NovelToon NovelToon
Transmigrasi Tanaya Zaman Purba

Transmigrasi Tanaya Zaman Purba

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Ruang Ajaib / Epik Petualangan / Roh Supernatural / Time Travel
Popularitas:59k
Nilai: 5
Nama Author: Nyx Author

🔥"Tanaya — Jiwa dari Zaman Purba”

Tanaya, gadis modern yang hidup biasa-biasa saja, tiba-tiba terbangun di tubuh asing—berkulit gelap, gemuk, dan berasal dari zaman purba yang tak pernah ia kenal.

Dunia ini bukan tempat yang ramah.
Di sini, roh leluhur disembah, hukum suku ditegakkan dengan darah, dan perempuan hanya dianggap pelengkap.

Namun anehnya, semua orang memanggilnya Naya, gadis manja dari keluarga pemburu terkuat di lembah itu.

>“Apa... ini bukan mimpi buruk, kan? Siapa gue sebenarnya?”

Tanaya tak tahu kenapa jiwanya dipindahkan.

Mampukah ia bertahan dalam tubuh yang bukan miliknya, di antara kepercayaan kuno dan hukum suku yang mengikat?

Di dalam tubuh baru dan dunia yang liar,
ia harus belajar bertahan hidup, mengenali siapa musuh dan siapa yang akan melindunginya.

Sebab, di balik setiap legenda purba...
selalu ada jiwa asing yang ditarik oleh waktu untuk menuntaskan kisah yang belum selesai.

📚 Happy reading 📚

⚠️ DILARANG JIPLAK!! KARYA ASLI AUTHOR!!⚠️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

|Kepulangan Rua...

Di balai suku, para warga mulai berkerumun menyambut kedatangan seseorang yang tampak berbeda. Sorak kagum terdengar ketika sosok itu muncul di kejauhan—semakin dekat.

“Dewa… itu Rua?! Dia sudah kembali?! Lihatlah, dia tampak begitu gagah menunggangi hewan itu!”

“Benar! Aku dengar itu pemberian suku timur... Kalian tahu kan suku timur itu tidak pernah melakukan pemberian sebagus ini dengan cuma-cuma."

"Ya semua itu karna perjanjian dengan suku timur akhirnya disepakati. Siapa lagi kalau bukan berkat dia.”

“Ah… Maina benar-benar beruntung mendapatkan pemuda seperti Rua. Andai dia belum berpasangan, aku pasti sudah meminta ayahku mengirim air suci pada Tetuah Luseng.”

“Dia pemuda hebat. Aku yakin suatu hari nanti dia akan menjadi pemimpin besar bagi suku kita.”

Di tengah sorak rendah itu, Rua akhirnya memasuki balai suku setelah perjalanan panjang dari suku timur.

Dua hari perjalanan terasa singkat baginya karena ia menempuhnya dengan menunggangi seekor kuda—hadiah dari suku timur. Bukan hanya itu, di belakang kuda hitam itu terpasang sebuah benda asing besar, aneh yang belum pernah dilihat sebagian besar warga Nahara sebelumnya.

Sebuah gerobak.

Di dalamnya tersusun rapi hasil pemberian suku timur yakni; Buah-buahan liar tak beracun, kulit berbulu, tanaman obat dan beberapa karung kulit berisi garam—cukup untuk menopang suku dalam waktu yang tidak sebentar.

Beberapa warga tanpa sadar melangkah mendekat—penasaran, mata mereka menelusuri gerobak itu dengan takjub dan hewan yang biasanya mereka buru untuk dimakan… kini justru ditunggangi dengan jinak oleh pemuda suku mereka. Bahkan membantu membawa hasil dagang dan itu tampak begitu berguna.

Ini bukanlah sekadar kepulangan. Tapi adalah tanda keberhasilan.

Tanda jelas bahwa perjanjian dagang dengan suku timur telah diterima sepenuhnya. Suku timur menukar bahan pangan dan sumber daya mereka dengan senjata buatan Nahara—senjata yang membuat mereka kagum.

“Kerja bagus, putraku.”

Tetuah Luseng melangkah maju menyambut Rua, suaranya sarat kebanggaan. “Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku.”

Rua turun dari kudanya, ia menghela napasnya pelan—lelah akhirnya semuanya selesai. Lalu menunduk hormat pada Ketua Sao yang menatapnya dengan senyum puas. Di sampingnya, Maina juga tampak menghela napas lega—senyum lembut terukir di wajah cantik nya saat memastikan Rua kembali dengan selamat.

“Ketua Sao,” ujar Rua dengan suara tenang namun tegas,“aku telah menepati janjiku. Suku timur menerima perjanjian kita. Mereka memberikan hadiah-hadiah ini sebagai tanda persahabatan.”

Ia menunjuk gerobak besar yang tertutup kain kulit tebal.

“Ah… jadi benda besar itu juga pemberian suku timur,” gumam Ketua Sao sambil mengangguk pelan.“Suku timur memang pandai menciptakan sesuatu yang berguna.”

Para tetuah lain mengiyakan, sorot mata mereka menilai—bukan hanya benda-benda itu, tapi juga nilai perjanjian di baliknya.

“Kau hebat, Nak,” lanjut Ketua Sao sambil melangkah mendekat. Tangannya menepuk pundak Rua dengan bangga.

“Tak salah aku memilihmu sebagai pasangan Maina. Kelak, kau akan menjadi pemimpin yang bijak di suku Nahara nanti”

Ucapan itu bukan sekadar pujian—melainkan pengakuan. Isyarat yang jelas bagi semua orang yang mendengarnya.

Setelah itu, Ketua Sao berbalik, dan mulai berbincang dengan para pemburu elite dan para tetuah lainnya, untuk membicarakan rencana selanjutnya: perdagangan, persediaan musim dingin, dan langkah-langkah politik ke depan.

Rua hanya mengangguk pelan.

Dadanya terasa penuh—bukan oleh kebanggaan, melainkan oleh sesuatu yang lebih sunyi. Pandangannya perlahan menyapu kerumunan warga. Wajah demi wajah ia lewati, seolah mencari satu sosok tertentu.

Seseorang yang sejak kemarin… tanpa ia sadari, telah memenuhi pikirannya.

Namun sosok itu tak kunjung terlihat. Yang ada hanya sosok Tharen yang tengah fokus berbincang dengan para tetuah.

Rua yang melihat itu mengepalkan jarinya perlahan, lalu menghembuskan napasnya pelan—menyembunyikan perasaan yang tak seharusnya muncul di saat seperti ini.

“Kau mau makan?”

Rua menoleh pelan.

Di sana, Maina berjalan mendekat dengan langkah ringan, senyum hangat terukir di wajah cantiknya. Di kedua tangannya, ia membawa semangkuk daging panggang—aromanya samar, namun cukup kuat untuk menarik perhatian.

Masakan itu ia pelajari diam-diam di balai dapur, meniru teknik baru yang mulai diperkenalkan di suku mereka. Sejak pagi, Maina sudah bersiap. Ia menggunakan sisa garam yang ia simpan dengan hemat—hanya untuk hari ini. Hanya karena ia tahu Rua akan kembali.

Beberapa pemuda yang melihat pemandangan itu tak bisa menyembunyikan decakan kagum mereka. Senyum Maina… jarang sekali terlihat selembut itu, ia hanya di kenal dengan sosok tegas dan anggun. Dan selama ini, hanya satu orang yang mampu mendapatkannya.

Rua.

Banyak di antara mereka yang menunduk kecewa. Menyayangkan takdir—karena gadis secantik Maina telah berpasangan. Meski begitu, tak satu pun yang berani menyangkal: Rua memang pantas berdiri di sisinya.

Rua menatap Maina sekilas.

Lalu pandangannya turun pada mangkuk di tangan gadis itu. Matanya sedikit menyipit, bukan karena curiga—melainkan karena asing.

“Apa itu?” tanyanya singkat.

Maina tersenyum lebih lebar, jelas bangga.“Ini namanya daging panggang,” jawabnya lembut.

“Masakan baru suku kita. Aku baru membuatnya untukmu.”Ia sedikit memajukan mangkuk itu. “Mau makan sekarang?”

Rua terdiam sejenak.

Aroma daging itu mengingatkannya pada perjalanan jauh, malam-malam dingin, dan perut kosong yang ia abaikan demi tugas.

Akhirnya, ia mengangguk pelan.

Maina tampak semakin berseri. Tanpa ragu, ia meraih tangan Rua dan mengajaknya menjauh dari kerumunan—ke tempat yang lebih tenang.

Rua tidak menolak. Ia membiarkan dirinya mengikuti langkah Maina.

Namun, meski langkahnya tenang, di dalam dadanya ada sesuatu yang masih bergejolak—perasaan tak nyaman yang belum juga menemukan bentuknya.

Di sisi lain...

Angin laut berhembus pelan, diiringi desiran ombak yang tenang. Terik matahari menerangi tiga anak muda di sana.

“Naya! Coba lihat ini! Apa ini berhasil?”

Disana, Liran berteriak di kejauhan sambil membuka daun penutup salah satu tempurung kelapa yang mereka jemur ke pinggir pantai beberapa hari lalu. Waktu mereka sebenarnya menipis, tapi rasa penasaran dan harapan membuat mereka tetap datang.

Tanaya yang tengah membantu Zuam mengambil kelapa muda diatas pohon seketika menoleh. Angin laut menerpa wajahnya, membuat rambutnya tergerai dan sorot matanya berbinar penuh antusias.

“Mana? Coba lihat!” serunya, tanpa ragu langsung melangkah mendekat.

“H-he—hei! Naya!”

Zuam yang masih bertengger di atas pohon kelapa langsung berteriak panik. Tangannya refleks mencengkeram batang pohon lebih kuat.

“Kau mau ke mana?!”

“Tunggu aku sebentar!” balas Tanaya cepat, ia melambaikan tangannya tanpa menoleh lagi.

“Sebentar itu turun dulu, Naya!” seru Zuam gusar. “Aku bisa jatuh kalau kau pergi begitu saja!”

Tanaya hanya terkikik kecil, langkahnya tetap ringan di atas pasir pantai, seolah lupa bahwa satu orang sedang menggantung di atas kepalanya.

Liran di kejauhan ikut tertawa ngakak melihat, ia menyodorkan tempurung itu kearah Tanaya. Air laut di dalamnya telah menguap, menyisakan butiran-butiran putih keabu-abuan di dasar cekungan, bercampur halus dengan pasir.

Mata Tanaya langsung berbinar.

Ia mengambil alih tempurung itu. Jantungnya berdetak lebih kencang dari seharusnya. Dengan hati-hati, ujung jarinya menyentuh dasar yang kasar.

Butiran itu nyata.

Tanaya mengangkat jarinya… lalu menjilatnya kecil.

Asin. Kuat. Murni. Rasa asinnya bahkan lebih kuat dari rasa asin garam di dunianya. Matanya kembali melebar—bukan karena terkejut, melainkan karena pengakuan.

Liran yang memperhatikannya justru mengernyit bingung.“Kenapa?… Apa ini berhasil?” tanyanya ragu.

Tanaya menunduk, ia menatap gumpalan-gumpalan itu lama sekali. Lalu menoleh dengan senyum kecil—senyum yang tak dibuat-buat, penuh kelegaan.

“Ini hampir berhasil, Liran,” jawab Tanaya lirih.

Ia mengangkat tempurung kelapa itu sedikit, seolah tengah memperlihatkan harta paling berharga yang pernah ia temukan. Butiran putih keabu-abuan di dasarnya berkilau samar terkena cahaya matahari.

Liran tersentak kecil. Matanya ikut berbinar.“Benarkah?” tanyanya antusias. “Apa itu sudah sepenuhnya jadi kristal putih?”

Tanaya menggeleng pelan, senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.“Belum. Tinggal satu tahap lagi supaya sisa pasirnya tidak ikut. Ia tersenyum tipis. “Ayo.”

Tanaya kembali meletakkan tempurung itu, lalu mengambil beberapa batang bambu yang sempat mereka siapkan di rumah Zuam sebelumnya.

“Liran,” ujarnya sambil mengangkat satu bambu, “bantu aku isi tempurung-tempurung itu dengan air lagi. Jangan terlalu banyak—secukupnya saja. Lalu aduk sampai butiran putihnya larut.”

Liran terdiam sesaat, masih belum sepenuhnya paham. Namun ia tetap menuruti. Ia mengambil bambu berisi air, lalu ikut menuangkannya ke dalam tempurung-tempurung kelapa mengikuti apa yang dilakukan Tanaya.

Mereka mengaduknya perlahan dengan ranting kayu, hingga butiran putih itu larut sepenuhnya, dan menyisakan pasir laut yang mengendap di dasar. Setelah semua tempurung selesai, Liran berdiri dan mengusap tangannya.

“Setelah itu… apa lagi, Naya?”

“Sini,” sahut Tanaya cepat. “Masukkan semuanya ke sini.”

Ia menyodorkan batang bambu lain—di bagian mulutnya telah terpasang kain kulit tipis. Liran mengangguk paham, lalu satu per satu menuangkan air dari tempurung ke dalam bambu itu dengan hati-hati.

Airnya masuk kedalam bambu sedangkan pasirnya tertinggal di kain kulit.

“Kain ini akan menahan pasirnya,” jelas Tanaya sambil mengamati air asin yang mengalir masuk. “Jadi yang masuk hanya airnya saja.”

Kini, empat batang bambu telah terisi penuh.

“Nanti kita jemur lagi,” lanjut Tanaya.“Dua hari cukup. Matahari dan angin akan menghabiskan airnya. Yang tersisa… kristal putih yang lebih bersih dari yang di kirim Selakra.”

Liran terdiam sejenak, lalu menoleh padanya dengan ekspresi tak percaya.“Dari mana kau tahu semua ini, Naya? Kita tidak pernah melakukan cara seperti ini sebelumnya.”

Tanaya mendekat dan berbisik pelan, sengaja merendahkan suaranya,

“Dari roh pantai…”

Liran langsung tersentak, wajahnya pucat.

“Apa—?!

Tanaya tertawa kecil dan segera menggeleng.“Aku bercanda.”Ia tersenyum lebar. “Ayo cepat. Sebentar lagi sore. Kita harus membawa bambu-bambu ini pulang."Ia menghitung cepat. “Ada enam bambu. Masing-masing kita bawa dua, ya.”

Liran kembali tersentak.“K-kau membaginya?” tanyanya tak percaya.

“Tentu saja,” jawab Tanaya ringan. “Kalian ikut membuatnya. Ini milik kita bersama.”

Ia menatap laut sebentar sebelum akhirnya melanjutkan, suaranya lebih tenang.“Kalau ini benar-benar berhasil, kita akan ajarkan caranya pada warga Nahara. Supaya mereka bisa membuat kristal putih sendiri nanti tanpa susah-susah mencari barang tukar mahal lagi."

Liran menelan ludahnya lirih. Kekagumannya tak bisa ia sembunyikan. Biasanya, orang yang menemukan hal sepenting ini akan menyimpannya rapat-rapat. Tapi Tanaya… berbeda.

Tiba-tiba, sebuah teriakan memecah suasana.

“HEI KALIAN!!”

Tanaya dan Liran yang hendak membersihkan sisa tempurung di tepi pantai langsung menoleh.

“Kenapa kalian lama sekali?!” teriak Zuam dari kejauhan. “Bantu aku turun cepatlah!!”

Ternyata pemuda itu masih menggantung di atas pohon kelapa, kakinya sibuk mencari pijakan.

Tanaya dan Liran saling pandang—lalu tertawa bersamaan. Mereka segera berlari ke arah Zuam, langkah kaki mereka menyusuri pasir yang mulai mendingin.

Sore itu, angin laut berhembus pelan. Ombak menggulung sedikit lebih besar dari biasanya—seakan menyimpan pertanda. Bahwa di balik tawa dan keberhasilan kecil ini, sesuatu yang lebih besar sedang menunggu di hadapan mereka.

...>>>To Be Continued......

1
Siska Sutartini
wah siapa itu? Rua kah? scara kan naya masih dirumah tetua Luseng kan. ditunggu upnya lagii ya Thor. lope sekebon dah ❤🧡💛💚💙💜🤎🤍💖
📚Nyxaleth🔮: Love u sekebon juga kakk... Makasihh banyakk dukungan nya🙏🥹
total 1 replies
Siska Sutartini
uhh akhirnya up banyak ya Thor setelah sekian purnama tak terlihat..aku bahkan hampir lupa jalan ceritanya 🤭😁
Wiji Lestari
naya bodoh...tau ada rua disitu...payah
Wiji Lestari
💪💪
┌⁠|⁠o⁠^⁠▽⁠^⁠o⁠|⁠┘⁠♪ peanuts
Author up yukk aku dh nunggu lama nih🤭🤭
BTS_ArmY FANS ❤️
semua oke .. jlan crita nya best tpi tokoh wanita nya trlalu lembut dan kurang tegas thor ... sering kli ketakutan .. tlg bwat tokoh wanita nya seseorang yg kuat dan tegas thor .. 🤭
Shena R
🙄🤣
hotma Puspasari
plagiat ni author nya ini kan cerita nami yang difizo
Shena R: Astaga kalau maubaca
Bacalah🙄😑
total 1 replies
Yani
Thorr, gimana ya kelanjutan crita nya 🥰
Iin Wahyuni
udh tamat ya thor kok nggk update2 thor💪
Herli Yani
ko GK update lagi thor
Iin Wahyuni
lanjut thor💪
Lala Kusumah
kapan update lagi nih, ditunggu ya 🙏🙏🙏
Ardia Bisandorong
nyesek banget awalannya 😭😭
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭
Dedi Dahlia
semangat thor di tunggu up datenya,lanjuut 😊😊🙏🙏
Herli Yani
lanjut Dong Thor
pocynelv
bagus../Rose//Smile/
pocynelv
omaakk..hbis lagi bab nya. btw semangat trus, karya kk selalu ku tunggu/Smile//Smile/
✩̣̣̣̣̣ͯ┄•͙elle◥
jangan sampai Naya sama Rua, dan semoga aja datang yang lebih segalanya untuk Naya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!