karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran yang Tak Kasat Mata
__________________________________
Udara pagi di kediaman Aethelred biasanya terasa dingin dan formal, namun pagi ini, ada kehangatan yang berbeda yang tertinggal di bantal Annelise. Setelah Reynard mengecup keningnya dan melangkah keluar, Annelise masih bisa mencium aroma maskulin bercampur kayu cendana yang menjadi ciri khas suaminya. Ia menyentuh keningnya sendiri, tempat bibir Reynard mendarat tadi. Ada getaran aneh yang menjalar di dadanya sebuah perasaan aman yang selama ini ia anggap mustahil didapatkan dari pria sekeras Reynard.
"Kau melamun, Anne aku mengetuk pintu dari tadi namun kau tak mendengarnya?" suara lembut Meca membuyarkan lamunannya. Ternyata sahabatnya itu sudah datang dan berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi segelas air lemon hangat.
Annelise tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. "Hanya sedikit pening, Meca. Terima kasih sudah datang sepagi ini."
"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada suamimu," gurau Meca sambil duduk di tepi ranjang. "Dia benar-benar seperti singa yang kehilangan arah hanya karena istrinya sedikit demam."
Annelise tertawa kecil, meski tenggorokannya terasa sakit. Namun, di balik tawa itu, ada secercah kekhawatiran yang muncul. "Meca... tentang toko kue. Reynard bilang dia mengirim orang untuk menjaga toko hari ini. Tapi kau tahu sendiri, pelanggan kita rata-rata adalah ibu-ibu dan anak muda yang suka mengobrol. Aku takut orang kiriman Reynard yang pasti adalah pengawal berjas hitam yang akan membuat mereka takut."
Meca menghela napas, mengusap bahu Annelise. "Fokuslah pada kesembuhanmu, Anne. Urusan toko bisa menunggu. Sekarang, minum ini dulu."
Setelah sarapan Reynard pun kembali ke kamar. "Maafkan aku, sayang. Ada rapat yang benar-benar mendesak di kantor pagi ini, aku tidak bisa menemanimu hari ini," kata Reynard. Suaranya yang biasanya terdengar otoriter kini melembut, membawa nada penyesalan yang tulus.
‘’Aku akan baik-baik saja. Jangan biarkan rapatmu terganggu hanya karena aku sedikit demam," jawab Annelise pelan.
Reynard tidak langsung pergi. Ia membungkuk, lalu mengecup kening Annelise dengan lembut. Kecupan itu lama, seolah ia sedang menyalurkan seluruh kekuatan dan perlindungannya kepada sang istri.
"Istirahatlah. Aku akan segera pulang setelah pekerjaan selesai," bisik Reynard tepat di telinga Annelise sebelum akhirnya melangkah keluar.
setelah Reynard pergi, kamar utama yang luas itu di penuhi oleh suara gelak tawa yang renyah. Annelise duduk bersandar di tumpukan bantal empuknya, sementara Meca duduk bersila di ujung kasur. berberapa jam kemudian suara tawa tersebut diakhir dengan kesunyian karena pemilik kamar tertidur akibat efek obat yang di berikan.
Sementara itu, dua puluh kilometer dari sana, atmosfer di ruang rapat utama Aethelred Group berbanding terbalik dengan ketenangan di kamar Annelise. Ruangan itu kedap suara, berdinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari lantai 50, namun suasananya terasa mencekam seperti di dalam bunker perang. . Sudah 2 jam lebih rapant ini berjalan .
Reynard duduk di kepala meja. Di depannya, Mr. Hoffman dari perusahaan logistik Jerman sedang memaparkan proyeksi ekspansi pasar Eropa. Data- data yang ditampilkan di layar raksasa itu bernilai triliunan rupiah. Biasanya, Reynard adalah orang yang paling teliti, ia bisa menemukan kesalahan satu koma dalam laporan setebal seratus halaman. Namun hari ini, fokusnya hancur.
Pikirannya melayang pada wajah pucat Annelise tadi pagi. Ia membayangkan istrinya menggigil di bawah selimut, atau mungkin terbangun dan mencarinya. Setiap kali iPad-nya bergetar karena notifikasi masuk, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia merasa seperti seorang amatir yang baru pertama kali jatuh cinta, padahal ia selalu membanggakan rasionalitasnya.
Bagaimana jika demamnya naik lagi? Pertanyaan itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Ketika Mr. Hoffman berhenti sejenak untuk meminum air, Reynard langsung berdiri. Seluruh peserta rapat terdiam, menatapnya dengan heran.
"Lanjutkan dengan wakilku, Leonard," ujar Reynard singkat tanpa penjelasan panjang lebar. "Aku ada urusan mendesak yang menyangkut aset paling berharga."
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar menuju balkon ruang rapat yang sepi, meninggalkan para investor yang saling berpandangan bingung. Baginya, "aset berharga" itu bukan lagi saham atau properti, melainkan seorang wanita yang sedang bergelung di bawah selimut di rumah mereka.
Reynard menekan tombol panggil cepat. Napasnya memburu saat menunggu nada sambung.
"Halo, selamat siang Tuan Reynard?" suara Meca terdengar di seberang sana.
"Meca, bagaimana keadaannya? Apakah demamnya sudah turun?" Pertanyaan itu meluncur seperti rentetan peluru. Suara Reynard berat, penuh kecemasan yang tak mampu lagi ia tutupi dengan topeng wibawanya.
"Tuan, tenanglah sedikit," Meca terdengar menahan tawa, yang entah mengapa membuat Reynard sedikit tersinggung. "Annelise tadi tertidur dan baru saja bangun sekitar sepuluh menit yang lalu. Suhu tubuhnya Masih agak hangat, tapi jauh lebih baik daripada tadi pagi."
Reynard menyandarkan punggungnya ke pagar balkon, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya. "Apakah Annelise menginginkan sesuatu? Jika ia ingin makanan atau apa pun itu, minta Bibi Rose untuk membelinya."
"Tidak, Tuan. Begitu membuka mata, yang pertama dia katakan adalah apakah Tuan sudah selesai rapat. Dia sepertinya merindukan Tuan, meskipun dia berusaha menyembunyikannya."
Hening sejenak. Kata-kata Meca menghantam dada Reynard dengan telak. Ada rasa lega yang luar biasa, namun juga rasa sesak karena ia tidak bisa berada di sana saat ini.
"Lalu, apakah dia sudah makan siang? Bibi Rose sudah menyiapkan sup krim kesukaannya, pastikan dia menghabiskannya."
"Sedang saya usahakan, Tuan. Tadi dia hanya mau makan beberapa suap karena katanya mulutnya terasa pahit. Tapi sekarang dia sedang minum air lemon hangat yang Tuan pesankan tadi."
Rahang Reynard mengeras. "Paksa dia makan sedikit lagi, Meca. Bilang padanya kalau dia tidak makan, aku akan membatalkan semua jadwal sore ini dan langsung pulang sekarang juga."
"Baik, Tuan. Saya akan sampaikan 'ancaman' Tuan ini padanya," Meca terkekeh. "Oh ya, Tuan... Annelise juga sempat menanyakan soal toko kue. Dia khawatir orang yang Tuan kirim akan terlalu kaku menghadapi pelanggan."
Reynard mendengus kecil, sebuah senyum tipis nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Katakan padanya, aku mengirim sekretaris pribadiku ia perempuan yang profesional. Dan jika dia masih khawatir, katakan aku akan membeli seluruh ruko di jalan itu agar dia tidak perlu memikirkan pelanggan untuk sehari saja."
"Tuan, tolong jangan berlebihan," protes Meca di telepon sebelum akhirnya mereka mengakhiri pembicaraan.
Reynard mematikan ponselnya. Perasaan gelisah itu belum sepenuhnya hilang, namun kini berganti menjadi tekad.
Reynard kembali melangkah masuk ke dalam ruang rapat dengan aura yang jauh lebih mengintimidasi dari sebelumnya. Jika tadi ia nampak tidak fokus, kini matanya berkilat tajam seperti elang yang siap menerkam. Ia tidak ingin membuang waktu satu detik pun.
Ia menghampiri Leonard, asisten pribadinya, yang sedang berdiri di dekat layar proyektor.
"Leonard, berapa banyak agenda yang tersisa?" tanya Reynard dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Leonard memeriksa tabletnya dengan gugup. "Masih ada pembahasan kontrak dengan pihak Jerman, lalu penandatanganan nota kesepahaman, dan..."
"Persingkat semuanya," potong Reynard dingin. "Aku tidak ingin mendengar retorika yang bertele-tele. Katakan pada pihak Jerman, jika mereka setuju dengan poin utama yang kita ajukan semalam, kita tanda tangani sekarang. Jika mereka butuh waktu untuk berpikir, suruh mereka mengirim surel besok pagi. Aku harus pergi dalam tiga puluh menit."
Leonard tertegun. "Tapi Tuan, ini investasi bernilai jutaan dollar, mereka mungkin merasa tersinggung jika kita terkesan terburu-buru."
Reynard menatap asistennya itu dengan tatapan yang membuat Leonard menciut. "Maka buatlah agar mereka tidak tersinggung. Gunakan efisiensimu. Bereskan semua dokumen teknisnya dalam lima belas menit ke depan. Aku akan memimpin negosiasi akhir secara agresif agar mereka tidak punya celah untuk mendebat."
Reynard kemudian duduk kembali di kursinya, melonggarkan sedikit dasinya, dan mengambil alih kendali pembicaraan. Ia berbicara dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa, memangkas semua basa-basi korporat yang biasanya memakan waktu berjam-jam. Pihak investor Jerman pun tampak terperangah melihat energi intens yang dipancarkan Reynard, mereka tidak punya pilihan selain mengikuti ritme cepat yang ia ciptakan.
Sambil berbicara tentang angka dan distribusi logistik, tangan Reynard diam-diam melirik jam tangannya. Tiga puluh menit, batinnya.
"Leonard," panggil Reynard sekali lagi saat sedang menunggu pihak lawan berdiskusi sejenak. "Pastikan semua laporan sore ini sudah ada di meja kerjaku sebelum aku keluar dari gedung ini. Dan jangan lupa, siapkan mobil di lobi tepat jam dua siang. Tidak boleh terlambat satu detik pun."
"Baik, Tuan," jawab Leonard sigap. Ia segera memberi isyarat kepada tim legal dan staf lainnya untuk bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya. Seluruh lantai kantor itu mendadak sibuk luar biasa, berlomba dengan waktu demi memenuhi tuntutan sang pimpinan yang hatinya sudah tertinggal di rumah.
Bagi Reynard, efisiensi kerja hari ini bukan lagi soal profit, melainkan soal seberapa cepat ia bisa mengganti aroma kertas kantor yang membosankan dengan aroma teh kamomil dan wangi tubuh Annelise.
orang kaya mereka harus membusuk