NovelToon NovelToon
Pertarungan Cinta

Pertarungan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Menikah dengan Musuhku / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Aliansi Pernikahan / Konflik etika
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mrlyn

Dua keluarga yang semula bermusuhan akhirnya memutuskan menjalin aliansi pernikahan.

Posisi kepala negara terancam dilengserkan karena isu menjual negara pada pihak asing disaat perbatasan terus bergejolak melawan pemberontakan. Demi menjaga kekuasaan, Sienna sebagai putri bungsu kepala negara terpaksa menerima perjodohan dengan Ethan, seorang tentara berpangkat letjen yang juga anak tunggal mantan menteri pertahanan.

Bahaya mengancam nyawa, Ethan dan Sienna hanya bisa mengandalkan satu sama lain meski cinta dari masa lalu menjerat. Namun, siapa sangka orang asing yang tiba-tiba menikah justru bisa menjadi tim yang kompak untuk memberantas para pemberontak.

Dua dunia yang berbeda terpaksa disatukan demi mendapatkan kedamaian. Dapatkah mereka menjadi sepasang suami-istri yang saling menyayangi atau justru berakhir saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 (Rasa memiliki)

Sienna berlari dengan tergesa-gesa begitu mendengar kabar kalau Ethan dan pasukannya telah kembali ke barak.

Gerimis sama sekali tidak menghalangi langkahnya. Udara dingin berembus cukup kencang terasa menusuk, tapi Sienna terus berlari menyusuri lorong terbuka menuju ruang kesehatan. Kedua pengawalnya tertinggal di belakang, kalah cepat dengan Sienna.

Perasaan khawatir itu memberikan dorongan lebih kuat untuk cepat-cepat memastikan keadaan suaminya.

Mengintip dari jendela ke dalam ruang darurat, ada Gion dan Iyan yang terbaring di sana ditemani dengan Harry, tapi tidak ada Ethan. Sienna kembali melanjutkan langkahnya, mencari keberadaan Ethan hingga ke ruangan yang paling pojok.

"Eth-"

Suara Sienna menghilang bersama semilir angin. Tubuhnya membeku di ambang pintu menyaksikan Siren memeluk Ethan sambil menangis.

Inikah yang lelaki itu sebut-sebut jangan berkhianat?

Tangan Sienna meremas ujung gaunnya.

"Sienna...." Ethan akhirnya menyadari kehadiran istrinya. Ia tanpa ragu mendorong tubuh Siren lalu melompat turun dari atas ranjang rawat dan langsung menghampiri Sienna.

Saling memandang tanpa langsung bicara. Lidah mereka sama-sama keluh. Rasa sesak menekan dada.

"Sienna, aku-"

"Syukurlah kamu masih hidup."

Dingin. Kekecewaan tersirat dari cara Sienna menatap Ethan. Ia lantas melirik ke arah Siren yang berdiri angkuh di belakang sana. Seakan menegaskan jika Ethan masih menjadi miliknya meski apa pun statusnya.

Tarikan napas Sienna terdengar berat. Ia kemudian memilih pergi, enggan menyaksikan drama percintaan yang belum usai.

"Sienna, tunggu... jangan salah paham," panggil Ethan mencekal pergelangan tangan Sienna. Namun, Siren turut menahannya.

Ethan menoleh, menatap Siren yang begitu berani memegangi lengannya di hadapan Sienna. "Kita masih belum selesai, Eth...."

Muak. Sienna memilih menarik tangannya. Namun, kali ini bukan untuk pergi, melainkan untuk menghampiri Siren.

"Terima kasih sudah mengobati suamiku," ucap Sienna yang tanpa ragu melepaskan tautan tangan Siren, lalu mengambil posisi di hadapan Ethan seakan dengan sengaja memisahkan jarak antar suaminya dan mantan kekasihnya itu.

Ketegangan menggantung di udara, orang-orang yang berada di sekitar bangsal hanya bisa diam-diam saling lirik tanpa ada yang berani menggunjing.

"Ada yang masih belum diobati, Dokter?" tanya Sienna tenang cenderung dingin. Caranya menatap seolah mengejek. Jelas Ethan telah selesai diobati.

"Ethan, dia-" Lidah Siren mendadak keluh ketika Ethan tanpa ragu menggapai tangan Sienna dan menggenggam erat.

"Terima kasih, Dokter Siren...," ucap Ethan lalu kemudian menggandeng Sienna pergi meninggalkan area kesehatan.

Tiba di lorong terbuka yang sepi, Sienna langsung menarik tangannya dengan kasar.

"Sudah tidak ada orang, tidak perlu berpura-pura mesra lagi," ucap Sienna ketus. Ia melangkah lebih dulu melewati Ethan begitu saja.

Namun, laki-laki itu tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. "Maaf," bisiknya pelan.

"Jangan marah," pinta Ethan lembut.

Sienna tidak menjawab. Ethan kemudian melepaskan pelukannya. Ia memutar tubuh Sienna agar menghadap ke arahnya lalu menatapnya dalam.

Terlihat garis mata Sienna memerah, menandakan sebanyak apa gadis itu menangis. Ia bahkan tidak memakai alas kaki. Tanpa perlu menjelaskan, Ethan sudah tahu seberapa khawatir Sienna padanya.

"Aku salah, tidak seharusnya aku membiarkan dia memelukku... tidak seharusnya juga aku membiarkannya merendahkan diriku sore tadi. Maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."

Sienna memalingkan muka, tanda jika ia enggan menanggapi permohonan maaf suaminya.

"Perutku kena peluru tadi," ucap Ethan seraya menyibak bajunya dan memperlihatkan perban di pinggangnya.

Cara itu berhasil menarik perhatian Sienna meski gadis itu masih tetap diam.

"Sakit," lirih Ethan memelas.

Meski ragu-ragu, tapi tangan Sienna perlahan terulur menyentuh perban yang sedikit rembes itu. Noda darah terlihat samar. Ketika ujung jari Sienna menyentuhnya, Ethan refleks meringis.

"Maaf," ucap Sienna menarik tangannya menjauh.

"Sakit, sayang...." Ethan mendekat seiring dengan Sienna yang mengambil langkah mundur.

"Sayang? Dia panggil aku apa barusan?" Sienna masih belum sempat mencerna situasi saat Ethan terus mendesaknya.

Sorot mata laki-laki itu menatap kedua kaki Sienna yang sedikit kotor dan memerah. Ia lantas tidak sungkan untuk berjongkok lalu menyeka kaki Sienna dengan sapu tangannya.

"Ethan, apa yang kamu lakukan?" tanya Sienna gugup, ia ingin menghindar, tapi tiang penyanggah lorong terbuka menahannya.

"Kemana sepatumu, hm?" tanya Ethan mendongak.

Sienna ingat sepatunya terlepas karena terlalu terburu-buru, ia bahkan tidak berpikir untuk mengambilnya karena ingin cepat-cepat menemui laki-laki yang kini berjongkok di hadapannya.

Namun, terlalu gengsi untuk menjelaskan. Sienna memilih tidak menjawab.

Selesai membersihkan kaki Sienna, Ethan langsung menggendong tubuh mungil istrinya itu dengan satu tangan.

"Turunkan aku, Eth... lukamu bisa terbuka lagi," pinta Sienna meronta.

Ethan sedikit meringis dan berkata, "Tenang, sayang... kalau kamu terus bergerak, lukaku terasa semakin sakit."

"Makanya turunkan aku, Eth."

"Apa yang akan aku katakan pada ayah mertua kalau dia tahu jika kaki putri kesayangannya ini lecet? Bisa-bisa aku dijebloskan ke penjara."

"Jangan berlebihan, Ethan... Ayah tidak mungkin seperti itu."

"Ya, ayahmu mungkin tidak, tapi bagaimana dengan Arthur? Dia bisa saja berkonspirasi dan membuatku dikirim jauh ke perbatasan negara timur."

"Astaga, Kakakku sama sekali tidak memiliki power sebesar itu dalam politik! Kecuali kamu adalah pebisnis, bisa saja dia membuatmu bangkrut dalam semalam."

Ethan mengulas senyum. Mungkin Sienna tidak sadar, tapi percakapan ini sedikit mempersempit jarak di antara mereka semula jauh.

"Lalu bagaimana dengan diriku sendiri? Bagaimana caraku menghukum diri ini karena telah membiarkan kaki indah istriku terluka?"

Pipi Sienna terasa panas, lembut hangat ucapan Ethan membuat jantungnya berdebar. Tahu jika Sienna mendadak gugup, Ethan dengan sengaja mempercepat langkahnya menuju rumah mereka.

Tiba di rumah, Ethan menurunkan tubuh Sienna di atas sofa. "Tunggu sebentar."

Ethan begitu gesit pergi ke dapur untuk mengambil air dalam wadah beserta kotak obat lalu kembali menghampiri Sienna.

"Ethan, istirahat saja... aku bisa mengobati lukaku sendiri, lagipula ini tidak seberapa."

Ethan berdecak. Ia mendongak, tatapannya seakan enggan diganggu membuat Sienna akhirnya hanya bisa menurut.

Ethan membasuh kedua kaki Sienna dengan air hangat, membersihkannya lalu mengeringkannya. Setelah itu ia duduk di sebelah Sienna dan meletakkan kedua kaki gadis itu di atas pangkuannya.

Ada beberapa goresan di telapak kaki Sienna. Obat dioleskan dengan hati-hati. Adakalanya membuat Sienna meringis.

"Apa sakit?"

"Perih...."

Ethan mendekatkan wajahnya lalu meniup luka di telapak kaki Sienna.

"Ethan, jangan seperti ini... aku merasa lancang," pinta Sienna menarik kedua kakinya. Namun, dengan mudah Ethan menariknya ke posisi semula.

"Aku belum selesai."

Tidak, Ethan sebenarnya sudah selesai. Semua ini hanya trik kecilnya agar bisa membujuk Sienna.

"Bahkan kakimu juga indah," gumam Ethan, sengaja mencengkeram telapak kaki Sienna.

"Eth...." Awalnya mungkin Sienna hanya gugup dan merasa tidak enak hati atas perlakuan Ethan, tapi kini berubah menjadi tegang. Sentuhan kasar itu kontras dengan kelembutannya.

"Kenapa? Apa sakit?"

Sienna tidak menjawab, ia menggigit bibir bawahnya menahan dorongan resah. Darahnya berdesir, tubuhnya terasa panas, tapi bukan karena cuaca yang pengap sebelum hujan turun dengan deras melainkan karena keberadaan Ethan dan setiap sentuhan kecilnya. Tatapan mata lelaki itu terasa lain, dalam, syarat akan makna yang sulit Sienna pahami sementara senyumannya memabukkan.

"Apa kamu masih marah?" tanya Ethan masih dengan posisi yang sama, memijat pelan tumit Sienna.

"Kenapa kamu membiarkan dia memelukmu?"

"Semuanya terjadi begitu cepat, aku terkejut. Tangisannya membuatku tidak tega."

"Jadi aku boleh menangis dalam pelukan laki-laki lain?"

Ethan menarik tubuh Sienna agar lebih dekat dengannya. "Aku salah... tidak akan aku ulangi lagi. Jadi, jangan membalasku dengan cara yang sama."

Sienna mengulas senyum kecut. "Tidak adil."

"Oh, ayolah... aku sudah sering membunuh musuh, membunuh satu orang lagi yang berani mengambil keuntungan darimu tentu mudah bagiku."

"Kamu sedang mengancamku, Kapten?"

"Benar, Tuan putri...."

Sienna mendengus. Ia lantas menurunkan kedua kakinya. "Tidak adil."

Ethan tahu jika Sienna sudah tidak lagi marah padanya. Namun, ia tetap membujuknya, memeluknya dari belakang dengan begitu erat.

Awalnya Sienna mungkin memberontak, tapi pelukan hangat yang Ethan berikan membuainya.

"Jangan terlalu dekat dengannya, Eth... aku takut kamu akan meninggalkanku demi dirinya."

"Bukan karena cemburu?"

Lagi-lagi Sienna enggan menjawab. Ia lantas melepaskan kedua tangan Ethan dari pinggangnya lalu beranjak bangun, tapi Ethan malah menariknya jatuh ke pangkuan.

"Aku sungguh tidak tahan, Sienna... menghadapi musuh jauh lebih mudah daripada menghadapi kemarahanmu. Jangan merajuk lagi, please...."

Sienna terdiam sejenak. Ikatan pernikahan ini menjeratnya, membuatnya merasa memiliki Ethan. "Aku tidak suka berbagi, Eth...."

"Aku tidak akan membagi diriku untuk siapa pun selain kamu."

Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Sorot mata menjelaskan segalanya. Tenang dan perlahan, Ethan mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Sienna singkat cukup untuk membuat Sienna terkejut.

"Boleh aku cium lagi, sayang?"

...

1
HF Love Island
lanjuut d tunggu up nya kk
HF Love Island
aaa ceritanya baguus crazy up kk semangat terus😍d tunggu up selanjutnya 💪💪😍
Mrlyn: Makasih kakak🫶🏻
total 1 replies
knovitriana
update Thor jangan lupa mampir
Mrlyn: ditunggu kak🫶🏻
total 1 replies
knovitriana
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!