NovelToon NovelToon
Bunga Plum Diatas Luka

Bunga Plum Diatas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Action / Romantis / Obsesi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NurfadilaRiska

Dibawah langit kerajaan yang berlumur cahaya mentari dan darah pengkhianatan, kisah mereka terukir antara cinta yang tak seharusnya tumbuh dan dendam masa lalu yang tak pernah padam.

Ju Jingnan, putri sulung keluarga Ju, memegang pedang dengan tangan dingin dan hati yang berdarah, bersumpah melindungi takhta, meski harus menukar hatinya dengan pengorbanan. Saudari kembarnya, Ju Jingyan, lahir dalam cahaya bulan, membawa kelembutan yang menenangkan, namun senyumannya menyimpan rahasia yang mampu menghancurkan segalanya.

Pertemuan takdir dengan dua saudari itu perlahan membuka pintu masa lalu yang seharusnya tetap terkunci. Ling An, tabib dari selatan, dengan bara dendam yang tersembunyi, ikut menenun nasib mereka dalam benang takdir yang tak bisa dihindari.

Dan ketika bunga plum mekar, satu per satu hati luluh di bawah takdir. Dan ketika darah kembali membasuh singgasana, hanya satu pertanyaan yang tersisa: siapa yang berani memberi cinta di atas pengorbanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurfadilaRiska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apa yang kau lakukan, Jingnan bodoh!

Angin pagi berembus pelan di sekitar danau kecil di belakang tempat pelatihan Militer Junwei Jun. Permukaan air beriak tenang, seolah menyimpan rahasia yang tak pernah diucapkan. Namun bagi Jingnan, ketenangan itu justru terasa menyesakkan—karena semakin sunyi, semakin keras pula gema rasa malu di dalam kepalanya.

“Cepat katakan,” suara Jingnan meninggi, tajam dan penuh tekanan.

“Jangan hanya diam saja!!”

Tatapan matanya menusuk lurus ke arah Ling An. Diamnya tabib itu benar-benar membuat Jingnan semakin kesal.

Ling An menarik napas dalam-dalam.

“Se… semalam,” ucapnya akhirnya. Ada keraguan dan sedikit ketakutan dalam suaranya, namun Jingnan terus menatapnya tanpa memberi celah untuk menghindar.

Mau tak mau, Ling An mulai bercerita.

......................

Flashback

Malam itu, setelah cangkir arak kesekian dikosongkan, langkah Jingnan mulai goyah.

Wajahnya memerah, matanya setengah terpejam, namun senyum kecil tak lepas dari bibirnya—senyum polos yang jarang ia perlihatkan.

“Arak di sini memang berbahaya…” gumamnya sambil tertawa kecil, lalu kembali meraih botol arak.

Jingyan yang sejak tadi mengamati segera berdiri dan mendekat.

“Jie, cukup. Kau sudah terlalu banyak minum.”

Ia meraih botol arak dari tangan Jingnan, namun Jingnan hanya terkekeh.

“Aku masih ingin minum sedikit, Yanyan… hahaha.”

Ia melangkah tertatih, satu langkah demi satu langkah, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.

Ling An yang berdiri tak jauh refleks menangkap lengannya.

“Hei! Lepaskan aku!!” Jingnan langsung menepis tangan itu—namun justru membuat tubuhnya semakin oleng.

Ia menatap Ling An dengan mata berkabut.

“Kenapa wajahmu… ada dua?” gumamnya polos.

Ia memiringkan kepala, tersenyum tipis.

“Apakah kau… sebenarnya juga kembar? Seperti aku dan adikku, Yanyan?”

Ling An terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan.

“Tidak, Jenderal. Kau hanya mabuk.”

Jingnan menyipitkan mata, berpikir keras. Tangannya terangkat, hampir menyentuh wajah Ling An, namun berhenti di udara.

“Seperti…” gumamnya pelan.

“Seperti orang yang selalu menyembunyikan sesuatu.”

Tubuh Ling An menegang seketika.

“Eh, Jie.” Jingyan cepat menarik tangan Jingnan.

Namun Jingnan justru memeluk lengan adiknya erat-erat.

“Yanyan…”

Tiba-tiba air mata mengalir di pipinya, membuat Jingyan dan Ling An sama-sama terkejut.

“Jie?” Jingyan panik. “Kenapa?”

“Dingin…” suara Jingnan bergetar. “Dingin sekali…”

Ia mempererat pelukannya. Ling An tanpa berkata apa-apa melepas jubah luarnya dan menyelimutkannya ke bahu Jingnan.

Jingyan terdiam, sedikit heran—dan entah mengapa, hatinya terasa perih melihat pemandangan itu.

Namun ia segera membuang perasaan tak jelas itu.

“Aku akan membawa Nannan Jiejie kembali ke kamarnya,” ucap Jingyan pelan sambil menuntun kakaknya.

Belum jauh mereka berjalan, Jingnan tiba-tiba berhenti dan duduk di tanah.

“Aku lelah…”

“Tapi, Jie, kita belum sampai.”

“Biarkan aku tidur di sini saja,” ucap Jingnan sambil hendak merebahkan diri di tanah. Jingyan cepat menahannya.

“Tidak. Kita harus kembali ke kamar.”

“Kakiku sepertinya sudah diganti dengan… kaki kura-kura,” gumam Jingnan asal, mabuk sepenuhnya. “Makanya tidak bisa jalan.”

Jingyan menoleh ke belakang.

“Ling An.”

“Iya?”

“Bisakah kau menggendong Nannan Jiejie ke kamarnya?”

“A… aku?” Ling An menunjuk dirinya sendiri.

“Iya. Apa kau keberatan?”

Ling An menatap Jingnan yang kini tertidur pulas di lengan Jingyan. Ia selalu berusaha menjaga jarak dari Jingnan, namun ia tak pernah tega melihatnya seperti ini.

“Baiklah.”

Ia berjongkok, lalu mengangkat tubuh Jingnan dengan hati-hati. Jingyan berjalan di sampingnya.

Saat mereka tiba di depan kamar Jingnan, langkah mereka terhenti.

“Yanyan Jiejie!” Mei Yin berlari mendekat.

“Ada apa?” Tanya Jingyan. Sedangkan Ling An masih dengan posisi yang sama yaitu menggendong Jingnan.

“Yaoqin Jiejie mengalami kram.”

“Tunggu.” Jingyan menoleh ke Ling An. Tatapan mereka bertemu sejenak—hening, singkat, namun penuh arti.

“Ling An, tolong antarkan Nannan Jiejie masuk ke kamarnya. Aku akan menemui Yaoqin dulu.”

“Baiklah.” Ling An tersenyum tipis.

Namun kali ini Jingyan tak membalas senyum itu. Ia segera pergi bersama Mei Yin, meninggalkan Ling An sendirian dengan Jingnan.

Flashback Off

“Hah?!! Kau… menggendongku?!”

Suara Jingnan meninggi, matanya membelalak tak percaya.

Sedangkan Ling An langsung menunduk.

“Maaf, Jenderal.”

“Benar-benar memalukan…” gumam Jingnan, wajahnya memanas.

Ia mendengus pelan, lalu berpaling sedikit. “Kau pasti salah orang. Mana mungkin aku menangis hanya karena kedinginan.”

Jelas ia sedang mengelak.

“Aku hanya menceritakan apa yang terjadi semalam, Jenderal,” jawab Ling An tenang.

‘Tapi… setidaknya aku tidak melakukan hal yang terlalu bodoh, kan?’ batin Jingnan, mencoba menghibur diri sendiri.

Ling An hendak berbalik dan pergi, mengira pembicaraan telah usai. Namun tiba-tiba—

“Eh—eh.”

Tangan Jingnan menahan pergelangan tangannya.

“Aku masih ingin bertanya sesuatu,” ucap Jingnan, kali ini dengan nada jauh lebih serius.

Ia menatap Ling An lurus-lurus. “Aku tidak melakukan hal lain lagi setelah itu, kan?”

Ia tersenyum tipis—senyum penuh harap.

“Emm…” Ling An ragu. Tatapannya menghindar.

“Kau terlihat ragu,” suara Jingnan langsung menajam. “Kau menyembunyikan sesuatu, ya?!”

“Ti—tidak, Jenderal!” Ling An cepat membantah. “Aku tidak menyembunyikan apa pun!”

“Cepat katakan,” Jingnan menyilangkan tangan di dada, menatapnya tanpa berkedip.

Ling An terdiam sesaat, lalu menghela napas panjang.

“Ba… baiklah.”

Dan untuk kedua kalinya, ia pun kembali membuka ingatan tentang malam itu.

Flashback

Di dalam kamar Jingnan, suasana hening menyelimuti ruangan.

Ling An dengan hati-hati telah menurunkan tubuh Jingnan ke atas kasur. Namun baru saja ia hendak berdiri—

Jingnan tiba-tiba menggeliat, lalu menarik tangan Ling An dengan kuat ke dalam pelukannya.

“Huum… nyaman sekali…” gumamnya dengan mata terpejam, menjadikan Ling An bagaikan bantal guling.

Ling An terkejut bukan main. Matanya membelalak saat tubuhnya tertarik ke sisi Jingnan.

Jantungnya berdegup kencang—terlalu kencang.

Pelukan itu hangat… terlalu hangat.

Hangat yang membuatnya takut pada perasaan aneh yang muncul tanpa izin.

Ia terdiam sejenak. Tangan Ling An sempat bergerak pelan—mengusap rambut Jingnan dengan lembut—namun Jingnan justru semakin mempererat pelukannya, seolah enggan melepaskan.

Kini kepala Jingnan bersandar di dada bidang Ling An, napasnya teratur, dan tertidur pulas.

Dengan sangat hati-hati, Ling An mencoba memindahkan kepala dan tangan Jingnan ke samping agar bisa menjauh.

Namun sebelum ia sempat bangkit dari kasur—

Jingnan kembali bergerak, lalu tanpa sadar meletakkan kepalanya di atas perut Ling An.

Keduanya kini terbaring lurus di atas ranjang, menghadap arah yang berlawanan, terikat dalam jarak yang nyaris tak ada.

Ling An hanya bisa menahan napas.

Flashback Off

Mata Jingnan membelalak lebar.

‘Ini… ini benar-benar memalukan!’

‘Di ujung dunia bagian mana aku harus bersembunyi agar tidak bertemu dengannya lagi?!’ batinnya menjerit.

“Tapi… aku tidak melakukan hal aneh pada Jenderal,” kata Ling An cepat, seolah membaca kegelisahan itu.

“Aku berani bersumpah.”

“Terserah, terserah!” Jingnan langsung mengibaskan tangannya.

“Tapi ingat—jangan sampai kau menceritakan semua ini kepada siapa pun! Ingat itu!”

Ia menunjuk Ling An dengan tatapan tajam.

“I—iya,” jawab Ling An cepat.

Tanpa menunggu balasan, Jingnan langsung berbalik dan berjalan pergi.

‘Apa yang kau lakukan, Jingnan bodoh!’ batinnya mengutuk diri sendiri.

Ia berjalan semakin cepat, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pipinya memerah, panasnya tak kunjung reda.

Sementara itu, Ling An berdiri di tempat, menatap punggung Jingnan yang menjauh.

Senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang bahkan tak ia sadari.

Telinganya ikut memerah.

Dan detak jantungnya… masih belum juga kembali tenang.

Namun ada satu hal yang tidak pernah Ling An ceritakan pada Jingnan—

tentang sentuhan singkat di rambutnya malam itu.

Bukan karena lupa, melainkan karena ia tahu…

dalam dunia penuh pedang dan takdir,

beberapa kebenaran memang lebih aman disimpan dalam diam.

......................

Jingnan mengira malam itu hanya menyisakan mabuk dan rasa malu—tanpa tahu bahwa takdir telah lebih dulu menyentuh hatinya, dalam diam.

1
Annida Annida
lanjut tor
Arix Zhufa
mampir thor
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: Hi kak, makasii udah mampir💙💙💙
total 1 replies
Adis Suciawati
bagus kak
Adis Suciawati
beberapa lagi kakak kontrak nih kak
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: iya kak💙
total 1 replies
Adis Suciawati
lala lama cinta akan datang sendiri nya
Adis Suciawati: ceritanya siga warga China ya kak
total 2 replies
Adis Suciawati
ini kasih nya seperti nama nama orang China ya ka
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: betul kak, ceritanya juga memang china kak💙💙
total 1 replies
Adis Suciawati
bagus kak,kisah nya unik kak
Adis Suciawati: iya kak semoga kisah kita banyak peminat nya ya kak
total 2 replies
Finne•wine (Gak up, awokawok)
Bagus kak mulai ada perkembangan 👍
semangat teruslah aku dukung🔥❤️
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: Makasiii" 💙💙💙
total 1 replies
Finne•wine (Gak up, awokawok)
mantap lah lanjutkan 💪, semangat terus author.
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: Makasii yap💙💙
total 1 replies
Finne•wine (Gak up, awokawok)
aku ngebayangin si Mei Yin🤣
᥍hυׄnxıׂׅ' ᥍ ᵍᶠ › 🎀: Mei Yin cantik" kelakuannya buat geleng-geleng😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!