Rania Vale selalu percaya cinta bisa menembus perbedaan. Sampai suaminya sendiri menjadikannya bahan hinaan keluarga.
Setelah menikah satu tahun dan belum memiliki anak, tiba-tiba ia dianggap cacat.
Tak layak, dan tak pantas.
Suaminya Garren berselingkuh secara terang-terangan menghancurkan batas terakhir dalam dirinya.
Suatu malam, setelah dipermalukan di depan banyak orang, Rania melarikan diri ke hutan— berdiri di tepi jurang, memohon agar hidup berhenti menyakitinya.
Tetapi langit punya rencana lain.
Sebuah kilat membelah bumi, membuka celah berisi cincin giok emas yang hilang dari dunia para Archeon lima abad lalu. Saat Rania menyentuhnya, cincin itu memilihnya—mengikatkan nasibnya pada makhluk cahaya bernama Arven Han, putra mahkota dari dunia lain.
Arven datang untuk menjaga keseimbangan bumi dan mengambil artefak itu. Namun yang tak pernah ia duga: ia justru terikat pada perempuan manusia yang paling rapuh…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GazBiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan kesaktian
“Pastikan,” kata salah satu dari mereka dingin.
Seorang pria lain menyeringai, mengokang pistol. “Kali ini aku yang menembak kepalanya. Kalian jadi saksi.”
Ia meludah ke tanah, “Cuih! — Jangan sampai dia hidup lagi.”
Yang lain tertawa pendek.
“Kalau perlu, potong sebelah tangannya. Bawa sebagai bukti.”
Langkah mereka semakin dekat, logam senjata berkilat di bawah cahaya hutan. Rania ada di sana… mereka yakin itu.
Salah satu dari mereka meraih pintu mobil yang terbalik. Dengan tenaga penuh, ia menariknya—
BRGUH!
Mobil itu kini terbuka ke langit.
Namun— Kosong. Hanya ada tubuh sopir yang tak sadarkan diri. Tidak ada darah Rania. Tidak ada Arven.
“Apa…?”
“Tidak mungkin.”
“Mereka ada di sini barusan!”
Wajah mereka tersentak bingung, saling menatap tak habis pikir, lalu mencari kesekitar… namun tak ada jejak keluar dari mobil itu.
Sementara itu—Rania dan Arven muncul di tempat lain.
Rania terengah, dadanya naik turun tajam, matanya masih terpejam menahan takut bercampur kaget. Namun di bawah tanah dingin menyentuh telapak kakinya. Udara berbeda—lebih berat, lebih sunyi.
Rania membuka mata—menatap ke lantai, tenyata itu tanah basah dan kakinya hanya memakasi satu heels saja—sisanya tertinggal di mobil.
Ia mendongak panik, menatap wajah tampan yang masih mendekapnya—melindunginya.
“Arven—!”
Pria itu menunduk—mengalihkan pandangan dari waspada ke tenang, meski napasnya masih berat, seolah baru saja menarik mereka keluar dari kematian.
“Ada yang sakit?” tanya Arven pelan, nyaris berbisik, segera memeriksa tubuh mungil yang hanya memakai sebelah heels saja.
“Di mana… ini?” suara Rania gemetar.
Arven kembali menatap sekeliling, “Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.
Udara terasa lebih dingin saat kaki mereka menyentuh tanah. Tidak ada dentuman. Tidak ada suara logam. Hanya desir angin dan bau tanah basah.
Mereka berada di sebuah hutan.
Pepohonan menjulang rapat, menyisakan jalan setapak sempit di antara akar-akar tua. Tak jauh dari sana, bunyi air mengalir terdengar—tenang, hampir menipu, seolah dunia barusan tidak pernah runtuh.
“Kita… di mana?”
Rania kembali bertanya—suaranya gemetar. Lututnya masih bergetar hebat.
Arven menoleh. Pandangannya langsung jatuh ke dahi Rania. Darah tipis mengalir di sana.
“Maaf…” ucapnya lirih.
Ia mengangkat tangan, jemarinya bergetar saat menyentuh udara di dekat luka itu. Ia memejamkan mata, memanggil sesuatu yang selama dua abad selalu menjawab.
Namun kali ini, tidak terjadi apa-apa.
Tidak ada cahaya. Tidak ada panas. Tidak ada pemulihan. Matanya membesar, ia tidak bisa menyenbuhkan luka itu. Napasnya tertahan—panik.
Sekali lagi ia mencoba. Lebih keras. Lebih dalam. Namun tetap… kosong.
Rania menatap wajah Arven yang tak lagi tenang. Ada sesuatu di sana yang belum pernah ia lihat sebelumnya—ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
“Duduk di sini,” kata Arven akhirnya, suaranya lembut tapi tergesa. “Aku akan mengambilkan air untukmu.”
Ia berpaling cepat, berjalan menuju arah suara sungai yang mengalir tak jauh dari sana. Rania tahu ia tidak pergi untuk air—Ia menghindar.
“Apa yang sebenarnya terjadi…?” gumam Rania pelan.
Dengan lutut masih gemetar, ia berdiri. Setiap langkah terasa berat, tapi ia tetap mengikutinya.
Di depan, Arven berjalan sedikit sempoyongan. Bahunya masih tegap, tubuhnya tetap kokoh—namun ada sesuatu yang retak di baliknya. Bukan karena benturan mobil. Bukan karena luka fisik.
Karena panik. Sebagian besar kekuatannya hilang, dan itu seharusnya mustahil. Ada yang salah, pikir Arven. Sangat salah.
Ia mencoba merasakan dunia—arus energi, denyut waktu, napas alam yang biasanya selalu ia kenal. Namun semuanya terasa asing, bisu, seolah ia telah dicabut dari sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.
Ia tidak menemukan jawaban apa pun.
Suara air sungai yang terus mengalir. Dan langkah kaki Rania di belakangnya—pelan, tapi menolak ditinggalkan.
Di hutan sunyi itu, untuk pertama kalinya Arven menyadari —mungkin ini alasan Eldarion marah saat ia mendekati mahluk bumi. Tanya getir di hatinya muncul, apakah ia masih makhluk abadi… atau hanya seorang pria yang akhirnya bisa kehilangan segalanya.
Arven berhenti.
Tangannya menempel di batang pohon besar di sampingnya—kasar, dingin, tua. Ia memejamkan mata, mencoba mendengar sesuatu yang selama ratusan tahun selalu hadir. Bisikan tanah. Napas hutan. Ingatan akar.
Namun tetap tidak ada apa-apa—tetap sunyi.
Dadanya mengencang. Napasnya tercekat. Panik merayap perlahan, mencekik hingga ke leher. Matanya memerah, berkaca-kaca—bukan karena luka, tapi karena kehilangan yang tak bisa ia jelaskan dengan kata.
Tiba-tiba—sebuah tangan mungil menyentuh bahunya. Lembut... Hangat.
“Arven…”
Suara Rania memanggilnya pelan, penuh kehangatan. Arven membalik cepat, refleks. Takut. Ia tak ingin Rania melihat ini—melihat dirinya tanpa pegangan, tanpa kuasa.
Namun terlambat, Rania sudah melihatnya. Wajah Arven yang sendu, jelas. Mata bening yang biasanya tenang kini menahan sesuatu yang nyaris tumpah.
*
Terima kasih sudah mengikuti kisah ini. Jangan lupa kasih bintang terbaik dan ulasan manis ya. Setiap komentarmu adalah seperti percikan api yang bikin semangatku menyala untuk terus menulis. Ayo, tulis pendapatmu, teorimu, atau bagian favoritmu_aku baca semuanya, lho!
melihat wajah rania serasa kaget gitu
maaf thor baru bisa mampir baca,kemarin aku unsub biar gak numpuk bab
semangat yaa thor🤗🤗🤗
dah lah ran,anggap saja kamu bertemu orang gila ganteng
dibumi sudah mengajakmu berpetualang
asin,asan,manis sudah kamu rasakan arven
apalagi berpetualang sama wanita yang membuatmu berdebar dan terpesona terus,wanita pujaanmu😁😁😁
apa terlalu sering membantu rania thor atau arven mlai jatuh hati sama manusia