DISCLAIMER : Ini bukan kisah tentang sweet romance tetapi DARK ROMANCE...
Jadi bersiap-siap menjadi tegang dan gemas
Berawal dari kisah cinta semanis madu, pasangan Aris-Ana menikah. Dengan berjalannya waktu kisah manis cinta mereka berubah menjadi semakin pahit dan mencekam.
Ana dibuat hancur berkeping-keping karena pernikahannya. Semakin hari semakin mencekam dan tidak masuk akal.
Apakah yang harus Ana lakukan? Bertahan dia akan hancur. Berpisah ibu dan anaknya lah yang hancur. Adakah pilihan lain baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frans Lizzie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Ghosting lagi
Hari-hari berlalu lagi sejak kejadian telpon memalukan itu.
Ana sudah tidak begitu gigih lagi untuk mencari informasi tentang Aris.
Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Aris memang harus fokus dengan pekerjaannya. Apalagi masa-masa audit, adalah lumrah kalau semua harus lembur dan kerja keras agar bisa selamat lolos audit.
Jadi Ana lanjut meneruskan hidupnya dengan bekerja seperti biasa. Berusaha menjawab setiap pertanyaan soal hubungannya dengan Aris sebisa dan senetral mungkin.
Siang itu, Ana bertemu Hendra saat pemuda itu baru saja masuk melalui pintu depan mess. Tampaknya dia baru saja pulang kerja shift malam.
Karena hari itu Sabtu, jadi Ana sedang libur.
“Hai Hendra,” sapa Ana ramah. Mereka belum sempat mengobrol lagi sejak pulang dari Tanjung Pinang.
“Oh hai. Mau ke mana, Ana?”
“Cari makan,” jawab Ana. “Coba cari ke tempat lain. Sekalian jalan-jalan dan cuci mata.”
“Oh, Dita sudah berangkat ke Jerman ya?” tanya Aris. Ia tahu Ana sering bepergian bersama Dita.
“Iya, pas aku di Tanjung Pinang.”
“Aku ikutlah. Aku mau juga cari makan di luar,” kata Hendra tiba-tiba. “Tapi aku sekedar ganti sandal dulu ya di kamar. Juga mau taruh tas ini.”
“Gak mandi dulu sekalian?” tanya Ana.
“Aku sudah mandi tadi di loker karyawan. Tinggal ganti sandal. Sama ambil duit lagi.” Hendra terkekeh. “Maklum Pak Bos ga ada. Nggak ada yang ngebos-in.”
“Oke,” angguk Ana setuju. “Kutunggu di sini ya.” Ana menunjuk sofa yang ada di ruang kumpul mess yang ada TV-nya.
Hendra bergegas menuju ke kamarnya di sayap kanan mess.
Tak lama kemudian Hendra sudah balik lagi.
Mereka pun keluar mess berdua.
Di perjalanan mereka memutuskan untuk makan prata daging di restoran India karena kebetulan mereka melewati.
Sambil menunggu pesanan makanan datang, Ana membuka pembicaraan tentang hal yang sudah mengganggu pikirannya selama minggu ini.
“Hendra, sebetulnya aku merasa tak nyaman lho, seminggu terakhir ini jadi sumber gunjingan di antara karyawan hotel begini.” Ana membuka percakapan.
Hendra tertawa, “Ah biasa itu Ana. Semua orang hotel itu hobi ngerumpi. Tiap saat selalu ada saja yang menjadi trending topik.”
“Iya aku juga paham sih kebiasaan orang hotel. Cuma yang bikin aku bertanya-tanya, kok ya bisa kabar begitu cepat menyebar padahal aku kan diam-diam saja. Tidak sampai 24 jam lho sejak kami sampai ke Batam. Dan semua orang sudah tahu. Hendra tahu kabar kalau aku dan Mas Aris pacaran itu dari siapa? Dari Mas Aris ya?”
“Ah, tidaklah” jawab Hendra cepat. “Saat engineering briefing Minggu sore kami, semua orang sudah heboh menceritakan hal itu. Bahkan Pak Syamsul yang in charge menggantungkan Pak Aris yang cuti pun ikutan heboh bersama semua kru.”
“Minggu sore?” ulang Ana dengan heran. Itu adalah waktu yang hampir sama dengan saat mereka mengatakan akan saling berhubungan serius di Tanjung Pinang?
Kok bisa?
Masa sih di tubuh mereka dipasangi penyadap?
Tidak mungkin kan?
Aneh.
“Jadi Hendra tidak tahu siapa yang pertama kali memberitahu masalah ini?” tanya Ana menegaskan.
Hendra menggelengkan kepalanya.
“Memang ada masalah ya Ana. Ana inginnya disembunyikan dulu gitu ya?”
“Ya bukan begitu juga sih.”
“Tapi Ana, sebelumnya sudah banyak yang tahu lho kalau Ana berangkat bersama Pak Aris ke Tanjung Pinang. Lalu kemudian hari Sabtunya aku sudah kembali masuk bekerja. Sedangkan kalian belum. Bisa jadi mereka menarik kesimpulan sendiri.”
Ana merenung sambil meneguk jus semangkanya. “Iya bisa juga begitu. Wah. Kok aku jadi merasa seperti artis terkenal yang segala gerak-gerikku dipantau semua orang.”
“Kan Ana memang artis,” sambung Hendra sambil tertawa. “Artisnya Hotel Atlantic. Banyak yang suka sama Ana. Para jomblowan saling bersaing mendapatkan Ana. Mana ada kabar Ana masih fresh sama sekali belum pernah terjamah cowok. Wah makin getol tuh jomblo-jomblo hotel Atlantic.”
“Ah. Kalian ini…, gitu aja heboh bangetlah.” Ana jadi malu tersipu-sipu.
Lalu timbullah keisengan Ana. Terus terang, Ana selalu merasa nyaman dan klop dengan Hendra.
“Termasuk Hendra juga kali,” goda Ana sambil menaik-turunkan alisnya berkali-kali. “Ada yang bilang lho, kalo Hendra naksir aku.”
Hendra langsung tertawa terbahak-bahak.
“Aku sadar diri Ana,” kata Hendra setelah tawanya reda. “Udah aku ini cuma kroco. Posisi Ana di hotel pun lebih tinggi daripada aku. Yang mau sama Ana jauh lebih lebih lebih hebat daripada aku. Jadi lebih baik aku mundur dan berteman saja dengan Ana.”
“Ow, jangan minder gitulah Hendra. Hendra itu laki-laki yang sangat baik, tulus, dan juga Hendra sangat manis lho wajahnya. Bener sungguh.”
Hendra mencibirkan bibirnya. “Huh, baik, tulus, manis…. tapi nyatanya Ana lebih memilih Pak Aris. Bukan aku.”
Wah!
Ana mati kutu. Waduh, dia harus jawab apa kalau begini.
Hendra tertawa geli melihat Ana mati kutu.
“Sudah. Sudah Ana, jangan jadi sungkan begitu,” kata Hendra menenangkan. “Jangan kuatir. Aku ini orang yang berjiwa besar. Masalah begini tidak akan membuatku patah hati.”
Ana langsung mengacungkan kedua jempolnya kepada Hendra.
“Hendra memang.. awesome.”
“Kalau Pak Aris, apanya yang awesome, Ana?” tanya Hendra usil. “Badan Pak Aris awesome kan?”
Ana memandang dengan tatapan julid ke Hendra.
“Itu rahasia dapur dong.”
Hendra langsung tertawa terbahak-bahak lagi. Ah, Ananya yang kalem sudah ada kemajuan, pikir Hendra. Dia tak mudah grogi lagi saat digoda dan diledek dengan kolega-kolega hotelnya yang ekspresif.
Untuk lebih mencairkan keadaan, Hendra menambahkan, “Yang sudah pasti, dompetnya Pak Aris awesome ya Ana. Insyaallah, bisa membuat hidup Ana lebih mudah ke depannya.”
“Amin,” sahut Ana.
Mereka masih asyik memotong prata mereka rapi-rapi sebelum masuk mulut, saat tiba-tiba telepon Ana berdering.
Aris!
Terpampang di layar hp Ana.
Akhirnya, setelah hampir 1 minggu.
“Halo Mas.”
Ana terdiam mendengarkan.
“Lagi makan prata ini di luar bareng Hendra.”
Ana diam mendengarkan lagi. Lalu wajahnya berubah menjadi serius.
“Apa? Sebentar lagi?” Mulut Ana ternganga lebar. “Kenapa mendadak sekali?”
Ana tidak sanggup meneruskan protesnya karena tampaknya Aris yang memotong perkataan Ana.
“Oke, baik, baik. Aku akan segera pulang dan bersiap. Bye.”
Hendra menatap Ana dengan kedua alis terangkat. Kira-kira artinya, ada apa?
“Mas Aris akan mengajak aku ke Tiban, ke rumah mbaknya itu. Tapi harus sekarang, saat ini juga.
Tanpa pemberitahuan lebih dahulu, agar aku bisa bersiap-siap.” Ana mengeluhkan kebiasaan Aris yang segala sesuatu selalu dadakan.
“Prataku sudah habis,”kata Hendra. “Bungkus saja saja prata Ana. Pak Aris, orangnya memang begitu, sering segala sesuatu serba last minute dan harus jalan.”
Ana memandang Hendra. Iya betul juga kata Hendra, Ana jadi sadar. Mas Arisnya memang seperti itu.
Sudahlah berarti memang sudah sifatnya. Ayo stop overthinking, suruh Ana kepada dirinya sendiri.
Mereka berdua kembali berjalan cepat balik ke mess. Hendra langsung menuju kamarnya di lantai 2 sayap kanan, dan Ana ke kamarnya di lantai 2 juga namun di sayap kiri.