. Ia mengambil sebungkus rokok premium dari tas mahalnya, menyalakan satu, dan mengembuskan asapnya ke udara dengan kasar. Pikirannya semakin ruwet. "Apa aku harus membunuhmu, Jenara? Jika itu langkah terakhir untuk membuatmu lenyap, akan aku lakukan!"
Merasa penat, Hilya meraih ponselnya. Ia butuh pelampiasan. "Nico, ke kantorku sekarang. Aku butuh kamu. Sekarang!"
...************...
"Hoek... hoek... hoek!"
Gilbert yang masih terlelap dalam tidurnya langsung tersentak bangun. Ia meraba sisi kasur di sampingnya. Kosong. Suara mual yang menyiksa itu terdengar lagi dari arah kamar mandi utama. Tanpa berpikir dua kali, Gilbert melompat dari ranjang dan berlari masuk.
"Jen..."
Wajah Jenara tampak sangat pucat, nyaris seputih kertas. Ia berpegangan pada pinggiran wastafel, tubuhnya bergetar hebat. Hanya cairan bening yang keluar, tapi kontraksi di perutnya terasa begitu menyiksa.
"Keluar, Gil... keluar," bisik Jenara lemah, nafasnya tersengal. "Jangan di sini... aku... aku memalukan. Kau akan jijik melihatku begini."
Gilbert tidak mendengarkan. Ia justru melangkah maju, dengan telaten mengikat rambut panjang Jenara agar tidak terkena muntahan, lalu mengusap punggung istrinya dengan gerakan memutar yang menenangkan. "Diamlah. Aku tidak akan ke mana-mana."
Setelah mualnya sedikit mereda, Gilbert membersihkan mulut Jenara dengan air hangat. Saat Jenara mencoba melangkah keluar, kakinya lemas tak bertenaga. Gilbert dengan sigap langsung mengangkat tubuh Jenara dalam gendongan bridal style.
Gilbert membawanya ke tempat tidur, lalu berlari ke bawah dengan kecepatan kilat. Kurang dari satu menit, ia sudah kembali membawa segelas air hangat yang dicampur madu dan perasan lemon segar.
"Minum ini sedikit-sedikit. Biar lambungmu hangat," ucap Gilbert lembut sembari membantu Jenara bersandar di tumpukan bantal.
Begitu cairan hangat itu mengalir di tenggorokannya, Jenara merasa sedikit lebih nyaman. Namun, tiba-tiba air mata menetes di pipinya. Ia mulai sesenggukan.
"Kenapa menangis? Masih ada yang sakit?" tanya Gilbert khawatir.
"Kamu... kamu tidak jijik denganku?" tanya Jenara dengan suara serak. "Aku sangat berantakan tadi."
Gilbert menghentikan gerakannya, lalu mengecup bibir Jenara singkat namun dalam. "Masa sama istri sendiri jijik? Dengar ya, Jenara, bahkan jika kau harus buang air besar di tempat tidur karena sakit pun, aku tidak keberatan membersihkannya."
Wajah Jenara yang tadinya pucat seketika berubah merah padam seperti tomat. Ia merasa malu sekaligus terharu, lalu dengan sisa tenaganya, ia mencubit perut Gilbert. "Mesum! Siapa juga yang mau begitu!"
Gilbert hanya terkekeh, lalu meraih ponselnya. "Della, batalkan semua rapatku hari ini. Aku tidak masuk. Dan booking jadwal Dokter Intan di rumah sakit sekarang juga. Istriku harus diperiksa."
Rumah Sakit Harapan Hati
Di ruang periksa Dokter Intan, suasana terasa tenang namun tegang. Gilbert terus menggenggam tangan Jenara erat, tidak melepaskannya barang sedetik pun.
Dokter Intan tersenyum sembari menggerakkan alat transduser USG di atas perut Jenara yang sudah diolesi gel bening. "Lihat ke layar, Bapak, Ibu."
Sebuah bintik kecil tampak berdenyut di layar monitor. Suara cepat deg-deg-deg-deg memenuhi ruangan.
"Itu detak jantungnya. Sangat kuat," ucap Dokter Intan. "Kondisi janin baik, air ketuban cukup, beratnya juga sesuai usia kehamilan. Hanya saja..." Dokter Intan menatap Jenara dengan serius. "Tensi Anda rendah, Bu Jenara. Anda kelelahan dan sepertinya sedikit stres."
Gilbert menekan genggaman tangannya pada Jenara, merasa tertohok.
"Ingat, kehamilan pertama bagi wanita di atas tiga puluh tahun itu cukup rawan," lanjut Dokter Intan. "Kurangi pekerjaan di trimester awal ini. Jangan terlalu memaksakan diri."
Dokter Intan kemudian melirik Gilbert dengan senyum penuh arti. "Dan untuk hubungan suami-istri... sebenarnya masih diperbolehkan. Asalkan dilakukan dengan sangat lembut dan tidak terlalu sering di masa-masa rawan ini."
Jenara langsung memalingkan wajahnya ke arah lain karena sangat malu, sementara Gilbert berdeham canggung. Pria itu teringat bagaimana liarnya dia semalam saat melampiaskan emosinya.
"Saya mengerti, Dok. Saya akan menjaganya lebih ketat lagi," ucap Gilbert mantap.
Keluar dari ruang dokter, Gilbert masih belum melepaskan tangan Jenara. Ia menuntun istrinya dengan sangat hati-hati, seolah Jenara adalah permata paling rapuh di dunia.
"Dengar kata dokter tadi? Mulai besok, kau kerja dari rumah. Aku tidak menerima bantahan," ucap Gilbert tegas saat mereka berjalan menuju parkiran.
"Tapi Gil, proyek Semarang—"
"Lahan sudah beres. Biar aku yang mengurus sisanya. Tugasmu sekarang hanya satu," Gilbert berhenti melangkah dan menatap mata Jenara dalam-dalam. "Bernapas dengan tenang dan pastikan anakku serta ibunya ini tetap bahagia. Mengerti?"
Jenara hanya bisa mengangguk pelan, merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Ternyata, di balik sikap kakunya, Gilbert adalah pelindung yang selama ini ia butuhkan.
,, pokokny kalian berdua akn terus dihantui malam penuh ehem itu dn membuat kalian gk bisa tenang /Grin/
minimal tertantang bang, kamu ice king dia ice queen,, ayo lawan! jangan kasih kendor /Determined/