Pernikahan bahagia yang diimpikan Anna berubah menjadi tragedi, kala seorang pria merenggut kesuciannya di malam pertama pernikahannya.
Anna yang terpuruk akibat kejadian itu pun mencoba bangkit kembali dan melanjutkan hidupnya.
Namun, takdir berkata lain, ia harus kembali mengingat peristiwa kelam malam itu saat dirinya dinyatakan hamil.
Akankah pria itu bertanggung jawab padanya?
Atau ada malaikat lain yang akan datang menolongnya?
Dan bagaimana dengan suami dan pernikahannya?
Ikuti kisah Anna selengkapnya dalam menjalani kehidupannya dalam Tiga Pria, Ayah Anakku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Sarapan Terakhir
Sama seperti Anna, Alex pun masih terjaga di ruang kerjanya. Awalnya dia ingin memeriksa dokumen-dokumen yang dikirimkan oleh Leo. Namun, sudah berjam-jam tak ada satu pun dari dokumen itu yang ditandatanganinya.
Alex melepaskan kacamatanya dan kembali menyalakan rokoknya, entah sudah berapa banyak ia merokok malam ini. Pikirannya hanya tertuju pada Anna dan Michael.
'Jika saja bukan Andrew.'
Ya, jika saja pria yang menjadi rival cintanya itu bukanlah adik kandungnya, maka Alex pasti dapat menanganinya dengan mudah. Tidak seperti sekarang, yang membuatnya terus bimbang sepanjang waktu. Asap rokok pun masih mengepul di dalam ruangan itu, tetapi tiba-tiba Alex teringat akan ancaman Anna padanya.
'Jika kau tak berhenti merokok maka jangan dekati putraku.'
Alex tersenyum membayangkan wajah galak Anna saat memarahinya. Wanita itu benar-benar membuatnya tak dapat berkutik.
"Anna, jika aku berhenti merokok, apakah kau bersedia untuk tetap berada di sisiku?" tanya Alex pada udara malam yang semakin dingin.
Alex memijat pelipisnya, lelah. Karena tak satu pun pekerjaannya yang selesai maka dia pun memilih untuk menundanya terlebih dulu. Alex mematikan rokoknya dan berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Hari beranjak pagi, waktu telah menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Namun, Alex masih saja terus terjaga. Alex sungguh tak ingin malam ini cepat berlalu. Karena saat esok tiba, maka Anna dan Michael pun akan pergi darinya. Memikirkan tentang Anna, Alex kemudian beranjak keluar dari kamarnya dan menuju kamar wanita itu yang tepat berada di sebelah kamarnya.
Alex membuka pintu kamar Anna secara perlahan. Anna pun tak menyadari kedatangan pria itu di kamarnya, karena ia baru saja terlelap. Alex menatap Anna yang sedang tertidur lelap. Tubuh pria itu sedikit membungkuk merapikan helaian rambut yang menutupi wajah mungil Anna. Alex sungguh tidak menyangka jika wanita polos inilah yang menarik hatinya.
Alex tersenyum saat Anna menendang selimut dan berbicara dalam tidurnya. Kemudian dia kembali membungkuk dan merapikan selimut Anna.
"Jangan pergi! Tunggu, kau tidak boleh pergi!" igau Anna seraya meraih tangan Alex yang tengah menyelimutinya.
"Kau tak ingin aku pergi?" Refleks, Alex pun menjawab igauan Anna.
"Iya, jangan pergi," lirih Anna dengan mata terpejam.
"Kenapa aku tak boleh pergi? Apa kau suka aku berada di dekatmu?"
"Iya, aku suka ...."
Alex tersenyum lebar mendengar jawaban Anna, tetapi tiba-tiba wanita itu pun menambahkan kalimatnya, "Aku suka yang rasa strawberry. Beri aku lebih banyak topping coklat."
"Hah?!"
Alis Alex bertaut karena bingung. Strawberry? Topping Coklat? Maksudnya?
Alex kembali menatap Anna yang masih tertidur nyenyak. Seketika, ia pun terkekeh karena menyadari kebodohannya.
"Sepertinya aku sudah mulai gila karena berbicara dengan orang tidur. Jadi, kau bermimpi sedang membeli ice cream, ya, kucing manis?"
"Tambahkan lagi coklatnya." Anna melingkarkan tangannya di leher Alex dan membawa pria itu mendekat padanya. Kini, jarak di antara mereka pun semakin terkikis. Alex tersenyum kala sebuah ide melintas di benaknya. Ia ingin menjahili Anna.
"Anna, aku punya ice cream strawberry. Apa kau mau?" bisik Alex lembut dan Anna pun mengangguk.
"Ini ice cream-mu."
Alex mengecup cepat bibir Anna. Sebenarnya dia hanya ingin mengerjainya sebentar, tetapi Anna malah menjulurkan lidahnya dan menjilati bibir Alex. Alex terkejut sekaligus senang dengan reaksi Anna, karena dia memang sudah gemas ingin mencium Anna sejak sore tadi.
"Kau sangat ingin makan ice cream ya? Baiklah, nikmatilah ice cream-mu, Anna."
Alex membiarkan Anna menjilati bibirnya. Sebelum akhirnya ia mel*mat bibir wanita itu dengan lembut. Alex mengecup pelan bibir Anna dan terkadang menghisapnya kuat. Lidahnya pun ikut bermain dalam rongga mulut Anna. Alex begitu menikmati perannya sebagai "ice cream", sebelum tiba-tiba Anna mendorong tubuhnya menjauh dan membuat pagutan mereka terlepas.
"Aku mau yang strawberry, bukan rasa mint."
Anna kembali mengigau. Setelah mengatakannya, ia pun langsung memiringkan tubuhnya dan melanjutkan tidurnya. Seolah tak terjadi apa pun tadi. Alex pun hanya bisa tertawa melihat tingkah Anna.
"Anna, kau lucu sekali. Baiklah, lain kali aku akan membelikanmu ice cream strawberry yang banyak hingga kau puas. Selamat tidur, Sayang." Alex mengecup kening Anna dan segera berlalu meninggalkan kamarnya.
Setelah dari kamar Anna, Alex pergi ke kamar Michael. Sama seperti Anna, selimut Michael pun sudah hampir terjatuh ke lantai karena ditendangnya. Sepertinya kebiasaan tidur Michael menurun dari Anna.
Alex kemudian mengambil selimut itu dan menyelimuti dirinya juga Michael. Ia pun berbaring di samping putranya yang kini tengah terlelap. Membelai lembut rambutnya dengan penuh kasih.
Alex benar-benar tak menyangka jika ia telah mempunyai seorang putra. Dan yang membuatnya semakin terkejut sekaligus bahagia, karena ternyata Anna-lah yang telah mengandung anaknya. Wanita yang hanya bisa dikaguminya itu kini telah menjadi Ibu dari putra kecilnya.
Namun, sekarang mereka harus kembali berpisah, karena sejak awal memang Anna bukanlah miliknya. Dan Michael hanyalah buah dari dosa manis yang telah dilakukannya.
"Sayang, tak peduli di mana pun kamu berada, Ayah akan tetap mencintai dan melindungimu. Ingatlah itu."
Alex mencium kening Michael dan membawanya masuk ke dalam dekapannya. Tak lama setelah itu, Alex pun tertidur.
.
.
.
"Pagi, Charlie."
Andrew tersenyum melihat Charlie membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi, Tuan Muda Andrew. Silahkan masuk."
Charlie menunduk mempersilahkan Andrew untuk masuk.
"Tuan Muda Alex sedang sarapan bersama dengan Nona Anna dan Tuan Muda Kecil. Apa anda ingin bergabung, Tuan?!" tanya Charlie pada Andrew.
"Tentu. Sudah lama aku tak makan bersama dengan Kakakku dan Anna."
"Baiklah. Mari ikuti saya, Tuan Muda."
Andrew melangkah ke ruang makan mengikuti Charlie.
Di sana dia melihat Alex sedang menikmati kopinya dan bercengkrama dengan putranya, sedangkan Anna tengah menyiapkan makanan di piring Alex.
Andrew kembali memanas melihat kebahagiaan mereka.
'Alex, ini adalah saat-saat terakhirmu bersama dengan mereka. Maka, nikmatilah. Setelah ini akulah yang akan membahagiakan Anna.'
"Permisi, Tuan Muda, Nona Muda. Ada Tuan Muda Andrew datang."
Charlie memberitahu Alex tentang kedatangan adiknya ini.
Alex tahu Andrew akan datang, tetapi ia tidak menyangka jika adiknya itu akan tiba sepagi ini. Namun, kemudian dia pun mengajaknya untuk sarapan.
"Andrew, kemarilah. Kita sarapan bersama," ajak Alex.
"Tentu."
Andrew berjalan mendekati mereka dan menarik kursi di sebelah Anna.
"Sudah lama aku tidak makan masakan Anna. Sayang, tolong ambilkan juga sarapan untuk suamimu ini jangan hanya Kak Alex saja. Kau tidak lihat piring Kakak Iparmu itu sudah terisi penuh."
Andrew sengaja menekankan kata 'Kakak Ipar' pada Anna untuk memprovokasi Alex bahwa posisinya hanyalah sebagai seorang kakak iparnya saja.
Anna melirik Alex, tetapi pria itu tengah menikmati sarapannya dengan tenang seolah tak mendengar apa yang Andrew ucapkan tadi.
"Ayo cepat, Sayang. Aku sangat lapar," pinta Andrew lagi. Anna pun kemudian menyiapkan sarapan untuknya.
"Kak, aku akan membawa Anna dan Mickey pulang hari ini."
Alex berhenti makan sejenak mendengar perkataan adiknya itu. Ingin sekali rasanya dia menyembunyikan Anna dan Michael dari sini.
"Tidak bisa! Mickey harus tetap bersamaku!"
"Tidak! Aku tidak mau pergi tanpa putraku!!" tolak Anna.
"Ayolah, Kak, kita kan sudah membicarakan ini kemarin di kantormu!"
Andrew tersenyum mengingatkan Alex akan ancamannya kemarin.
"Kau tenang saja Kak, aku akan menganggap Mickey sebagai anakku sendiri meskipun kami akan mempunyai anak lagi nanti.
Aku pastikan tidak akan membeda-bedakan mereka. Anakmu akan mendapatkan kasih sayang seorang Ayah dariku."
Alex mengepalkan tangannya menahan marah. Tak pernah dia merasa tak seberdaya ini. Tak bisa mempertahankan orang yang dicintainya. Karena mereka memang bukan miliknya.
"Sayang, kau tenang saja, Kak Alex sudah mengijinkan Mickey untuk pergi bersama kita."
Andrew mencium tangan Anna dan melirik Alex. Wajah pria itu sudah tampak hitam menahan amarah dan cemburunya. Andrew pun tersenyum puas.
'Maafkan aku, Kak, tetapi aku sangat mencintai Anna dan tak ingin kehilangan dia lagi. Dan aku akan menggunakan segala cara agar dia menjadi milikku walaupun itu harus menyakitimu.'
"Ibu, memang kita mau pergi kemana?!" Michael bertanya pada Anna.
"Kita akan pulang ke rumah, Sayang. Aku, kamu dan Ibumu." Andrew menjawab pertanyaan Michael.
"Kenapa Ayah tidak ikut?!"
Kini dia beralih bertanya pada Alex, tetapi tetap Andrew yang menjawab pertanyaannya.
"Karena mulai sekarang akulah Ayahmu!"
.
.
.
jadi ikutan nangis deh
Andrew bukan cinta sama anna tapi terobsesi aja nikmati tubuhnya 😣
andrew kelihatan egois cuma butuh anna sebagai istri bukan ibu dari seorang anak yg dlm kenyataan sama keponakan aja andrew jahat gimana sama anak orang lain dan anaknya nanti