Pergilah sayang, kejar keinginanmu.
Alika merelakan hatinya untuk ditinggal dalam waktu yang lama oleh sang kekasih yang ingin mengejar segala cita-citanya di negara orang. Bermodalkan janji untuk selalu menghubungi, menjaga cinta, dan kembali bersatu sepertinya ter-ingkari oleh Bilmar Artanegara.
Mantanku PresdirKu SuamiKu season tiga, ada dua musim yang akan diceritakan di sini. Musim pertama menceritakan perjalanan mereka dibangku SMA, dan musim kedua menceritakan kelanjutan rumah tangga mereka.
Kalau Rindu kalian boleh baca MPS season 1&2 lagi ya
IG : @megadischa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megadischa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musim 1 : Ketahuan
Raut bahagia kembali memancar di wajah Bilmar dan Alika. Terlihat berseri-seri seperti bunga-bunga yang tengah bermekaran di sekitar taman. Tidak ada yang bisa menandingi rasa gembira, ketika rasa cinta yang tengah kita rasakan bersambut dengan baik.
Walau perkataan dan perlakuan Mama Mira masih terbayang-bayang dibenak Bilmar. Membuat lelaki itu cemas, ia takut kalau Mama nya sampai hati mau memisahkan dirinya dengan Alika. Namun setelah menatap lagi senyuman di wajah Alika, rasa takut itu sepertinya memudar. Ia tahu Mama dan Papanya masih bisa untuk diajak negosiasi.
"Kamu bawa hapeku, Bil?" tanya Alika.
Bilmar kembali teringat dengan sikap Mamanya yang begitu jahat. Bahkan tadi pagi ketika Mama Mira ingin berangkat ke luar kota, ia masih belum mau bertegur sapa dengan Bilmar.
"Hape kamu kecemplung di closed, Al."
"Hah, kok bisa? Emangnya kamu apain?"
"Aku enggak sengaja, hape kamu kebawa di kantung celana. Tapi nanti aku beliin lagi ya."
"Jangan deh, gak usah. Aku kasian sama kamu."
"Udah jangan nolak! Nanti pulang sekolah, kita ke mall lagi ya. Beli hape."
Alika hanya bisa pasrah, sultan mana bisa dilawan.
"Kamu bawa bekal apa, Yang?" tanya Bilmar. Ia memperhatikan Alika tengah membuka tutup bekal yang ia bawa dari rumah untuk makan siang mereka berdua.
"Aku tadi masak ayam goreng sama capcay udang, kamu suka kan?"
Bilmar mengangguk dan tersenyum. "Kamu bisa masak?"
"Bisa dong, cewek itu harus pintar masak. Biar suaminya nanti sayang, itu sih kata Mamaku." jawab Alika polos. Bilmar tertawa mendengarnya.
"Jangan kan jadi suami, masih jadi pacar aja. Aku udah sayang banget sama kamu." Bilmar menjawil dagu Alika.
"Hem ... gombal ih." Alika merona malu.
"Bukan gombal, tapi ini beneran."
"Iya-iya, aku percaya deh." jawab Alika masih menata makanan diatas bangku panjang. Mereka berdua duduk saling berhadapan, kotak makanan itu pun diletakan di antara mereka.
"Kita nggak apa-apa, Bil. Makan dan mojok di sini?" Alika kembali bertanya.
Bilmar memang sengaja membawa Alika ke belakang kelas, di sana ada lorong kecil yang jarang dilewati atau di jamahi para siswa. Bilmar hanya ingin berdua dengan Alika tanpa gangguan dari Nino dan Dion. Bukan hanya karena ingin makan siang berdua, tapi juga ingin mencium pipi Alika lagi.
Oh, baiklah. Bilmar ketagihan.
"Ayo sayang, makan lah." titah Alika.
"Suapin dong, Yang. Tangan aku pegal nih, kebanyakan catet pelajaran." cicit Bilmar manja.
Tanpa banyak berkomentar, Alika pun mengiyakan. Ia menyuapi Bilmar dengan hati-hati. Menggunakan sendok yang sama untuk masuk kedalam mulut masing-masing.
Setiap menggigit daging ayam, ia selalu merancau senang. Memuji-muji hasil masakan kekasihnya.
"Ini ayam terenak yang pernah aku makan."
Ya begitulah lelaki, jika jatuh cinta, awal-awalnya saja gurih, memuji, merayu dan selalu memberi kata-kata manis.
Bahkan jika sedang makan batu kali, ia merasa itu adalah daging teriyaki. Cinta memang bisa membuat penglihatan menjadi buta dan pendengaran menjadi tuli.
"Ah masa enak? Orang asin gini kok! Duh aku kebanyakan ngasih garam nih." mungkin saat ia memasak tadi pagi, dirinya lupa untuk mencicipinya terlebih dahulu, dan ditempat kerja, Mama Lisa dan Papa Syamsul pasti mengeluhkan rasa asin yang sama.
Tuh kan benar, Baru aja di omongin.
"Enggak kok sayang, enggak asin. Aku malah suka, suka banget!" Bilmar kembali memasukan daging ayam kedalam mulutnya. Cinta memang membuat orang menjadi bodoh.
"Udah ah muntahin, ini tuh asin banget!" Alika memaksa Bilmar untuk memuntahkan makanan yang ia masak.
"Tapi rasa mecin nya masih berasa kok, Al. Nggak asin-asin banget."
Alika pun bangkit dari kursi lalu beringsut untuk berdiri, ia menekan tengkuk Bilmar, memaksanya untuk memuntahkan makanan yang masih ia kunyah.
"Jangan, Al. Nanti aku tersedak."
"Tapi nanti kamu mati karena kebanyakan makan garam!" decak Alika.
Dan Bilmar pun memuntahkan makanan yang sedang ia kunyah. Lelaki itu tersedak, dan terbatuk-batuk. Kerongkongannya terasa panas. Lehernya seperti tercekik.
"Air, Al ... Air!" seru Bilmar parau.
Alika terlihat gelagapan. "Ayo sayang minum." Alika menyodorkan botol minum yang sudah ia buka tutupnya. Membantu Bilmar untuk menenggak isinya.
"Hhh." desahan napas lega akhirnya mencuat dari bibir Bilmar setelah menenggak habis air minum tersebut. Alika mengelap kebasahan dibibir Bilmar dengan ujung dasinya.
"Udah enak tenggorokannya?" Alika terlihat khawatir.
Bilmar menggangguk. Namun ia masih terdiam untuk mengatur napas yang masih terengah-engah. Hampir saja Malaikat pencabut nyawa mendatangi dirinya.
"Bil?" ucap Alika sambil mengelus bahu lelaki itu.
"Ayo sini duduk lagi." Bilmar menurunkan pinggang Alika untuk kembali duduk disebelah kirinya.
"Maafin ya, kamu jadi kayak begini." Alika tidak berhenti untuk menyeka air keringat yang sedang mengucur disekitaran dahi dan pipi Bilmar.
Bilmar menurunkan tangan Alika dari wajahnya. Mereka kembali bersitatap dalam jarak yang sangat dekat, sampai angin terasa sulit untuk lewat diantara mereka. Bilmar semakin mendekatkan wajahnya, tetapi Alika malah memundurkan wajahnya.
"Kamu mau apa, Bil?" tanya Alika gugup. Jantungnya terus berpacu cepat seperti kemarin.
"Mau cium, bolehkan?" Bilmar mengelus lembut pipi Alika.
Alika kembali tegang, ia merasa dirinya tidak aman. Bukan karena ingin dicium oleh Bilmar, tetapi karena mereka masih didalam lingkungan sekolah, jauh dari keramaian dan hanya berduaan ditempat sepi.
"Jangan di sini, Bil. Nanti ada yang lihat."
Alika terus berusaha untuk memalingkan wajahnya. Namun Bilmar tetap memaksa, malah sekarang mengunci tubuh Alika, meletakan kedua tangannya untuk mengalung di pinggang gadis itu.
"Bil jangan, nanti ada yang dilihat!"
"Enggak akan ada yang lihat. Makanya kamu jangan berisik. Aku cuman mau cium pipi kamu aja, syukur-syukur kalau kamu bolehin di bibir juga."
Alika membuka matanya dan menatap Bilmar kembali, pelototan tajam dari matanya menerpa wajah Bilmar.
"Awas macam-macam!"
"Hanya cium aja tuh, enggak akan buat kamu hamil, Al." Bilmar berdecih geli.
"Udah ah sana!" Alika mendorong dada Bilmar yang wajahnya semakin mendekat.
"Kemarin di cium mau aja kok, kenapa sekarang jadi nggak mau?" sungut Bilmar.
"Ya jangan di sini dong, nanti kita ketahuan, Bil!" Alika kembali berisik dan meronta. Padahal di dalam hatinya, ia sedang cenat-cenut tidak karuan. Malu-malu tapi mau, ya itulah Alika, sama saja seperti Bilmar.
"Makanya kamu jangan berisik, Al----"
Dan tak lama kemudian.
"HEH! LO BERDUA LAGI NGAPAIN DI SINI?" seru Fandi. Yang tiba-tiba muncul seperti setan di antara mereka.
Fandi menoleh ke lain arah, dimana teman-temannya sedang berkumpul.
"WOY! ALIKA dan BILMAR LAGI CIUMANN!" seru Fandi dengan suara nyaring, mengundang para netizen lahnat untuk ikut menggunjing Alika dan Bilmar.
Alika dan Bilmar terkesiap. Mereka kaget setengah mati. Ketangkap basah dan dipermalukan didepan banyak siswa. Fandi terus saja merancau sampai ke dalam kelas.
Memberitahukan semua orang apa yang tengah ia lihat barusan. Padahal Bilmar saja belum mendaratkan kecupan hangat diwajah Alika, tapi sudah lebih dulu ketahuan dan dibuat malu.
"Hah? Mereka ciumann??"
"Alika sama Bilmar? Masa sih?"
"Merek berdua memang pacaran ya?"
Begitulah seruan dari beberapa siswa yang mendengar rancauan Fandi yang masih nyaring terdengar. Entah jika Dion dan Nino mengetahui hal ini, mereka pun pasti akan kaget dan menerka jauh apa yang sudah dilakukan oleh sahabatnya
Alika meringis takut, pun sama dengan Bilmar. Lelaki itu mengusap wajahnya kasar beberap kali. Tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Gimana nih, Bil?" tanya Alika.
"Kamu nya tenang, biar aku nanti yang akan hajar si Fandi. Aku pastikan dia nggak akan bisa pipis sambil berdiri lagi!" jawab Bilmar geram.
*****
Sial emang, udah makan ayam asin eh gagal nyium Alika. Malah dibuat malu, aduh Bilmar🙊.
Like dan Komennya ya guyss
Nih Papa Bilmar waktu nemenin Mama Alika pentas nari kalo gak salah😂