NovelToon NovelToon
Transmigrasi Tanaya Zaman Purba

Transmigrasi Tanaya Zaman Purba

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Ruang Ajaib / Epik Petualangan / Roh Supernatural / Time Travel
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Nyx Author

🔥"Tanaya — Jiwa dari Zaman Purba”

Tanaya, gadis modern yang hidup biasa-biasa saja, tiba-tiba terbangun di tubuh asing—berkulit gelap, gemuk, dan berasal dari zaman purba yang tak pernah ia kenal.

Dunia ini bukan tempat yang ramah.
Di sini, roh leluhur disembah, hukum suku ditegakkan dengan darah, dan perempuan hanya dianggap pelengkap.

Namun anehnya, semua orang memanggilnya Naya, gadis manja dari keluarga pemburu terkuat di lembah itu.

>“Apa... ini bukan mimpi buruk, kan? Siapa gue sebenarnya?”

Tanaya tak tahu kenapa jiwanya dipindahkan.

Mampukah ia bertahan dalam tubuh yang bukan miliknya, di antara kepercayaan kuno dan hukum suku yang mengikat?

Di dalam tubuh baru dan dunia yang liar,
ia harus belajar bertahan hidup, mengenali siapa musuh dan siapa yang akan melindunginya.

Sebab, di balik setiap legenda purba...
selalu ada jiwa asing yang ditarik oleh waktu untuk menuntaskan kisah yang belum selesai.

📚 Happy reading 📚

⚠️ DILARANG JIPLAK!! KARYA ASLI AUTHOR!!⚠️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

|Obat Ajaib...

“Zuam?”

Panggil Tanaya lagi, kali ini nadanya tak mampu menyembunyikan kegelisahannya. Ia berhenti di depan gua itu.

Tangis itu kembali datang dari bagian dalam—tepatnya dari balik tirai kulit yang memisahkan ruang utama dengan bagian belakang. Suara kecil itu terdengar terputus-putus, bercampur ketakutan yang tak seharusnya dimiliki anak-anak seusia itu.

Satahunya, Zuam tak memiliki keluarga utuh. Ayahnya telah lama meninggal dan ibunya malah kabur dan berpindah ke suku lain, meninggalkan anak-anaknya begitu saja. Sejak kecil, Zuam lah yang memikul semuanya—menjadi kakak, penjaga, sekaligus tulang punggung.

Ia hanya pernah mendengar kalo Zuam memiliki adik perempuan bernama—Ana dan lainnya.

Tapi yang hanya terlihat cuma Ana, itupun jarang.

Tanaya menelan ludahnya. Jemarinya tanpa sadar mencengkeram bungkusan daging di tangannya lebih erat seraya memberanikan melangkah maju.

Setiap pijakan di lantai batu terasa berat, udara di dalam gua terasa lebih pengap, bercampur bau lembap, busuk, dan sesuatu yang terlalu familiar bagi Tanaya—bau tubuh yang lama tak mendapat makanan layak.

Ada sesuatu yang benar-benar tidak beres.

“Kakak… perut Liya sakit…”suara kecil itu bergetar.

“I-iya… sabar ya,” sahut suara anak lain, jelas mencoba terdengar dewasa. “Kak Zuam bentar lagi datang…”

“Nula juga lapar kak… apa kita tidak punya makanan?”

“Iya… Tama juga,” sela yang lain lirih. “Kakak… dari kemarin kita belum makan. Apa kak Zuam tidak mendapatkan daging?”

“Kakak… aku lapar…”Tangisan itu kembali pecah.“Hiks…”

Jantung Tanaya semakin berdegup cepat. Ia berhenti tepat di depan tirai kulit itu sambil menarik napasnya dalam-dalam—mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya menyibakkan tirai kulit itu dengan tangan gemetar.

Srekk...

Mata Tanaya seketika membelalak saat pandangannya bertemu dengan empat anak kecil disana yang ikut tersentak ketika sosoknya tiba-tiba muncul di balik tirai.

Mereka duduk saling berdekatan di sudut gua yang sempit, sebagian beralas kulit binatang yang sudah tipis dan keras. Tubuh-tubuh kecil itu tampak ringan sampai menampilkan tulang bahu mereka yang menonjol di balik kulit kusam. Beberapa perut mereka yang sedikit membuncit—tanda kelaparan panjang yang tak kunjung terisi.

“K-kak Naya…”

Salah satu dari mereka—yang paling besar langsung berdiri gugup, dia Ana. Wajah gadis itu tampak gelisah, tangannya membenarkan rambutnya yang kusut saat ia melangkah mendekat.

“K-kak Naya… kenapa ada di sini?”Ana berbicara tergesa, suaranya bergetar. “Cari Kak Zuam, ya? T-tunggu sebentar… Kak Zuam sedang keluar sama Kak Li—”

“Ana,” potong Tanaya.

Suaranya tidak keras, tapi cukup membuat gadis itu terdiam.

Pandangan Tanaya menyapu ke ruangan sempit itu—kulit-kulit tua di lantai, udara pengap, dan beberapa tubuh kecil yang duduk berdesakan di sudut gua. Matanya kembali pada Ana.

“Kau… punya adik?” tanyanya pelan.

Ana membeku beberapa detik. Jemarinya mengepal di sisi tubuhnya, sebelum akhirnya menunduk dan mengangguk kecil.

“Iya…”

Tapi belum sempat Tanaya berbicara lagi, Ana mendadak melangkah maju. Suaranya pecah, nyaris seperti bisikan panik.

“T-tapi, Kak…”Ia menggeleng cepat. “Tolong… jangan katakan ini pada Ketua Sao…”

Tanaya tertegun.

“A-aku dan Kak Zuam bisa merawat mereka,” lanjut Ana tergesa, matanya berkaca-kaca.“Kami tidak ingin mereka dikirim ke Gua Nenek Ida.”

Nama itu membuat Tanaya tercekat.

Gua Nenek Ida—tempat anak-anak tanpa orang tua dikumpulkan. Mereka diberi makan, diberi atap, tapi juga tumbuh tanpa keluarga. Tanaya tahu… bagi anak-anak kecil di sana, tempat itu berarti kehilangan nama, kehilangan panggilan dan kehilangan rumah. Karna identitas mereka akan sepenuhnya di ganti.

Ana menggenggam ujung pakaian Tanaya dengan tangan gemetar.

“Kalau mereka pindah… kami akan terpisah. Dan kami tidak mau itu terjadi,” ucapnya lirih“Kak Naya.. tolong jangan bilang ini ke siapapun. K-kami bisa bertahan, Kak. Sungguh.”

Tanaya menatap wajah Ana yang terlihat sembab. Wajah gadis itu tampak terlalu dewasa untuk usianya, dan terlalu lelah untuk seorang anak sepertinya.

Melihat itu, dadanya terasa diremas kuat. Ia seperti melihat cerminan dirinya waktu kecil di dunianya dulu. Dan ia tidak pernah menyangka jika Zuam menyimpan rahasia sebesar ini—bukan karena lalai, tapi karena takut kehilangan.

Tanaya menarik napas dalam-dalam. Tangannya perlahan menutup tangan Ana, hangat dan tegas.

“Ana…” suaranya rendah, bergetar halus.

“Tenanglah... Aku tidak datang ke sini untuk mengambil siapa pun darimu.”

Ia menoleh ke arah anak-anak kecil di sudut gua—kurus, pucat, kotor sambil menatapnya dengan mata penuh harap dan jelas terlihat tak terawat… juga kelaparan.

Tanaya perlahan melangkah ke salah satu anak—seorang gadis kecil, mungkin berusia sekitar 5 tahun. Tubuhnya terbaring lemah di atas alas kulit tipis. Wajahnya memerah tak wajar, napasnya pendek, dahinya basah oleh keringat dingin dengan tangannya yang mencengkeram perutnya sendiri, seolah menahan nyeri hebat.

Tanaya berlutut, kedua alisnya mengkerut saat merasakan tubuh mungil itu yang terlalu ringan untuk usianya.

“Dia... kenapa?” tanyanya lirih, suaranya tak bisa menyembunyikan kepanikan.

Ana menelan ludahnya. Suaranya hampir tak terdengar.“S-sejak semalam… Liya mengeluh perutnya sakit. Terus badannya panas…”jawabnya membuat Tanaya tersentak halus.

"Dan Zuam? Dia kemana?"

...>>>>...

Di langit matahari semakin naik, sinarnya menembus sela-sela pepohonan. Liran dan Zuam akhirnya tiba di jalur menuju pemukiman.

Zuam berjalan sedikit lebih cepat, wajahnya tampak menyesal. Tangannya menggenggam erat sebuah kantong berisi daging rusa—hadiah dari tetuah Luseng.

“Aku benar-benar lupa… hari ini kita sudah janji dengan Naya,” gumamnya lirih, nada suaranya berat oleh rasa bersalah.

Mereka memang terlambat.

Bukan tanpa alasan.

Sejak pagi, mereka harus ikut mengantar tetuah Luseng ke suku lain. Ada panggilan penyembuhan—wabah kecil yang menyerang anak-anak di sana. Zuam tak bisa menolak karna ada imbalan juga dan Liran memilih ikut menemaninya. Itulah sebabnya waktu mereka tersita lebih lama dari perkiraan.

Liran melirik Zuam sekilas, lalu tersenyum tipis—bukan mengejek, melainkan menenangkan.

“Tidak apa-apa,” ujarnya pelan.“Naya pasti mengerti.”Langkahnya melambat agar sejajar dengan Zuam.

“Lagipula, kau harus mengurus adikmu itu...” lanjutnya sambil menatap kantong kulit di tangan Zuam. “Berikan daging itu padanya. Mereka pasti sudah kelaparan menunggu mu lama.”

Zuam mengangguk kecil.

Genggamannya menguat, seolah di dalam kantong kulit itu tersimpan harapan terakhir yang tak boleh jatuh. Saat mereka akhirnya tiba di rumah, tiba-tiba langkah keduanya mendadak terhenti.

Zuam menatap halaman gua rumahnya dengan mata sedikit membelalak—bersih dan rapi. Tidak ada kulit hewan yang berserakan, tidak ada alat pemburu yang tergeletak sembarangan. Bahkan tumpukan hasil samakan kulit tersusun rapi di sisi dinding.

Dan itu sangat jauh berbeda dengan kondisi ia tinggalkan tadi pagi. Liran di sebelahnya ikut terdiam, matanya menyapu sekeliling.

“…Ini rumahmu?” tanyanya pelan, nyaris tak percaya.

Zuam mengangguk kaku.

“Seharusnya… iya.”

Mereka saling pandang.

Siapa yang melakukan ini? Ana—adiknya? Setahu mereka gadis itu tak pernah punya waktu, apalagi kerapian yang sedetail dan seperti ini.

Tanpa berkata apa-apa lagi, keduanya langsung berlari masuk ke dalam gua.

“Ana!” panggil Zuam keras.

Ia berhenti mendadak. Matanya kembali membelalak saat melihat bagian dalam gua pun tak kalah mengejutkan.

Disana, Keranjang anyaman tersusun rapi di sudut. Lantai batu tampak bersih, nyaris mengilap. Di beberapa sisi dinding, tanaman mangrove kecil ditata rapi, membuat gua itu terasa hidup—dan harum, sesuatu yang sama sekali tak pernah ada sebelumnya.

Liran menoleh ke sekeliling dengan ekspresi tak habis pikir.“Wah… ini tidak mungkin Ana yang melakukannya, kan?” katanya setengah kagum, setengah heran.

“Aku tahu adikmu itu ceroboh, Zuam.”

Zuam mendecak pelan, matanya masih sibuk mencari-cari.

“Ana?” panggilnya lagi.

Namun sebelum mereka bisa melangkah lebih dalam tak lama sebuah suara lirih terdengar dari arah pintu gua.

“Oh… kalian ternyata sudah pulang, ya?”

“HUAA!!”

Zuam dan Liran sama-sama tersentak. Keduanya sontak berbalik cepat hingga hampir terjungkal, jantung mereka berdegup keras saat menatap sosok yang berdiri santai di pintu gua.

Seorang gadis dengan senyum kecil di wajahnya—tanaya. Melihat itu mata Zuam dan Liran langsung membelalak.

“Naya?!”

Tanaya hanya memutar bola matanya malas, lalu melangkah masuk tanpa basa-basi sambil membawa panci besar yang masih mengepul. Uap panas naik perlahan, membawa aroma gurih yang langsung memenuhi gua.

Di belakangnya, Ana menyusul sambil membawa beberapa lauk—cemilan umbi goreng renyah, umbi rebus, serta wadah kecil yang berisi buah beri segar.

Mereka berdua menurunkannya perlahan di lantai batu.

“Kak Zuam!!”

Zuam yang masih terpaku oleh kehadiran Tanaya sontak menoleh lagi.

Dari sisi lain, Nula dan Tama ikut masuk sambil tertawa membawa mangkuk kayu berisi air untuk cuci tangan dan beberapa piring kayu kecil. Langkah mereka pelan, tapi rapi—jauh berbeda dari yang biasa Zuam lihat.

Dadanya seketika berdesir.

Adik-adik nya tampak terlihat… bersih. Rambut mereka diikat rapi, wajah mereka tak lagi dipenuhi debu dan minyak. Bahkan pakaian kulit yang mereka kenakan tampak sudah dilap.

Pandangan Zuam kembali beralih ke Tanaya.

“Naya… apa ini kau yang—”

“Ah akhirnya selesai juga... Ayo kita makan dulu,” potong Tanaya riang. Senyumnya tipis, tapi tatapannya menajam saat menatap Zuam dan Liran.

“Setelah itu, baru kita bicara.”

Entah kenapa, nada itu membuat keduanya refleks terdiam. Tanaya lalu menoleh pada Ana.

“Ayo, Ana. Ambilkan lauk untuk kakak dan adik-adikmu."Ia perlahan mengangkat mangkuk yang sudah ia siapkan.“Aku akan bawa sup ini untuk Liya dulu.”

Ia berdiri dan melangkah menuju bagian belakang gua. Tanpa sadar, Zuam langsung mengikutinya.

“Hei, Zuam! Kau mau ke mana?!” seru Liran refleks. Namun Zuam sudah menghilang di balik tirai.

Liran terdiam.

Ia menelan ludahnya saat menyadari kini ia hanya berhadapan dengan Ana dan anak-anak kecil itu. Canggung, sangat canggung. Ana gadis berusia 14 tahun itu mendekat pelan, ia menyodorkan semangkuk umbi berkuah daging ke arahnya.

“Ini, Kak… dimakan dulu.” Ana tersenyum kecil.“Kak Naya yang memasaknya.”

Liran menerima mangkuk itu dengan tangan kaku.“Ah… iya. Terima kasih.”

Ana mengangguk singkat lalu kembali ke adik-adiknya, ia menyendokkan makanan itu dengan sabar. Nula dan Tama makan dengan lahap—terlalu lahap, seolah-olah mereka sudah lama menahan lapar dan akhirnya mendapatkan sesuatu yang benar-benar mengenyangkan.

Liran menatap mereka sejenak, dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.

“Ekhmm…”ia berdeham pelan.“Apa… semua ini Naya yang melakukannya?”

Ana berhenti sejenak. Ia menggigit bibir kecilnya, lalu mengangguk pelan.

“Iya, Kak.”

Liran mengangguk kecil.

Ia mulai makan, perlahan. Rasanya hangat—bukan hanya di lidah, tapi juga di dadanya. Masakan yang di buat Tanaya selalu punya rasa yang berbeda dan gurih... Semua orang pasti akan mudah mengenalnya jika ini Tanaya yang memasaknya.

Namun pandangan Liran malah berkali-kali melirik ke arah tirai tempat Tanaya dan Zuam menghilang.

'Haiss… kenapa mereka lama sekali…'batinnya.

Gua itu terasa hangat dan ramai—namun bagi Liran, justru terasa sunyi, seolah ada sesuatu yang sedang dibicarakan di balik tirai sana… sesuatu yang berat.

“Wah… Liya pintar sekali ya,” seru Tanaya ceria sambil menatap mangkuk kayu yang sudah kosong. “Makanannya habis.”

Gadis kecil itu tertawa kecil, pipinya yang tadi pucat kini mulai merona. Cahaya obor yang menggantung di dinding gua menari-nari di wajah mereka, membuat bayangan hangat di ruang sempit itu. Rumah Zuam memang tak memiliki jendela—meski sudah dibersihkan, udara di dalamnya tetap terasa lembab dan hangat.

Di kejauhan, Zuam berdiri terpaku. Ia menggigit bibirnya pelan, dadanya terasa tidak nyaman oleh perasaan yang sulit ia jelaskan. Ia tak pernah sedekat ini dengan Tanaya. Bahkan dulu… mereka hampir tak pernah berbincang. Tapi kini gadis itu malah ada di sini—membersihkan rumahnya, memberi makan adik-adiknya, dan merawat Liya yang bahkan tak sanggup ia lakukan sendiri.

“Apa makanannya enak?” tanya Tanaya lembut.

Liya mengangguk cepat, mulutnya masih mengunyah keripik umbi di tangannya.“Enak… tapi Liya mau lagi,” katanya polos, mata bulatnya berbinar.

“Mau lagi?” Tanaya tertawa kecil sambil meletakkan mangkuk kosong ke lantai.

“Boleh. Kak Ana tadi masak banyaaak sekali. Nanti Liya boleh makan lagi, ya.”Ia lalu mencondongkan tubuhnya.“Tapi sebelum itu… kita minum obat dulu.”

Tanaya menyodorkan gelas bambu berisi air rebusan rumput Teralin—ramuan untuk menurunkan panas dan meredakan nyeri yang tumbuh di rumahnya. Di dalamnya, Tanaya sempat melarutkan parasetamol sirup anak (obat penurun panas yang aman untuk usia sekitar lima tahun) yang sempat ia ambil dari dunianya sendiri, agar rasanya tidak pahit dan bekerja lebih cepat.

Sebagai mahasiswa kedokteran, Tanaya hafal betul dosis dan kegunaannya. Dan kebiasaannya menyimpan obat dari masa magang kini terasa… sangat berarti.

Zuam melangkah mendekat, matanya penuh tanya. Liya menatap cairan cokelat itu sebentar, lalu meminumnya. Tanaya tersenyum kecil.

“Tidak pahit, kan?”

Liya menggeleng sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, Tanaya membantu gadis kecil itu berbaring kembali dan menyelimutinya dengan kulit binatang yang bersih. Napas Liya mulai teratur, wajahnya tak lagi semerah sebelumnya.

Tanaya melangkah keluar kamar kecil itu—dan Zuam mengikutinya, wajahnya jelas gelisah.

“Naya, tunggu.”

Tanaya berhenti.

Zuam menggigit bibirnya sejenak, lalu menyodorkan sebungkus daging yang dibalut kulit.“Ini… untuk mengganti dagingmu. Terima kasih… untuk semuanya.”

Tanaya tersentak kecil.

“Hais…” ia mendesah pelan, membuat Zuam menatapnya cemas.

“Simpan saja daging itu, Zuam. Kita kan teman.” Suaranya menurun. “Kau seharusnya tidak menyembunyikan ini dariku.”

Zuam membeku.

“Tenanglah..."lanjut Tanaya lembut. “Aku tidak akan memberitahu siapa pun termasuk ayahku."

Ada kelegaan yang jelas di wajah Zuam—diikuti rasa haru yang sulit ia sembunyikan. Namun ia tetap menggeleng pelan.

“Tidak. Ambillah ini." katanya lebih tegas. “Aku berhutang Budi padamu... Buruan sekarang sulit didapat. Musim dingin sebentar lagi. Ambillah sebagai rasa terima kasihku… dan maaf kalau adik-adikku tadi merepotkanmu.”

Tanaya berdecak kecil.“Zuam, sungguh. Aku tidak membutuhkannya.”

Ia mendorong tangan Zuam pelan agar menurunkan bungkusan itu.“Kau simpan saja daging itu untuk beberapa hari ke depan.”

Lalu ia tersenyum—senyum yang terlalu cerah untuk situasi itu.“Dan kalau kau memang ingin berterima kasih… Kau harus mau melakukan satu hal untukku nanti.”

Zuam mengerjap pelan.

“Apa itu…?”

...>>>>To Be Continued....

1
Iin Wahyuni
ayo thor jgn lama2 upnya thor d tunggu trs thor💪
Musdalifa Ifa
jadi penasaran juga deh, apakah itu jodoh Naya pacar Naya di dunia modern?
Lala Kusumah
aaahhhh makasih updatenya ya, aku syukaaaaa, semangat sehat 💪💪💪
Markuyappang
Waduhh sapa tuh yg ngenalin buah buahan ituuu. penasaran dehhhh, apa jangan jangan yg jadi pasangan naya nanti orang tersebuttttt??? hehehheheheee hanya author saja yg tau wkwkwwkwk
Markuyappang
akhirnya setelah 2 hari tanpa up apapunnnn huaaaaaaa
tapi kak, pembacamu ini sepertinya semakin serakah deh karena KURANG BANYAK UPDATENYAA HUHUHUHU bisakah meminta update lagi xixixixixi

terima kasih sudah updateee, semangat trs ya update ceritanyaa selalu ditunggu kelanjutannya
Yani
Author .........
Musdalifa Ifa
Thor tolong up lagi lagi penasaran ini🙏
Yani
di tunggu lanjutan crita nya ya Thorr 🥰🥰🥰
Siska Sutartini
ada apa dg zuam ya? apakah zuam jatuh sakit? lagi upnya dong thor akuu menunggumu thorr😁😁😁
Lala Kusumah
ada apa dengan Zuam ya , duh penasaran 🤔🤔🤔
lanjuuuuuuuuut Mak 🙏🙏
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
apa yang terjadi pada Zuam?
RaMna Hanyonggun Isj
kasih banyak sedikit update nya
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
semangat buat karya nya thor 💪😍🤗
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
geram banget sama mereka bertigaa😤😤
Yani
ayo Thorr update lagi crita nta 🥰🥰
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, semangat Naya pasti bisa buat garam 💪💪🙏🙏👍👍😍😍
Lala Kusumah
makasih updatenya Mak 👍👍👍
Lala Kusumah
kereeeeeennn ibu2ku itu ya 👍👍👍💪💪💪😍😍
Markuyappang
bisa nggak ya di skip tiba tiba kristal putih langsung jadi, jeng jeng jenggg jenggggg. terima kasih sudah update ya thorr

update banyal banyakkk gak sabarnyaaaaaa lihat si haters terdiam melihat naya berhasillllllllllll. aishh ikut deg deg an sampe kristal putih jadiii
anna
bagus siiihhh,tapi sayang sekali nunggu lamaaaaa bangeett upnya ampek lumutan baru nongoooll ,kayak siput 😪😪,sampek lupa jalan ceritanya sangking lamanya
📚Nyxaleth🔮: Baik kak... Tak usahakan.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!