Nona ketiga Xiao Xinyi di paksa menikahi Adipati Ling Yun menggantikan kakak tertuanya yang terus berusaha untuk mengakhiri hidupnya.
Siapa yang tidak tahu jika Adipati Ling Yun selalu berselisih dengan Tuan besar Xiao. Dua keluarga besar yang saling bertentangan itu di anugerahi pernikahan Kaisar Jing Hao.
Bersedia ataupun tidak salah satu wanita dari kediaman Xiao harus menikah menjadi Nyonya utama kediaman Adipati Ling Yun. Intrik dalam pernikahan yang berlandaskan politik menjadikan Nona ketiga Xiao Xinyi harus membuat rencana untuk dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua keluarga yang saling menjaga
Ruangan tamu sudah sangat berantakan. Barang-barang berserakan tidak menentu. Tuan Xiao Lang hanya bisa memberikan pelayanan seadanya di kediaman. "Maaf. Rumah masih sangat berantakan. Saya harap besan tidak keberatan," ujarnya sopan.
Tuan besar Ling mendekat kearah besannya. "Tidak masalah. Kami tentu mengerti. Kami datang karena mendengar jika menantu perempuan tengah mengalami masalah yang sulit." Menatap kearah menantu perempuannya. "Besan." Pria itu menarik besannya untuk bicara lebih jauh.
Sedangkan Xiao Xinyi di temani Nyonya besar Ling dan Nyonya utama Ling. Kedua tangannya di genggam erat wanita tua itu.
"Cucuku, bagaimana keadaanmu? Maafkan kami karena baru menyadarinya. Kamu sudah banyak menderita karena Ayah kandungmu sendiri." Pandangan Nyonya besar Ling di liputi kesedihan.
Xiao Xinyi hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Dia berusaha menahan air matanya. Gadis itu merasa senang masih banyak orang yang peduli kepadanya. Benar-benar sebuah berkah yang luar biasa.
"Xinyi, apa racun di tubuhmu sudah hilang? Kami juga sudah berusaha untuk mencarikan obat penawar racun. Mungkin membutuhkan waktu lagi agar bisa mendapatkannya," ujar Nyonya utama Ling.
"Nenek, Ibu. Racun sudah menghilang. Dan aku hanya butuh pemulihan untuk beberapa waktu," saut Xiao Xinyi menatap dengan linangan air mata.
"Kenapa menangis." Nyonya utama Ling mengusap lembut air mata menantu perempuannya. "Jangan menangis. Ada kami yang selalu bersama Xinyi." Wanita itu memeluk tubuh menantunya mendekapnya kuat.
Dari pintu masuk utama Adipati Ling Yun baru saja pulang. Dia terkejut melihat semua keluarganya sudah ada di dalam rumah mertuanya. "Nenek, Ibu, Ayah, Ayah mertua." Memberikan salam.
Tuan besar Ling mendekati putranya setelah menyelesaikan diskusi dengan besannya. Pria itu menatap tajam, "Kamu sebagai suami bahkan tidak bisa menjaga Istri dan mertuamu dengan baik. Apa saja yang kamu lakukan selama ini. Bahkan membiarkan orang-orang tidak bertanggung jawab membuat kehebohan di sini."
Adipati Ling Yun menatap santai. "Mereka tidak akan lagi memiliki tempat berpijak di kota ini," ujarnya yang langsung mendekat kearah istrinya. Pria muda itu berlutut mengeluarkan sesuatu dari balik lipatan bajunya.
Semua orang menatap.
"Xinyi, aku harap kamu menyukainya." Memberikan kalung permata seputih salju sejernih kristal. Dia memakaikannya di leher istrinya. Senyuman bahagia terlihat indah di wajahnya.
Nyonya besar Ling dan Nyonya utama Ling saling berpelukan. Ini kaki pertamanya selama hidup dapat menyaksikan Yichen menjadi pria yang hangat juga penuh kasih sayang.
Tuan besar Ling juga merangkul pundak besannya. Dia juga merasa bangga melihat putranya yang sudah berhasil menjadi pria sejati. "Besan. Sebentar lagi kita akan memiliki cucu."
Tuan Xiao Lang menatap penuh kebahagiaan.
Para pelayan yang sedari tadi sudah di tugaskan Nyonya besar Ling untuk membereskan kediaman kini sudah mulai berdatangan. "Nyonya utama, semua sudah beres." Salah satu pelayan mendekat berbisik pelan.
Nyonya utama meminta semua pelayan agar menyiapkan makan siang. Para pelayan itu pergi lagi mengikuti perintah Nyonya utama mereka.
"Ibu, semua sudah beres. Kita bisa berkumpul duduk bersama menikmati waktu berharga ini," bisik Nyonya utama Ling kepada mertuanya.
"Baik, baik. Kamu bisa mengaturnya." Nyonya besar Ling menatap senang kearah menantunya.
Siang itu semua orang berkumpul di dalam satu ruangan yang tidak terlalu besar. Namun justru semakin menambah keakraban dua keluarga. Adipati Ling Yun masih sibuk menjaga istrinya dengan kehati-hatian.
Sedangkan Tuan Xiao Lang memperlihatkan sedikit tekanan dalam batinnya. Pria paruh baya itu masih tidak menyangka jika besannya seorang perdana mentari pertahanan. Saat besannya mengajak dirinya berbincang tangannya mulai berkeringat dan terasa sangat dingin.
"Besan." Tuan besar Ling menyadari kegugupan dari besannya. Dia menepuk pelan berusaha untuk lebih akrab. "Makanan kita sama tidak ada perbedaan. Kenapa besan terlihat gugup saat ada di dekatku. Hahahah..." tertawa kuat mencairkan suasana yang semakin tegang.
"Benar. Besan, aku sangat senang kita bisa bertemu secara langsung. Xinyi selalu menceritakan Ayah keduanya yang menyayangi dirinya. Menjaga dia dengan sangat baik dari masih gadis kecil hingga menjadi gadis dewasa cantik." Nyonya besar Ling menatap hangat.
Tuan Xiao Lang mengusapkan keringat di tangannya kearah baju miliknya. "Saya hanya merasa terhormat bisa di terima baik." Pria paruh baya itu menahan air matanya. Hatinya sangat lembut, "Terima kasih banyak sudah menjaga putriku dengan sangat baik di keluarga kalian." Mengelap air matanya. "Aku menjadi lega melihat dia di perlakukan seperti putri sendiri setelah menikah. Tidak perlu lagi takut mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarga mertuanya." Tuan Xiao Lang mengungkapkan semua isi hatinya.
Semua orang menatap hangat.
Dia berdiri, "Terima kasih, terima kasih banyak." Tuan Xiao Lang membungkuk.
Dengan sigap Tuan besar Ling menahannya. "Besan, jangan seperti ini. Kami sangat menyayangi Xinyi." Menepuk pundak Tuan Xiao Lang tidak terlalu kuat namun menguatkan.
Siang itu kehangatan dua keluarga terasa sangat pekat.
Waktu terus berganti, sehari setelah keributan di kediaman Tuan Xiao. Kabar mengejutkan beredar di kota Yueji. Hakim daerah He dan seluruh keluarganya di berikan hukuman pengasingan karena telah menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Bahkan di temukan juga suap untuk kasus-kasus yang tidak bisa di hitung jumlahnya. Mendengar kabar itu semua orang di kediaman tahu jika Adipati Ling Yun yang telah mengeluarkan surat penangkapan. Setelah hari itu keluarga He sudah tidak memiliki tempat berpijak di kota Yueji lagi.
Di hari keempat keluarga besar Ling memutuskan untuk kembali ke Ibu kota. Mereka juga tidak bisa terlalu lama berada di luar kota. Banyak hal yang masih harus di selesaikan. Di tambah istana sedang mengalami guncangan. Karena Kaisar Jing Hao memberikan hukuman mati pada empat menteri utama dalam pemerintahan.
Tuan Xiao Lang merasa sedih harus di tinggal putrinya pergi lagi. Namun dia juga merasa bahagia karena putrinya akan selalu dalam perlindungan keluarga Ling. Saudaranya Xiao Tang tidak akan berani lagi bertindak. Memikirkan hal itu pria paruh baya itu ingat kepada putra angkatnya Xiao Wei. Tapi dia juga tidak memihak untuk merebutnya dari Ayah kandungnya.
Membutuhkan waktu beberapa hari untuk dapat kembali ke Ibu Kota.
Tepat di hari ke tujuh mereka sampai di Ibu Kota. Belum sempat kereta sampai di kediaman. Tuan besar Ling dan Putranya langsung pergi ke istana. Setelah mereka turun dari kereta menaiki kuda. Rombongan kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai di kediaman Ling.
Xiao Xinyi yang sudah bisa berjalan perlahan di bantu para pelayan dan Ibu mertuanya. Gadis itu melangkah masuk kedalam kediaman di tuntun kearah kamarnya. Hatinya menjadi lega saat memasuki halaman kediaman pribadinya. 'Aku benar-benar bisa kembali lagi.' Gumamnya dalam hati.
Sehat selalu banyak rezeky nya yaaa biar lancar bikin cerita baru sm rajin up nya🥰😘❤