Rain menjadi ketua, dari geng yang dibuat sendiri, Rksabi. Yang berkecimpung pada tugas jasa, geng yang terdiri enam orang itu mencari klien dengan berbagai masalah demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sampai satu tugas yang menawarkan bayaran mahal, membawanya pada gadis muda, dan Rain merasa terjebak disana, di dalam rumah mewah keluarga Vick sebagai Pengawal pribadi Yasmin Celia. Dia datang untuk menyelesaikan misi sebagai Pengawal pribadi yang melindungi, tapi selesai tugas justru jadi Bapak yang mencari keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrar Atma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Dibawah guyuran hujan, gadis itu duduk dikursi taman dengan pandangan kosong, air matanya tersamarkan tetesan hujan. Namun tetap tidak mampu mengurangi panasnya dada, rasa sakit dan amarah menjadi satu berkumpul disana.
Pemandangan kesedihan itu disaksikan langsung pengawal pribadi nya, yang menyusul keluar hendak kembali ke ruangan nya. Pria itu menghela napas, bersandar disebuah pohon, sembari menatap gadis itu yang mulai berganti posisi jadi memeluk lutut.
Sementara hujan semakin deras, guntur dan petir saling bersahutan. Memberikan suasana mencekam sama seperti perasaan Yasmin saat itu, dalam balutan gaun tidur yang tipis, gadis itu tampak menggigil tapi enggan pergi dari sana.
Untuk beberapa waktu Rain masih bergeming disana, sampai ketika gadis itu menengadah, membiarkan hujan jatuh diatas permukaan wajahnya, pria itu akhirnya menegakkan punggung. Rain mengambil payung yang diberi pelayan yang khawatir dengan keadaan Nona nya,namun tidak berani mengganggu waktu kesendirian gadis itu.
Rain lantas menghampiri Nona muda nya dengan langkah pasti memangkas jarak, memayungi gadis itu dari hujan yang belum berhenti jatuh pada bumi. Mata Yasmin perlahan terbuka kala merasakan naungan, lalu perlahan menurunkan pandangan, dari payung menuju lengan yang menahan nya, dan ia dapati wajah Rain disana menatapnya tanpa ekspresi berarti.
"Kenapa kesini? Aku mau sendiri "
"Saya hanya mau kasih payung, titipan pelayan" Rain mengulurkan tangkai payung, namun gadis itu malah menatapnya.
"Nona...? ambil"
"Apa ngga ada yang kasih tahu kamu, kalau seseorang yang bersedih butuh waktu sendiri "
"Tidak ada Nona, yang ada, malah tidak ada waktu untuk bersedih" Yasmin terdiam.
Namun alih-alih menyambut payung, ia justru menghambur ke dalam pelukan Rain. Pria itu terkejut dengan tindakan tanpa aba-aba itu, hendak menolak menjauhi, tapi pelukan nya kian erat. "Jangan tolak, kali ini aja...Aku pengen tahu gimana rasanya bersedih saat ada orang lain yang bahkan ngga punya waktu untuk melakukannya, plis Pak Taka"
Rain seketika terdiam, ucapan dengan nada putus asa itu terdengar tidak asing ditelinga nya. Bukan karena para penjahat yang tertangkap dan mohon dilepaskan, tapi ada pelafalan yang lebih dalam daripada itu, mengingatkan nya dengan seseorang gadis kecil.
Hembusan angin kencang menggerakkan payung, menembus kulit, Yasmin tersedu dalam dekapan tak berbalas tapi juga tidak ditepis, menerima kehangatan yang menyenangkan berpadu aroma maskulin. Saking nyaman nya hingga ia terbuai dengan ketenangan, lalu tanpa sadar bersuara mengungkap kan jalan pikirannya, ditemani suara rintik hujan diatas payung, serta dada bidang yang menyembunyikan wajahnya.
"Pak Taka, kenapa Papi begitu tega menampar ku, tiap kali aku bikin emosi? Aku tahu aku kelewatan, tapi kenapa tangan Papi ringan banget, terus bilang semua yang aku mau dan ngga suka itu ngga penting. Aku putrinya bukan sih?"ujarnya.
Namun hening, tidak ada jawaban selain suara guntur yang menggelegar dan ribut nya hujan. Yasmin mendongak, menatap pria yang menghadap lurus ke depan, "Dengar ngga, aku ngomong apa?" Tanyanya.
Pria itu menarik napas panjang, sembari mengangguk kecil, nampak nya mulai bosan menangani gadis yang dirundung sendu. "Kenapa ngga ada jawabannya? Semua laki-laki gitu ya, ngeselin! Dari Papi yang anggap aku ngga penting dan nikah lagi, mantan aku yang selingkuh, dan sampai jongos kaya kamu juga bisa ngeselin"
"Tes DNA Nona, dengan begitu anda bisa tahu, anda putrinya atau bukan. Dan lagi, tidak semua laki-laki ngeselin karena terkadang laki-laki ngelon Nona" jawab Rain.
Gadis itu mengangguk merasa cukup sudah dijawab, meskipun jawabannya ngawur, lalu ia kembali menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. "Kamu tahu ngga"
"Tidak"
"ya iyalah, kan aku belum kasih tahu. Kenapa aku ngga mau masalah itu diperpanjang, itu karena aku ngga mau ribet. Terus... jadi kemana-mana, belum lagi itu cara aku buat menghukum diri sendiri, Pak Taka. Karena sudah pernah bully orang, bahkan bantu Laura waktu itu juga biar rasa bersalah ku berkurang. Bagaimana menurutmu pak Taka?"
"Setuju, Ide yang bagus Nona"
Yasmin menghela napas, senyum kecil terulas dibibir nya, "Pak Taka, aku nyesal sudah bully orang buat masuk geng Centil, cuma karena pengen cari perhatian Papi, juga buat membuktikan sama mantan kalau aku ngga bisa dianggap remeh "
"Menyesal itu ngga berguna Nona, tidak bisa memperbaiki apa yang terjadi. Tapi dengan perasaan itu anda dapat berhati-hati, sekaligus disanalah hukuman spesial nya. Rasa bersalah dan sesal itu adalah hukuman berat bagi pelaku, tubuh yang dikurung dalam jeruji atau mengalami siksaan tetap tidak sebanding dengan perasaan itu Nona"
Yasmin mendongak sembari mengurangi pelukannya, tatapan kedua orang itu bertemu. Untuk beberapa detik yang singkat keduanya saling menatap satu sama lain, seolah menyelam ke jiwa masing-masing, sebelum secara bersamaan membuang muka ke arah berlawanan. "Nona, anda sebaiknya kembali ke rumah, masuk ke kemar dan ganti pakaian"
"Kenapa?"
Rain mengeryit, mengambil tangan Yasmin dan meletakan tangkai payung disana, "Ya"
"Kamu bisa berlaku lembut juga, hatiku jadi tersentuh bagaimana cara kamu mendengar aku bicara, respon itu aku suka."
"Hmm"
Yasmin berdiri, menatap pria itu dengan senyuman manis yang tersemat. "Terima kasih sudah dengar keluhan Yasmin Celia Pak Taka, ternyata bersedih saat ada orang lain itu ngga seburuk itu. Masih bisa diterima, tanggapan orang lain, kehadirannya yang akan jadi saksi betapa lemahnya orang itu. Cuma kurang satu doang, sentuhan nya, Pak Taka" satu tangan nya yang kosong mendarat di dada Rain, mengusap nya perlahan.
Yang lantas ditepis seketika itu juga dengan wajah tersirat kemarahan, pria itu mundur, membiarkan tubuhnya basah terkena hujan. Yasmin menunduk, terkekeh tanpa suara, merasa terhibur melihat raut Rain yang berubah muak. Kesedihan nya seolah lenyap begitu saja, hatinya pun terasa lapang, entah karena mengungkap perasaannya atau justru karena berhasil menggoda pria itu.
"Seharusnya tadi Pak Taka elus rambut aku, atau setidaknya balas pelukan ku. Lain kali begitu ya Pak Taka, sepertinya cara bersedih favorit ku sudah berubah. Jadi aku bakal kasih tahu soal satu ini wahai pendengar yang baik, aku butuh bahu kamu saat sedih, kalau perlu kamu catat itu"kata Yasmin.
Ia menepuk pundak itu sekali sambil lalu, langkahnya riang ditengah hujan, beban berat yang menghimpit dada nya lenyap bersama tiap kata Rain. Sebelum benar-benar jauh, ia menyempatkan diri menengok pengawal pribadi yang berjalan menuju ruangan.
Dari tempat nya berdiri, ia berteriak memanggil nama Rain sekali lagi, "Pak Taka, terima kasih " kalimat ulang yang ia rasa sangat pantas pria itu dapatkan. Namun Rain tidak berbalik.