"Dia bukan adik kandungmu, Raja. Bukan... hiks... hiks..."
17 tahun lamanya, Raja menyayangi dan menjaga Rani melebihi dirinya. Namun ternyata, gadis yang sangat dia cintai itu bukan adik kandungnya.
Namun, ketika Rani pergi Raja bahkan merasa separuh hidupnya juga pergi. Raja pikir, dia telah jatuh cinta pada Rani. Bukan sebagai seorang kakak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Rindu yang Malah Menyakitkan
Rani memegang kuat pinggiran keranjangnya. Dan perlahan air matanya mengalir begitu saja. Orang yang selama lima tahun ini sangat ingin dia rindukan, dan berharap kehidupannya akan lebih bahagia tanpa kehadiran Rani, ada di depannya.
Dan itu bukan imajinasinya, itu benar-benar Raja.
"Kakak, kakak... hiks!"
Air matanya benar-benar turun dengan deras. Rasanya dia tidak bisa menjelaskan apa yang saat ini dia rasakan. Yang dia rasakan adalah perasaan senang bercampur dengan sedih dalam satu waktu. Senang karena melihat Raja terlihat begitu berwibawa dan dari pakaian yang di pakainya, kehidupan kakaknya itu semakin baik sepertinya.
Namun, Rani juga sedih. Karena pastinya pertemuan mereka akan membuat Raja mengingat kembali masa lalu mereka. Raja pasti membencinya, karena memang dia sudah mengakui apa yang sebenarnya tidak pernah dia lakukan untuk menyakiti Hani.
"Hiks... hiks..."
Rani bahkan tidak menghentikan tangisannya, dia sangat merindukan Raja, sangat rindu. 17 tahun mereka bersama, tidak pernah ada duka Rani saat Rani bersama Raja. Hanya ada tawa dan kebahagiaan. Hari Rani rasanya sangat pilu. Namun bahkan untuk lebih lama menatap wajah yang sangat membuatnya tenang itu, dia tidak bisa. Dan memang tidak mungkin.
"Menangis untuk apa?"
Deg
Rani segera menyeka air matanya, dia kenal suara itu. Itu suara Raja.
Rani menelan salivanya dengan susah payah, lalu berusaha menarik keranjangnya menjauh dari tempat itu.
Sayangnya tangannya di cekal oleh Raja. Dan pria itu berpindah ke hadapan Rani. Rani hanya bisa menunduk, sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Raja.
"Menangis karena pada akhirnya semua rencanamu berantakan? bukan Hani yang menderita, tapi kamu yang hidup susah seperti ini?" tanya Raja dengan tutur kata yang begitu sinis.
Rani ingin menangis, dia benar-benar bisa merasakan kebencian yang dalam di setiap kata dalam kalimat yang Raja ucapkan. Dan dia tidak bisa membantahnya.
Rani tidak bicara, dia hanya berusaha melepaskan tangan Raja dari tangannya dengan tangannya yang satu lagi.
"Bicara Rani!" bentak Raja.
Rani terjingkat, saat ini dia tengah sangat rapuh. Dan sangat sedih. Lalu sebuah bentakan dari orang yang paling berarti dalam hidupnya terdengar begitu kencang di telinganya. Tentu saja dia terjingkat dan nyaris jatuh. Untung saja pegangan keranjangnya cukup kuat untuk menahannya karena memang isi keranjangnya hampir penuh dengan apel.
Mata Raja jelas merah, ekspresinya juga jelas sekali menunjukkan kalau pria itu butuh penjelasan dari Rani. Meski dia sudah terluka karena pengakuan Rani. Dia masih terus berusaha mendengar bantahan dari Rani. Rasanya dia masih mau mendengar wanita di depannya itu membantah dan mengatakan kalau dulu dia berbohong, dia tidak benar-benar jujur dengan pengakuannya itu. Raja juga merasa dirinya bodoh, kenapa masih berharap Rani membantah dan mengelak. Tapi hatinya benar-benar sakit saat mendengar Rani mengaku. Dia ingin Rani mengatakan kalau dia terpaksa mengakuinya.
"Tolong lepaskan aku" lirih Rani perlahan.
Rani sungguh tidak bis menahan air matanya lagi. Kalau sebentar lagi dia masih berdiri di depan Raja. Dia pasti akan menangis.
Namun setelah Rani memohon untuk di lepaskan, bukannya Raja melepaskannya, tapi malah mencengkram tangan Rani semakin kuat.
Rani mengernyitkan keningnya, dia menahan sakit di pergelangan tangannya.
'Maafkan aku kak' batin Rani sebelum melihat ke mata Raja yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Jika tuan tidak melepaskan tanganku, aku akan berteriak!" gertak Rani.
"Tuan? tuan katamu?" tanya Raja dengan tatapan yang semakin emosi dan marah.
"Apalagi? masa lalu kita sudah tidak ada. Kamu lihat sendiri, aku sekarang hidup susah kan? aku tahu kamu juga pasti senang melihatku seperti ini. Ya, aku memang jahat. Dan semua ini hukuman yang pantas untukku. Kamu puas kan mendengar apa yang aku katakan. Sekarang lepaskan aku!"
Rani menghentakkan tangannya dan segera pergi meninggalkan Raja dengan berlari menarik keranjangnya.
Raja masih terdiam, lagi-lagi Rani mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya. Rani sama sekali tidak mengelak atau minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu. Dan itu sangat menyakiti perasaan Raja.
Tangan Raja mengepal dengan sangat kuat. Arah pandangannya terus tertuju pada Rani yang semakin menjauh hingga tak terlihat.
"Tuan, kamu masih di sini. Kamu sebenarnya mau kemana? biar bibi antar" kata bibi Umi.
Raja memalingkan wajahnya. Dia menyeka air mata yang nyaris turun dari sudut matanya.
"Timbangan bi!" jawab Raja datar.
"Oh timbangan, ayo bibi antar!" kata bibi Umi.
Sambil berjalan, Raja merasa ingin tahu sekali apa yang terjadi pada Rani. Dia semakin benci, tapi juga ingin tahu.
"Bi, apa kehidupan di perkebunan ini sangat nyaman? kenapa para buruh terlihat tidak ada yang wajahnya sedih, lelah..."
Bibi Umi tersenyum.
"Kami para buruh di perkebunan ini sangat beruntung tuan. Tuan muda pemilik pulau dan perkebunan ini sangat baik. Dia memberikan kami segala fasilitas padahal kami hanya buruh saja. Rumah di sediakan, makanan kami tinggal ambil di kantin, pagi dan siang, lalu kalau sakit juga ada klinik gratis. Tuan muda benar-benar sangat baik. Apalagi pada Rani..."
Langkah Raja berhenti.
"Tuan muda itu sudah suka padanya sejak tiga tahun lalu..." bibi Umi menjeda ucapannya dan menoleh ke belakang.
"Loh, kenapa tuan?" tanya bibi Umi.
Raja menghela nafas berat.
"Tidak apa-apa bi, lalu?" tanya Raja.
"Iya, Rani yang tadi memberikan bibi gelas untukmu. Dia yang termuda di sini. Dia datang bersama Sartika, anaknya sangat baik. Wajar rasanya kalau tuan muda sangat menyukainya dan suka mengganggunya!" bibi Umi kembali tersenyum.
"Dia wanita yang gila harta?" tanya Raja dengan sinis.
"Heh, tuan. Darimana tuan lihat begitu? Rani kami sangat manis dan baik. Dia bahkan menolak tuan muda tiga kali. Rani kami tidak suka orang kaya. Entahlah, tapi dia memang tidak suka pada pria kaya. Dia manis sekali kan?" tanya bibi Umi.
Raja diam saja, dia memalingkan pandangannya ke arah lain.
'Dia berbohong pada kalian bi. Rani adalah wanita yang sangat egois. Dia akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang dia inginkan' batin Raja sambil mengepalkan tangannya.
***
Bersambung...