NovelToon NovelToon
Rahasia Kelam Di Balik Sutra

Rahasia Kelam Di Balik Sutra

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Rebirth For Love / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Novianti

Seorang putri Adipati menikahi putra mahkota melalui dekrit pernikahan, namun kebahagiaan yang diharapkan berubah menjadi luka dan pengkhianatan. Rahasia demi rahasia terungkap, membuatnya mempertanyakan siapa yang bisa dipercaya. Di tengah kekacauan, ia mengambil langkah berani dengan meminta dekrit perceraian untuk membebaskan diri dari takdir yang mengikatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30.

Langkah Wang Yuwen terasa berat saat ia menyeret kakinya menuju Paviliun Phoenix. Tangannya mencengkeram erat tusuk rambut milik Cheng Xiao, sebuah benda yang selalu dibawanya sebagai pengingat. "Kau pergi, bahkan sebelum mendengar penjelasanku," gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam kesunyian istana. Hatinya hancur mendapati Cheng Xiao dan bayinya telah pergi, menghilang tanpa jejak dari seluruh penjuru istana putra mahkota.

Dengan ragu, ia mendorong pintu kamar Cheng Xiao di Paviliun Phoenix. Debu tipis menari di udara, seolah ikut merasakan kesedihan yang menyelimuti ruangan itu. Seketika, bayangan Cheng Xiao muncul di benaknya: duduk anggun di dekat jendela, jemarinya lincah memetik senar Guzheng. Namun, bayangan itu perlahan berubah. Ia melihat Cheng Xiao yang sama, tetapi dengan air mata yang membasahi pipinya, dan alunan Guzheng yang terdengar begitu pilu, menusuk jantungnya dengan setiap nada. Aroma bunga mawar yang dulu selalu memenuhi ruangan kini bercampur dengan bau kesedihan yang menyesakkan.

Wang Yuwen mengusap wajahnya kasar, berusaha menghalau bayangan menyakitkan itu. Ia melangkah masuk, matanya menyapu setiap sudut ruangan, mencari jejak Cheng Xiao yang tertinggal. Di atas meja rias, tergeletak sebuah kotak perhiasan terbuka. Wang Yuwen mendekat, hatinya mencelos saat melihat isinya kosong. Semua perhiasan yang pernah ia berikan pada Cheng Xiao, yang dulu selalu menghiasi leher, telinga, dan rambutnya, kini lenyap.

Di sudut ruangan, di dekat Guzheng yang terdiam, ia menemukan selembar kertas terlipat. Dengan tangan gemetar, Wang Yuwen membukanya. Aroma samar parfum Cheng Xiao menyeruak dari kertas itu, menusuk hidungnya dan membuat matanya kembali berair. Tulisan tangan Cheng Xiao yang rapi memenuhi halaman itu. Wang Yuwen mulai membaca, setiap kata terasa seperti tusukan jarum di hatinya.

"Yuwen," tulis Cheng Xiao, "Saat kau membaca surat ini, aku mungkin sudah kembali pada ayah ku. Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu, tetapi karena aku tidak bisa lagi menanggung semua kebohongan dan rahasia di antara kita. Aku tahu aku terlalu egois, maafkan aku karena ku, kau tak bisa menikahi wanita yang kau cintai. Aku tidak menyalahkanmu, tetapi aku tidak bisa hidup dalam ketidakpastian ini."

Jantung Wang Yuwen berdebar kencang, napasnya tercekat. Ia terus membaca, air mata mulai membasahi pipinya dan menetes ke atas surat itu, memburamkan beberapa kata.

"Aku membawa serta anak ku," lanjut Cheng Xiao. "Karena pada dasarnya, dia memang hanya anakku."

Di akhir surat, Cheng Xiao menambahkan sebuah kalimat yang membuat Wang Yuwen terhuyung mundur, nyaris jatuh. "Tolong jaga dirimu baik-baik, Yuwen. Dan jangan pernah lupakan bahwa aku pernah mencintaimu dengan sepenuh hatiku."

Surat itu terlepas dari tangan Wang Yuwen dan jatuh ke lantai. Ia berlutut, tubuhnya bergetar hebat. Rasa bersalah, penyesalan, dan kehilangan bercampur menjadi satu, menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping. Ia telah kehilangan Cheng Xiao, wanita yang sangat mencintainya. Semua karena kebodohan dan masa lalunya yang kelam.

. . .

Di tengah kegelapan malam yang pekat, kereta kuda milik Putra Mahkota Wang Yuwen melaju dengan kecepatan tinggi, membelah kesunyian malam. Tujuan utamanya adalah kediaman Adipati Cheng yang megah. Wang Yuwen yakin, Cheng Xiao pasti kembali ke sana, mencari perlindungan di balik tembok kokoh kediaman keluarganya.

Zhang Tian, pengawal setia Wang Yuwen, memacu kuda-kuda yang menarik kereta dengan gesit. Deru roda kereta dan derap kaki kuda memecah keheningan malam, menciptakan irama yang menegangkan. Di dalam kereta, Wang Yuwen terlihat gelisah, wajahnya pucat diterangi oleh cahaya rembulan yang menyelinap masuk melalui celah jendela. Surat yang ditinggalkan Cheng Xiao masih tergenggam erat di tangannya, kertasnya sedikit lecek karena remasan jari-jarinya yang gemetar.

Bayangan Cheng Xiao menari-nari di benaknya, senyumnya yang manis, tatapannya yang penuh cinta, semuanya terasa begitu jauh dan tidak mungkin digapai. Wang Yuwen merasa bersalah, menyesal, dan takut kehilangan. Ia tidak ingin kehilangan Cheng Xiao, wanita yang telah berhasil mencuri hatinya.

"Ku harap... ku harap kau mau mendengarkan penjelasanku," gumam Wang Yuwen lirih, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru kereta. Perasaan gundah gulana mencengkeram hatinya, membuatnya sesak dan sulit bernapas. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan, bagaimana ia akan menjelaskan semuanya. Yang ia tahu, ia harus bertemu dengan Cheng Xiao, ia harus memperbaiki semuanya sebelum terlambat.

Kereta kuda berhenti mendadak di depan gerbang kediaman Adipati Cheng yang menjulang tinggi. Dua penjaga bersenjata lengkap segera menghampiri, tatapan mereka curiga dan waspada.

"Siapa di sana?" tanya salah seorang penjaga dengan suara lantang.

Zhang Tian turun dari kereta dan membungkuk hormat. "Kami dari kediaman Putra Mahkota," jawabnya sopan. "Putra Mahkota Wang Yuwen ingin bertemu dengan Nona Cheng Xiao."

Para penjaga saling bertukar pandang. Mereka tahu tentang hubungan antara Putra Mahkota dan Nona Cheng, namun mereka juga tahu bahwa hubungan itu sedang tidak baik-baik saja.

"Maaf, Putra Mahkota," ujar salah seorang penjaga, "Nona Cheng sedang tidak menerima tamu."

Wang Yuwen keluar dari kereta dengan langkah tergesa-gesa. "Aku tahu dia ada di dalam," ujarnya dengan nada mendesak. "Tolong, biarkan aku bertemu dengannya. Ini sangat penting."

Para penjaga tetap bersikeras. "Kami tidak bisa melanggar perintah Adipati," jawab mereka. "Nona Cheng tidak ingin bertemu dengan siapa pun."

Wang Yuwen merasa frustrasi. Ia tahu bahwa ia tidak bisa memaksa para penjaga, mereka hanya menjalankan tugas mereka. Tapi ia juga tidak bisa menyerah begitu saja. Ia harus bertemu dengan Cheng Xiao, apa pun caranya.

"Kalau begitu, tolong sampaikan pesanku padanya," ujar Wang Yuwen dengan nada memohon. "Katakan padanya bahwa aku sangat menyesal. Katakan padanya bahwa aku mencintainya. Dan katakan padanya bahwa aku akan menunggunya di sini, sampai kapan pun."

Para penjaga terdiam sejenak, lalu salah seorang dari mereka mengangguk. "Baiklah, Putra Mahkota," ujarnya. "Kami akan menyampaikan pesan Anda."

Wang Yuwen menghela napas lega. Ia tahu bahwa ini bukan jaminan bahwa Cheng Xiao akan mau bertemu dengannya, tapi setidaknya ia telah melakukan yang terbaik yang ia bisa.

Ia kembali masuk ke dalam kereta dan memerintahkan Zhang Tian untuk menunggu di sana. Ia akan menunggu Cheng Xiao, meskipun harus menunggu sepanjang malam. Ia tidak akan menyerah sampai ia mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan semuanya.

Di dalam kereta, Wang Yuwen kembali menggenggam surat dari Cheng Xiao. Ia membaca setiap kata dengan seksama, mencoba mencari petunjuk tentang apa yang harus ia lakukan. Ia tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan besar, dan ia harus memperbaikinya. Ia harus meyakinkan Cheng Xiao bahwa ia benar-benar mencintainya, dan bahwa ia bersedia melakukan apa saja untuknya.

1
sahabat pena
jangan mengemis cinta.. klo suami mu tdk membalasnya tinggal kan saja. dunia ini luas..masih banyak laki-laki yg lbh baik.
Ani_Sudrajat
Putra mahkota yg sangat² bodoh, setelah menyakiti perasaan istrinya,
memberikan mahkota yg sangat berharga istrinya kepada orang lain, baru bilang cinta 🤦‍♀️😤
Zabarra
enggak nyambung. kalo ada kesalah pahaman kenapa Chen Xiao merubah semua kesukaannya demi mengikuti putra mahkota..? narasi diawal juga Chen Xiao ngejar Wang Yuwen, cinta banget. bagus diawal udha dibagian ini malah ada narasi gak nyambung. sampe mau bunuh diri karena cinta tak terbalas, dibab ini bilang salah paham, yang dicintai jendral Tang. Langsung ancur nilainya
SamdalRi: Sorry kak, blunder. Baru selesai revisi
total 1 replies
yumin kwan
percuma putra mahkota.... wong sudah cerai, sudah bukan istrimu lagi
Ani_Sudrajat
Penyesalan selalu datang belakangan 😅
Ani_Sudrajat
Kenapa mereka selalu mengganggu ketenangan Cheng Xiao?? biarkan Cheng Xiao bahagia dengan putranya.
Zabarra
Ini novel top banget, sampai bikin nangis dari bab awal. keren thor, komplit bgt ini ceritanya
Natasya
👍
Nurhasanah
dari bab awal sampe bab ini ... fl nya cuma bisa nangis doang nggak ada gebrakan apapun😏😏
yumin kwan
ish.... kok kaisar ga langsung aja kasih dekrit perceraian....
semangat up nya 💪
Ani_Sudrajat
Cerita nya bagus ..
Marini Dewi
semangat thor biar bnyk up Nya. hehehe
Ani_Sudrajat
Orang tua mana yg tidak sedih melihat putri kesayangannya di perlakukan seperti itu??
yumin kwan
kasian sekali cheng xiao.....
semangat up lagi 💪💪💪
echa purin
👍🏻👍🏻
Ani_Sudrajat
Bagus ceritanya.
Semangat thor 💪
Marini Dewi
alur cerita y sangat menarik, semangat thor 💪💪💪
Ani_Sudrajat
Up nya tambah lagi thor 😄
Marini Dewi
bikin gregetan. up lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!