Revan adalah pria tampan dan pengusaha muda yang sukses. Namun di balik pencapaiannya, hidup Revan selalu berada dalam kendali sang mama, termasuk urusan memilih pendamping hidup. Ketika hari pertunangan semakin dekat, calon tunangan pilihan mamanya justru menghilang tanpa jejak.
Untuk pertama kalinya, Revan melihat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Bukan sekadar mencari pengganti, ia menginginkan seseorang yang benar-benar ingin ia perjuangkan.
Hingga ia teringat pada seorang gadis yang pernah ia lihat… sosok sederhana namun mencuri perhatiannya tanpa ia pahami alasannya.
Kini, Revan harus menemukan gadis itu. Namun mencari keberadaannya hanyalah langkah pertama. Yang lebih sulit adalah membuatnya percaya bahwa dirinya datang bukan sebagai lelaki yang membutuhkan pengganti, tetapi sebagai lelaki yang sungguh-sungguh ingin membangun masa depan.
Apa yang Revan lakukan untuk meyakinkan wanita pilihannya?Rahasia apa saja yang terkuak setelah bersatu nya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Ajakan Makan Malam
Suasana butik Eliana pagi itu cukup ramai. Beberapa kardus pesanan baru tergeletak di sudut ruangan. Nadia dan Dewi tampak sibuk mengemasi barang-barang, menyusunnya rapi di rak sesuai jenis dan warna.
Dewi merapikan gulungan benang di tempatnya, lalu menoleh pada Nadia.
“Mbak Nadia, Mbak El kira-kira kapan pulang?” tanyanya sambil tetap bekerja.
Nadia menghela napas pelan.
“Aku juga belum tahu, Dewi. Aku belum menghubunginya,” jawabnya jujur.
“Aku tidak ingin mengganggu mereka. Biar mereka menikmati bulan madu dengan tenang.”
Dewi tersenyum.
“Semoga bulan madu mereka lancar dan menyenangkan.”
“Aamiin,” sahut Nadia.
“Bukan hanya selama bulan madu, tapi juga sampai mereka kembali. Kamu tahu sendiri, kan, masih ada yang tidak senang dengan pernikahan mereka.”
Dewi mengangguk pelan.
“Iya, Mbak. Mudah-mudahan orang yang tidak menyukai pernikahan Mbak El diberi hidayah, supaya tidak berbuat macam-macam lagi.”
“Benar,” ucap Nadia pelan.
“Aku juga berharap begitu.”
Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Nadia berdering. Ia melirik layar, lalu tersenyum kecil.
“Riki,” gumamnya.
Nadia segera mengangkat panggilan itu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Hai, Nadia,” sapa Riki dari seberang.
“Iya, Rik. Ada apa?” tanya Nadia.
Terdengar Riki sedikit ragu sebelum berbicara.
“Ehm… aku mau mengajak kamu makan malam. Kalau kamu tidak keberatan.”
Nadia terdiam sesaat.
“Makan malam?”
“Eeem… boleh,” jawab Nadia akhirnya.
Riki terdengar menarik nafas lega.
“Baik. Nanti aku jemput.”
“Oke, aku tunggu,” jawab Nadia singkat.
Panggilan pun berakhir. Nadia menatap ponselnya sejenak, lalu tanpa sadar tersenyum sendiri.
Dewi yang melihatnya langsung menggoda,
“Kenapa, Mbak? Senyum-senyum sendiri begitu.”
Nadia tersentak.
“Eh, nggak kok,” elaknya cepat sambil berdeham.
“Ayo, cepat kita selesaikan mengemasi barang ini. Setelah itu kita pulang.”
---
Tepat pukul tujuh malam, Riki tiba di apartemen Nadia. Ia mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka,
Ternyata yang membuka pintu bukan Nadia, melainkan ibunya.
“Assalamu’alaikum,” sapa Riki.
“Maaf, Bu. Nadia ada?”
“Wa’alaikumussalam. Ada,” jawab Bu Ajeng ramah.
“Silakan masuk.”
Riki melangkah ke ruang tamu dan duduk menunggu. Tak lama kemudian, Nadia keluar dari kamar.
“Maaf membuatmu menunggu,” ucap Nadia.
“Tidak apa-apa,” jawab Riki sambil tersenyum.
Riki lalu menoleh ke arah Bu Ajeng.
“Bu, saya izin mengajak Nadia keluar sebentar.”
“Silakan,” jawab Bu Ajeng.
“Tapi pulangnya jangan terlalu malam.”
“Iya, Bu,” sahut riki.
Sebelum pergi, Nadia dan Riki menyalami Bu Ajeng lebih dulu. Setelah itu, mereka melangkah keluar bersama.
---
Mobil Riki bergerak pelan meninggalkan area apartemen. Lampu-lampu kota mulai menyala, berpadu dengan semburat jingga senja yang tersisa di langit. Nadia duduk di kursi sebelah Riki, sesekali melirik keluar jendela, menikmati suasana malam yang menenangkan.
Tak butuh waktu lama, mobil itu memasuki kawasan pantai. Deretan pohon kelapa berdiri rapi, sementara suara ombak samar terdengar, seolah menyambut siapa pun yang datang.
Riki memarkir mobil tak jauh dari sebuah restoran berkonsep terbuka yang menghadap langsung ke laut. Lampu-lampu temaram menggantung indah, menciptakan suasana hangat dan romantis.
Begitu turun dari mobil, Riki menoleh pada Nadia.
“Suka?” tanyanya pelan.
Nadia menatap sekeliling, matanya berbinar.
“Suka,” jawabnya sambil tersenyum.
“Terima kasih. Aku tidak tahu kalau di sini ada restoran seperti ini.”
“Restoran ini baru buka,” jelas Riki.
“Pantas saja kalau kamu belum tahu.”
Mereka berjalan beriringan menuju area restoran. Angin pantai berembus lembut, membawa aroma laut yang menenangkan. Begitu memasuki area, seorang pelayan menyambut mereka dengan senyum ramah.
“Selamat malam, Tuan, nona." Sapa pelayan sopan.
"Selamat malam." Jawab Nadia tak kalah ramah.
Sedangkan Riki hanya mengangguk kepala.
“Silakan ikut saya.”
Pelayan mengantar mereka ke meja di tepi pantai. Dari sana, laut terlihat jelas, berkilau diterpa cahaya lampu dan bulan yang mulai naik.
“Silakan duduk,” ucap pelayan sambil meletakkan buku menu di hadapan mereka.
“Jika sudah siap, silakan panggil saya.”
Setelah pelayan pergi, Riki membuka pembicaraan.
“Kamu mau pesan apa?”
Nadia membolak-balik buku tersebut dengan teliti.
“Aku pesan air kelapa,” ucapnya Nadia begitu melihat menu pilihan nya
“Dan untuk makanan… ikan bakar sama sup.”
Riki mengangguk.
“Aku juga air kelapa.”
“Untuk makanan, udang bakar madu dan sayur tumis kangkung saja.”
Pelayan kembali datang, mencatat pesanan mereka dengan cekatan.
“Baik, mohon ditunggu,” ucapnya sopan sebelum berlalu.
Sambil menunggu pesanan, mereka mulai berbincang santai.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Riki.
“Alhamdulillah lancar,” jawab Nadia.
“Tapi ya begitulah, namanya bekerja. Menghadapi berbagai macam pelanggan, ada saja tingkahnya.”
Riki tersenyum.
“Pasti melelahkan.”
Nadia mengangguk kecil.
Riki tampak ragu sejenak sebelum bertanya,
“Nadia… kamu keluar denganku begini, nggak ada yang marah, kan?”
Nadia mengerutkan kening.
“Marah? Maksudnya?”
“Pacar… atau orang yang sedang dekat denganmu,” lanjut Riki jujur.
Nadia terkekeh kecil.
“Kalau ada, aku tidak akan duduk di sini denganmu, Rikiii.”
“Pertanyaanmu ada-ada saja.”
Riki nyengir.
“Ya… aku hanya ingin memastikan.”
Nadia balik menatapnya.
“Kalau kamu sendiri bagaimana?”
“Jangan-jangan kamu cuma mengaku single.”
Riki menggeleng cepat.
“Kalau aku masih sendiri.”
“Sumpah. Kalau kamu tidak percaya, tanya saja Revan.”
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Mereka makan dengan tenang, menikmati hidangan sambil sesekali bertukar menu.
“Bagaimana?” tanya Riki saat Nadia mencicipi udang bakarnya.
“Enak,” jawab Nadia jujur.
“Kamu coba ikan bakarnya. Ini juga enak.”
Riki mencicipinya dan mengangguk.
“Nggak salah pilih makan di sini.”
“Nanti lain kali kita ajak Revan dan Eliana ke sini.”
“Iya,” sahut Nadia.
“Pasti lebih seru.”
Selesai makan, mereka berjalan menyusuri pantai. Banyak pasangan muda dan keluarga yang menikmati malam dengan suasana yang sama hangatnya. Mereka lalu duduk di salah satu bangku kayu menghadap laut.
“Riki,” panggil Nadia pelan.
“Aku lihat kamu cukup dekat dengan Revan.”
“Kalian ada ikatan keluarga atau hanya sahabat?”
“Tidak ada hubungan keluarga,” jawab Riki sambil menatap laut.
“Tapi Revan lebih dari sekadar sahabat.”
Ia terdiam sejenak, lalu menoleh.
“Kamu mau dengar sedikit ceritaku?”
“Tentu,” jawab Nadia lembut.
“Kalau kamu tidak keberatan. Mau sedikit atau banyak pun tidak apa-apa.”
Riki tersenyum tipis.
“Aku yatim piatu. Aku dibesarkan oleh nenekku.”
“Aku bertemu Revan sejak SMA. Dia baik… meski berasal dari keluarga kaya, dia tidak pernah membeda-bedakan siapa pun.”
Nadia mendengarkan dengan saksama, tak memotong satu kata pun.
“Waktu kuliah,” lanjut Riki,
“aku menyatakan perasaan pada seorang wanita. Dia anak kepala sekolah ternama di kota ini.”
“Dia menolakku karena aku dianggap tidak setara.”
Riki menghela napas pelan.
“Revan yang menguatkanku. Dari situ aku semakin giat belajar.”
“Setelah lulus, Revan melanjutkan kuliah ke luar negeri, sementara aku bekerja di perusahaan ayahnya.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku sempat menyatakan perasaan lagi pada wanita itu. Dan aku ditolak lagi.”
“Aku hampir putus asa, tapi dengan dukungan Om Surya dan nenekku, aku bangkit.”
“Aku bertekad membuktikan kalau aku bisa berhasil.”
Nadia tetap diam, matanya menatap Riki dengan penuh empati.
“Suatu hari,” lanjut Riki,
“Om Surya memintaku mengelola salah satu perusahaannya.”
“Aku ragu, takut tidak mampu. Tapi beliau percaya padaku.”
“Beberapa tahun kemudian, setelah Revan kembali, aku mengembalikan perusahaan itu dan memulai usahaku sendiri dari nol.”
“Sampai akhirnya seperti sekarang.”
“Wow, itu sangat keren,” ucap Nadia bangga.
“Itu perjalanan yang tidak mudah.”
Riki tersenyum kecil.
“Pasti wanita yang pernah menolakmu menyesal sekarang,” lanjut Nadia.
"Entahlah." Ucap Riki singkat seolah enggan menjawab.
“Dan bagaimana kalau suatu hari dia datang dan menerima cintamu?” tanya Nadia penasaran.
Riki mengalihkan pandangannya ke Nadia, lalu menjawab mantap,
“Sekarang dan seterusnya… dia bukan tipeku lagi.”
jafi pinisirain.. 😁😁😁
sprti ny Revan, hrs menyia jan pengawslbsysngsn deh buat Elliana.
jingga segitu nyenilsi dxn ketidak sukaan ny pada Elliana