Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 PERMEN
"Tapi keluarga Damar, jangan sampai di pernikahan nanti kalian mempermalukan keluarga Wicaksana lagi," sindir Jesika sambil menatap sinis ke arah Dirga dan Reni.
"Maafkan hal itu Bu Jesika, karena tidak sengaja lukisan dari Alisha terjatuh," ucap Reni sambil tertawa seolah mencoba mencairkan suasana.
Jesika hanya mendengus sambil memalingkan wajahnya, sedangkan Seyna hanya tersenyum kecil lalu menggoyang goyangkan tangan Kakek Adikara.
"Kakek... Permennya sudah habis, aku mau lagi," ucap Seyna sambil cemberut.
Mendengar itu Reni cepat cepat meminta Risa untuk membawa Seyna ke kamarnya.
"Aduh gadis ini, maafkan kami Kakek Adikara. Karena Seyna berkata sembarangan," ucap Reni sambil menepuk jidatnya.
"Risa, cepat bawa Seyna ke kamarnya," ucap Reni tegas.
Risa hanya mengangguk lalu segera menarik tangan Seyna untuk berdiri dan kembali ke kamarnya.
"Ayo nona Seyna, saya kasih banyak permen kepada nona," ucap Risa.
Seyna segera tersenyum dan berjalan cepat menaiki tangga sambil tersenyum kegirangan.
"Dasar gadis itu, maafkan kami ya," ucap Reni sambil tersenyum.
Melihat Seyna pergi, Kael cepat cepat berdiri dan berkata dengan tegas.
"Saya ingin ke kamar mandi, dimana ya?"
Dirga segera meminta salah satu pelayan untuk mengantarkan Kael, tetapi Kael menolak dan hanya ingin diarahkan saja.
"Kalau begitu, nak Kael. Kamu bisa naik ke lantai dua terus lurus pas dipaling pojok, disana ada kamar mandi yang bersih daripada di lantai bawah," jelas Dirga.
Kael hanya mengangguk lalu segers menuruti intruksi dari Dirga, tapi sebenarnya Kael memang tidak berencana untuk menuju ke arah kamar mandi tapi mencoba mencari dimana letak kamar dari Seyna.
"Dimana kamar gadis itu," gumam Kael sambil menyusuri lorong.
Hingga saat fokus ke arah depan tiba tiba tangannya ditarik oleh seorang gadis yang membuat Kael sedikit terkejut.
"Kakak...kenapa kemari?mau kasih Seyna permen?"tanya Seyna kedua bola matanya membesar seperti anak kucing yang menemukan makanan.
"Eh...siapa kau," Kael yang terkejut segera menoleh dan segera menunduk melihat Seyna yang sedang memegangi tangannya.
"Mana permennya kak," pinta Seyna sambil memperlihatkan gestur meminta.
Kael tidak menjawab, ia seolah tersihir dengan wajah imut dan bibir pink dari gadis itu yang sedang cemberut meminta sebuah permen dari dirinya.
"Kakak...manaa permennya?"teriak Seyna yang membuyarkan pikiran Kael.
"Aku...aku tidak mempunyai permen," jelas Kael dengan gugup.
Seyna memiringkan kepalanya menatap wajah Kael yang memerah, Seyna lalu segera lompat lompat di hadapan Kael untuk menoel hidungnya.
"Kenapa wajah kakak memerah, ayo Seyna obati. Pasti kakak sakit," ucap Seyna lalu segera menarik tangan Kael untuk masuk.
Sesampainya di dalam kamar, Kael nyaris kehilangan keseimbangannya saat tubuh mungil Seyna mendorongnya hingga jatuh duduk di tepi ranjang. Wangi lembut dari rambut gadis itu tercium samar, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Sini duduk baik-baik biar Seyna obati, kakak sakit, apa? ucap Seyna polos, matanya membesar penuh rasa ingin tahu.
Ia berjongkok di depan Kael, lalu tanpa ragu memegang kedua pipinya dengan telapak tangan kecilnya yang dingin, lalu menggoyang goyangkan kepala Kael.
"Kenapa wajah kakak panas begini?" tanyanya dengan nada polos, tapi jarak mereka kini terlalu dekat.
Napas Seyna terasa di wajah Kael, membuatnya refleks menegakkan tubuh. Kael menelan salivanya, mencoba menenangkan dirinya yang anehnya justru semakin gugup.
Ia bukan tipe pria yang mudah digoda apalagi oleh gadis yang dianggap "bodoh" seperti Seyna tapi entah kenapa, sorot mata gadis itu terlalu jujur, terlalu polos untuk dihindari.
"Kau…" Kael berdehem pelan, lalu mengangkat tangannya untuk menahan wajah Seyna agar sedikit menjauh.
"Terlalu dekat, mundur sedikit gadis kecil."
Seyna mengerutkan kening, bibirnya mengerucut seolah ia tidak suka dengan sikap Kael yang mendorongnya.
"Kenapa kakak dorong Seyna? Seyna kan cuma mau bantu…biar kakak ga kesakitan kayak Seyna."
Kael mengalihkan pandangan, menatap ke arah lain agar tidak terlalu fokus pada wajah manis yang kini memelototinya.
"Aku tidak sakit. Dan aku tidak butuh bantuan," katanya pelan namun tegas, berusaha terdengar netral.
Namun Seyna tidak menyerah. Ia mendekat lagi, menatap Kael penuh keyakinan.
"Tidak, kakak pasti sakit. Wajahnya merah sekali seperti tomat," ucapnya, lalu tanpa aba-aba kembali menyentuh dahi Kael dengan dahinya sendiri.
Tubuh Kael menegang seketika. Napasnya tertahan. Dahi mereka menempel, hanya berjarak sehelai rambut. Mata Seyna memejam seperti sedang benar-benar mengukur suhu tubuh, sementara Kael hanya bisa menatapnya diam antara bingung, canggung, dan mungkin terpikat dengan gadis itu.
"Lihat, Seyna benar kan? Kakak demam, ini panas di dahi Seyna," gumamnya polos, lalu dengan spontan meniup pipi Kael, seolah itu bisa membuatnya sembuh.
Kael segera berdiri, melangkah mundur beberapa langkah sambil menghela napas panjang.
"Kau ini... benar-benar tidak tahu malu, ya," katanya, tapi nada suaranya tidak keras lebih terdengar seperti seseorang yang berusaha menahan ketawa.
Seyna malah tertawa kecil, matanya berkilau seperti anak kecil yang berhasil menggoda orang dewasa.
"Seyna cuma pengen kakak sehat. Soalnya kakak baik."
"Baik?" Kael menaikkan alis, menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Iya," jawab Seyna mantap.
"Waktu di pesta, semua orang jahat sama Seyna. Tapi kakak cuma lihat. Nggak marah, nggak tampar Seyna. Itu artinya kakak baik."
Kalimat sederhana itu membuat Kael terdiam. Ada sesuatu dalam suaranya tulus, polos, tapi juga mengandung luka yang dalam.
Untuk pertama kalinya, Kael melihat Seyna bukan sebagai gadis bodoh seperti kata orang. Ada kepedihan yang tersembunyi di balik senyum lugu itu.
Ia perlahan menarik napas, lalu menunduk menatap Seyna yang kini duduk di lantai, memeluk lututnya sambil tersenyum kecil.
"Seyna…" Kael memanggil namanya dengan nada lebih lembut.
Gadis itu mendongak. "Iya, kak?"
Kael menatapnya lama sebelum akhirnya berkata pelan.
"Kau ini… benar-benar aneh."
Seyna malah menatap Kael bingung.
"Seyna aneh?Seyna ga aneh kakak yaang aneh," ucap Seyna tak terima.
Kael tak bisa menahan diri untuk tidak menatap lama wajah itu pipi bulatnya, mata beningnya, dan senyum yang entah kenapa membuat ruangan itu terasa hangat.
Ia akhirnya berdehem, mengalihkan pandangan.
"Aku harus pergi," katanya singkat.
Seyna buru-buru berdiri, menahan tangannya.
"Kakak nggak mau permen dari Seyna dulu?" tanyanya polos.
Kael memandangnya sebentar, lalu menunduk melihat sekantong kecil permen di tangan Seyna. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
"Baiklah," ujarnya sambil mengambil satu permen itu.
"Jangan lupa makan inj tiap hari, nanti kakak sakit lagi," ucap Seyna lembut.
Kael menatapnya untuk terakhir kali sebelum berbalik menuju pintu. Namun begitu ia sampai di ambang, suaranya terdengar lagi pelan tapi jelas.
"Terima kasih, Seyna."
Dan entah kenapa, senyum kecil gadis itu tetap menempel di pikirannya bahkan setelah ia pergi dari kamar itu.
.....
MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH
Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!