perjalanan seorang anak yatim menggapai cita cita nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Tantangan
Perkelahian dengan anak buah Edi ini mungkin hanya permulaan. Ia tahu Edi tidak akan diam. Pengalaman yang di alaminya di 'Pemandangan Panjang' mungkin memberinya keberanian menghadapi ancaman bersenjata, tetapi ini adalah perang kecil yang berbeda, tentang harga diri yang tidak akan selesai dengan satu kali baku hantam.
Saat ia memasuki gerbang asrama, ia melihat lampu di jendela kamarnya menyala. Hadi menarik napas dalam-dalam.
" Mungkin Yuni yang menyalakan lampunya." Ucap Hadi dalam hati
"Dunia luar memang keras," pikirnya. "Tapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menarikku ke bawah."
Malam itu, Hadi tidak bisa tidur, Ia duduk, menatap peta Jakarta yang sudah robek dan kusam. Ia ingin pergi dari Lampung. Ia ingin hidup di tempat di mana keahliannya dihargai lebih dari kekuatan ototnya. Tapi untuk saat ini, ia harus bertahan. Ia meraih obeng kesayangannya, mengusap permukaannya yang halus, dan menjadikannya pengingat: ia adalah teknisi. Dan teknisi yang baik selalu menemukan cara untuk memperbaiki masalah, bahkan masalah yang datang dalam bentuk apapun
Setelah insiden di gang, hidup Hadi di asrama menjadi tegang. Edi, si anak pemilik kontrakan, memang tidak muncul sendiri, tetapi tekanan dari anak buahnya semakin terasa. Mereka tidak lagi mencoba menyerang fisik, melainkan menggunakan intimidasi halus.
Sering pintu rumahnya di timpuk atau, ada coretan tak jelas saat ia sekolah atau bekerja, Ia memilih untuk bersabar. Karena tak memiliki bukti yang kuat, kak Made, dan yang lainnya juga ga melihat siapa pelakunya, Hadi tak bisa berbuat banyak jadinya
Namun kejadian itu membuat perubahan yang kentara pada sikap Hadi yang biasanya ceria, kini seakan memandang orang yang tak di kenalnya dengan pandangan waspada
Kak Mu’i dan Ferry melihat perubahan pada Hadi menjadi bingung.
“Loe kenapa, Di? Kayak ada yang dikejar-kejar,” tanya Ferry saat mereka sedang makan siang di bengkel
Hadi menghela napas.
“Anak buah Edi… mereka nggak mau berhenti ganggu gue, Kak.”
Kak Mu’i menyimak.
“Kenapa nggak lapor ke Bapaknya Edi? Dia pemilik kontrakan, harusnya dia bisa atur anaknya.”
“Percuma, Kak. Bapaknya juga sering diam aja. Dia takut sama Edi, atau dia memang biarin Edi seenaknya,” jawab Hadi. “Gue udah coba hindarin, tapi mereka makin menjadi-jadi.”
Ferry menggebrak meja. “Sialan! Ajak aja baku hantam rame-rame. Kita berdua bantu loe.”
“Nggak, Ferry. Jangan bikin masalah jadi besar. Gue nggak mau Kak Mu’i juga ikut kena imbasnya,” tolak Hadi. “Gue harus cari cara lain.”
Kak Mu’i mengangguk setuju. “Hadi benar. Kita harus main cantik. Edi itu cuma preman kampung, dia pasti punya titik lemah.”
Meskipun demikian, insiden tersebut kembali mengingatkan Hadi pada bahaya yang mengintai di mana-mana. Perbedaan antara bahaya di Pemandangan Malam dan di Gang Dakwah hanyalah skala masalahnya. Di Pemandangan ia adalah pahlawan yang tak disengaja. Di Gang Dakwah, ia adalah target karena menolak tunduk.
Di tengah tekanan itu, Hadi mencari pelarian dalam menuntut ilmu. Ia semakin giat belajar. Ia menghabiskan malam di loteng, buku-buku teknik elektro dan radio berserakan di sekitarnya.
Ia mulai membuat proyek-proyek kecil. Dengan sisa-sisa komponen dari bengkel, ia merakit radio pemancar mini yang hanya menjangkau beberapa blok. Ia juga mencoba memperbaiki semua TV tua yang dibawa ke bengkel yang dianggap "mati total," mengasah keahlian troubleshooting-nya.
Keberhasilannya dalam memperbaiki barang-barang elektronik itu memberikan kepuasan yang lebih besar daripada memenangkan perkelahian. Itu adalah cara Hadi untuk membuktikan nilainya, bukan melalui kekerasan, tetapi melalui kecerdasannya.
Di sekolah, prestasinya menonjol. Guru-guru memujinya karena pemahaman teorinya yang kuat.
Suatu sore, guru praktik Hadi, Pak Tirtayasa, memanggilnya.
“Hadi,” katanya, “Saya lihat kamu punya bakat besar di bidang ini. Kenapa kamu nggak ikut lomba keterampilan siswa tahun depan? Saya yakin kamu bisa menang.”
Hadi, yang terkejut, hanya tersenyum kaku. “Lomba, Pak? Saya nggak tahu kalau ada lomba.”
“Tentu saja ada! Ini kesempatan kamu untuk dilihat oleh perusahaan-perusahaan besar. Kamu bisa dapat beasiswa, Di. Kamu bisa maju di ibukota” ujar Pak Tirtayasa, matanya berbinar.
Kata-kata 'IBUKOTA' terasa seperti bisikan dari takdir. Itu adalah hal yang sangat ia inginkan.
“Saya akan coba, Pak. Terima kasih,” jawab Hadi dengan tekad yang baru.
Waktu terus berjalan. Musim berganti. Tahun baru, membawa serta semangat baru.
Hubungan Hadi dan Ferry semakin erat. Mereka sering begadang di loteng, Ferry bercerita tentang rencana merakit motor balap, sementara Hadi sibuk dengan rangkaian listriknya. Kak Mu’i, seperti biasa, menjadi figur kebapakan yang tenang dan bijaksana.
“Di, ada panggilan mbenerin TV di daerah Garuntang. Tempatnya agak jauh, tapi bayarannya lumayan,” kata Kak Mu’i saat ia baru datang bersama Ferry
“Siap, Kak! Saya berangkat,” sahut Hadi sigap. ia langsung mengganti seragamnya dan memberekan peralatan kerja yang akan di bawanya, obeng, solder, multitester juga beberapa komponen cadangan.
Pekerjaan service panggilan dengan cepat di selesaikan oleh Hadi , karena kerusakan yang ringan
" baiknya aku pulang dulu, mengambil baju, sepertinya lebih baik aku di loteng bengkel dari pada di asrama Intisari" gumam Hadi. ia memutuskan menghindar dulu nanti baru di pikirkan setelah lulus STM yang hanya beberapa bulan lagi
saat Hadi Pulang di bawah pintu kamarnya, Hadi mendapati sebuah amplop terselip di sana. Amplop itu tebal, bukan seperti surat biasa.
" ini tak bisa di diamkan!" geram Hadi saat melihat isi surat itu, ada beberapa Ancaman yang di tujukan langsung padanya , juga tantangan secara langsung
Hadi membakar surat itu, di tempat pembakaran sampah belakang asrama. Niatnya yang awalnya akan menghindar kini berubah akan melawan secara langsung
" Kalau loe jual sekarang gw beli!" geram Hadi, ia menyelipkan pisau Rambo yang di belinya di toko aneka, beratnya lumayan jika tak bisa di tusukan di lempar juga pasti benjol yang terkena
Namun ia menemui Doni, Andri dan Teguh terlebih dahulu, sebagai persiapan, jika satu lawan satu ia tak perlu takut tetapi jika keroyokan maka mereka yang akan turun tangan
" Apa Di! ada yang nantang loe?!" teriak Doni kaget
" Pemilik kost kemaren sempet ribut, sekarang malah nantang" sahut Hadi
" Dah lama, rempug aja langsung" geram Teguh yang memang berangasan
" Sabar dulu, kita ikuti dulu permainan dia, kalau dia keroyokan baru kalian turun" cegah Hadi.
" ok kita ikutin rencana loe " ucap Teguh, " tapi kali ini gw bawa pasukan, kalau dia ga ikuti seperti tantangannya gw habisi mereka" lanjut Teguh
" Iya gw juga ga akan diem aja" timpal Andri
" ok, ok kapan tantangannya!?" tanya Doni
" Besok Malem, di lapangan Unila" sahut Hadi
" kalau begitu ya udah kita siapin dulu temen temen kita" seru Teguh
Malam itu mereka berembug menyusun rencana agar tak termakan rencana licik Edi, yang memiliki banyak anak buah karena kekayaan ayahnya