Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Pesan Singkat di Tengah Malam
“You’re all I can think of, every drop I drink up~
You’re my soda pop, my little soda pop~”
Dering ringtone lagu ‘Soda Pop’ milik Saja Boys dari film ‘K-Pop Demon Hunter’ itu menggema memecahkan keheningan hari Minggu pagi di rumah Marcella dan Olivia yang memang masih tampak sepi karena orang tua mereka belum pulang dari acara pernikahan kerabat mereka di luar kota. Ringtone tersebut ternyata berasal dari ponsel Marcella yang sedang di-charge di ruang tengah karena pemiliknya sedang berada di kamar mandi.
Mendengar itu, Olivia yang baru saja hendak mengikatkan tali sepatunya karena sedang bersiap-siap akan pergi latihan basket lagi ke sekolah, terpaksa bergegas untuk melihat siapa yang menelepon kakaknya, barangkali panggilan penting dari kampusnya atau mungkin dari orang tua mereka. Ternyata, sebuah panggilan suara dari 'Doni ❤︎' muncul di layar.
"Kak Cella! Ada telpon dari Kak Doni, nih!", seru Olivia ke arah kamar mandi.
"Angkat aja dulu, Liv! Bilang aku lagi ngeringin rambut!", sahut Marcella samar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup, disusul suara bising hairdryer.
Olivia meraih ponsel kakaknya. Namun, sebelum dia sempat menggeser tombol hijau, panggilan itu terputus. Layar ponsel Marcella kembali ke tampilan terkunci, menyisakan sebuah notifikasi pesan pop-up di bawahnya: “Cell, besok ke kampus pagi kan? Aku jemput jam berapa?”
Menatap nama Doni di layar, Olivia mendadak teringat keseruan obrolan sepak bola mereka Sabtu malam kemarin. Jiwa mudanya yang impulsif dan tanpa prasangka langsung terusik. Dia ingin melanjutkan obrolan seru itu, tapi tahu kakaknya pasti akan malas mendengarkan topik bola.
Selagi ponsel Marcella masih menyala dan menampilkan nomor Doni di bagian detail notifikasi, Olivia dengan cepat meraih ponselnya sendiri. Jari-jarinya dengan gesit menyalin deretan angka nomor telepon Doni ke dalam kontaknya.
“Nomor kak Doni aku simpen, ah. Ntar aku chat kalau Chelsea lagi main. Temenku nggak ada yang fans Chelsea soalnya, kebanyakan Emyu”, pikir Olivia sambil senyum-senyum sendiri. Ia santai saja, sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan tindakannya. “Kak Doni kan asyik orangnya”, tambahnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
“Kak Cella! Aku pergi dulu, ya!”, teriak Olivia bersemangat setelah menghabiskan satu gelas susu coklatnya.
“Iya, hati-hati!”, Marcella juga berteriak karena masih berada di kamar mandi.
Keesokan harinya di kantin kampus, terlihat Doni yang sedang duduk di bangku panjang menyeruput mie ayam pesanannya sambil menemani Marcella yang sedang fokus merevisi laporan magangnya yang sempat salah tempel kemarin.
Marcella bersikap sangat manis, sesekali menyuapi Doni camilan atau merapikan rambut Doni yang berantakan. Namun, Doni merasa bersalah karena setiap kali melihat wajah Marcella, dia malah teringat bayangan Olivia yang tertawa lepas dengan jersey basketnya. Doni merasa menjadi pria paling jahat di dunia.
“Don!”, panggilan Marcella yang tidak terlalu keras itu mengagetkan Doni. Wajah melamun Doni ternyata terpergok oleh Marcella.
“Kamu ngelamun, ya? Mikirin apa sih? Itu kan mie ayam kesukaan kamu, biasanya cepet habisnya. Tumben masih sisa banyak”, Marcella yang tadinya fokus mengerjakan laporannya, jadi teralihkan melihat kebiasaan Doni yang sudah sangat dia hafal tiba-tiba berubah.
“Eh? Nggak, kok. Nggak mikirin apa-apa”, jawab Doni berkelit. “Udah selesai laporannya?”, Doni mencoba mengalihkan pembicaraan karena tidak tahu harus menjawab apa.
“Hmm… dikit lagi, sih”, Marcella yang perfeksionis akhirnya kembali fokus untuk menyelesaikan laporannya yang harus dia kumpulkan dua jam lagi. Doni merasa lega akhirnya lolos dari pertanyaan mengejutkan Marcella. Dia pun bergegas menghabiskan mie ayam favorit-nya yang membuat dia juga berpikir, “Kenapa dari tadi belum habis-habis juga, ya?”
Malam harinya, Doni sudah berada sendirian di kamar kos-nya. Dia mencoba mengalihkan pikirannya yang kusut dengan mendengarkan musik dan sesekali bermain game, tetapi tidak bisa. Dia terus menatap ponselnya, bolak-balik membuka ruang obrolan WhatsApp dengan Marcella yang isinya sangat teratur, seperti: "Aku tidur dulu ya sayang" atau "Besok jemput jam 8 ya".
Tiba-tiba, sekitar jam 11 malam lewat 40 menit, ada sebuah notifikasi dari nomor tidak dikenal.
Pesan itu ternyata dari Olivia. Dia mengirim foto screenshot berita olahraga tentang Chelsea yang baru saja kalah di pertandingan terbaru, disusul chat: "Halo kak Doni! Lihat deh, pelatih kita kocak banget taktiknya wkwkwk btw, ini Olivia. Aku save nomor kak Doni pas nelpon kak Marcella kemarin. Save nomor aku juga ya!"
Jantung Doni langsung berdegup kencang lagi. Sensasi mendebarkan yang sama seperti hari Sabtu malam itu kembali. Mereka akhirnya bertukar pesan hingga larut malam, membahas hal-hal random dengan gaya ketikan Olivia yang seru, penuh emoji, dan blak-blakan.
Doni tersenyum sendiri menatap layar ponselnya di kegelapan kamar, sesuatu yang sudah lama tidak dia lakukan.
Malam semakin larut, Olivia berniat menutup obrolan mereka dengan chat: "Seru banget chat sama kak Doni. Oh iya, kak. Besok sore tim basketku ada tanding persahabatan di GOR dekat kampus kak Doni, loh. Kak Marcella kayaknya gak bisa nonton karena ada kelas asistensi sampai malam. Kalo sempet, mampir dong kak, buat nonton aku! Belum pernah liat kan, aku aslinya sejago apa? Wkwkwk”
Bagi Olivia, ini mungkin hanya pesan biasa, hanya ajakan santai kepada calon kakak iparnya yang dia anggap asyik buat diajak seru-seruan, dan satu frekuensi dengannya. Olivia sama sekali tidak ada niat apa-apa selain hanya ingin memamerkan keahliannya dalam bermain basket, dan menunjukkan kalau piala-piala di rumahnya dipajang bukan tanpa alasan, yang bahkan berpotensi untuk bertambah lagi. Dia bahkan menyisipkan kata ‘kalau sempet’. Artinya, walaupun pada akhirnya Doni tidak datang pun tidak ada pengaruh apa-apa baginya.
Tapi tidak bagi Doni. Dia mengalami pergolakan batin. Dia tidak pernah merasa pesan singkat seperti itu akan sebegitu berbahayanya bagi psikologis-nya. Tawa lepas di Sabtu malam dan panjangnya obrolan pesan mereka di malam ini mungkin sudah cukup untuk membuat Doni baper. Jadi, tindakan biasa dari Olivia akan ditangkap secara berbeda oleh hati Doni yang sedang haus akan tantangan.
Bagi Doni, pesan sesederhana itu sudah cukup membuat jantungnya berdegup kencang dan membuatnya dihadapkan pada pilihan: datang sebagai bentuk dukungan kepada adik dari kekasihnya, atau datang karena dia memang ingin bertemu dengan Olivia lagi. Dia masih terpaku menatap pesan itu. Apakah dia akan datang? Sendirian? Apakah dia merasa harus memberitahu Marcella dulu?