Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan Baru Di Kantor Baru
Rintik hujan yang awalnya malu-malu berubah menjadi tirai air yang masif, menghantam kaca tebal lantai 32 dengan suara berisik yang familier. Bersamaan dengan kilatan petir yang membelah langit Jakarta siang itu, percikan cahaya keemasan kembali menyelimuti tubuh Arkananta Mahardika.
Kinanti berdiri dengan tenang di samping meja kerja, menyaksikan proses transformasi yang kini tidak lagi membuatnya menjerit histeris. Dalam hitungan detik, kemeja putih mahal berukuran pas badan itu mengempis drastis. Dari balik kerah yang melonggar, muncul sebuah kepala berbulu jingga dengan sepasang mata hijau zamrud yang berkedip sebal.
Meong.
Arkan—versi empat kaki—berhasil melepaskan diri dari gulungan kemeja manusianya. Ia melompat ke atas meja marmer dengan keanggunan yang tertinggal dari wujud manusianya, meskipun tubuh gembulnya membuat piring kecil kosong yang tadi disiapkan Kinanti sedikit bergemerincing.
"Selamat siang kembali, Bos Gembul," sapa Kinanti, senyumnya mengembang lebar. Ia mengambil selimut wol tebal yang sudah disiapkannya, lalu membungkus tubuh Arkan dengan hati-hati agar sang CEO tidak kedinginan akibat AC kantor yang menusuk.
Arkan tidak menolak. Ia justru membenamkan tubuhnya ke dalam kehangatan wol, meskipun matanya tetap menatap Kinanti dengan pandangan yang seolah berkata, ‘Jangan panggil saya gembul, ini cuma efek bulu tebal.’
"Nah, sesuai janji saya tadi..." Kinanti merogoh tas kerjanya, mengeluarkan sebuah bungkus camilan kucing premium berbentuk stik berisi pasta salmon dan ikan kod. "Ini upah karena Bapak sudah berhasil mendepak Pak Rangga pagi ini."
Kinanti merobek ujung kemasan, lalu menyodorkannya ke depan moncong merah muda Arkan. Insting kucing Arkan langsung mengambil alih. Sambil tetap mempertahankan tatapan matanya yang tajam dan gengsi yang setinggi langit, lidah merah mudanya bergerak cepat, menyesap pasta ikan tersebut hingga bersih tanpa sisa.
Sambil memperhatikan bosnya makan dengan lahap, Kinanti membuka laptop cadangannya yang diletakkan di sofa. "Pak Arkan, mumpung Bapak sedang dalam wujud ini dan tidak bisa memaki saya dengan kata-kata korporat, mari kita bahas aturan baru di kantor baru saya. Bagaimanapun, mulai besok saya sudah resmi menjabat sebagai Pelaksana Tugas Direktur Operasional."
Arkan selesai menjilati sisa pasta di kumisnya. Ia duduk tegak di atas selimut, melipat kedua kaki depannya dengan anggun, siap mendengarkan paparan sekretaris—ah bukan, Direktur Operasional barunya.
"Poin pertama," Kinanti mengetik di laptopnya, "mengingat ruangan baru saya berada persis di sebelah ruangan Bapak dan memiliki pintu penghubung rahasia, seluruh dokumen sensitif yang membutuhkan tanda tangan Bapak saat musim hujan akan dialihkan lewat ruangan saya. Jadi, karyawan lain tidak akan curiga kenapa CEO mereka mendadak tidak bisa ditemui setiap kali mendung."
Arkan mengeong sekali. Setuju.
"Poin kedua, saya butuh anggaran khusus dari dana taktis perusahaan untuk membeli persediaan makanan kucing premium kelas atas, mainan laser, dan... mungkin sebuah pohon kucing (cat tree) mini tersembunyi di dalam lemari berkas ruangan Bapak. Kita tidak mau Bapak melompat ke atas lemari pakaian lagi dan menjatuhkan barang-barang penting hanya karena bosan, kan?"
Mendengar kata "mainan laser" dan "pohon kucing", mata hijau Arkan menyipit tajam. Ia mendengus keras, memalingkan wajahnya dengan angkuh. Seekor penguasa bisnis internasional tidak butuh mainan anak kucing!
"Pak, jangan sombong," tukas Kinanti sambil tertawa kecil. "Semalam saat Bapak tidur, Bapak bahkan mengejar bayangan gorden di dinding. Insting hewan itu tidak bisa dilawan hanya dengan gelar Harvard, Pak."
Arkan mendesah pasrah dalam hati. Ia terpaksa mengeong sekali, tanda menyerah pada argumen praktis Kinanti.
"Dan poin ketiga, yang paling penting," wajah Kinanti berubah serius, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Arkan. "Kita harus mencari tahu asal-usul kutukan ini, Pak Arkan. Kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan sandiwara ini selamanya. Bagaimana kalau suatu hari nanti ada rapat darurat dengan menteri atau investor asing di tengah badai besar, dan Bapak mendadak berubah di ruang publik?"
Pertanyaan Kinanti memukul kesadaran Arkan. Pertanyaan itu adalah ketakutan terbesar yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Arkan berjalan mendekati papan ketik laptop Kinanti, lalu dengan hati-hati menggunakan satu cakar depannya untuk menekan tombol browser dan mengetik beberapa huruf dengan lambat di kolom pencarian.
E-Y-A-N-G
Kinanti membaca tulisan di layar. "Eyang? Maksud Bapak... Eyang Widya? Nenek Bapak?"
Arkan mengeong sekali dengan tegas.
"Eyang Widya tahu tentang hal ini?" tanya Kinanti, terkejut.
Arkan kembali mengetik dengan susah payah: D-A-R-A-H
"Darah? Maksudnya... ini kutukan turun-temurun dari garis keturunan keluarga Mahardika?" Kinanti menyimpulkan.
Arkan mengangguk pelan. Ekspresi wajah kucingnya mendadak terlihat sangat lesu dan sedih. Ia duduk kembali di atas selimut, menatap rintik hujan di luar jendela dengan pandangan kosong.
Kinanti merasa hatinya berdenyut melihat perubahan aura bosnya. Pria yang selama ini terlihat begitu perkasa dan tak terkalahkan di mata dunia, ternyata menyimpan beban rahasia yang begitu mengisolasi dirinya dari kehidupan normal. Selama ini, Arkan pasti merasa sangat kesepian, harus menyembunyikan diri dari dunia setiap kali langit menggelap.
Tanpa sadar, Kinanti mengulurkan tangannya. Dengan sangat lembut, ia mengusap punggung berbulu oranye itu, menyalurkan kehangatan dan rasa aman. "Bapak tidak perlu khawatir lagi sekarang. Bapak tidak sendirian lagi menghadapi ini. Ada saya yang akan membantu Bapak, baik sebagai Direktur Operasional... maupun sebagai sahabat Bapak."
Mendengar kata "sahabat", Arkan menoleh. Mata hijau zamrudnya menatap lurus ke dalam manik mata Kinanti. Getaran halus di dadanya kembali muncul, menciptakan suara dengkuran (purr) yang menenangkan di dalam ruangan sunyi itu. Arkan menyandarkan tubuh gembulnya ke lengan Kinanti, menerima usapan itu dengan pasrah.
Tepat saat suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi melankolis dan hangat, sebuah ketukan keras di pintu luar ruang kerja CEO membuyarkan segalanya.
Tok! Tok! Tok!
"Pak Arkan? Ini Shinta dari divisi HRD. Saya membawakan berkas serah terima jabatan untuk Mbak Kinanti yang harus Bapak tanda tangani sekarang," suara staf HRD terdengar dari balik pintu kaca buram.
Kinanti langsung menarik tangannya dari punggung Arkan, panik. "Gawat, hujan di luar belum reda dan staf HRD mau minta tanda tangan fisik!"
Arkan langsung berdiri di atas meja, melompat turun ke lantai dengan cepat. Ia mendekati tumpukan baju manusianya, mengais dompetnya, dan mengeluarkan stempel kecil pribadi miliknya. Ia membawa stempel itu dengan mulutnya, lalu meletakkannya di atas meja di depan Kinanti, disusul dengan meongan mendesak.
"Bapak mau saya yang keluar dan mengecap dokumen itu?" tanya Kinanti cepat.
Arkan mengeong sekali.
Kinanti segera merapikan penampilannya, mengambil stempel tersebut, lalu membuka pintu ruangan sedikit saja—hanya cukup untuk tubuhnya keluar—sebelum menutupnya kembali dengan rapat di belakang punggungnya.
Di koridor, Shinta berdiri sambil memegang map merah. "Eh, Mbak Kinanti? Pak Arkan-nya ada di dalam?"
"Ah, Pak Arkan sedang... sedang melakukan meditasi bisnis tahunan, Shin. Beliau tidak boleh diganggu atau melihat orang lain selama satu jam ke depan agar energinya fokus," bohong Kinanti dengan wajah luar biasa lempeng, mempraktikkan ilmu mengarang bebas tingkat lanjut. "Sini, berkasnya biar saya bawa. Pak Arkan sudah memberikan stempel resminya kepada saya untuk disahkan."
Shinta mengerjap-erkerjap, tampak bingung dengan istilah "meditasi bisnis", namun karena ini menyangkut aturan Arkan yang terkenal eksentrik dan menakutkan, ia tidak berani membantah. "Oh... begitu ya, Mbak? Baik, ini berkasnya."
Kinanti menerima map tersebut, menempelkan stempel resmi Arkan di atas kolom tanda tangan, lalu menyerahkannya kembali kepada Shinta. "Sudah selesai. Terima kasih ya, Shinta."
"Sama-sama, Mbak Kinanti. Oh ya, selamat atas jabatan barunya ya! Kami semua di divisi bawah ikut senang Mbak Kinanti yang naik jabatan, bukan Pak Rangga yang menyebalkan itu," bisik Shinta tulus sebelum berpamitan dan berjalan menuju lift.
Kinanti mengembuskan napas lega setelah Shinta menghilang di balik lift. Ia kembali masuk ke dalam ruangan CEO, mengunci pintu, dan mendapati wujud oranye Arkan sedang duduk menantinya di atas kursi kerja marmer besarnya.
"Semua aman, Pak," kata Kinanti sambil meletakkan stempel kembali ke dompet Arkan. "Tapi ini mempertegas satu hal: kita harus segera menemui Eyang Widya akhir pekan ini. Kita harus tahu apa sebenarnya penawar dari kutukan kucing oranye ini."
Arkan menatap Kinanti lama, lalu mengangguk setuju. Ia melompat dari kursi, berjalan mendekati laptop Kinanti yang masih menyala, lalu menekan satu tombol di papan ketik dengan cakarnya, memunculkan sebuah kalender digital. Kucing itu menepuk tanggal di hari Sabtu depan berulang kali.
"Hari Sabtu depan? Baik, saya jadwalkan pertemuan pribadi dengan Eyang Widya di kediaman utama keluarga Mahardika," catat Kinanti. "Dan sampai hari Sabtu itu tiba, mari kita pastikan PT Mahardika Megah berjalan dengan sempurna di bawah kendali seorang sekretaris yang menyamar jadi direktur, dan seekor CEO yang menyamar jadi ras terkuat di bumi."
Arkan mengeluarkan meongan pendek yang terdengar seperti tawa kering. Hujan di luar perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan berkas sinar matahari yang kembali menembus awan mendung, siap mengembalikan sang tirani korporat ke wujud manusianya yang tampan sekaligus menyebalkan.