Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 30
Setelah menyiapkan pakaian kantor untuk arun, mita langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, hari ini mita begitu bersemangat untuk menjalani harinya lebih bersemangat dari pada hari sebelumnya, apalagi mengingat tadi malam sikap arun yang begitu manis pada mita. Dan mulai tadi malam juga arun dan mita tidak memberlakukan lagi adanya batasan kasur. Ya sekarang mita yakin akan membuka hatinya untuk arun, mau semanis apapun kehidupan mita dengan abian tetap saja itu hanya masa lalu dan tak perlu menjadi pangganggu di masanya sekarang yang ia jalani. Walaupun tak bisa dipungkiri di hatinya masih tertancap nama abian, mita tidak akan memaksakan dirinya untuk melupakan abian karena tidak mudah untuk melupakan kenangan empat tahun bersama abian tapi mita akan melupakannya dengan perlahan-lahan sampai dirinya pun tak sadar kalau dia sudah melupakan abian.
Setelah beberapa lama mita sudah selesai membuat sarapan dan langsung menata makanannya di meja makan.
“morning” sapa mita ketika mendapati arun sudah ada di meja makan dan duduk di kursi.
“morning too” balas arun
Mita tadi sudah menanyakan pada arun ingin sarapan apa, dan arun meminta mita untuk dibuatkan nasi goreng, nasi goreng buatan mita sangat cocok sekali di lidah arun membuat arun ketagihan untuk memakannya padahal arun jarang sekali pagi-pagi sarapan dengan nasi biasanya dia akan sarapan dengen roti diolesi selai kacang kesukaannya atau hanya sarapan dengan makan buah.
Mita menaruh piring yang sudah di isi nasi goreng di hadapan arun lalu arun langsung menyantapnya penuh semangat.
“hari ini aku ada jadwal oprasi pasien jadi aku akan pulang sangat malam” ucap mita memulai obrolan.
“kira-kira jam berapa” tanya arun memastikan jam pulang mita
“mm gak tahu pasti pulangnya jam berapa, mungkin sekitar jam dua malam” jawab mita
“malam banget” ucap arun sedikit kaget mendengar jam pulang mita
“mulai oprasinya jam sembilan malam jadi kemungkinan jam dua aku baru pulang. Biasanya aku akan menginap di rumah sakit jika selesainya jam segitu tapi sekarangkan aku punya kamu yang harus aku urus” jelas mita
Hati arun berdesir ketika mita mengucapkan sekarangkan aku punya kamu seperti ada ribuan bunga yang menaruhnya di dalam hati arun.
“kalau begitu nanti aku jemput ya” ucap arun menawarkan diri
“eh jangan, kamukan harus istirahat karena seharian kerja biar aku pulang sendiri aja” ucap mita cepat tak ingin merepotkan arun.
Arun terlebih dahulu menyelesaikan sarapannya, kemudian meneguk air minumnya “yaudah terserah kamu”
“oiya kamu juga nanti malam makan di luar aja ya atau mesen makanan soalnya aku nggak mungkin masak malam buat kamu” mita selesai menyelesaikan sarapannya dan langsung membawa piring kotor ke westafel
Arun hanya mengangguk mengerti. “di laci kadua dekat kasur ada ponsel baru buat kamu, kamu nggak mungkinkan terus-terusan gak megang ponsel” arun memberitahu
“akukan udah punya ponsel, jadi aku gak perlu ponsel baru itu” tolak mita halus
“kamu jangan pakai ponsel rongsokan itu lagi, aku gak mau lihat kamu nangis histeris lagi gara-gara ada panggilan masuk”
Mita menghembuskan napasnya berat “pon_”
“kamu mau aku banting ponsel rongsokan kamu itu biar rusak,? agar kamu pakai ponsel pamberian aku” potong arun cepat ketika mita akan menolak
Mita terkekeh melihat wajah arun yang begitu serius “iya nanti aku pakai ponsel pemberian kamu itu tapi ponsel aku itu bukan ponsel rong_”
“good” arun meletakan jari telunjuknya pada bibir mita agar ia berhenti bicara.
“aku berangkat ke kantor ya” arun memberitahu
Mita mengantar sampai pintu kemudian mencium punggung tangan arun. ketika arun akan membuka pintu, mita menahan tangnnya
“apa?” tanya arun heran
Tiba-tiba mita memeluk tubuh arun, lalu mencium bibir arun singkat. Tubuh arun menegang tak percaya mita melakukan hal tersebut terlebih lagi mita mencium bibir arun lebih dulu.
“hati-hati di jalan” ucap mita sembil menunduk malu, tiba-tiba di hatinya ada dorongan kuat untuk memeluk arun dan mencium bibirnya.
Arun tersadar dari kagetnya kemudian mengangkat sudut bibirnya senyum tak percaya.
Tangan arun menarik dagu mita untuk melihat wajahnya kemudian mencium bibir mita. Mita langsung membuka mulutnya memberi akses pada lidah arun agar bisa masuk, bermain lidah bersama lidah mita.
Keduanya menikmati ciuman tersebut, tangan mita sudah melingkar pada lehar arun. perlahan arun mendorong tubuh mita pada tembok memperdekat jarak tubuhnya sampai menempel, sekarang dada arun merasakan gundukan kenyal milik mita walaupun terhalang pakain masing-masing dan mita merasakan batang milik arun di pusarnya menggelitik merasakan geli.
Mita memukul dada arun agar melepaskan ciumannya kerana oksigennya mulai menipis, arun melepasnya. Mata mereka saling menatap satu sama lain kemudian arun menyatukan kembali bibir mereka, rasanya arun tak ingin melepas bibir mita ingin menyesapnya lebih dalam, gairah dalam dirinya muncul kemurkaan ingin membawa mita kedalam kamar melemparnya ke atas kasur dan menyatukan tubuh mereka bersama.
Tangan arun masuk kadalam piyama yang di kenakan mita karena mita belum berganti dengan pakaian kerjanya, tangan arun mengelus parut rata mita kemudian beralih kepada gundukan kenyal milik mita yang ukurannya sangat pas di telapak tangan arun kemudian meremasnya perlahan. Mita mendesah di sela ciumannya merasakan amat geli pada bagian tubuh yang sedang arun mainkan.
“arun ka ah kamu harruss berangkat kerja” ucap mita dengan susah payah karena susah mengendalikan tubuhnya. Sedangkan arun tak mengubris apa yang mita ucapkan karena sedang asik menghisap lehar putih mita dan tangannya yang masih bermain dengan benda kenyal milik mita.
Setelah cukup puas arun melepaskan ciumannya menempalkan keningnya dengan kening mita, napas keduanya terengah-engah menandakan betapa panasnya ciuman yang baru mereka lakukan, wajah mita terlihat memerah di tambah napas arun yang menerpa wajahnya merasakan hembusan panas dari napas tersebut.
Arun mengusap bibir mita dengan ibu jarinya, arun tersenyum miring melihat bibir tersebut menjadi bengkak. Sedangkan mita masih berdiam diri karena detak jantungnya yang masih berdetak cepat.
Arun sedikit menjauhkan tubuhnya dari mita, merapihkan kembali pakaiannya seperti semula, lalu mencium kening mita cukup lama. “terima kasih atas ciuman panas di pagi hari ini” bisik arun sensual di telinga mita.
“aku berangkat” arun tarsenyum lalu berjalan keluar apartemen.
Setelah arun hilang dari pandangan mita, ia langsung berlari kedalam kamar dan membenamkan wajahnya di bantal, terukir senyuman di wajah mita entah apa yang dirasakan oleh hatinya, rasanya tak jelas ampur aduk.
“Stop senyum-senyum gak jelas seperti ini mita, sekarang aku harus siap-siap untuk kerja” ucap mita monolog.
...----------------...
Happy Reading guys, kemungkinan setelah chapter ini aku bakal Gak uptade lagi wkwkwk tapi boong.😊 Like, komen, vote.